BAB 1 Muqadimah 2

1057 Kata
Bahaya Zionisme terhadap Dunia Islam, dan tulisan Fahim Amin tentang Freemasonry dalam bukunya: Al-Masuniyah. Kedua penulis ini mengulas seluk-beluk gerakan Zionisme dan underbownya secara jelas sehingga dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang jati diri Zionisme. Pada bagian kedua kami bicarakan masalah pandangan Freemasonry terhadap agama, yang ditulis Abdullah Patani dalam risalahnya di atas. Bagian ini dapat memberikan gambaran selintas mengenai pokok-pokok pandangan gerakan tersebut terhadap semua agama di dunia, dan betapa besar pengaruhnya terhadap para pengikutnya di berbagai negara yang telah dipengaruhi oleh gerakan ini. Indonesia tidak luput dari pengaruh tersebut sehingga muncul orang–orang yang bersikap apriori terhadap agama, khususnya Islam dan meng-inginkan agar agama tidak dilibatkan dalam tata kehidupan berpolitik dan bernegara. Munculnya jargon-jargon politik seperti: “Jangan campur adukkan agama dengan politik. Agama itu urusan pribadi, dan politik itu kotor”, adalah salah satu aplikasi paham Freemasonry. Abdullah Patani menyebutkan beberapa nama orang Indonesia yang telah terbius oleh gerakan Freemasonry ini, antara lain : Nurcholis Madjid, Sarwono Kusumaatmaja, Sutan Takdir Ali Sjahbana, dan mantan wakil presiden RI pertama, Mohammad Hatta. Pada bagian ketiga dimuat pembahasan tentang asas Zionisme dan Freemasonry yang mencantumkan lima sila sebagai asas gerakannya. Dengan memperhatikan hal ini, maka pembaca dapat memahami dan membandingkan sila-sila yang menjadi dasar organisasi ini dengan sila-sila yang ada dalam Pancasila rumusan Soekarno yang disampaikannya ketika berpidato dalam sidang BPUPKI. Untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang hal ini maka pidato Bung Karno tentang Pancasila tersebut secara utuh kami muat pada bagian ke 6. Seluruh isi pidato tersebut hendaklah dicermati dari sila yang pertama sampai sila yang terakhir versi Bung Karno. Apa yang dikemukakan oleh Bung Karno tentang sila ke￾Tuhan-an yang berkebudayaan sebagai sila terakhir persis sama dengan sila kelima dari doktrin Zionisme yang disebut Monotheism Cultural yang secara harfiah kedua kalimat tersebut setali tiga uang. Selanjutnya, mengenai tafsir Pancasila yang memang sejak semula mengambang karena bermaksud untuk mengambangkan semua keyakinan agama dalam kehidupan umatnya untuk membangun tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka muncullah tafsiran yang bermacam-macam sesuai dengan latar belakang agama yang bersangkutan. Dalam hal ini kami kemukakan penafsiran Mr. Mohammad Roem tentang Pancasila. Kami kemukakan hal itu disini, dengan tujuan untuk memberikan gambaran bahwa Pancasila yang dijadikan sebagai idiologi negara tidak memiliki kejelasan isi dan pedoman sehingga orang semacam Mr. Roem mencoba untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang sila-sila Pancasila sesuai dengan keyakinannya sebagai seorang Muslim. Sudah tentu penafsiran semacam ini tidak pernah dianggap sah oleh penguasa maupun golongan-golongan di luar Islam. Akibatnya, kaum Muslimin sendiri terombang-ambing antara ajaran agamanya dengan isi yang dikehendaki oleh sila-sila Pancasila itu sendiri. Hal ini akhirnya menimbulkan benturan-benturan politik dan keresahan yang tidak pernah terselesaikan, antara penguasa dan semua penganut agama di Indonesia. Benturan demikian, pernah diramalkan oleh Prawoto Mangkusasmito dan kemudian ditulis dalam buku yang telah disebutkan di atas pada halaman 30 dan 31. Pada bagian kesepuluh, buku ini menyoroti pengamalan Pancasila pada rezim Soekarno. Sebagai salah seorang pencetus gagasan tersebut, perilaku dan sepak terjang Soekarno selama memimpin orde lama, perlu mendapat sorotan. Sebab sebagai pencetus gagasan tersebut, maka ia berkewajiban untuk memberikan contoh konkret penerapan dari sila-sila Pancasila yang telah digagasnya, supaya orang memperoleh pemahaman yang jelas tentang hal tersebut. Terbukti kemudian bahwa apa yang dimaksud oleh Soekarno dengan ke-Tuhan-an yang berkebudayaan bukanlah dalam pengertian yang ada dalam agama-agama langit khususnya Islam. Karena Soekarno dengan gigih menerima Partai Komunis Indonesia untuk tetap hidup, dan mengakui eksistensinya di dalam negara Pancasila, padahal PKI menyatakan diri sebagai golongan tidak ber-Tuhan. Dengan penerapan seperti itu, adalah wajar manakala ada orang yang memiliki persepsi, bahwa sila ke-Tuhan-annya Soekarno identik dengan Monotheisme Culturalnya Zionisme. Untuk melengkapi data sejarah, maka pada bagian ini kami sertakan riwayat hidup Soekarno kaitannya dengan gerakan Zionis yang ditulis oleh sejarawan Arab, Dr. Abdullah Tal dalam bukunya: Al-’Af’a al-Yahudiyah. Pada bagian kesebelas diketengahkan pembahasan tentang pengaruh Zionisme dan Freemasonry terhadap rezim Soeharto. Bagian ini menjelaskan seberapa jauh pengaruh gerakan Freemasonry terhadap kebijakan idiologis Soeharto dalam menjalankan pemerintahan orde baru. Hal ini tidaklah ganjil karena Soeharto sendiri pernah mendapatkan medali penghargaan dari Lion’s Club Internasional, sedangkan isterinya Nyonya Suhartinah Soeharto, termasuk salah seorang ketua Woman Lion’s Club Internasional. Bagian terakhir dari buku ini, kami paparkan contoh penerapan Pancasila, terutama terhadap rakyat Aceh selama masa pemerintahan Soekarno dengan orde lamanya, dan Soeharto dengan orde barunya. Kami ambil contoh kasus rakyat Aceh, karena wilayah inilah yang paling gigih menuntut supaya diberi otonomi yang luas sehingga dapat menegakkan kehidupan syariat Islam bagi rakyat Aceh, karena jauh sebelum bergabung dengan negara kesatuan RI, Syariat Islam telah berlaku dalam kehidupan mereka. Namun jawaban yang diberikan oleh Soekarno maupun Soeharto adalah penindasan, kedhaliman, dan janji￾janji palsu. Dengan adanya penerapan Pancasila semacam itu yang dilakukan oleh penguasa resmi, maka sulit bagi kaum Muslimin untuk mempercayai adanya jaminan kelangsungan dan eksistensi kehidupan kaum Muslimin dengan agamanya di bawah idiologi dan dasar negara Pancasila. Akan halnya pembahasan yang kami kemukakan di dalam buku ini, adalah merupakan kompilasi bacaan dari berbagai sumber yang sengaja dipilih bagian-bagian tertentu untuk melakukan pelacakan secara seksama tentang asal-usul Pancasila yang kini menjadi dasar dan idiologi negara Indonesia. Upaya pengumpulan ini, sudah pasti terdapat kekurangan, misalnya dalam merumuskan kesatuan pemikiran mengenai objek bahasan. Barangkali ada yang beranggapan, bahwa kompilasi berbagai tulisan dalam buku ini, terkesan dipaksakan secara tidak proporsional untuk mempengaruhi pembaca, guna mengikuti kesimpulan penyuntingnya. Sekiranya anggapan ini benar￾benar ada, tentulah tidak dinafikan sama sekali. Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwa adanya kesamaan Khams Qanun Zionisme dengan sila-sila Pancasila yang dirumuskan Soekarno, secara harfiah tidak dapat dianggap kebetulan belaka. Karena anggapan semacam itu mencerminkan pemikiran yang absurd (lemah). Kami menyadari sepenuhnya, bahwa terdapat banyak kekurangan dalam buku ini, dan banyak pula hal yang perlu dipaparkan lebih jelas lagi tentang pembahasan pada tiap-tiap bagian, sehingga memberikan bahan yang cukup untuk dikaji lebih jauh tentang adanya korelasi baik langsung ataupun tidak langsung, antara doktrin Zionisme dengan Pancasila. Untuk hal ini kami persilakan para ahli sejarah dan politik mendalaminya lebih jauh, sehingga teori ketiga tentang asal-usul Pancasila dapat dinilai benar atau salah secara ilmiah. Akhirnya, adalah bijaksana jika kami menyampaikan permohonan maaf kepada pembaca, bilamana menemui kekurangan di dalam buku ini, dan kami harapkan adanya kritik, saran, dan pendapat untuk kesempurnaan penulisan buku ini pada penerbitan selanjutnya. Selain itu kami memohon kepada Allah, semoga tulisan ini dijadikan-Nya bermanfaat bagi agama, umat, dan negara kami. Amin, Ya Mujibassailin!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN