Pemuda itu mengembuskan napasnya samar melihat sang kembaran yang tidak henti-hentinya tersenyum memandangi mentari yang kini terlihat lewat celah-celah jendela ruangan. Rahangnya mengeras dengan kembali menempelkan punggungnya pada kepala sofa, entah apa yang ia lakukan sekarang adalah sesuatu yang benar. Merahasiakan semuanya dari Syahir dan teman-temannya yang lain, sesuai yang Erisa katakana dan juga surat yang pernah gadis itu berikan padanya dan juga untuk Syair yang masih belum bisa ia berikan pada sang kembaran. Syahid meras bersalah dan ia harus bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agar tidak ada lagi yang menerka-nerka dan mencurigainya lagi. “Sesenang itu lo bisa ngelihat?” Syahir menolehkan kepalanya pada sofa di samping ranjangnya,“Iya, gue senang.” Balas pemuda itu

