Freemasonry yang terkenal itu dinamakan Masuniyah dalam
bahasa Arab, Masunik dalam bahasa Urdu, Freemasonry dalam bahasa
Inggris, Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda, France Masonerie dalam
bahasa Perancis.
Sikap Freemasonry Terhadap Agama
Pada awalnya dalam menjalankan misinya golongan ini
menggunakan tali persahabatan dan tidak mau menyinggung soal
agama. Pada tahap berikutnya, mereka menerbitkan buku-buku yang
memuat tentang pertumbuhan agama-agama itu dan bermuka ilmiah
itu dikatakannyalah bahwa semua agama itu sama, agama hanya satu
alat untuk memperbaiki akhlak masyarakat atau agama hanya berupa
kepercayaan bagian dari budaya suatu bangsa. Dalam berdakwah
menguraikan ajarannya, Freemasonry mempergunakan klub-klub,
balai-balai pertemuan ilmiah, gedung-gedung ikatan pemuda, sehingga
pengaruh Freemasonry tertanam pada jiwa-jiwa pemuda itu dan orangorang yang bertimpang dalam agamanya itu salah paham pada agama.
Seorang pimpinan sebuah organisasi pemuda itu pernah berkata:
“Membeda-bedakan agama itu termasuk fikiran ortodok. Agama itu
hanya bagian dari hasil pemikiran seseorang. Semua agama itu baik,
setiap bangsa pun mempunyai agama yang asli yang tumbuh dari
bangsa itu sendiri, galilah ajaran asli itu, kembali dan kita lestarikan
kebu-dayaan nenek moyang yang luhur itu dan ini kewajiban bagi
setiap pemuda.”(Majalah Kabana No. 6 muka 32).
“Islam itu hanya akan membawa pada kecintaan seorang tokoh
asing dan cinta Makah-Madinah, sedangkan nasrani itu hanya akan
membawa pada kecintaan seorang tokoh asing pula cinta pada Roma
dan adat istiadatnya itu, padahal kita telah mem-punyai kepercayaans
sendiri yang mungkin lebih baik jika kita gali karena memeluk ajaran
asing itu hanya akan membawa kecintaan ke negeri atas angin dan
mengokohkan penjajahan fisik, ideologi dan agama”, (Dari brosur
Trikoro Darmo disalin kedalam bahasa Indonesia oleh Yusuf Amin).
Samuel Smith seorang penggerak Freemasonry Irlandia berkata
dalam bukunya: “Agama itu diciptakan seorang genius untuk merubah
moral agama lama kepada moral agama baru hasil cip-taannya, dengan
demikian agama itu kultur yang satu pada kultur yang lain, (Siasat
Masuniyah : 38).
Seorang Simpatisan Freemasonry, Edward Eurnet Tylor berkata :
“Culture is that complex whole which includes knowledge, believe, art,
morals law, custom and other capacibilities and habite, acquired by
man as a member of society”, (Suara Kabana No. 14 muka 32). Artinya:
“Kebudayaan adalah keseluruhan tatanan hidup yang mencakup
sistim pengetahuan, kepercayaan (agama), kesenian, hukum, moral,
adat istiadat, kemam-puan dan kebiasaan lainnya yang diterima oleh
seorang sebagai anggota masyarakat”.
Khalil Saman seorang anggota Freemasonry dari Timur Tengah
berkata: “Sesungguhnya semua macam agama itu sama saja dan
merupakan ajaran-ajaran moral yang ada kalanya bertentangan
dengan moralnya sendiri. Suatu dogma kultural ada kalanya dengan
ajaran agama itu dapat memecah belah bangsa sendiri atau keluarga
sendiri sehingga kerukunan itupun runtuhlah, maka kewajiban bagi
seorang Freemasonry untuk menyadarkan mereka dan membebaskan
dari kekangan agama itu. Bagi perjuangan untuk kemajuan,
pembangunan sebuah negara biasanya penganut agama yang fanatik
itu menjadi penghalang utama. Orang Islam meng-kafirkan penganut
agama lain, menyuruh mem-punyai anak yang banyak, mengajarkan
perang terhadap agama lain, membedakan waris bagi laki-laki lebih
banyak dari perempuan, merampas harta kafir dan sebagainya. Dan
jika kita renungkan cukup untuk menjadi bom waktu bagi penguasa
jika umat Islam itu dibiarkan bergerak dalam organisasinya yang kuat,
waspadalah hai penguasa pemerintahan di seluruh dunia, dan wahai
Freemasonry seluruh dunia bersatulah!”, (Siasat Freemasonry, muka
65). Orang-orang Asia Tenggara sendiri yang dianggap memegang
teguh ajaran agamanya itu telah lama dimasuki ajaran Freemasonry,
sehingga banyak tokoh-tokoh dari Asia Tenggara itu ber-bicara dengan
suara Freemasonry.
Berkata Sutan Takdir Alisyahbana dari Indonesia: “Kalau benar
Tuhan itu adil, mengapa hanya memilih berat sebelah pada Islam saja,
bukankah agama itu banyak? Dengan demikian agama itu bukan
ciptaan Tuhan tetapi hasil evolusi pemikiran manusia!”, (Majalah
Kabana Asia no. 61).
Miyen dari Birma berkata: “Jangan membiarkan orang-orang
Islam bergerak karena mereka itu pun akan membangkitkan kembali
kerajaan Arab”, (majalah Kabana Asia no. 61). Khieu Sampan telah
memperingatkan anggota Komunis Khmer Merah agar jangan belas
kasihan pada penduduk Komping Cham karena mereka itulah orangorang Islam yang cukup berbahaya jika bergerak ....(Siasah Al
Masuniyah walsuyuiyah muka 54). Berkata Drs. Suharjo, seorang
Freemason Indonesia: “Bangsa Indonesia, terutama kaum inteleknya
janganlah diracuni idiologi asing, baik berupa Komunisme, Kapitalisme
maupun apa yang dinamakan idiologi Islam”, ( Masuniyah di Asia 67).
Ir. Sarwono Kusumaatmaja dan Nurcholis Majid dicantumkan
dalam majalah Kabana No. 61 karena dianggap turut serta atau
membantu Freemasonry menghancurkan umat Islam itu. Ir. Sarwono
karena ucapan-ucapannya dalam koran-koran Indonesia yang berisi
merendahkan agama terutama Islam, ia terlalu sinis dan antipati
terhadap organisasi-organisasi masa yang berasas Islam itu, karena
ucapannya: “Kalau menginginkan organisasi agama, mengapa mereka
hanya menghimpun satu agama saja? Organisasi-organisasi politik
dan sosial jangan diwarnai dengan agama...dan sebagainya”. Maka
dianggaplah ia pahlawan Freemasonry dari Indonesia begitu pula
dengan Nurcholis Majid karena gagasan men-sekuler-kan Islam. “Kita
harus anggap pahlawan Freemasonry serta seharusnya disematkan
bintang Daud pada kedua tokoh sekuler Indonesia Ir. Sarwono dan
Nurcholis Majid itu... “, (Kabana 61 muka 14).
13
Dalam buku-buku terbitan P.D.K seperti dalam anthropologi dan
sebagainya, dikatakan agama bagian dari kebudayaan. Dalam
Pendidikan Moral Pancasila sengaja anak-anak itu diambangkan
ajaran agamanya, sejalan dengan gagasan Freemasonry, sedikit demi
sedikit ajaran agama itu dikikis. Mereka pun mengharap agar anakanak itu jadilah seorang plotis, dan seorang plotis pada hakekatnya itu
tidak beragama. Dalam buku Kebudayaan dan Konstitusi terbitan
P.G.R.I disebutkan: “Jadi termasuk pada kultur (budaya) adalah
agama, kesenian, kesusastraan, moral, cita-cita dan aspek-aspek
emosional”.
Drs. Mohammad Hatta, seorang nasionalis Indonesia, mantan
wakil Presiden RI pertama, dan penulis beberapa buku pernah
mengatakan: “Kebudayaan itu ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Kebudayaan banyak sekali macamnya, maka menjadi pertanyaan
apakah agama itu ciptaan manusia atau tidak, kedua-duanya bagi saya
bukan soal. Agama adalah juga suatu kebudayaan, karena dengan
agama manusia dapatlah hidup dengan senang, karena itu saya
katakan agama adalah suatu bagian dari kebudayaan”, (Masuniyah di
Asia, muka 34).
Seorang Freemasonry Singapura, Mr. Chen, mengatakan bahwa
agama itu sebagai penghalang pembangunan. Selanjutnya ia
mengatakan: “Agama yang hanya terbatas pada tradisi adat saja bukan
apa-apa. Tetapi agama yang mempunyai idiologi, jelas berbahaya dan
merupakan ekstrim kanan, ia lebih berbahaya jika dibandingkan
dengan sosialis kiri Bolswik”, (Manusiyah di Asia muka 34).
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan,
bahwa sikap Freemasonry dan Komunis terhadap agama mempunyai
titik-titik persamaan. Oleh karena Freemasonry dan Komunis lahir
dari induk yang sama, yaitu Yahudi. Bahkan Karl Marx dan Lenin
sendiri adalah seorang Freemasonry dan penganjur Freemasonry.
Freemasonry merupakan panduan bagi impe-rialis, mereka pelopor
penjajahan Inggris terhadap Birma, pelopor penjajahan Inggris
terhadap Malaysia, dan pelopor Perancis terhadap Indo China dan
sebagainya. Kaum orientalis kebanyakan terdiri atas anggota
Freemasonry yang memandang agama dari kaca mata sekuler, segi
kelemahan, budaya, lalu mereka pun mengarang buku-buku tentang
agama yang telah dikajikan itu, dan tak lupa pula mereka menyelipkan
pandangan yang salah?