“Aku tidak suka anak-anak.” Alena mengucapkan kalimat itu seperti orang yang sedang memuntahkan racun. Ia meletakkan tasnya begitu saja. Kali ini, Sakala mendahuluinya. Pria itu sudah datang begitu ia melewati pintu masuk Blue Garden.
Sakala yang sedang memusatkan perhatian pada para pengunjung mendongak mendengar pernyataan itu. “Dan apa hubungannya itu denganku?”
Alena mendengus. “Jangan munafik, Bung. Pernikahan pada dasarnya adalah tentang menghasilkan keturunan dan seperti yang baru saja kukatakan aku tidak suka anak-anak, jadi prospek memiliki anak sama sekali tidak ada dalam hidupku,” jelasnya dengan senyum manis. Alena mengunyah permen karetnya, memandang Sakala dengan tatapan menantang.
“Kau mendefinisikan arti pernikahan dengan berkembang biak kalau begitu,” tutur Sakala, sudut mulutnya miring ke atas. “Dangkal sekali pemikiran itu.”
Sial.
Pria itu punya jawaban untuk mematahkan semua argumennya.
Ini masih belum berakhir, Alena. Lanjutkan dan mari lihat bagaimana reaksi pria itu.
“Kau tidak ingin punya anak? Maksudku bukannya pernikahan ini akan terjadi, tapi hei, kau kan pria kolot dan sudah pasti memegang teguh prinsip dan norma kehidupan. Setiap pernikahan menginginkan keturunan dan aku yakin kau tidak masuk dalam pengecualian.”
Katakan ya dan katakan kita tidak satu prinsip.
Ia mengibas rambutnya ke belakang, menunggu respon pria itu.
“Aku memang menyukai anak-anak. Banyak kasus yang kutangani melibatkan anak-anak.”
Warna di wajah Alena surut. “Apa?”
Sakala mengangkat bahunya. “Penculikan, perdagangan anak bahkan kekerasan seksual. Sebagian besar korbannya adalah anak-anak, Al.”
Alena menelan ludah. Sialan, pria itu baru saja membuat sesuatu di dalam dadanya berdetak aneh. Membayangkan Sakala berdiri dan membela korban yang ternyata adalah anak-anak bisa dibilang menggelitik sudut dalam dirinya yang tidak pernah terusik sebelumnya. Alena buru-buru menepisnya.
Fokus, Alena. Hanya karena kebetulan dia seorang pengacara dan membela beberapa anak bukan berarti poinnya naik beberapa tingkat.
Sayangnya memang seperti itu.
Alena berdeham sebelum membuka suara. “Kau bilang ingin menunjukkan sesuatu padaku?”
Sakala mengangguk. “Itu bisa dilakukan nanti setelah kita makan. Kenapa kau tidak suka anak-anak?”
Nah, kena kau.
“Mereka berisik, mengganggu dan menyebalkan,” ujarnya datar. “Anak-anak adalah gangguan yang tidak ingin kuhadapi.”
Alena mengamati Sakala saat pria itu tidak menyadarinya. Sakala tampan, tapi bukan itu yang membuatnya menarik. Selain fakta bahwa dia tinggi dan rahangnya kokoh dan memiliki garis wajah yang seolah dipahat secara khusus, Sakala memiliki daya tarik seperti magnet yang menciptakan rasa kagum sekaligus rasa hormat. Dan itu mengalir dalam dirinya seperti udara.
Itulah yang membuatnya terusik.
Dalam segala hal mereka bertolak belakang.
Ia bisa mempermalukan dirinya sendiri tanpa ia berusaha melakukannya dan berdampingan dengan Sakala… kemungkinan besar yang terjadi adalah ia akan mempermalukan pria itu. Alena merinding sendiri membayangkannya.
“Tidak masalah.”
Alena membelalak. “Kau bilang apa?” ia menyingkirkan helai rambut yang menghalangi pandangannya, menatap Sakala seakan di kepalanya ada tanduk.
Sakala tersenyum geli. “Kenapa? Tidak terbiasa mendengar seorang pria tidak mempermasalahkan keturunan?”
“Kau menyukai anak-anak.”
“Lalu?” sakala mengangkat tangannya sedikit dan pelayan pun menghampiri meja mereka.
“Aku juga menyukai nenek-nenek, tapi bukan berarti aku ingin mengoleksinya.” Sakala menyebutkan pesanannya pada pelayan. Alena baru membuka mulutnya saat Sakala memotongnya.
“Aku yang traktir.”
Alena memberengut. “Bukan itu yang ingin kukatakan,” balasnya, melotot. Alena mengedarkan pandangan, meniru gerakan yang sebelumnya dilakukan Sakala.
Blue Garden merupakan restoran dengan area terbuka yang berhadapan langsung dengan pantai. Sinar matahari sedang tumpah ruah di saat jam seperti ini, tapi seperti dirinya tidak ada yang terlalu mempedulikannya—sebagian kecilnya sih.
