* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jefran Lee Samuel.
Dari namanya aja orang bisa nebak kalau dia ada keturunan setengah korea, setengah bule, setengah Indo. Gabungan dari tiga negara itulah yang bikin cowok ini punya tampang cakep. Walaupun dia gak bisa ngomong bahasa hangeul, tapi bahasa Inggrisnya lancar—aksennya paling bagus di antara temen-temennya yang lain. Belum lagi, dia sering jadi pembicara saat ada acara kampus. Pernah dipaksa jadi MC buat diesnatalis yang mana memang hasilnya memuaskan, tapi Jeff gak ketagihan. Pernah juga—sering—ngisi radio dan podcast, kadang jadi host, kadang jadi guest star. Suaranya enak, jelas, namanya juga anak band. Pinter main gitar dan beberpa instrumen musik lain. Multitalenta banget, gak? Berbingkai kacamata di wajahnya bukan berarti dia laki-laki cupu dan kutu buku. Malahan yang ada, Jefran adalah laki-laki berkacamata paling malas dan gesrek yang pernah orang-orang kenal. Cowok ini kayak gak punya kekurangan. Oh, tentu saja selain pandai mematahkan hati perempuan. Supel alias ramah banget, keren, ganteng dan mempesona, punya suara serak basah yang bikin nagih, dan skill-skill lain yang dia punya membuat Jefran jadi sosok yang mudah meluluhkan perempuan. Dari SMP, dia udah dikenal jadi buaya darat. Jefran sendiri gak pernah berusaha memperbaiki nama baiknya. Biarlah orang berkata apa. Dia juga bukan tipe cowok yang peduli sama reputasinya, beda lagi sama Satria yang mati-matian menjaga reputasi karena dia ikut banyak organisasi, berprestasi, mengharumkan nama kampus, sampai kenal baik dengan pejabat kampus—yang mana semua itu membuat Satria punya kewajiban menjaga namanya. Jefran, kan, gak begitu.
Sebenernya, anak Lima Hari bukan tipe cowok yang polos-polos amat. Oh, kecuali Dafi. Si drummer dan anggota band paling muda itu memang gak pernah nakal—minum enggak, main cewek enggak, ngerokok aja enggak. Ya pernah, sih, cuman gak setiap hari dan gak tentu juga sebulan sekali. Wildan juga gak nakal, paling mentok nonton video dewasa—yang mana kayaknya ini udah hal biasa buat dilakuin para kaum adam—dan minum alkohol, tapi bener-bener cuman icip-icip gak sampai mabuk. Kalau Satria, sih, berani minum, berani ngerokok. Tapi itu aja. Sedangkan Brian itu agak sebelas dua belas sama Jefran. Cuman satu yang bikin beda. Jefran main cewek, Brian enggak. Cuman kadar keseringan ngerokok dan minum alkoholnya sama. Pun keluar masuk kelab malamnya.
Nah, sekarang tahu, kan, gimana sifat buruknya Jefran?
Kalau tadi udah dijelasin yang baik-baiknya. Sekarang tinggal nyebutin yang buruk-buruknya.
Jefran perokok aktif, konsumen alkohol aktif—yang mana dia minum alkohol hampir setiap hari kayak minum air putih, dan makin parah lagi kalau lagi sumpek, makanya dia gak gampang mabuk kayak Wildan soalnya udah biasa—kemudian sering ke bar, club, cari cewek buat One Night Stand padahal udah punya pacar—yang mana sebenernya pacaran juga sebulan ganti sekali. Yah, begitulah. Intinya kehidupan dia di Ibu Kota ini disamaratakan seolah Jefran tinggal di luar negeri—Argentina, kota kelahirannya. Kayak-kayak free s*x, tuh, adalah hal yang lumrah.
Gak terhitung berapa kali Jefran diomelin sama Satria karena kelakuannya ini. Toh Satria memang peduli dan gak mau Jefran kenapa-napa. Tapi yang ada, cowok itu cuman ngangguk-ngangguk doang tanpa benar-benar didengarkan. Menurutnya, masa muda harus dihabiskan untuk bersenang-senang. Do what you want, itu prinsipnya dia. Kalau dia mau, ya, dia lakuin. Toh masa muda gak bisa diputer lagi. Jefran gak keberatan dengan sebutan b******k yang disematkan oleh orang-orang kepada dirinya karena itu memang kenyataan. Tapi apa dia pernah menyesal? Enggak juga. Karena dari awal, setiap kali dia berhubungan sama cewek entah sampai pacaran atau cuman ONS doang, dia bakal bilang ke ceweknya dulu kalau ini cuman buat have fun, jangan pakai perasaan. Terus kalau ceweknya ngeyel buat naruh harapan lebih dan berujung sakit hati karena Jefran dapet cewek lain bukan salahnya, dong? Jefran, kan, udah kasih tahu.
Seperti saat ini.
Sebenernya, dia lagi punya pacar. Namanya Kintan. Anak gedung sebelah. Sesuai yang dibicarakan Jefran tadi, dia emang gak pernah awet pacaran lebih dari sebulan. Tapi sama Kintan-Kintan ini, bisa-biasanya dia udah dua bulan lebih. Hampir mau tiga bulan. Kata temen-temennya kemarin, mungkin Jefran udah keburu baper, padahal mah enggak. Iya, sih, Kintan emang beda dari mantan-mantannya yang kemarin. Kayak contohnya, sebelum sama Kintan, Jefran macarin kakak tingkatnya. Namanya Dea—kalau gak salah. Dea, nih, posesif banget. Gak ngebolehin ini, gak ngebolehin itu, harus ini, harus itu. Jefran jadi jengah sendiri. Alhasil, dua minggu pacaran, Jefran ngeghosting, deh. Abis itu si Dea ke apartemennya sambil marah-marah minta kejelasan kenapa Jefran tiba-tiba ngeblokir nomernya, Jefran jelasin aja kalau dia minta udahan. Selesai dengan Dea, Jefran ketemu Kintan di salah satu bar langganannya. Cewek ini lebih muda satu tahun. Alias masih mahasiswa baru. Perawakannya kecil dan menggemaskan. Tapi kalau udah di kasur lain cerita. Gak cuman gemes doang, tapi panas dan ganas. Itu kenapa Jefran betah sama Kinar. Dia jadi menghemat uang buat nyewa jalang karena ada pacarnya yang bisa muasin dan menuhin kebutuhan dia.
Tapi kemarin—atau tepatnya malam kemarin—Jefran lagi kesepian karena Kinar ada di Surabaya entah karena urusan apa, dia juga gak tanya, gak penting juga. jadilah karena Jefran tiba-tiba lagi ‘pengen’ an gak ada tempat buat menyalurkan, dia harus memanggil salah satu perempuan dari bar langganannya untuk menemani Jefran menghabiskan malam.
Jefran gak pernah memakai apartemennya saat dengan perempuan-perempuan itu—bahkan dengan Kinar yang udah hampir tiga bulan sama dia. Karena bagi Jefran, apartemennya terlalu suci untuk mendatangkan peremouan semacam itu. Dulu pernah, sih, dia make out sama salah satu perempuannya—eh tahu-tahu Satria dateng dan ngomel-ngomel. Jadi Jefran kapok dan gak mau lagi walaupun sebenarnya itu apartemen punya dia sendiri, bukan punya Satria. Emang dasar bapak satu itu.
Siang ini, Jefran bangun lebih dulu dari pada cewek yang semalem dia pakai. Jangan tanya namanya siapa soalnya Jefran lupa. Cowok itu mengibaskan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mengusir rasa pusing di kepalanya karena kemarin terlalu banyak minum. Setelah itu, dia memilih untuk berdiri dan membersihkan diri di kamar mandi hotel. Jefran anti berlama-lama dengan cewek sewaannya. Pokoknya dateng, main, selesai, ya udah. Urusan mereka selesai disana.
Tapi kali ini, sepertinya tidak bisa sesimpel itu karena saat Jefran sudah hendak memakai jaketnya dan berencana segera keluar hotel setelah menaruh uang di atas nakas, cewek yang sedang dibalut selimut itu bangun dan menghentikan aktivitasnya.
“Kamu mau kemana?” tanyanya.
Jefran mengangkat satu alisnya. Kayak bingung aja ngapain ditanya-tanya. Mau kemana pun Jefran sekarang, kan, bukan urusan dia. Lagi pula, hubungan mereka gak lebih dari penyewa dan yang disewa.
“Itu duit lo. Thanks, ya.” ucapnya dengan menunjuk banyaknya lembaran uang merah di atas nakas lalu mengantongi ponsel.
“Eh, wait. Jefran.”
Cowok itu memutar bola mata jengah. “Apa lagi?”
“Gue... boleh minta nomor lo? Eum... kayaknya,” si cewek menggigit bibir bawahnya, berusaha menggoda Jefran. “Kayaknya gue bakal ketagihan main sama lo. Tenang, besok-besok lo gak usah ngebayar, kok. Gue bakal free terus, as long as it is you.”
Jefran meledek dalam hati. Iya, sih, dia tahu kalau dia gak bakal gagal memuaskan perempuan. Tapi kalau cewek ini mikirnya Jefran juga ketagihan, dia salah. Jefran gak bakal mau main lebih dari satu kali sama cewek yang sama—kecuali cewek yang udah resmi jadi pacarnya. Kayak Kintan misalnya. Lalu apakah dia akan menyetujui permintaan cewek yang sedang menyibak selimut dan menunjukkan tubuh telanjangnya itu?
Well, walaupun ini cewek sedikit menggoda, tapi dia gak mau.
‘”Sorry but no. You’re wasting my time. Gotta go now. Bye.”
Hanya itu yang diucapkan Jefran sebelum ia benar-benar keluar dari kamar hotel yang ia sewa semalaman kemarin. Meninggalkan decak kesal dari perempuan naked di dalam sana tapi Jefran sama sekali gak peduli.
Ini memang Jefran. Ya kayak gini kehidupannya. Bersenang-senang dengan para perempuan, bermain-main dengan hati dan tubuh mereka. Well, dia juga gak tahu, sih, bakal begini sampai kapan. Tinggal tunggu tanggal mainnya aja buat dia ketemu cewek yang tepat.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Mengingat ini lagi hari Sabtu, setelah dia balik dari hotel, ia mengendarai mobilnya untuk kembali ke apartemen. Matanya lagi lengket banget, kayak kepingin cepet ngelempar punggung ke kasur dan tidur lagi. Padahal ini udah jam setengah dua siang.
Dari kemarin malam, dia udah mengabaikan ponselnya. Antara males dan gak ada waktu. Padahal dia yakin pasti ada aja yang bakal nyariin dia karena dari kemarin dia gak mengaktifkan ponsel. Bisa aja dari mamanya, atau dari Kinar, atau dari anak Lima Hari.
Usai menempelkan jempol untuk dipindai sidik jarinya dengan maksud membuka pintu apartemen, cowok itu langsung menendang pintu di belakangnya dengan satu kaki usai masuk ke dalam ruangan. Dia berpegangan pada dinding untuk mencopot sepatu yang dia pakai, lalu menaruh tas gitarnya yang sedari turun dari mobil dia gendong kemana-mana.
Cowok itu bukan tipe cowok yang jorok, to be honest. Dia pecinta kerapian walau ya anaknya juga gak rajin bersih-bersih amat. Cuman beberapa kali doang dia membiarkan apartemennya berantakan dan itu gak bakalan bertahan sampai dua puluh empat jam karena demi Tuhan, Jefran risih. Kalau ada waktu lebih, dia biasanya mau-mau aja bersihin apartmennya seorang diri, toh biasanya yang berantakan cuman bagian ruang tengah, ruang kamarnya, dan dapur. Tapi kalau lagi gak ada waktu, dia biasanya nelpon ART punya mamanya untuk membersihkan apartemen. Dan selama ini, dia lebih sering membiarkan ART yang membersihkan dari pada dia yang melakukannya sendiri karena Jefran emang sesibuk itu. Sebut saja dari pagi dia harus ngampus sampai jam empat, kemudian harus latihan satu jam atau bahas-bahas lagu sama anak Lima Hari, aktivtasnya dilanjutkan dengan acara manggung di kafe—masih sama band-nya—dan biasanya menghabiskan waktu jam sampai jam delapan. Belum lagi kalau teman-temannya menyuruh Jefran ikut nongkrong dulu yang bisa sampai jam sepuluh atau sebelas. Kemudian pulangnya, dia jelas langsung tidur. Kalau gak ada kegiatan ngisi kafe, biasanya dia akan lari ke bar—biasanya sama Brian—dan baru pulang ke apartemen kalau jam udah menunjukkan pukul satu atau dua.
Sementara kali ini, Jefran beneran gak punya tenaga lebih buat bersihin apartemen yang sialnya dia lupa sebelum pergi ke bar, anak Lima Hari nongkrong di sini dan membiarkan ruang tengah mirip kapal pecah alias berantakan dan kotor banget.
Tapi mengingat hari ini dia gak punya acara apapun yang memaksa kakinya buat keluar apartemen, dia pikir ada baiknya kalau sekarang ia menghabiskan waktu untuk tidur dan beristirahat saja sebelum nanti dia akan bangun dan membersihkan apartemennya. Dia punya banyak waktu luang hari ini.
Jadi usai Jefran melepas jaket dan kaos yang melekat di tubuhnya, menaruhnya di keranjang tempat pakaian kotor, cowok itu langsung melempar badannya ke atas kasur, dengan posisi tengkurap dan tanpa selimut, Jefran langsung memejamkan mata.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jefran Lee Samuel’s Point o View
Gue mendengar suara berisik seorang cewek. Oke, ralat, bukan satu orang doang tapi rame-rame. Di antara suara-suara yang gue dengar itu, gue mencoba kembali menenggelamkan diri buat kembali tidur—karena jelas, gue masih ngantuk. Tpai sayangnya gak bisa. Gue berdecak, menarik selimut dan mulai tenggelam di baliknya karena udara mulai terasa dingin. Sayangnya lagi, suara berisik itu semakin menjadi-jadi.
“Anjing,” umpat gue lalu bangun, memilih duduk sesaat di atas ranjang sebelum kemudian menajamkan pendengaran dengan mata masih mengerjap-erjap, mengusir rasa kantuk yang masih tersisa.
Gue tahu dari mana suara ini berasal. Ini dari apartemen sebelah. Dan sebenernya, ini bukan pertama kalinya apartemen sebelah itu berisik karena pemiliknya membawa belasan manusia untuk diajak pesta disana. Iya, dulu, gue pernah satu kali menegurnya karena gue dan anak Lima Hari butuh fokus mengaransemen lagu. Setelahnya, gue gak pernah lagi menegur karena gue memilih untuk pergi dan cari tempat lain buat istirahat. Kenapa gue yang ngalah? Karena gue agak ngeri aja sama tetangga gue itu. Cowok yang menempati kanan apartemen gue itu adalah seorang gay. Gak sekali dua kali gue menemukan dia sedang berciuman di lift dengan sesama laki-laki. Pun tebakan gue itu semakin terasa benar kala beberapa waktu lalu Dafi dengan muka syok dan polosnya ngasih tahu ke gue kalau di depan pintu apartemen orang sebelah, dua laki-laki lagi make out. Anjir, masih kebayang dengan jelas gimana panik dan merahnya muka Dafi waktu nyeritain itu. Makanya, gue ngeri aja kebayang kalau tiba-tiba dia naksir ke gue, kan, berabe. Ya walaupun tetangga gue itu gak bisa dibilang jelek karena mukanya perpaduan antara setengah bule dan setengah arab, tetep aja gue ogah jadi homoan.
Tapi kali ini, didukung lagu Midsummer Madness yang terdengar samar di telinga gue, belum lagi suara cewek-cewek yang lagi kayak karaokean dengan volume keras, gue jelas gak bisa membiarkan ini berlanjut lebih lama. Suwer, saking emosinya sama orang sebelah, kantuk gue sampai bener-bener ilang.
Gue ambil kaos yang gue ambil dari lemari secara asal, memakainya cepat, lalu tanpa memakai sandal, gue keluar dari apartemen gue hanya untuk mengetuk pintu apartemen sebelah. Gue mencet bel ada kali seratus kali—oke, ini lebay—dan syukurnya kala gue hampir pengin ngedobrak pintu—walaupun agak gak mungkin bisa kebuka kecuali pundak gue yang bakal sakit semua—lalu pintu dibukakan dari dalam.
“...kecilin dulu, kecilin dulu.”
Samar-samar, gue mendengar suara cowok dari sekian banyak orang di dalam apartemen si gay itu buat ngecilin suara speaker.
“Ada apa, ya?” tanya si gay itu dengan muka polos, senyum hangat. Anjir, sumpah gue paling ngeri kalau disuruh ngobrol sama homoan.
