bc

Shani

book_age18+
314
IKUTI
1.8K
BACA
murder
revenge
stalker
goodgirl
powerful
confident
drama
sweet
moonlight
detective
like
intro-logo
Uraian

Menyelidiki kasus kematian seorang youtuber terkenal tidaklah mudah, terutama itu bukan bagian dari pekerjannya. Shani menerima tawaran itu karena takut keluarganya dalam bahaya. Pelaku teror mengancam akan melenyapkan keluarganya jika Shani menolak untuk menyelidiki kasus tersebut, karena menurut si peneror Shani lah yang bisamenjawab teka-teki kasus tersebut dikarenakan ia memiliki kemampuan khusus yang didapat saat kecelakaan dulu.

Meski dengan berat hati dan bingung apa yang harus dilakukan, Shani tetap bisa mengendalikan situasi terlebih saat dirinya berhadapan dengan seorang detektif yang memiliki sifat dingin dan misterius. Namun, Shani sangat menikmati pekerjaan barunya ini yang terbilang rumit. Saat kasus itu mulai diselidiki, Shani dan detektif bernama Venus itu dihadapkan pada suatu masalah. Mereka berdua dihadang oleh beberapa pembunuh bayaran yang terkenal dengan keahliannya membunuh orang.

Shani ketakutan, Venus tetap pada wajah tenangnya yang seakan tidak takut pada senjata yang mereka pegang. Pria itu sudah biasa menghadapi hal ini dan kebal dengan senjata tajam. Berkali-kali dirinya terluka saat menyelidiki kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh polisi sekaligus dan pria itu tetap selamat dari maut. Seolah-olah memiliki nyawa lebih, Venus melumpuhkan pembunuh bayaran tersebut dengan beberapa orang yang terluka parah akibat senjatanya sendiri, dan sebagian lagi luka ringan.

Shani menatap horor pada Venus, gadis itu semakin ketakutan dibuatnya. Ia sadar pekerjaan ini tidaklah mudah dan nyawa yang menjadi taruhannya. Namun, demi keluarga yang sangat dicintai, Shani rela melakukan pekerjaan ini. Venus melihat wajah Shani yang dipenuhi keringat karena ketakutan, pria itu teringat padaadiknya yang meninggal secara tidak wajar. Ia bertekad untuk melindungi Shani apa pun yang terjadi, karena sifat dan wajah Shani mengingatkannya pada sang adik.

chap-preview
Pratinjau gratis
Si Kepo Muti
            Kakinya melangkah penuh semangat, memasuki gedung pencakar langit yang di desain sangat elegan itu. Senyumannya tak pernah pudar, setia menghiasi wajah cantik nan ayu dan juga lembut. Ia selalu menyapa pada setiap orang yang ditemuinya, tak peduli itu hanya sekedar OB atau security gedung tersebut. Kini, wanita itu berhenti tepat di depan lift yang akan membawanya ke lantai dua puluh. Sembari menunggu pintu lift terbuka, dengan anggunnya ia mengibas rambut panjang yang sengaja digerai membuat beberapa pria yang juga menunggu pintu lift terbuka jadi terpesona.             Bukan Shani namanya kalau setiap hari tak bisa membuat orang terpana kala menatapnya. Tampilannya sederhana, tidak berlebihan dan dandanannya juga natural. Persis seperti nama yang melekat pada dirinya hingga diusia dua puluh tiga tahun ini. Shani Cahaya Purnama. Terang seperti bulan purnama dan bersinar seperti bintang yang ada di angkasa. Apapun masalah dan bagaimana pun keadaannya, Shani tetaplah Shani, sigadis manis yang tak pernah lupa untuk tersenyum.             “Pagi, Mba Shani,” sapa seorang security saat gadis itu keluar dari lift.             “Pagi juga, Pak Burhan,” balasnya dengan lembut dan tetap tersenyum. Meski ada perasaan tidak enak sejak dirinya dilamar oleh Pak Burhan untuk anaknya. Bukan karena pekerjaan pria paruh baya itu yang membuat Shani menolak lamarannya, hanya saja gadis itu masih belum bisa melupakan cinta pertamanya.             Pagi ini Shani tampak bersemangat untuk melakukan pekerjaan. Mungkin, setelah libur selama dua belas hari yang membuat otaknya serasa lebih fresh lagi. Kini, ia siap untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Memasuki ruangan khusus tim editor, Shani melihat sahabatnya sudah berada di ruangan tersebut.             “Shani...” pekiknya histeris melihat kedatangan Shani seperti didatangi artis favorit.             Siapa lagi kalau bukan Muti, gadis yang memiliki rasa ingin tahu tingkat tinggi dan karyawan paling heboh di sana. Apalagi saat mendengar berita yang masuk mengenai kehidupan para artis, Muti langsung bergosip di sosial media. Kalau menurut Shani, dia lebih cocok jadi presenter ketimbang jadi tim editor di sebuah perusahaan berita.             “Nggak berubah, ya? Tetap aja heboh,” ujar Shani yang berusaha melepaskan pelukan Muti.             “Shani apa kabar? Muti kangen,” ucapnya dengan nada sedikit manja dan membuat Shani bergidik ngeri.             Gadis itu meninggalkan Muti dan menuju meja kerjanya. Muti mengikuti langkah Shani dengan wajah yang sedikit kesal dan membuat Shani bertanya, “Kenapa? Ada yang ingin Muti katakan?” tanyanya.             “Shani lupa pesanan Muti, ya?” Muti berujar dengan lembut. Wajahnya sengaja dibikin memelas agar Shani memberikan simpati padanya.             Gadis itu dibuat bingung oleh tingkah sahabatnya yang kelewat manja. Terlebih lagi dengan ucapannya yang membuat Shani berpikir sejenak. Mencoba mengingat apa ia melupakan sesuatu atau Shani tak tahu arti dari ucapan Muti?             “Shani nggak ingat. Emangnya Muti pesan apa?” tanyanya kemudian.             Muti tampak cemberut, gadis itu memanyunkan bibirnya dan berusaha untuk mengontrol amarah. Muti tak tahu saat Shani pulang ke kampung halamannya, apakah gadis itu mengalami sesuatu yang buruk sehingga bisa lupa dengan titipannya.             “Muti ‘kan minta Shani untuk bawakan rendang daging dan kentang, terus Muti juga minta untuk dibawakan dendeng lado hijau. Masa Shani lupa, sih?” Muti tampak meneteskan air mata, sahabat Shani yang satu ini bener-bener terlalu manja. Shani geleng-geleng sendiri dibuatnya.             “Kan, Muti bisa beli di rumah makan Padang,” ujarnya sembari menghampiri Muti.             “Nggak mau, Muti maunya masakan mama Shani yang enak banget.” Muti tersenyum, menatap Shani penuh harap. Sedangkan gadis itu hanya melirik Muti dari sudut matanya.             “Muti mau masakan mama Shani?” ia mengangguk penuh semangat,“Bayar dulu dong,” lanjutnya menggoda sembari menjulurkan tangannya.             Muti semakin kesal, tatapan matanya sangat tajam menatap Shani yang kini kembali duduk di kursi kerjanya. Muti mengumpat dalam hati, memaki kasar sahabatnya yang menjengkelkan itu. Dengan perasaan kecewa, Muti pergi meninggalkan Shani. Sementara Shani tertawa puas telah menggoda sahabatnya.             “Nggak usah kesal begitu, Mut. Shani ingat, kok, pesanan Muti. Ada di kos, nanti kita makan bareng, ya,” tawarnya yang langsung disambut senyum bahagia dari Muti.             “Beneran? Shani bawa makanannya?” tanyanya memastikan. Gadis itu meloncat kegirangan setelah mendapat anggukan dari Shani. Keinginannya untuk makan rendang daging dan dendeng lado hijau buatan mama Shani akhirnya kesampaian juga. Shani pun tersenyum melihat itu. ***             Hari ini kantor tempat Shani bekerja kedatangan beberapa orang klien yang ingin beritanya dimuat segera. Buk Firma, atasan Shani memintanya untuk melayani klien itu dan beberapa orang kameramen dan reporter siap diterjunkan ke lokasi yang dituju. Shani diam sekaligus bingung dengan permintaan kliennya. Namun, ia tetap mengangguk serta tersenyum ramah agar menampilkan kesan yang baik.             “Maaf, Buk. Bukannya Shani nggak mau melayani, tapi itu bukan tugas tim editor.” Shani mengikuti Bu Farma hingga ke ruangannya yang kelihatan tergesa-gesa.             Atasan Shani menghentikan langkah, berbalik menatap gadis itu dengan tersenyum. Kemudian kembali melanjutkan kegiatannya mencari beberapa file yang sempat disembunyikan. Shani melihat Bu Firma dengan kening mengkerut, ia bingung dengan perubahan sikap atasannya yang sangat antusias sekali dengan berita sang klien.             “Kamu turuti saja apa yang saya katakan, jangan membantah!” ucap Bu Firma sembari membuka lembar demi lembar file yang kini sudah di depan mata.             “Maaf sekali lagi, Buk. Ini bukan ranah saya dan saya nggak akan mengikuti perintah ibuk kali ini! permisi.” Shani berlalu meninggalkan ruangan Bu Firma dengan perasaan campur aduk.             Baru kali ini ia menolak dengan tegas perintah sang atasan. Biasanya Shani selalu patuh terhadap apa yang diperintahkan padanya. Namun, hari ini ia berani menolak perkataan Bu Firma. Shani sendiri masih bingung dengan sikap atasannya itu dan ia juga merasa ada yang aneh dengan permintaan sang klien barusan.             “Shani baik-baik saja?” tanya Muti menghampiri saat melihat Shani memasuki ruangan dengan kepala tertunduk.             Gadis itu diam, tak mau menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia melewati Muti yang masih menunggu jawaban dan duduk dimeja kerjanya. Shani sempat melirik beberapa rekan satu tim yang menatap dengan tatapan sedih.             “Kenapa?” tanyanya datar. Tatapan dari timnya itu seketika menghilang, mereka kembali sibuk pada kegiatan masing-masing karena tak ingin Shani marah.             Shani memang dipercaya untuk memegang satu jabatan sebagai Leader tim editor. Meski memiliki kendali penuh atas timnya, Shani tak ingin bertindak semena-mena. Gadis itu memilih untuk satu ruangan dengan mereka karena tak ingin ada yang memanggilnya dengan sebutan lain. Ia lebih suka dipanggil nama saja ketimbang dipanggil dengan sebutan ‘Ibuk’.             “Shan, ada apa? cerita sama Muti, dong. Wajah Shani kenapa berubah murung setelah dipanggil Bu Firma. Emang nenek gayung itu bilang apa?” Shani tersenyum saat mendengar Muti memanggil atasannya dengan nama lain. Ia kemudian berdiri dan menepuk pelan pundak Muti.             “Nggak ada apa, Mut. Semua baik-baik saja, Muti lanjutkan pekerjaanya sana!”             “Bener nggak ada apa-apa?” tanyanya memastikan, Shani mengangguk. Muti beranjak meninggalkannya dankembali melanjutkan kegiatan semula.             Sikap toleransi dan rasa kepedulian pada temannya yang membuat Shani tak ingin menceritakan permintaan Bu Firma pada Muti. Ia takut jika Muti akan bertindak gegabah dan meminta untuk ikut menyelidiki kasus yang belum diketahui Shani sampai saat ini. Bahkan, ia tak tahu berita itu masuk ke perusahaan tempatnya bekerja. Biasanya jika ada berita baru, Shani pasti orang pertama yang mengetahuinya. Mengingat hubungan gadis itu dengan Bu Firma sangatlah dekat, tentu ia akan diberitahu terlebih dahulu.      

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Aira

read
93.1K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.1K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Accidentally Married

read
110.2K
bc

Dear Pak Dosen

read
434.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook