* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Natama Brian.
Siapa yang gak kenal sama bassist kesayangan kampus ini? Dengan senyum yang menawan, otak jenius di bidang akademik, pandai mencuri hati para perempuan karena tutur katanya yang lembut—tapi sayang ini gak berlaku buat cowok karena kalau ngomong sama cowok, omongan Brian gak ada filternya—dan beberapa macam kelebihan lainnya yang gak bisa disebutin, gak heran seorang Natama Brian bisa dikenal dari ujung ke ujung, jadi bahan imajinasi para cewek yang mupeng setiap kali lihat, juga jadi kesayangan para pendengar radio karena lagu yang ditulis menghasilkan lirik yang mampu mencuri hati.
Siang ini, Brian sedang berada di salah satu kelas mata kuliahnya. Dengan dosen muda yang punya paras memikat namun sayangnya terdapat cincin di jari manisnya—pertanda bahwa dosen kesayangan para mahasiswa cowok ini sudah menikah—Brian malah berkali-kali melirik jam tangannya.
Bukan apa-apa, hanya saja pesan masuk yang baru ia baca sekitar dua menit yang lalu membuat dia jadi kehilangan fokus mendengarkan dosen.
Papa :
bri, mama masuk rumah sakit lagi
asmanya kambuh, agak parah kata bibi
ini papa otw ke sana juga
kalau kamu udah selesai kelas kesini, ya
Adalah pesan yang tadi diterimanya.
Ini bukan pertama kali Brian mendapat pesan serupa saat berada di tengah-tengah kelasnya. Briana—nama mamanya—sudah dua bulan ini sering keluar masuk rumah sakit. Sebenarnya, penyakit yang diderita ibunya ini adalah Lupus. Dan asma yang disebutkan oleh papanya tadi sama sekali gak berkaitan dengan lupus. Tapi karena ibunya sudah menderita asma sejak kecil karena keturunan lalu ditambah lupus yang baru datang sekitar tiga bulan yang lalu makin memperparah semuanya.
Dia menoleh ke sampingnya, lalu menjawil cowok yang mana sebenarnya itu adalah kakak tingkat yang mengulang mata kuliah ini karena semester kemarin tidak lulus.
Mengingat Brian duduk di barisan kedua dari paling depan, dia harus bicara sambil berbisik. Gimanapun, dosen cantiknya ini juga judes, coy.
“Bang, ini kelas sampai jam berapa?’
Yang ditanya—Andro—cuman mengedikkan bahu. “Gak tahu, anjir. Jangan nanya gue.”
“Berapa SKS, sih?”
“Dua.”
“Ooh...”
Brian mengangguk-angguk lalu kembali menegakkan punggung. Kepalanya sedikit meneleng ke samping untuk melihat jam dinding, lalu diam-diam menghitung berapa menit lagi kelas ini akan berakhir kalau memang benar hanya 2 SKS.
“Natama Brian.”
Panggilan dengan nada datar tapi tegas itu membuat cowok yang lagi gak fokus disana sedikit berjengit kaget. Ia menolehkan kepala ke arah sumber suara, lalu merutuki diri kala Bu Nilam lah yang memanggil.
“Sudah tidak betah berada di kelas saya?”
“Enggak, Bu.” jawabnya sambil menggaruk tengkuk.
Ia merasakan banyak tatapan dari sekeliling yang sama-sama menaruh atensi kepadanya. Mau gak mau dia jelas malu, lah, di tegur begitu di depan orang banyak. Bisa rusak nanti citranya jadi bassist keren dan mahasiswa pintar.
“Kalau tidak betah, kamu bisa keluar sekarang.”
Brian kembali menggeleng. “Maaf.” ujarnya sebagai penutup lalu menegakkan punggung dengan dua tangan ada di atas meja, menggesturkan tubuh bahwa ia tak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Bu Nilam menghela nafas, lalu menjauh dari mejanya dan kembali menunjuk slide Power Point.
Sabar, sabar, lima belas menit lagi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kepada penanggung jawab mata kuliah saya, setengah jam dari sekarang saya akan kirim tugas via email untuk pertemuan minggu depan. Selamat siang.”
“Siaaaang.”
Tepat ketika Bu Nilam keluar dari pintu, mahasiswa sudah mulai berceceran dan berisik. Sebagian ada yang menyempatkan meregangkan otot, ada yang mulai menidurkan kepala ke atas meja, ada yang bernyanyi dengan suara falsnya sembari merapikan buku, ada pula yang seperti apa yang Brian lakukan saat ini—berdiri sambil membenarkan sepatu yang sempat ia copot lalu tergesa-gesa keluar dari kelas karena ada urusan yang harus dilaksanakan detik itu juga.
Karena kelas yang kini ia tempati hanya membuka satu pintu saja sedangkan satu pintunya sengaja ditutup, banyak mahasiswa jadi berdesak-desakan keluar sambil bergosip ria—ini terutama cewek-cewek, sih, yang gak mau ngalah.
“Permisi,” suara seorang perempuan dari belakang punggung Brian membuat cowok itu otomatis menyingkir, membiarkan sosok itu berjalan mendahuluinya. Brian berjalan setelahnya. Ia sudah tidak fokus apa-apa selain menambah kecepatan langkahnya.
Usai memencet tombol angka 1, Brian memasuki lift dan mendapati mesin itu agak penuh. Ada sekitar tujuh atau delapan manusia yang sedang berada di sana, kalau Brian tidak salah hitung. Dia segera masuk usai tasnya ia lepaskan dan memilih untuk ia peluk dari depan agar tidak menyenggol yang lain.
Lift mulai bergerak. Sedikit lebih lama untuk turun ke lantai dasar mengingat kelasnya ada di lantai lima. Belum lagi di setiap lantai, ada saja yang baru bergabung. Membuatnya semakin bergeser ke arah kiri.
Di antara penantiannya turun ke lantai yang ia tuju, Brian iseng melirik ke kanan kirinya. Lalu ia ngefreez buat beberapa saat karena mendapati perempuan dengan tinggi rata-rata, dengan outfit sederhana; celana jeans, sneakers, dan kemeja yang bagian lengannya dilipat sampai siku, lalu rambut yang digerai menunjukkan panjang yang nanggung alias dibilang panjang ya enggak panjang-panjang banget, tapi pendek juga gak pendek-pendek banget.
Cewek itu tiba-tiba menoleh juga, membuat Brian gak ada waktu buat memandang ke arah lain.
Dia berdeham. “Lo anak Sumberdaya Air, ya? Maksud gue, lo sekelas sama gue, kan, tadi?”
Si cewek mengerutkan dahi. Kemudian mengedikkan bahu. “Emang iya kita sekelas? Gak tahu. Tapi gue barusan emang dari kelas Sumberdaya Air.”
“Kita sekelas berarti.”
Si cewek gak menjawab.
“Gue tadi sempet ngeliat lo nyalip gue di pintu. Makanya tahu.”
Brian mengutuki diri sendiri yang tiba-tiba jadi sok kenal begini. Apa lagi kalau dilihat sekelas, cewek di sampingnya bukan tipe cewek yang ramah dan mau berbasa-basi sama orang asing. Makanya Brian sekarang terlihat ngomong sama tembok lift.
Brian kira cewek itu gak akan jawab apa-apa, gak akan bersuara lagi. Tapi ternyata tebakannya salah karena sekitar beberapa detik mereka saling diam, cewek tersebut noleh ke Brian, mengamati Brian sesaat lalu membuka suara. “Ooh, lo yang tadi ditegur sama Bu Nilam?”
Sialan. Brian mengumpat dalam hati. Yang diinget sama cewek ini malah bagian dia yang kena tegur dosen.
Cowok itu nyengir. “Iya.” Brian berdeham, lalu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan karena lift sempit, coy. “Gue Natama Brian.”
“Iya, tahu. Tadi Bu Nilam nyebutin nama lo.”
“Lo tadi duduk dimana emang?”
“Belakang lo persis.”
Brian ber-oh ria. Sebenarnya ia juga agak heran, sih, kenapa cewek disampingnya ini tahu namanya dari Bu Nilam, alih-alih kayaknya seluruh mahasiswa di kampus kenal Natama Brian lewat Band Lima Hari.
Maksudnya, biasanya Brian akan memperkenalkan diri kemudian lawan bicaranya akan balas, “Ooh, lo Natama Brian bassistnya Lima Hari?” gitu. Tapi kayaknya dia gak kenal Natama Brian dari Lima Hari, kenalnya Natama Brian yang ditegur sama Bu Nilam.
Ting.
Lift terbuka. Kali ini mereka sudah berada di lantai dasar. Brian kemudian keluar dari sana setelah cewek cantik yang tadi ngobrol dengannya keluar duluan. Seolah percakapan di dalam lift tadi gak ada artinya—yah, emang artinya apa juga, sih, Bri?—cewek itu langsung jalan aja gak pakai pamit sekedar, “Oi, duluan ya.”
Brian mengikuti dari belakang. Bukan maksudnya sengaja jadi penguntit si cewek, tapi karena arah mereka sama-sama keluar gedung. Brian mempercepat langkah kakinya lalu mensejajarkan posisi.
“Lah?” cewek itu berhenti sedetik sebelum lanjut jalan karena kaget tiba-tiba disamperin.
“Lo mau kemana?” Brian bertanya.
By the way, jangan tanya dia kenapa Brian tiba-tiba sok asik banget sama ini cewek karena jawabannya, dia juga gak tahu. Iseng aja gitu.
“Ke depan. Anyway, Natama Brian, kalau lo ada niat ngajak kenalan sekarang atau apapun, gue gak bisa. Gue buru-buru, oke?”
Mendengar itu, Brian jadi ngakak dalam hati. Ini cewek kenapa geer banget, hadeh?
Tapi akhirnya Brian cuman manggut-manggut. “Emang lo buru-buru mau kemana?”
“Ke rumah sakit. Temen gue kecelakaan.”
“Rumah sakit mana?”
Si cewek berdecak. Mungkin risih dan kesal karena terus ditanyai. Mana sama orang asing pula!
“Harapan Keluarga.”
Mata Brian jadi melebar. “Bareng gue aja. Gue juga mau kesana.”
“Hah? Lo bareng gue atau gue yang bareng lo?”
“Emang lo bawa kendaraan sendiri?”
“Enggak.”
Brian hampir memutar bola matanya mendengar jawaban itu. “Makanya sama gue aja. Gue emang mau kesana abis kelas, nyokap gue—intinya gue emang mau ke HK.”
Cewek itu menggeleng. “Gue bisa naik taksi.”
“Aduh, boros. Udah bareng aja.”
Brian mengambil tangannya dengan lancang, tapi tidak kencang apa lagi sampai menyakiti. “Yuk, gue bawa motor, kok.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Brian memarkirkan motornya di tempat parkir utama Rumah Sakit Harapan Keluarga. Tepat ketika dia melepaskan helmnya, celananya bergetar tanda bahwa ada pesan baru masuk. Dia cepat-cepat merogoh saku dan membukanya.
Papa :
Bri udah otw kesini belum?
Tanpa membalasnya, cowok itu segera mengantungi lagi benda itu. Ia segera turun ke motor dan ingin segera menemui ibunya. Sepertinya baik Brian maupun cewek yang ia bonceng ini sama-sama sedang terburu-buru, jadilah ketika cewek itu sudah merapikan rambutnya yang terkena angin karena gak pakai helm, dia langsung berpamitan.
“Makasih, ya, tebengannya. Gue masuk duluan. Bye.” ujarnya lalu berlari kecil menjauh.
Brian cuman mengangguk dan langsung belok ke arah kiri, mendapatkan jalan pintas agar lebih cepat ke ruangan yang dimaksud oleh Papanya, dimana sang ibu mendapat perawatan.
Baru kakinya hendak membawa tubuh belok ke arah kanan, hapenya bergetar lagi—kali ini getaran itu tak berhenti, malah datang terus-terusan seolah pesan yang masuk ini beruntun. Kali ini bukan papanya seperti tebakan Brian.
Group : Lima Hari
Jefran Lee Samuel :
bri cepet bri
ini dafi ama wildan udah di apart
lo kemana etdah
Dafi Renaldi :
tau nih
diamukin bang satria mampus lu
Membaca pesan masuk itu, Brian langsung mengumpat sejadi-jadinya sampai menepuk dahi. “Sial, sial, sial. Gue lupa lagi.” ujarnya menggerutu pelan.
Serius, dia gak bohong. Brian lupa kalau dari tadi siang dia udah berjanji akan datang ke apartemen Jefran, teman satu band-nya, untuk memberi tahu lagu baru yang sudah ia tulis dan rencananya juga akan latihan hari ini juga.
Astaga, Brian bisa membayangkan Satria bakalan mengomel panjang lebar. Apa lagi yang ngajakin ketemuan, kan, emang Brian sendiri. Tapi lihat, yang membatalkan juga Brian. Akhirnya, dengan segera, cowok itu mengetik cepat di atas keyboard layar ponselnya sebagai balasan sebelum menaruhnya di saku dan melanjutkan langkah.
Natama Brian :
anjriiit sori
sumpah reschedule aja gimana
sori sori
lagi ada urusan urgent
talk to u later
“Pa.”
Dengan langkah yang tersisa masih banyak, Brian tak mengurungkan niat untuk memanggil Papanya. Walaupun dia datang dari arah belakang dan hanya terlalu punggung papanya, dia tahu benar kalau gak bakal salah orang. Maklum, namanya juga ikatan batin antara anak dan bapak. Selian itu, dari tegapnya punggung sang bapak dan potongan rambut, tinggi badan, pakaian dari atas sampai bawah, jelas dia bisa mengenali.
Adi—papanya, menoleh. Pria tampan walaupun usianya sudah tidak lagi muda tersebut sebenarnya sedang berbincang dengan suster. Tapi tampaknya sudah selesai karena selanjutnya Adi melangkah mendekat pada sang putera tunggalnya.
“Gimana Mama? Kata Papa parah? Parah gimana emangnya?”
“Calm, son, calm.” ujar papanya sambil menepuk pundak Brian. “Tadi emang parah kata Bibi. Mama langsung dibawa ke UGD. Tapi sekarang udah gak apa-apa, udah stabil.”
Mendengar itu, Brian langsung membuang nafas lega. Dia gak sadar kalau dari tadi udah nahan nafas takut kalau ibunya kenapa-napa. Detak jantung Brian yang sedari tadi tak tenang akhirnya kini perlahan bisa sedikit pelan.
“Terus sekarang Mama dimana, Pa?”
“Di ruang... bentar lupa--oh, Anggrek 51. Kamu mau kesana?”
Yang ditanya mengangguk. “Papa enggak?”
“Ya kesana, lah. Tapi Papa mau ke administrasi dulu. Kamu kesana sekarang aja gak papa. Mama kamu cuman sama Bibi di ruangan.”
“Oh, oke.”
Akhirnya Brian meninggalkan Papanya. Dia menghampiri mading rumah sakit yang letaknya tak jauh dari tempat dia berdiri tadi, lalu matanya bergerak cepat mencari dimana letak ruang yang disebutkan oleh Adi tadi.
Bermenit-menit kemudian, akhirnya dia sampai di depan ruang Anggrek 51. Ia mengetuk pintu dua kali lalu membukanya. Brian segera mendekati sang ibu yang terlihat santai saja dengan memangku mangkuk salad dan mata lurus ke arah televisi rumah sakit. Di sampingnya, ada bibi yang sibuk menuangkan air mineral ke dalam gelam.
“Ma, astaga.” Brian mengecup kening ibunya lalu menggengam tangan rapuh itu. “Mama gak papa?”
“Gak papa, Bri. Kamu gak liat, nih, mama lagi apa?”
Brian mendengus. Emang, deh, Mamanya tuh paling bisa bikin khawatir di detik satu, lalu bikin Brian nyesel karena khawatir di detik ke dua. Seperti kali ini. Dia udah jantungan dari kampus sampai ditegur Bu Nilam, tapi ketika udah ketemu sama mamanya, yang didapati adalah mamanya nonton drama korea sambil makan salad. Masih terlihat sehat walaupun wajahnya sedikit pucat.
“Maaf, ya, Mas Brian,” ujar Bibi—Bi Mina namanya—sambil meringis. “Tapi emang bibi panik banget, makanya langsung nelpon papa Mas Brian sambil bilang ibu kejang. Tapi emang ibu tadi kejang, kok. Jadi Bibi juga cepet-cepet nyuruh Pak Kasin nganter ke rumah sakit.”
“Iya, Bi. Gak papa,” Brian mengulas senyum. “Makasih, ya, udah tanggap. Tapi omong-omong tadi mama ngapain sampai asma lagi?”
“Gak ngpa-ngapain.” jawab ibunya cepat.
Tapi Brian jelas gak mau dibohongi. Dia menoleh pada Bi Mina menuntut jawaban. “Bi?”
“Bu Briana ngegym, Mas.”
Brian otomatis langsung mendelik. “Astaga, Mama... Ya, pantes aja, sih, kalau gitu.”
Kemudian, ruangan itu diisi oleh cekcok antara Brian dan sang Mama yang mempertahankan pendapat masing-masing. Hal itu terhenti ketika kemudian Adi memasuki ruangan dan berhasil membuat Briana mengalihkan perhatian dari sang anak.
Brian duduk di sofa, di sampingnya ada Bi Mina yang kini sedang menekan-nekan remot, mencari serial India kesukaannya. Pikiran Brian tidak sengaja melayang kepada gadis yang tadi berada di boncengannya. Kalau dipikir-pikir, kok bisa, ya, tiba-tiba Brian maksa cewek asing buat nebeng dia aja padahal kenal juga gak ada sejam ngobrol.
