Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya, tidak dapat menjelma
zonder perjuangan umat Kristen.
Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila
yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin
hidup menjadi satu bangsa, satu nasionaliteit yang merdeka, ingin
hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup diatas dasar permusyawaratan, ingin hidup
sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan
sejahtera dan aman, dengan ke-Tuhanan yang luas dan sempurna,-
jaganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah
perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan. Jangan mengira
bahwa dengan berdirinya negara Indonesia itu perjuangan kita telah
berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu
perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnja dengan
perjuangan sekarang, lain corak- nya. Nanti kita, bersama-sama,
sebagai bangsa yang bersatu padu, berjuang terus menyelenggarakan
apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila. Dan terutama dalam
zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah, dalam kalbu
saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika
bangsa Indonesia tidak berani meng-ambil resiko,- tidak berani terjun
menyelami mutiara di dalam samudra yang sedalam-dalam-nya.
Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-matimatian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu
akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke
akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa,
yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka”,-merdeka atau
mati”!(Tepuk tangan riuh).
Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas
pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya
ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo jang sedikit
lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan
kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap
“verschrikkelijk zwaarwichtig” itu. Terima kasih! (Tepuk tangan riuh
rendah dari segenap hadirin)?