“Apa itu mimpimu? Menjadi illustrator untuk buku anak-anak?”
Alena menegang mendengar pertanyaan itu. Sakala sudah melakukan penyelidikan latar belakang. Apa seharusnya ia mencemaskan ini?
“Ya, aku menyukainya.”
“Dan kau bilang kau tidak suka anak-anak?” tatapan Sakala menusuk, tajam seolah bisa membaca dirinya. Bagian dirinya yang ingin ia sembunyikan dari pria itu.
“Aku hanya menyukai seninya bukan anak-anaknya,” koreksinya.
Sakala tersenyum kemudian pria itu berpaling seperti orang yang sedang berusaha menahan diri agar tidak meledak dalam tawa.
Apa yang lucu?
Tetapi Alena tidak punya waktu untuk mencaritahu, saat sudut matanya menangkap gerakan yang menarik perhatiannya. Alena berdiri dan berlari tanpa pikir panjang.
“Alena‼”
Mengabaikan teriakan peringatan dan jerit ketakutan Alena masuk ke dalam air dan berenang seperti hiu. Ia tidak berpikir, tidak membiarkan dirinya berpikir.
Satu-satunya yang ia pedulikan sekarang adalah menyelamatkan anak yang sedang tenggelam tersebut. Dengan cepat, ia meraih tubuh anak itu dan menariknya ke pantai. Jantungnya berdebar kencang, tangan gemetar, tetapi ia tahu sekarang bukan saatnya untuk panik.
Alena meletakkannya dengan hati-hati di atas permukaan datar. Tubuh si anak dingin, kulitnya pucat, dan napasnya terengah-engah. Tanpa ragu, Alena membuka jalur pernapasan dengan memiringkan kepala anak itu sedikit ke belakang, memastikan saluran napasnya terbuka. Ia memeriksa kembali pernapasan si anak. Tidak ada napas.
Dengan hati-hati Alena menekan dadanya, dengan lembut namun tegas. “Ayo, kau harus bertahan, harus…” gumamnya penuh harap, sambil terus memberikan tekanan pada d**a si anak.
Alena terus memberikan kompresi d**a yang teratur. Saat kelelahan mulai merayap, ia segera membuka mulut anak itu dan memberikan dua napas buatan, berharap oksigen sampai ke dalam paru-parunya yang kosong.
Detik yang berlalu terasa begitu lama. Namun, setelah napas buatan yang kedua, tubuh anak itu akhirnya bergerak sedikit. Napasnya terengah-engah, dia mulai batuk, dan air laut keluar dari mulutnya.
Alena menahan napas, haru menyelimutinya saat melihat tanda-tanda kehidupan perlahan mulai muncul.
“Kau menyelamatkannya.”
Saat itulah Alena menyadari kalau ia punya penonton. Ia dikelilingi orang-orang yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Seolah ia pahlawan. Padahal ia tidak layak untuk itu. Alena yang tidak tahan dengan ledakan emosi yang mengitarinya buru-buru berdiri untuk menjauh, tapi itu tidak terjadi karena sepasang tangan lebih dulu menariknya dan membawanya dalam pelukan yang sangat erat.
“Kau menyelamatkannya. Kau menyelamatkan putraku. Aku berhutang padamu.” Isak tangis mewarnai ucapan itu.
Alena tersenyum saat pelukan itu terlepas. Ia menatap wanita itu. “Dia selamat, itulah yang terpenting.” Alena berpaling.
“Kau akan baik-baik saja sekarang,” ujarnya lembut. Tangannya mengusap kepala anak itu. Setelah menerima setidaknya ratusan ungkapan terima kasih, Alena akhirnya bangkit dan meninggalkan kerumunan—hanya untuk menemukan Sakala berdiri menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
“Kau jelas menyukai anak-anak, tapi kau berbohong padaku.”
Kata-kata itu tajam dan menusuk. Dan jelas tepat sasaran. Bagaimana Sakala tahu semudah itu?
“Hanya karena aku menolong anak-anak bukan berarti aku…” tapi Sakala mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan Alena.
“Aku tahu dari caramu menatap mereka. Dan jangan katakan aku salah karena kita berdua tahu itu tidak.”
Oh Tuhan! Ada apa sih dengan pria ini? kenapa dia bisa membaca dirinya semudah ini? Tidak ada yang pernah bisa melakukan ini sebelumnya. Ia punya mantan dan ia bisa menyembunyikan apa yang tidak ingin ia tunjukkan dengan mudah dari pria itu. Lalu kenapa hal yang sama tidak berlaku untuk Sakala?
Alena mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. “Aku memang menyukai anak-anak.”
“Lalu kenapa kau merasa perlu berbohong?”
Nah kan, sekarang permainan ini kembali menyerangnya. Apa yang harus ia katakan coba? Mungkin bersikap jujur akan memudahkan semuanya?