Pemuda jangkung itu baru saja melangkah turun dari mobil hitam yang mengantarnya di depan kampus. Ia pun berdiri dengan menyampirkan ransel pada bahu membuat seseorang yang masih duduk di belakang kursi kemudi melongokan kepala ke luar jendela mobil dan menatap ke arahnya cemas. Tapi, ia malah mengibaskan tangannya menyuruh sosok itu segera pergi sebelum ia benar-benar marah nantinya. “Saya akan jemput lagi nanti tuan,” ujar Mr. Christ sembari membunyikan klakson. “Ck,” decak Syahid sudah melemparkan tatapan tajam ke arahnya. “Saya akan berusaha jelasin ke nona Airin kalau popok itu bukan milik tuan.” Lanjut Mr. Christ langsung menginjak gas pergi saat melihat Syahid sudah merunduk ingin melemparinya batu. Syahid pun berjalan masuk ke gerbang kampusnya dengan langkah gontainya, setelah

