* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sebenernya, kalau Kanya disuruh ngejabarin diri sendiri, dia gak bakal nyebutin bahwa salah satu sifatnya adalah pendiem. Bukan karena dia menyembunyikan sifatnya yang satu itu, tapi karena dia beneran bukan pendiem.
Beberapa orang di sekitarnya ada yang nilai dia sebagai pribadi yang kalem. Tapi kalem bukan berarti pendiem, kan? Kanya,t uh, malah rame banget. Asal ketemu orang yang tepat aja. Dan Kanya yakin, yang kayak gini gak cuman kejadian ke dirinya seorang. Semua orang, sekalipun introvert ataupun kebalikannya, kalau ketemu orang yang tepat dan cocok, pasti bisa rame juga.
Tapi jujur aja, yang bikin Kanya heran adalah, pacarnya itu—iya, si Wildan anak Lima Hari—gak pernah percaya kalau Kanya aslinya rame.
Gimana, ya, jelasinnya.
Kanya selalu bertanya-tanya kayak begitu.
Gini, deh. Gampangnya, dia sama Wildan tuh terpaut usia cukup jauh. Ya walaupun kalau bukan buat ukuran orang nikah, jarak segitu mah emang bukan apa-apa. Tapi karena di angkatannya Kanya kebanyakan pacaran sama yang seangkatan atau maksimal dua angkatan di atas, tentu yang kayak Kanya dan Wildan jadi dicap pacaran sama Om-Om.
Terus karena perbedaan yang agak jauh tersebut, akhirnya topik obrolan dan jokes mereka juga agak beda. Gak cuman sekali atau dua kali doang mereka gak nyambung dan harus ngulangin pembicaraan karena lawannya gak ngerti.
Contohnya, nih. Pernah Wildan ngelucu, eh, ternyata Kanya gak paham sama jokesnya sang pacar. Begitu pula sama Kanya kalau lagi ngajak ngobrol yang temanya anak milenial banget. Kadang yang paling kebangetan, Kanya sering banget dikatain alay gara-gara dia ngefangirling-in Dafi. Iya, Dafi drummernya Lima Hari itu. Padahal harusnya Wildan seneng, dong, punya pacar yang ngefans parah sama band-nya sendiri.
Terus suatu hari, pas Wildan lagi di rumah Tiara karena nganterin lauk dari ibunya buat ponakannya itu karena Tiara sendirian di rumah—kayak biasanya aja, orang tuanya emang suka ke luar kota buat ini dan itu—eh ada yang ketuk pintu.
“Bukain, dong, Kak. Aku masih ngeangetin sayur nih,” kata Tiara yang bikin Wildan mencibir tapi tetep nurut.
Dia ngebukain pintu. Eh, siapa yang sangka kalau yang dateng adalah pacarnya sendiri?
“Loh?”
“Loh?”
Dua-duanya sama-sama kaget. Kanya bahkan sampai mundur lagi buat mastiin kalau dia gak salah alamat.
“Ini aku gak salah rumah, kan, gue?” gumamnya ke diri sendiri bikin Wildan terkekeh geli.
“Gak, ini emang rumahnya Tiara.”
“Kok kamu disini?” Kanya celingukan mencari keberadaan teman dekatnya itu. “Tiara kemana, Kak?”
“Lagi di dapur. Emang kenapa kalau aku disini? Orang aku saudaranya.”
Wildan jawab gitu sambil menyingkir dari pintu, mempersilahkan pacarnya buat masuk dulu ke dalam dan kemudian ia jalan di belakang Kanya, membiarkan pintu utama gak tertutup lagi.
“Iya, iya. Aku lupa kalau kamu Om-nya.”
Kiara mendengus mendenagr itu. Kanya, tuh, emang paling suka gangguin Wildan dengan manggil-manggil dia pakai Om. Padahal kalau orang yang gak kenal meerka berdua ikutan denger itu, yang ada dikira dia beneran sugar daddy yang macarin anak di bawah umur lagi.
“Loh, Kak Kanya?” Tiara langsung mendekat dan melepas apron. Dia melirik jam dinding. “Aku kira kesini agak sorean. Sini, sini, duduk.”
“Iya, gabut aja tadi di rumah. Makanya kesininya sekarang. Ganggu gak, Tir?”
“Haduh, ya, enggak dong. Apa lagi aku di rumah lagi sendirian. Malah kalau bisa kak Kanya nginep aja disini.” Tiara tersenyum senang. Kelihatan banget Tiara nih nyaman sekali berteman sama kakak kelasnya. “Kak Wil, minta tolong buatin minum buat Kak Kanya, dong.”
“Hah, kok nyuruh kakak sih?!” Wildan melotot. “Kamu aja sana.”
“Ya Allah, pelit banget. Aku, kan, minta tolong, Kaaaak.”
“Gak usah. Aku juga bawa tumblr, kok, ini di tas. Gak usah dibuatin gak papa.” Kanya menengahi.
Wildan menatap pacarnya kini, dengan kedua tangan masih ada di saku celananya semua. “Kamu bawa minum apa?”
“Air lemon,” Kanya meringis.
Wildan mengambil duduk di samping Kanya. “Tir, bawain camilan dong tamunya. Gak sopan banget kamu.”
“Oh, iya! Lupa, maaf. Bentar, bentar,” Tiara langsung berdiri tergesa-gesa. “Bentar, ya, Kak Kanyaaa. Duduk dulu yang santai disini. Hidupin tivi juga gak papa.”
“Kakak sekalian bikinin teh manis, ya.”
Tiara mendengus. “Yaaa.”
Terus pas cewek itu balik badan meninggalkan dua sejoli disana untuk ke arah dapur, Tiara langsung tersadar sesuatu. Ah, dia harusnya tahu dari tadi kalau Kak Wildan hanya mencoba mengusirnya karena mau berduaan sama Kak Kanya!
Dasar Wildan Gusti Modus Ramadhan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kok kakak gak bilang kalau mau ke rumah Tiara, sih? Tahu gitu aku nebeng.”
Wildan yang denger itu jadi noleh. “Aku niatnya cuman mau nganter sayuran doang dari ibu. Ini tadi pas bukain kamu pintu, niatnya langsung pulang,” jelas cowok itu lalu mengamati Kanya yang mengeluarkan buku catatannya dengan satu bulpoin hitam “Kamu juga gak bilang, sih.”
“Iya juga. Ya udah, lah, udah terlanjur.”
“Kamu kesini mau belajar bareng sama Tiara?” tanya Wildan karena pacarnya kini sedang sibuk menulis sesuatu di kertas dengan seseklai melirik ponselnya yang ia taruh di paha, kayak lagi nyontek. “Atau ngejain bahan jurnalistik?”
“Bukan dua-duanya. Mau main aja niatnya.”
“Kok main bawa buku?”
“Ini ngerjain peer, Kak Sekalian nungguin Tiara.”
Karena Wildan ngelihat Kanya posisinya gak enak banget alias cewek itu duduk di sofa, nunduk banget, nulis buku yang bukunya dia taruh di atas paha, terus paha satunya lagi buat naruh ponsel, Wildan jadi menegur.
“Dudukan di karpet aja, biar enak nulisnya.”
“Gak usah, cuman dikit.”
Wildan menyentuh layar ponsel Kanya, menaikkan intensitas cahaya agar dia bisa ngelihat ‘cuman dikit’ yang dimaksud pacarnya, tuh, segimana.
“Banyak gitu.”
Wildan langsung turun buat duduk di bawah, buku Kanya juga dia bawa buat dia taruh di atas meja.
“Sini, duduknya disini aja.”
Kanya akhirnya juga menurut. Dia duduk di samping Wildan terus menempatkan bukunya di depan dia. Dengan cekatan, dia mengetuk layar ponsel dua kali lalu hidup. Baru dia mau nyalin, ponselnya di ambil sama Wildan.
“Aku yang dektein.”
“Ih, gak usah, Kak.”
“Biar cepet, Kanya. Dari mana itu?” Wildan ngelirik buku Kanya. “Sebenarnya embun yang keluar itu adalah karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O)—loh, ayo. Malah bengong.”
Kanya mengehela nafas. “Iya, oke. Ayo.”
“Sebenarnya embun yang keluar itu adalah karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Proses ini menandakan fungsi sistem ekskresi pada tubuh kamu sedang bekerja. Saat bernafas, sistem ekskresi mengeluarkan zat-zat berupa CO2 dan H2O. Zat yang keluar tersebut sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh, alias hanya berisi sampah dan racun dari hasil metabolisme tubuh manusia.”
Asal kalian tahu, Wildan bacainnya pelan-pelan banget. Bukan karena Kanya kelamaan kalau nulis, bahkan untuk ukuran manusia biasa, Kanya ini termasuk cepet banget nulisnya. Mana tetep rapi pula gak kayak ceker ayam atau tulisan latin yang gak bisa dibaca. Sayangnya, yang bikin Wildan dektenya lama adalah karena tulisan di layar ponsel Kanya, tuh, jelek. Beneran yang kayak tulisan dokter. Mana motonya gak jelas. Wildan yang udah memicing dan pakai kaca mata karena matanya minus aja sampai masih harus ngedeketin muka ke ponsel.
“Ini tulisan siapa, sih?” protes Wildan akhirnya, bikin Kanya ketawa.
“Temenku, Kak.”
“Kamu nyontek ini?”
“Iya. Tapi bukan tugas, kok. Itu catetan doang.”
Wildan mengehela nafas sambil mengangsurkan ponsel ke arah pacarnya. Ia menunjuk satu didik di atas layar. “Yang ini bacanya apa?”
“Kak Wil, Kak Kanya, aku ke warung depan bentar, ya! Mau beli oreo bentaaaaar aja! Atau ada yang mau titip?
Suara Tiara yang cempreng itu datang dan langsung menginterupsi kedua manusia yang lagi kesulitan baca tulisan di layar ponsel. Mereka sama-sama noleh ke arah Tiara lalu menggeleng, tanda kalau mereka sama-sama gak berminat titip makanan apapun.
“Gak usah beli mie instan loh, Tir. Kamu udah makan mie kemarin lusa.”
“Iya, Kaaaak. Ih, bawelnya ngalahin mama, deh.”
Wildan ngelirik Tiara sinis. Terus dia ngelapor ke pacarnya. “Perasaan aku baru ngomong bentar, deh. Kenapa dia bilang aku bawel coba?”
“Dia bosen, kali, dikasih tahu soal itu mulu,” Kanya menyalurkan lagi ponselnya. “Metabolisme respirasi sel dan nitrogen yang berasal dari hasil metabolisme protein.” lapornya ngasih tahu tulisan yang tadi gak bisa dibaca sama Wildan.
Cowok itu ngangguk kemudian mulai mendekte lagi.
“Kalau tubuh kamu kebanyakan karbon dioksida, zat tersebut bisa menurunkan PH darah kamu dan akhirnya darah kamu bakal jadi lebih asam. Jika sudah begini, kamu akan mengalami asidosis yang ditandai—kamu diet lagi, ya?”
Pertanyaan tersebut tiba-tiba muncul dan gak nyambung banget sama kalimat sebelumnya, bikin Kanya menghentikan tulisan dan langsung noleh, sadar kalau Wildan bukan lanjut buat dekte, tapi malah nanya ke arah yang lain.
“Kenapa?”
“Kamu,” ulang Wildan. “Diet sekarang?”
“...enggak.”
“Bohong. Kenapa minum air lemon lagi coba?”
Jujur aja, ya. Wildan gak pernah sama sekali ngelarang-ngelarang Kanya, pacarnya sendiri ini, bahkan setelah mereka udah pacaran dua bulan belakangan. Terhitung dari detik dimana Kanya bilang iya atas pertanyaannya yang meminta Kanya buat jadi pacarnya, dia beneran gak pernah ngelarang. Dengan syarat pokoknya jujur aja, sih.
Bahkan pas Kanya pulang malem dari kerja kelompok atau latihan buat bulan bahasa dianter cowok, Wildan juga gak masalah. Toh pacarnya itu udah pamitan ke dia dan udah jujur apa adanya. Gak nambahin informasi apa lagi mengurangi.
Tapi kalau hal yang bikin Kanya jadi gampang sakit karena tubuhnya gak vit semenjak suka diet, mana bisa Wildan gak ngelarang? Tadi pas dia denger Kanya bawa air botol isi air lemon aja udah pengen ngomel aja rasanya.
Bayangin aja, udah. Se-enggak suka apa, deh, dia kalau Kanya diet sampai-sampai Wildan yang gak pernah bisa marah sekarang jadi ngomel begini? Walaupun sesalah apapun, Wildan gak pernah naikin suaraya pas ngomong sama Kanya karena, well, ibu kandungnya sendiri aja bakal turun tangan buat marahin Wirya kalau sampai berani ngebentak cewek.
“Iya, deh,” Kanya menaruh pulpennya lalu bersandar ke sofa di belakang punggungnya. “Maaf, ya, sempet mau bohong.”
“Kenapa diet lagi, Nya? Bukannya beberapa minggu lalu aku udah bilang ke kamu aku gak mau kamu diet-diet begitu?”
“Kak—“
“Insecure karena apa lagi, Nya? Berapa kali aku bilang ke kamu kalau badan kamu, tuh, udah ideal?”
Wildan gak bohong soal itu.
Dari awal dia ketemu Kanya, kayaknya udah berapa ratus kali dia muji cewek itu? Karena Kanya emang secantik itu. Dari atas sampai bawah. Makanya Wildan bingung kalau Kanya bilang dia gak pede karena gemukan atau ini atau itu. Kanya udah sempurna dengan caranya sendiri.
“Kak, jangan marah gitu...”
Wildan menarik nafas. “Bukan marah. Tapi aku gak suka kamu nanti sakit lagi gara-gara diet. Gak kapok ke dokter mulu?”
“Yang ini dietnya lebih sehat, kok. Udah konsul juga sama dokternya.”
“Kamu insecure sama siapa, sih, Nya? Demi apapun aku gak lihat adanya kata gendut yang kamu bilang.”
“Bukan insecure sama siapa-siapa. Cuman pengen kurusan aja. Pipiku, nih, lihat!” Kanya memegang kedua pipinya sendiri, kemudian mencebik kesal. “Aku gak pede kalau ngeliat kaca.”
“Astaga, Kanya,” Wildan mencubit pipi pacarnya, menariknya sengaja sampai si cewek mengaduh. “Ini malah lucu. Kenapa gak pede, sih?”
“Pengennya tirus...”
“Gak usah. Udah, dengerin aku. Kamu cantik kayak gini. Pipi kamu tuh pas. Yang ada nanti kamu dituduh operasi plastik kalau tiba-tiba tirus. Mau emang difitnal begitu?”
“Ya enggak...”
“Makanya gak usah. Mau, ya, aku suruh berhenti diet?”
Kanya menatap pacarnya ragu.
“Aku sayang kamu apa adanya, kayak gini doang, gak ada yang kurang. Kenapa harus nyakitin diri sendiri buat ngerubah sesuatu yang udah sempurna?”
Akhirnya Kanya mengangguk, membuat Wildan tersenyum manis kemudian mengusap kepala pacarnya dengan sayang. Baru juga dia mendekat buat mencium keningnya, Tiara udah teraik duluan kayak orang kesurupan.
“Aaaaaaaaaak! Gak boleh aneh-aneh di rumah anak kecil, kakak-kakak!”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Sebel bangeeeeeet sama Kak Wil,” Tiara sampai ninju-ninjuin lengan Wildan saking keselnya. “Kak Kanya kesini, kan, mau main sama aku! Kenapa Kak Wil malah ngajakin Kak Kanya pulaaaaaang?”
Wildan menghela nafas.
Beneran, ya. Punya ponakan kelas 10 yang karakternya masih kayak anak TK tuh gemesin sekaligus nyusahin banget. Walaupun dia ngaku kalau kali ini dia agak egois tiba-tiba ngajakin Kanya jalan-jalan sama dia padahal Tiara udah janjian lebih dulu, tapi... ya gimana, ya. Masalahnya Wildan juga pengen quality time sama Kanya.
Dia juga tahu Kanya jadi gak enak karena udah janjiin buat nemenin Tiara. Tapi akhirnya karena Wildan yang lebih maksa, Tiara jadi ngalah.
“Nanti kakak beliin kamu novel lagi, deh. Satu.”
“Ih, parah, nih. Kak Kanya, masa sama Kak Wildan dikatain kakak seharga satu novel doang, sih!?” katanya kompor.
Kanya meringis. Tahu kalau padahal bukan itu maksud pacarya.
“Udah, kamu kalau mau ngomporin orang, salah korban. Kanya tahu bukan itu maksud kakak. Udah ya, kakak pamit. Jangan lupa sayurnya diabisin.”
“Ih, katanya aku dibeliin novel!? Mana uangnya?!”
“Nanti kakak transfer.”
“Sekaraaaang! Beli dua, gak mau satu doang!”
Astagahfirullahaladzim, Wildan sampai nyebut di dalam hati. Bisa-bisanya tante dia punya anak yang kelakuannya kayak Tiara begini, doyan banget nguras dompet orang.
“Aku aja yang tranfer—“
“Gak lah, ngapain?!” Wildan langsung motong sambil memandang aneh ke arah pacarnya. “Aku aja. Orang aku yang maksa kamu buat ikut aku, kok.”
Setelah Wildan selesai mentransfer uang seharga dua buku novel baru, dia menitipkan ponselnya ke Kanya, meminta agar perempuan itu membawakan hapenya di dalam tas.
“Udah, kan?”
“Hehe.”
“Nyengir kamu.”
“Makasih, ya, Kak Wildan yang paling ganteng iniiii.”
“Halah,” Wildan menggenggam tangan Kanya. “Ayo, Nya. Berangkat sekarang.”
Tiara langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi melepas kepergian dua orang yang dia sayangi itu. Beda banget sama ekspresi kecutnya yang tadi dilihatin pas Wildan bilang kalau Kanya dia aja yang ngaterin pulang—dengan maksud dia mau ngajakin Kanya jalan dulu.
“Hati-hati, ya, Kak Wil nyetirnya! Kak Kanya jangan lupa kapan-kapan nginep di rumahku dan jangan mau diajak kak Wil ikut dia lagi!”
Kanya cuman bisa ketawa sambil melambaikan tangan Tiara yang udah dia anggap kayak adik kandungnya sendiri.
“Jangan lupa kunci rumah, Tir! Kalau ada apa-apa telpon!”
“Iya, Kak Wil baweeeel!” jawab Tiara sambil teriak padahal jaraknya juga gak jauh-jauh amat.
Sesudah mobil Wildan meninggalkan pekarangan rumah, cewek itu menggumam sebal. “Kok bisa kak Kanya mau-mau aja pacaran sama orang kayak Kak Wil. Demen banget ngatur-ngatur.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Hidupin bluetoothnya, Nya. Tolong.”
Kanya langsung menuruti. Hafal juga sebenernya kalau Wildan paling suka dengerin lagu selama di perjalanan. “Pake hape kamu atau hapeku, Kak?”
“Hape kamu baterainya banyak, gak? Punyaku lowbat kayaknya tadi.”
“Oh, ya udah. Pakai hapeku aja. Hape kakak aku charger-in habis ini.”
Wildan mengusap lembut kepala pacarnya. “Makasih.”
“Sama-sama. Kakak mau ngajakin kemana ini?”
“Kamu udah makan siang?”
Kebiasaan banget emang Wildan. Ditanya tapi balik nanya. Jadinya kan gak langsung dapat poin inti dari jawaban yang diharapkan si penanya.
“Belum, tadi niatnya go food aja sama Tiara.”
“Ya udah, cari makan dulu. Mau apa?”
“Hm, soto betawi?”
“Di tempat biasanya tutup, tadi aku sempet lewat situ. Di tempat lain gak papa?”
Kanya mengangguk-anggukkan kepala sambil jemarinya masih scroll lagu yang hendak dia play di MP3 mobil. “Yang penting Soto Betawi.”
Berjuta rasa rasa yang 'tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat kubahagia
Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan hanyalah
Kau untuk selalu di sini ada untukku
Lagu lawas dari Maliq and De Essentials langsung terdengar mengisi ruang mobil. Tapi baru terdengar intronya, lagu udah diganti lagi sama Kanya. Kali ini masih dengan vibes lagu yang sama. Beda judul sama penyanyi aja.
Bahagia itu sederhana
Hanya dengan melihat senyummu
Ketika dunia seakan mengacuh
Kita bercanda tertawa bersama
Sederhana
“Bukan yang penting sama aku?”
Kanya ketawa karena Wildan ngomong gitu. Dia menaruh ponselnya di tempat ponsel yang terletak antara dua jok yang dia dan Wildan tempati lalu mencubit pipi Wildan gemas.
“Bisa gombal ternyata. Kiran kaku doang bisanya.”
“Mana ada aku kaku kalau sama kamu.”
“Tapi ini tadi pertama kalinya aku denger kamu gombal, loh, Kak. Makanya agak terheran-heran.”
Wildan mencibir walaupun juga membenarkan apa yang dibilang sama pacarnya barusan. “Kaget, gak?”
“Banget.”
“Emang sebenernya gak suka gombal. Geli juga ngomong kayak tadi,” katanya sambil bergidik.
“Sukanya apa, dong, jadinya?”
Wildan noleh sebentar, tapi ada senyum kecil yang tertahan di bibirnya. “Kamu doang.”
“Tuh, kan, gombal lagiiiiiiiii!”
Wildan tertawa lepas mendengar seruan Kanya.
Bahagia itu sederhana
Hanya dengan melihat senyummu
Ketika dunia seakan mengacuh
Kita bercanda tertawa bersama
Sederhana
Bahagia itu milik kita
Aku raja dan engkau ratunya
Walau cuma kita berdua yang tahu
Aku dan kamu kita berdua bahagia
Sederhana
Aku dan kamu
Kita tercipta tuk menjadi
Satu hal yang kutahu
Cinta takkan kemana mana bila
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *