Gadis itu masih duduk termenung di depan meja belajarnya dengan menatap lurus layar monitornya di hadapannya yang masih menyala, sama sekali tidak disentuhnya sedari tadi. Pikirannya melangnangbuana entah kemana, tangannya bergerak kecil menyangga dagunya dengan kedua tangan di atas meja. Ia mengembuskan napasnya kasar merasa bingung harus berbuat apa agar setidaknya bisa membantu Syahid dan kedua kembaran pemuda itu. Tangannya terulur maju menggeser jendela di depannya dengan memandangi hujan yang masih saja turun gerimis. Padahal kota sudah diguyurnya sejak sejam yang lalu dan berhenti masih ada gerimisnya yang seakan memaksa mata untuk terpejam lelap sekarang. Tapi, bagaimana pun ia tidak bisa tidur saat ini. Apalagi ia baru saja dengar kabar kalau teman sekolah Syahid dulunya telah me

