Pemuda itu hendak merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya namun terhenti saat mendengar getaran hapenya di bawah bantal. Ia pun beranjak malas, meraih ponselnya lalu melengos saja saat membaca nama yang tertera pada layar pipihnya. Tangannya terulur menekan dial berwarna hijau lalu menempelkannya pada telinga. “Apa.” Katanya tanpa basa-basi membuat seseorang mendecak di seberang sana, “jemput gue dong di rumah, gue lapar pengen keluar tapi gak bisa bawa motor karena tangan gue masih pake gips.” Ujar Lian dengan santainya buat Syahid memutar matanya jengah. “Gak, gue ngantuk.” Balasnya hendak mematikan telepon, “buruan ke rumah gue tungguin, kalau gak ke sini gue demo depan rumah lo.” Ancam Lian sudah mematikan sambungan telepon duluan buat syahid langsung mengumpat samar sembari menatap