Tapi ceweknya emang cantik, sih. Batin Brian disusul dengan tawa kecil karena pikiran konyolnya. But, wait. Astaga, Brian bahkan belum tahu siapa namanya!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Natama Brian’s Point of View
Setelah hari itu, setelah kejadian gue ngobrol sama cewek itu dan berakhir nebengin dia ke rumah sakit, keesokan harinya dan besok-besoknya lagi, gue sering papasan sama cewek itu. Contohnya, gue baru selesai kelas dan keluar, terus ketemu dia yang ternyata kelasnya make ruang kelas gue, atau gak ketemu papasan di toilet, gue keluar dari toilet cowok, dia baru mau masuk ke toilet cewek. Intinya sering banget. Tapi dari sekian banyak papasan itu, gak sekalipun gue punya kesempatan buat berbincang lebih lama. Jangankan ngobrol, buat nyapa aja gue kagok. Sebenernya gue bisa aja sih nyapa hai doang, masalahnya kalau ketemu gue, cewek itu seolah gak pernah kenal gue. Ya jelaslah itu bikin gue mikir ulang buat maju nyapa.
Kalau dibilang kepikiran sama cewek itu, gue bakal jawab enggak juga. Sebenernya, sih, biasa aja. Di pertemuan pertama, gue sempet ngeliatin dia di lift waktu itu, gue tahu dia cantik. Cantik yang tipe manis dan gak ngebosenin. Walaupun keliatan agak jutek dan menutup diri dari orang asing, itu gak bikin kadar cantiknya luntur barang satu persen. Kalau gak salah tebak, dia agak gak feminim. I mean, look at those outfits she wears. Setiap kali gue ketemu dia, pakaian yang dia pakai gak jauh-jah dari celana jeans yang membentuk indah kaki jenjangnya, sepatu sneakers—gak pernah sekalipun gue ketemu dia pakai flatshoes apa lagi heels—dan sepatu andalannya adalah sneakers tosca-putih. Baru, deh, atasannya yang gak jauh-jauh dari kemeja, atau kaos, atau pakai jaket jeans yang dalemannya kayaknya, sih, tanktop doang. See? Dari cara berpakaiannya, bisa ketebak, kan, kalau alih-alih kayak cewek lain di kampus yang demen pakai rok dan bermake-up, ini cewek malah seratus delapan puluh derajat kebalikannya.
Tahu-tahu, satu minggu udah berlalu,
Kini, gue yang baru kelar mata kuliah Mekanika Tanah II dan harus lanjut tanpa jeda buat ke kelas Sumberdaya Air, melangkah seorang diri karena dari kelas sebelumnya emang gak ada anak yang ke SA. Ketika menunggu lift terbuka dan gue bisa pergi ke ruang kelas SA, gue baru inget sesuatu.
“Lah, matkul SA, kan, yang matkul ketemu sama cewek itu?” gue ngebatin dalam hati.
Akhirnya, tepat ketika kaki gue tinggal selangkah lagi menuju pintu ruang kelas, gue mendapati kursi masih banyak yang kosong alias masih banyak mahasiswa SA yang belum dateng. Mata gue melakukan scanning cepat, lalu berhenti tepat ketika menemukan gadis yang gue cari. Cewek itu lagi menunduk dengan laptop terbuka di mejanya, jemarinya mengetik cepat, rambutnya dicepol asal, astaga gue tahu kalau ini bakal kedengeran kayak buaya banget tapi harus gue akuin, dia cantik banget dengan hair style sederhana itu.
Gak pakai lama, gue ambil duduk persis di samping dia. Kebetulan kursinya lagi kosong—yakni di barisan ke tiga dari depan, di bagian tengah. Dia gak noleh sedetik pun, gak ngerasa keganggu bahkan ketika kursi di sampingnya—alias jadi kursi gue sekarang—berdecit saat gue duduki. Seiring dengan gue yang mengambil map merah mata kuliah SA, gue menyempatkan untuk mengamati outfit yang dia pakai. Seperti biasa, cewek ini gak pernah pakai make up, membiarkan wajah putihnya terpampang tanpa bedak, kemeja kuning yang tiga kancing teratasnya dibuka sedangkan ia memakai dalaman hitam, celana jeans biru tua namun sedikit luntur, dan sepatu sneakers tosca-putihnya, lagi. Diam-diam, gue tersenyum entah buat apa. Suka aja gitu ngeliatin cewek ini selalu berpenampilan apa adanya.
Di jurusan gue, Teknik Sipil, emang gak banyak cewek. Kebanyakan jelas laki-laki yang mendominasi. Tapi bukan berarti ceweknya cuman sebiji-dua biji. Di kelas SA saat ini aja masih ada sekitar tujuh atau delapan kaum hawa. Tapi gak satu pun dari mereka—selain cewek yang duduk di samping gue—berpenampilan biasa aja. Yang ada, cewe-cewek lain malah pakai rok di atas paha dan make up sedikit menor di bagian pipi dan bibir—yang usut punya usut, kalau kata Jefran, itu sengaja soalnya mereka pengin cari perhatian dari para cowok Teknik. Secara, cowok di jurusan kami emang tampangnya bisa diandalin semua. Contohnya, ya... cowok-cowok dari Lima Hari. Termasuk gue. Hahaha.
“Ngerjain apa?”
Gue gak bisa menahan hasrat buat mengeluarkan suara. Lagian, siapa suruh sibuk banget sampai dahinya mengerut begitu? Yang ngeliat, kan, jadi gemes.
Dia noleh, lalu memundurkan kepala sekilas—mungkin karena kaget tiba-tiba ada gue—sebelum kembali fokus ke laptop. “Kok tiba-tiba ada elo disini?”
“Oh, masih inget gue?” tanya gue, menyelipkan sedikit bumbu sarkastik ke dalam kalimat yang keluar.
Tapi yang ada, dia malah ngacuhin gue gitu aja. Ketikan jemarinya di atas keyboard semakin cepat usai dia melirik jam tangan di pergelangan tangannya yang putih itu.
“Kirain lupa. Soalnya beberapa kali kita papasan, lo melengos gitu aja,” lanjut gue, masih berupaya mengambil perhatiannya.
Tapi sialnya, ini cewek masih diam. Seolah gak ada yang ngajakin dia ngomong dari tadi. Seolah suara gue gak kedengeran di kupingnya. Gue gak nyerah gitu aja, lah. Gue tanya lagi. Mengulang pertanyaan yang sama seperti awal tadi.
“Ngerjain apa lo?”
Alhamdulillah, kali ini dijawab. “SA. Gue presentasi hari ini.”
“Tim lo yang mana?”
“Individu, anjir.”
“Eh?”
Loh, kok gue baru tahu hari ini ada jadwal presentasi? Inividu pula. Perasaan Bu Nilam gak ada nyuruh-nyuruh—oh, gue baru inget. Pasti cewek ini adalah cewek yang dua minggu lalu gak masuk kelas dan mengakibatkan Bu Nilam menyuruhnya buat presentasi hari ini sebagai gantinya.
Gue melirik layar laptopnya, terlihat dia lagi ngerjain power point dan meng-copas materi dari makalah ke slide-nya. Gue menggaruk dahi tanpa alasan. Bisa disimpulkan, kalau cewek ini suka ngerjain tugas mepet deadline kali, ya? Udah tahu ada jadwal presentasi, individu pula, malah belum selesai ngerjain.
Gue pengin banget ngajak ngobrol, basa-basi sedikit juga gak papa, tapi melihat dia yang dikebut waktu, geu gak tega dan gak berani ganggu juga. Akhirnya gue biarin dia fokus dengan kesibukannya.
Beberapa menit kemudian saat gue baru juga buka game online dan belum mencet apa-apa karena kelamaan loading—by the way wifi Teknik Sipil, tuh, emang ngeselin banget—gue melihat semua mahasiswa mulai grusah-grusuh dalam duduknya, bikin gue mengangkat kepala dan segera memasukkan ponsel ke dalam kolong meja saat mendapati dosen cantik tapi judes itu memasuki ruangan, membuat suara heels yang jungnya bersentuhan dengan lantai itu berbunyi kletak, kletuk, kletak, kletuk.
“Heh, heh,” gue menjawail bahu cewek samping gue. “Bu Nilam, tuh.”
Dia langsung mengangkat kepala, lalu gerakan menegetiknya semakin cepat, gue mengintipnya sekilas.
Oh, ternyata tinggal ngetik terima kasih.
“Selamat siang semua.”
“Siang, Buuuu.”
Lalu Bu Nilam meninggalkan tas nya di meja, berdiri lagi untuk sedikit mengulangi materi pertemuan terakhir, sebelum mempersilahkan mahasiswa yang belum sempat presentasi agar maju.
“Ada berapa mahasiswa yang belum presentasi?”
Si penanggung jawab matkul SA, alias Andro, menjawab seadanya. “Tiga mahasiswa, Bu.”
“Oh, oke. Siapa yang mau maju duluan?”
Kalau gue jadi cewek ini, gue bakalan pilih nanti aja, sih, akhir-akhir. Eh, dia malah mengacungkan tangan disaat dua mahasiswa lain—yang gue gak tahu siapa—yang harusnya presentasi gak ada yang angkat tangan.
Bu Nilam mengangguk lalu kembali duduk. “Silahkan maju.”
Gue melihat cewek di samping gue ini mengangguk singkat sembari mencabut satu flashdisk, membiarkan satu flashdisk yang lain tetap menancap di laptopnya. Kemudian dengan gerakan cepat, rambut yang seari tadi dia cepol, kini dia mencepot jepitnya, membuat rambut indahnya jadi tergerai indah. Gue bahkan sampai terpana, selain karena kelihatan lembut, wangi dari rambut itu menguar di hidung gue. Dia berdiri, dan sebelum cewek itu benar-benar melangkah ke depan, gue memutuskan buat bergumam kecil—tapi gue tahu dia denger.
“Good luck.”
Dia gak merespon, hanya terus melangkahkan kakinya ke depan, menyeberangi kursi-kursi yang membuatnya susah keluar, sambil sesekali membungkuk dan bilang “permisi, permisi.” Setelah cewek itu menghubungkan kabel ke laptop dan slide power point muncul di depan para mahasiswa, cewek itu menegakkan tubuh. Dia memasang senyum lalu membuka suara.
“Halo, selamat siang semuanya.”
“Siaaang.” gue ikut menjawab. Gak tahu kenapa, gue kayak sedikit excited aja ngelihat dia presentasi. Apa lagi dengan gini, gue bisa puas-puasin ngamatin dia dari ujung kepala sampai ujung kaki dan ngedengerin suaranya. Anjir, kenapa kedengeran creepy, sih?
“Saya Nindya Putrianne, kali ini ingin meminta waktunya sebentar untuk mempresentasikan....”
Semua ucapannya udah gak lagi masuk ke otak gue. Karena apa yang kini gue ulang0ulang di kepala gue adalah namanya.
Nindya. Nindya Putrianne.
Gue tiba-tiba tersenyum kecil. Namanya cantik. Dan terasa pas untuk cewek itu.
Shit, ini gue kenapa, sih?
Bermenit-menit kemudian, aa kali sampai hampir lima belas menit, gue dibuat diam karena speechlesss sama cara Nindya—asik, enak banget bisa nyebut namanya—saat presentasi.
Gue bertepuk tangan—kayaknya yang paling kenceng dari pada yang lain—setelah presentasi cewek itu selesai.
Gila. Gila, gue akuin gue gila. Maksudnya, dia yang bikin gue gila. Si Nindya ini.
Gue bahkan lupa kapan terakhir ngerasa mengagumi cewek sampai segininya. Dari awal, pembukaan yang diucapkan Nindya udah memuaskan. Dia tampak percaya diri, bahkan ketika sudah memasuki materi. Power point yang dia buat hanya berisi poin-poinnya doang. Selebihnya, cewek itu menjelaskan seolah materi yang dia bahas udah di luar kepala. Gesturnya selama menjelaskan sangat santai, tapi bahasanya mudah dimengerti. Gue terpesona sama gayanya. Layaknya wanita pembicara yang udah sering seminar kemana-mana, ya kayak gitu Nindya ini presentasi tadi. Sampai di sesi tanya jawab, Nindya bisa menjawabnya dengan tepat—begitu kata Bu Nilam. Dosen judes itu aja sampai dibuat bertepuk tangan—padahal selama ini, Bu Nilam gak pernah tepuk tangan abis mahasiswanya presentasi.
Berarti bukan cuman gue, kan, yang ngerasa kalau Nindya ini emang pinter dan pembawaannya bagus?
Oke, melihat dari respon gue atas setiap kelakuan dia sampai begininya, gue kayaknya harus akuin kalau... gue tertarik.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sayangnya, setelah presentasi hari itu, gue kembali dibikin gak pernah ketemu sama Nindya. Usai presentasinya selesai, dia kembali duduk di samping gue, lalu gue gak punya kesempatan buat ngajak omong selama kelas berlangsung karena Bu Nilam matanya tajem banget. Beberapa kali gue noleh ke arah Nindya dan baru mau ngajak ngobrol, tiba-tiba mata Bu Nilam mengarah ke gue. Begitu terus sampai akhirnya 2 SKS dosen ini berakhir.
Setelah kelas selesai, gue cuman sempet nanya ke dia begini.
“Abis ini lo mau kemana?”
Terus dia jawab. “Ada kelas Beton. Gue duluan, ya.”
Terus? Udah. Gak ada terus-terus karena cewek cantik itu keburu keluar dari kelas, meninggalkan gue yang jadi berdecak gemas melihat betapa Nindya kelihatan banget gak pernahmau membuka diri buat sekedar kenalan sama orang baru.
Tipe cewek yang play hard to get, i guess. Gue menyeringai kecil. Gak papa, Nin, gue suka, kok, yang susah dideketin begini. Lebih menantang.
Sialnya, seperti yang gue bilang, setelah kelas Sumberdaya Air selesai, gue gak pernah ketemu Nindya lagi. Kalau yang kemarin-kemarin gue masih punya kesempatan buat papasan, kali ini sama sekali gak.
Gue mengaduk es jeruk dengan malas. Mendengarkan cerita Jefran tentang cewek One Night Stand-nya yang katanya lagi ngedrama. Iya, siang ini—tepatnya pukul sepuluh lebih sepuluh menit di hari Rabu—gue kumpul di kantin sama anak Lima Hari. Gak full team, karena Wildan belum selesai kelas. Mengingat ini masih jam sepuluh, artinya gue, Jefran, Dafi, dan Satria emang baru selesai mata kuliah pertama.
Sebenarnya, niat Lima Hari kumpul-kumpul saat ini karena kita mau bahas soal Jefran yang katanya udah ngubah aransemen lagu. Tapi gak tahu, dah, kenapa yang dibahas malah belok kemana-mana. Omong-omong soal Satria yang beenran marah karena gue minggu lalu batalin janji, gue udah jelasin ke dia malemnya. Cowok itu emang sempet ngomel, tapi ya udah. Dia bilang dia bisa ngerti karena gimanapun ini menyangkut nyokap gue. Syukurlah.
Iseng, gue mengedarkan pandangan ke ruangan seisi kantin. Lalu mata gue berhenti dan melebar tatkala menemukan cewek yang belakangan mengisi pikiran gue—caelah—ada di salah satu meja. Nindya lagi di sana, dengan dua temen ceweknya yang membelakangi gue. Kali ini Nindya terlihat mendengarkan temannya berbicara dengan serius, sesekali terkekeh geli karena temannya bercerita menggebu-gebu. Gue gak bisa nahan diri baut gak ikut terkekeh. Cantik banget itu anak, sumpah.
Yang gak gue tahu, Jefran tiba-tiba mengarahkan pandangan ke arah apa yang gue pandang.
“Ngeliatin siapa, sih, lo?”
Gue tergagap. Langsung mengalihkan wajah ke arah berlawanan biar itu anak gak nemuin siapa yang dari tadi gue liatin. Tapi kayaknya telat, karena tahu-tahu, anak ayam itu menyeringai lebar.
“Oh, yang itu, Bri?”
Satria ikut-ikutan memanjangkan leher, Dafi juga. “Yang mana, sih, yang mana?”
“Yang itu, noh! Yang pakai jaket item!”
Anjir. Sialan. Kenapa Jefran pakai segala teriak-teriak, sih, ah?
“Diem, goblok.” gue mengumpat.
Jefran ngakak. “Udah sampai mana, Bri? Kok lo gak daa cerita-cerita, sih, kalau lagi sepik cewek? Udah sampai ngajak malmingan belum?”
“Apa, sih, kagak.”
“Woh, jangan-jangan lu ngecrush diem-diem?” Satria menuding gue. “Belum punya nomernya, ya, lo?”
“Tenang, Bri, tenang. Nih, liat. Gue sebagai sahabat yang baik, gue bantuin, nih, dapetin nomernya,” ujar anak ayam sambil berdiri. Dia menyeringai ke arah gue, bikin gue mendelik dan hendak menarik tangannya, tapi sial, Satria sama Dafi malah kompak megangin gue biar gak menggagalkan rencana Jefran.
Dan, ya... gue cuman bisa merunduk malu kala Jefran udah sampai di meja Nindya, membuat cewek itu tiba-tiba mengarahkan pandangan ke gue, ketika Jefran si anak ayam menuding keberadaan gue.
Bangke, emang. Kenapa, sih, gue punya temen begini amat.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *