Syahid berdiri tenang di samping ranjang Syahir yang nampak gugup karena pemuda itu akan melakukan operasi pencangkokan mata. Setelah menunggu lama akhirnya ada pendonor yang bisa mendonorkan mata untuk sang kembaran. Syahid tidak sepenuhnya merasa bahagia, ada yang pemuda itu sedang pikirkan sekarang. Bibirnya memang sedang tertutup rapat namun isi kepalanya sedang berdebat dan berisik sedari tadi. Pintu pun terbuka lebar membuat mereka kompak menolehkan kepalanya ke pintu, “pasien akan dipindahkan ke ruang operasi sekarang.” Ujar suster sembari tersenyum ramah membuat Syahid memejamkan saja mata sebagai balasan. Pemuda itu memandang saja Syaqila yang sudah membantu suster mendorong ranjang beroda Syahir menuju ruang operasi. Sedangkan ia sendiri hanya berjalan lambat di belakang dengan