“Temen-temen lo berisik,” ujar gue tanpa basa-basi. “Suara speaker lo sampe kedengeran ke kamar gue.”
“Oh? Lo mau join aja sama kita? Gue lagi ngadain pajama’s party.”
Gue melongo gak percaya. Gimana bisa si gay ini malah ngajakin gue join sedangkan gue aja lagi pengin ngebom apartemennya?
Gue melirik ke dalam sekilas, melihat ada sektar lima cewek dan tujuh cowok yang sama-sama diam dan memperhatikan gue seksama. Well, dibanding menyebutnya pajama’s party, kayaknya mereka lagi alcohol’s party, sih.
“Hahaha,” gue ketawa garing. “Gak minat, sorry.”
Si gay tersenyum lagi. “Oke kalau gitu, gue juga gak bakal maksa. Soal berisiknya temen-temen gue, i apologize to you. Gue bakal ngasih tahu mereka.”
“Pastiin mereka gak ganggu tetangga kanan kiri.”
“Siap. Sorry sekali lagi.”
Gue mengacungkan satu jempol kemudian berlalu dari sana.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah itu, gue memang gak mendengar keberisikan kayak tadi. Cuman samar-samar suara ketawa-ketiwi dan musik yang tetap menyala, tapi sekali lagi—gak sekeras tadi. Gue bisa memaklumi kali ini. Toh biasanya kalau anak Lima Hari lagi disini, apa lagi sampai nginep, mereka juga berisik karena suka nyalain musik di speaker keras-keras dan nya nyi kayak orang gila—padahal itu kelakuan gue sama Brian doang—sementara Wildan, Satria, dan Dafi cuman jadi bagian yang ngakak doang.
Gue baru selesai beresin apartemen seorang diri setelah sekitar empat puluh lima menit kemudian. Keliatan kayak husband-able banget gak, sih, gue? Bisa beberes, nyapu, ngelapin barang, cuci piring, muasin cewek juga bisa. Paket komplit, kan?
Setelahnya, gue masuk ke kamar mandi buat membersihkan diri. Gak lama kemudian, gue keluar dari sana dengan badan lebih segar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu gue kembali ke kamar, menghidupkan televisi dan mengganti chanel favorit, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang.
Hfft.
Gue menghela nafas sekilas. Lama rasanya gak pernah ada di posisi kayak gini. I mean, sesantai ini. Tugas kuliah udah beres semua, Lima Hari gak ada kendala, gak ada yang mengharuskan gue mikir berat. Ini kayak mengembalikan gue jadi Jefran jaman masih SD—atau mungkin TK. Gue juga lupa kapan terakhir jadi manusia yang bisa bebas dari overthinking.
Tapi sialnya, hening—yang sebenernya gak hening-hening banget karena tivi gue nyala—ini menuntun gue untuk melakukan kilas balik atas memori di masa lalu. Sialnya, gak ada satu hal pun dari masa lalu gue yang bagus. Gak ada sama sekali. Let’s say hidup gue jaman dulu kayak sinetron TPI. Emang.
Gue lahir dari nyokap yang hamil di luar nikah dan berujung kepaksa buat nikah di usia masih enam belas tahun. Plot twistnya, bokap emang sengaja ngehamilin nyokap tanpa seizin nyokap sendiri karena cinta mereka gak direstui sama orang tuanya nyokap. Klise. Karena bokap bukan dari keluarga orang kaya dan dianggep gak setara kalau bersanding sama nyokap gue yang mana dari keluarga berbantal duit. Dari awal pernikahan, ternyata mereka udah gak harmonis sejak gue umur 2 tahun—berdasarkan informasi dari nyokap. Bokap suka main tangan—yang sebenernya dari dulu hobi dia emang tawuran. Tapi gak nyangka aja ternyata sama bini sendiri pun juga tega. Gak cukup main tangan, dia juga pecandu alkohol—yang ini harus gue akuin nurun ke gue, dan suka main cewek. Gue juga suka, sih, main cewek. Tapi lo pada mikir gak, sih, kalau bokap, kan, udah punya istri? Kayak, heh lo ngapain nikahin bini lo sampai harus ngehamilin dia kalau ujung-ujungnya lo juga masih suka selingkuh sana-sini? Make sense, gak, maksud gue?
Nyokap sendiri tipe cewek kayak di sinetro azab. Bisanya ngalah, diem, dan nangis. Gak pernah ngelawan sama sekali. Tapi kata orang tentang sabar juga ada batasnya, itu ternyata juga berlaku buat nyokap. Dia cuman sabar ngadepin bokap sampai gue duduk di kelas 3 SD, setelah itu tahu-tahu mereka cerai, dan gue tiba-tiba ditanyain mau ikut siapa.
Man, gue aja gak tahu masalahnya apaan. Tiba-tiba pulang sekolah ditanyain begitu, lo kira gue—yang notabene-nya masih kelas 3 SD, masih bocah banget—gak bingung ape gimane?
Detik dimana pertanyaan itu terlontar, gue menimbang jawaban pakai apa lo tebak? Pakai ekspresi bokap nyokap gue. Posisinya waktu itu, bokap sambil nangis ngomong ke gue, sedangkan nyokap kayak lagi duduk angkuh macem tokoh antagonis. Jadilah gue gak pikir panjang milih ikut nyokap—tanpa tahu apa penyebab sebenernya mereka pisah.
Usut punya usut, ternyata penyebab mereka bercerai adalah, of course karena nyokap udah capek sama bokap yang suka selingkuh dan main tangan. Puncaknya, nyokap ‘bawa’ cowok ke rumah—yang mana ini temennya bokap sendiri—dan terjadilah puncak konflik yang bikin nyokap ngajuin gugatan cerai.
Gue gak banyak inget sama kejadian itu. Bahkan kayaknya waktu itu gue gak sedih-sedih amat karena pas masih kecil, gue lebih sering di rumah nenek dari pada bonyok sendiri.
Tahu-tahu, pas gue kelas 4 SD, bokap masuk penjara dengan gugatan penganiayaan ke nyokap—yang padahal udah jadi mantan istrinya. Baru setelah gue ngejengukin bokap di balik jeruji besi untuk yang pertama kali, kehidupan gue mulai banyak sedihnya. Senengnya dikit banget. Semuanya karena kelakuan bokap yang kayak b******k gak abis-abis. Dan gue sebagai anak yang overthink, jelas gak bisa bodo amat begitu aja.
Gue sering ribut sama bokap pas gue mulai masuk SMA. Dia mukul gue? Oh, sering. Dia ngatain gue? Sering. Dia ngatain gue bukan anak dia dan nuduh kalau nyokap gue hamil gue sama orang lain? Pernah.
Dan itu adalah alasan kenapa gue benci bokap. Gue tahu ini dosa. Tapi gue gak bisa mengelak tentang perasaan yang gue punya ke bokap. Gue mati rasa sama dia. Gak pernah sekalipun ngerasa kasihan apa lagi sayang semenjak gue tahu kalau selama ini kelakuan dia gak ada yang beres dan bisanya cuman nyakitin orang lain.
Kemudian setelah nenek gue meninggal—yang mana ini bikin gue kacau banget karena gue sesayang itu sama nenek—gue memutuskan buat tinggal di apartemen ini seorang diri. Menolak ikut salah satu dari bokap—karena gue bukan anak kecil yang mau dibodoh-bodohi lagi. Apa lagi semenjak bokap punya istri baru dan punya anak lagi, gue makin gak peduli sama dia. Jadi selama ini gue cuman lebih deket sama nyokap doang—yah, walaupun sebenernya nyokap juga udah punya keluarga sendiri dan punya anak juga satu. Cowok juga, kayak anaknya bokap sama istri barunya.
Tapi sekali lagi, gue udah gak mau ngurusin hal yang kayak gituan.
Tapi sayangnya, gue gak bisa sebodo amat itu tentang masa lalu gue, meskipun gue mau. Setiap kali gue inget—kayak malam ini misalnya—d**a gue kayak ditikam belati. Sakit. Setiap inget kalau gue kehilangan masa kecil yang harusnya gue habisin dengan bersenang-senang di sekolah, dapet kasih sayang di rumah, sementara yang gue dapetin gak kayak apa yang dipunya sama anak-anak seumuran gue yang lain, lo kira gimana perasaan gue?
Jelas gak baik.
Itu alasan kenapa gue larinya ke kelab malam, ke alkohol, ke cewek. Mungkin ini juga terdengar pasaran banget, tentang cowok yang nakal dan b***t di luar karena keadaan di rumah membuat dirinya hancur. Tapi itu bener adanya. Dan gue adalah bukti nyata.
Kini, pandangan gue gak lagi ke televisi. Fokus gue juga udah buka ke pertandingan bola tersebut. Mata gue menengadah, menatap atap-atap apartemen. Merasakan hening dan kesepian yang gue rasain, lagi dan lagi.
Kenapa coba gue harus lahir dari orang tua kayak nyokap sama bokap? Kenapa mereka harus egois, mengorbankan gue, dan kini berbahagia dengan keluarga barunya? Sialan. Dikira gue gak kepingin apa kayak Satria yang walaupun bokapnya udah meninggal, tapi dia punya ibunya yang masih sayang banget sama dia, atau Brian yang bokap-nyokapnya humoris parah, atau Dafi dan Wildan, yang keadaan di rumahnya yang selalu hangat dan membuat nyaman?
Gue gak kepingin hidup kayak gini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gue mengusap wajah dengan kasar, berusaha ngelupain hal-hal yang bikin gue keinget sama masa lalu sialan gue. Karena nonton tivi gak bikin perhatian gue teralih, gue memilih turun dari ranjang. Masih dengan kaos pendek dan celana rumahan panjang semata kaki, gue membuka kaca pembatas antara kamar dan balkon, lalu melangkah ke luar sambil menenteng bungkus rokok juga pemantiknya. Gue butuh pengalihan dan semoga angin malam, langit gelap, dan apapun yang akan gue temui di balkon nanti bisa membuat gue lebih tenang.
Gue duduk, menatap lurus ke depan walaupun lagi gak fokus ngeliatin apa-apa, tangan kiri gue mengambil satu batang rokok, menyelipkannya di antara bibir, lalu menunduk untuk mengarahkan ujung nikotin tersebut ke pemantik yang ada di tangan kanan gue.
Gue mengedarkan pandangan, tapi kemudian sedikit menyipitkan mata kala di balkon apartemen sebelah—alias apartemennya si gay—gue menemukan satu cewek yang lagi berdiri di dekat pagar. Dia juga ngerokok. Gue mengangkat alis, mengamati setiap gerakan bibirnya yang menghirup lalu melepaskan asap ke udara.
Rambut panjang kecoklatan yang diurai, tubuh langsing dengan bagian berisi di tempat yang tepat, celana pendek gak sampai setengah paha, juga kaos putih dengan gambar The Beatles, dari samping aja dia udah kelihatan cakep banget.
Buset, Jefran. Baru juga lo galau-galauan di kamar. Sekarang ngelihat cewek cakep dikit udah begini aja lo. Batin gue menegur. Tapi sumpah gue gak bohong, cewek yang lagi ngelamun sambil ngerokok itu—padahal jelas temen-temennya lagi asik karaokean di dalam apartemen itu—terlihat menarik. Wajahnya kelihatan gak happy. Kalau gue boleh tebak, kayaknya dia lagi gak pengin berada di antara temen-temennya itu, makanya dia milih menyendiri balkon—sama seperti gue.
Mungkin cewek itu punya insting kalau seseorang lagi mengamatinya karena sedetik kemudian, dia menoleh ke arah gue, membuat pandangan kami bertubrukan. Tapi tak satu pun dari gue dan dia yang punya niat buat mengalihkan pandangan. Kita sama-sama mengunci mata masing-masing.
Tapi kemudian dia kalah. Dia menghisap rokoknya lagi dengan mata yang kembali ngadep depan, mengacuhkan gue aja. Karena itulah gue jadi memilih untuk menghampirinya—maksud gue, gue jalan mendekat ke pembatas antara balkon gue dan balkon dia.
Sok asik aja, tiba-tiba gue membuka suara. “Temen-temen lo lagi happy-happy. Kenapa lo disini?”
Anjirnya, dia bener-bener ngacuhin gue. Oh, atau dia b***k beneran?
“Hello, sexy lady. I’m talking to you.”
“Well, gue gak kenal elo, sih.” jawabnya sinis, masih dengan tidak menoleh ke arah lawan bicaranya, gue.
Gue menyeringai kecil. Menarik banget, sih, ini cewek. “Well, ini tanda kalau lo ngajakin gue kenalan? Alright, come here,” ucap gue sambil menodongkan tangan, mengajaknya berkenalan. “I’m Jefran.”
“Nice info, Babe, but i don’t need that.”
Kan, gue bilang juga apa? Ini cewek menarik banget. Dari caranya berdiri, caranya berbicara, caranya melirik sinis ke arah gue. Damn, she looks hot. So freaking hot.
“You’ll need that,” ucap gue percaya diri. “Gimme your name now.”
“Stranger, please, gue lagi gak mood ngobrol. Leave me alone, will you?”
Melihat cewek itu akhirnya menoleh, gue jadi mendapati matanya yang tampak layu. Dia masih cantik, sure, tapi mata tajam dan indahnya itu gak bisa bohong kalau dia lagi... sedih?
Gue jadi gak enak sendiri mau ngelanjutin buat flirting. Lagian ngelihat dia sedih gitu, gue jadi gak tega juga ngelihatnya. Ngingetin gue kalau lima menit yang lalu gue juga kayak dia.
Gue menghisap batang rokok di tangan, lalu menghembuskannya ke udara. Mata gue udah melanglang buana ke langit-langit, kembali melamun lagi.
“Well, i’m not really in the mood tonight, too,” ucap gue memulai perbincangan yang gak flirty lagi. “That’s why malem minggu kali ini gue milih di balkon, ngerokok sendirian, dari pada main keluar.”
Jujur, gue juga gak tahu ngapain cerita soal ini ke dia. Tapi ya udahlah.
Tiba-tiba, cewek itu menoleh. Benar-benar menoleh sampai sebadan-badan. Dia lalu menunduk untuk mengambil sloki minumannya.
“Need one?” tawarnya, membuat gue gak bisa menahan senyum. Gokil, ini cewek gak ada geternya sama sekali.
Gue mengangguk akhirnya, menerima satu sloki lain untuk gue teguk.
“Lo pernah ngerasa kesepian?” tanya gue, memulai sesi curhat lainnya. “It sucks like hell. Gue benci ngerasa sendiri, sepi, padahal gue bisa aja keluar cari cewek, atau nongkrong, atau kemana, kek. But they are’t my home. I have nothing to called home.”
“I feel you, then.”
Gue mengangkat kepala. “Gimana?”
Tapi dia gak mau mengulanginya. Dia hanya melanjutkan. “Kayaknya setiap orang bakal ada di titik kesepian karena, you know, nothing lasts forever. Here i tell ya my opinion. Being lonely isn’t bad at all karena dengan itu, lo gak bakal kaget lagi kalau suatu hari nanti lo bakal ditinggal, lagi, sama seseorang. Lo gak bakal ngerasa se-suck ini. Lagian buat apa punya banyak orang di sekeliling kita kalau alih-alih mereka bikin kita seneng, mereka malah bisanya bikin kita sedih?” cewek itu menatap lurus ke mata gue dan memberi senyumnya. Membuat gue bisa melihat warna ndah bola matanya dan hampir tenggelam di sana. Senyumnya, tatapnya, semuanya memabukkan. “So i guess you don’t have to feel pathetic. And thing about home, trust me, you’ll found out that one, one day.”
Semua kalimat itu keluar dari bibir tipis nan seksinya. Tapi jangankan mau mikir macem-macem soal bibir itu, yang ada kali ini gue tenggelam sama setiap kalimatnya. Suaranya bagai obat, kata-katanya bagai ramuan, membuat gue merasa tiba-tiba lebih baik dengan apapun yang gue rasain saat ini.
“Thanks for sharing, Jefran,” ujarnya kemudian. Dia menaruh sisa rokoknya di asbak lalu menyempatkan memberi gue senyum manis. Kontradiktif banget dengan wajahnya yang terlihat jutek dan savage itu. “I have to go now.”
“Lo mau kemana?’ tanya gue cepat.
Dia mengangkat kunci mobilnya tinggi-tinggi. “Balik.”
“What?” Aduh, kenapa, sih, harus cabut cepet-cepet. “Wait, can i get your name?”
Cewek itu kembali tersenyum—sial, gue bener-bener kecanduan sama senyum itu—lalu dengan melangkah menjauh, gue masih bisa menangkap suaranya.
“Gea, Jefran. I’m Gea Abrillea.”
Shoot, man.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *