Teror

1608 Kata
            Siang itu, matahari tak lagi menampakkan diri karena tertutup awan hitam pekat yang siap untuk menumpahkan isinya. Para karyawan yang biasanya menikmati waktu istirahat di kafe seberang, terpaksa memilih untuk berdiam diri di kantor sembari memesan makanan secara online. Muti juga tampak sibuk memilih beberapa makanan yang direkomendasikan oleh aplikasi tersebut. Sesekali ia melirik Shani yang masih terlihat murung.             “Shani, mau pesan apa? Biar Muti  order sekalian,” ucapnya menghampiri gadis itu.             Shani menggeleng cepat, ia masih memikirkan perintah atasannya. Shani tahu bagaimana sifat Bu Firma yang jarang tertebak, karena wanita kelahiran Osaka itu memiliki kepribadian ganda. Apa yang diinginkannya harus bisa didapat dan ia tak suka jika ada yang berani menolak perintahnya.             “Shan, jangan terlalu dipikirkan. Muti nggak tahu apa yang kalian bicarakan tadi, tapi Muti tahu kalau Shani gampang sakit jika terlalu banyak berpikir.” Muti memegang pundak Shani untuk menenangkan gadis itu. Shani pun membalasnya dengan tersenyum.             “Iya. Muti nggak usah khawatir, Shani nggak apa-apa, kok.”             “Yaudah, Muti mau ke bawah dulu nunggu pesanan.” Saat Muti hendak beranjak dari tempat itu, Bu Firma datang dengan menggenggam sebuah file di tangannya.             “Selidiki kasus ini, besok kamu akan ditemani oleh seorang detektif yang sudah saya hubungi,” ujarnya sembari meletakkan file tersebut dengan kasar.             Muti terdiam, ia menelan salivanya saat menatap wajah horor sang atasan, kemudian matanya beralih pada Shani yang mematung menatap tumpukan kertas itu.             “Shani nggak bisa melakukan ini, Buk,” tolaknya dengan menggeser file tersebut.             “Kamu harus melakukannya Shani!”             “Tapi, Buk_” Shani berdiri dari duduknya, ia sedikit menahan emosi karena mengingat dirinya tengah berada di kantor.             “Kamu sendiri tahu ‘kan akibat dari menolak perintah saya? Selidiki kasus itu atau kamu akan menyesal.” Bu Firma meninggalkan ruangan tim editortanpa menoleh lagi.             Shani menarik napas panjang, kemudian menghembuskan dengan kasar. Ia kembali terduduk sembari menjambak rambutnya sendiri. Muti khawatir melihat keadaan Shani yang tertekan, gadis itu tahu bahwa Shani tengah berada pada titik yang tak bisa diterima oleh nalurinya. Muti melirik file yang masih berada di meja kerja Shani, dengan sedikit gemetar ia membuka file tersebut.             “Kasus kematian youtuber Ralisa Mohini?” kening Muti mengkerut saat membaca judul file itu. Ia menarik kursi dan duduk tepat di sebelah sahabatnya.“Kenapa Bu Firma meminta Shani untuk menyelidiki kasus itu?” lanjutnya lagi.             Muti tampak antusias sekali, seorang Leader tim di sebuah perusahaan berita diminta untuk menyelidiki kasus yang biasa dikerjakan oleh tim detektif. Ini merupakan pembahasan yang menarik baginya, meski Muti tahu bagaimana perasaan sahabatnya. Namun, kejadian langka ini sangat jarang terjadi. Sejauh karirnya, belum pernah karyawan swasta yang ikut dalam penyelidikan.             “Shani, kenapa nggak dicoba aja. Menyelidiki kasus itu seru, tahu,” ujarnya. “Mut, Shani nggak tahu apa yang akan dihadapi saat kasus itu diselediki. Lagian Shani bingung dengan Bu Firma, kenapa ngotot banget meminta kasus ini diselediki. Se-terkenal itu kah dia? Sebenarnya youtuber ini siapa, sih?” “Muti pernah dengar namanya sekilas, tapi nggak tahu seperti apa wajahnya karena Ralisa selalu menggunakan masker biar higenis katanya. Dia itu youtuber yang selalu membuat konten memasak. Bukan masakannya yang menjadi perhatian netizen, melainkan pakaiannya. Ralisa selalu berpakaian minim saat membuat konten, hal itu yang disukai oleh laki-laki,” ujar Muti. Shani menatap Muti sebentar, kemudian membuka file yang ada di hadapannya. Untuk pertama kalinya ia tertarik dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan pekerjaannya saat ini. “Bu Firma dapat file ini dari mana?” batinnya berkata, mengingat ada beberapa berkas yang sengaja disembunyikan atasannya itu, sedangkan kematian Ralisa baru diketahui kemarin sore dan saat ini jenazahnya berada di rumah sakit untuk di otopsi. “Muti merasa ada yang aneh nggak sama sikap Bu Firma?” Shani memalingkan wajah dari tumpukan kertas itu dan menatap Muti serius. “Muti cuma berpikir hubungan nenek gayung  sama Ralisa itu apa? Kenapa dia ngotot sekali minta selidiki kasus ini, kita ‘kan bukan detektif,” ujar Muti. Shani mengangguk paham, ada beberapa hal yang belum dipahaminya sejak kemunculan kasus kematian Ralisa dan klien yang tadi pagi meminta berita ini dimuat segera.Gadis kelahiran Jambi itu tampak menatap satu-persatu foto Ralisa saat mayatnya ditemukan. “Muti pernah nonton kontennya Ralisa, kan?” tanyanya yang diikuti anggukan Muti. “Kalau begitu Muti pernah melihat orang yang ada di sekitarnya saat syuting konten itu?” “Nggak ada, cuma dia doang. Kameramennya pun Muti nggak tahu,” jawabnya. “Tapi, Muti pernah liat dia masak bareng dengan seorang chef asal Rusia.” “Ada videonya?” Shani antusias saat mendengar penjelasan dari sahabatnya, ia berharap kasus ini segera terungkap agar dirinya nggak pusing untuk menyelidiki kasus yang bukan bagian dari pekerjaannya. “Beberapa videonya banyak yang di take down dari youtube dan akhir-akhir ini Muti nggak lihat akunnya muncul. Menurut penggemarnya akun Ralisa di report. Muti pikir dia sengaja menutup akunnya dan hijrah ke negara lain, taunya dia hijrah ke alam baka.”             Shani tersenyum, disaat ia lagi gundah ada sahabatnya yang selalu membuatnya nyaman. Meski tanpa sengaja, tapi ucapan Muti berhasil membuat gadis itu sedikit merasa lega.             “Tapi, Shan. Muti pernah download salah satu videonya Ralisa,” ujar Muti yang membuat Shani menatapnya horor.             “Tenang aja, Muti nggak tertarik liat tubuhnya. Suka sama masakan dia aja dan waktu itu pernah Muti coba buatnya, kita makan bareng di kost. Shani ingat, nggak?”             Shani mengangguk, “Jalebi[1]?”             “Iya, Muti penasaran seperti apa rasanya, makanya coba membuat itu masakan. Ternyata enak juga.” Muti meraih ponselnya, kemudian ia membuka aplikasi youtube dan menyetel video Ralisa yang belum kena take down.             Shani memperhatikan dengan seksama video yang diputar Muti, kemudian matanya tak lepas pada tubuh youtuber itu yang hanya menggunakan pakaian dalam saja. Sebenarnya bukan itu yang Shani perhatikan, melainkan sebuah tato yang tepat berada di bawah pusarnya. Bergambar elang dan anak panah, gadis itu mendekatkan matanya agar bisa melihat lebih jelas tulisan yang berada di antara kedua gambar tersebut.             “Dia orang India?” tanya Shani yang masih setia melihat Ralisa.             “Bukan, tapi ada keturunan Indianya, sih. Kalau Muti nggak salah dengar, nenek dari ayahnya Ralisa orang India.”             “Ada tulisan di antara tatonya Ralisa, Shani nggak bisa baca tulisan apa.” Wajah Muti ikut mendekat, memperhatikan tato yang dimaksud sahabatnya itu.             “Pak Ojol,” ujarnya yang membuat Shani menghempaskan ponsel Muti dengan kesal.             Muti cemberut, ia mengangkat panggilan dari driverOjol yang sedari tadi menunggunya di Lobby.             “Jangan dipikirkan soal tato. Muti ke bawah dulu ambil pesanan, kasian Bapak Ojol udah nunggu dari tadi,” ujarnya berlalu. ***             Setelah selesai shalat Magrib, Shani dan Muti tampak lahap menikmati masakan yang dibawanya dari Padang. Keinginan Muti untuk makan masakan mama Shani kesampaian juga. Gadis itu menghabiskan rendang daging yang tinggal beberapa lagi, kemudian menyirami nasinya dengan lado hijau yang telah bercampur dengan minyak goreng. Shani tersenyum melihat itu, ia senang sahabatnya suka dengan masakan ibunya.             “Alhamdulillah kenyang,” ucap Muti yang nampak kekenyangan. Ia menggeliat kanan-kiri untuk menormalkan perutnya yang kelebihan muatan.             Shani tak henti tersenyum dengan tingkah Muti yang seperti cacing kepanasan. Gadis itu senang punya sahabat yang baik dan pengertian seperti Muti. Saat hendak beranjak ke dapur, ponsel Shani berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Shani mengerutkan kening kala menatap nomor tersebut yang bukan dari Indonesia, tetapi dari luar negri. Setahunya, Shani tak memiliki teman orang asing, ia cukup hati-hati dan waspada dalam memilih teman.             “Hallo.” Setelah berpikir panjang dan dering ponselnya tak juga berhenti, Shani memutuskan untuk menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.             “Ikuti apa yang sudah diperintahkan, kamu harus menyelidiki kasus itu jika ingin keluargamu selamat,” balasnya setelah sempat diam sesaat.             Shani terkejut, gadis itu menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap nomor pemanggil itu lama. Ia berusaha berpikir positif dan menganggap orang yang menghubunginya salah melakukan panggilan.             “Maaf, sepertinyaanda salah sambung.”             “Tidak, Shani. Aku menghubungi orang yang tepat dan kamu harus mengikuti apa yang sudah diperintahkan.”Gadis itu bergidik ngeri saat orang yang berada di seberang sana tertawa dengan keras bahkan si penelepon juga tahu namanya. Shani takut, baru kali ini ada yang menghubunginya dari luar Indonesia dan suara itu familiar di telinganya.             “Kamu siapa? Kenapa bisa tahu namaku.”             “Bukan cuma namamu saja, aku juga tahu tentang keluargamu dan di mana mereka tinggal. Jadi, jangan membantah jika tak ingin sesuatu terjadi pada mereka,”ancamnya.             Shani segera mematikan sambungan dan menatap ponselnya lama. Tangan dan seluruh persendiannya terasa bergetar, seakan tak mampu untuk bergerak. Muti yang baru saja kembali dari dapur menghampiri Shani yang seperti mau pingsan.             “Shani kenapa?” tanyanya kaget saat tubuh Shanimeluruh ke lantai.             Gadis itu masih terlihat syok dengan ancaman pelaku tersebut. Ia merasa di teror oleh orang yang tak dikenal dan memintanya untuk menyelidiki kasus yang bukan bagian dari pekerjaannya.             “Ini ilusi, bukan kenyataan. Iya, aku pasti sedang berhalusinasi.” Shani bergumam sendiri membuat Muti bingung dengan perubahan sikapnya.             “Shani nggak apa ‘kan? Kenapa tiba-tiba pucat begini, apa Shani sakit?” tanyanya sekali lagi yang tak dihiraukan oleh gadis itu.             Shani beranjak menuju tempat tidur dengan menggenggam erat ponselnya. Ia sengaja mematikan benda pipih itu agar peneror tak menghubunginya lagi. Muti yang masih berdiam di tempat semula terus menatap sahabatnya tanpa berkedip. Sesekali pandangan itu jatuh pada ponsel yang dipegangnya, Muti yakin ada sesuatu yang membuat sahabatnya berubah seperti ini.             Muti membiarkan Shani untuk beristirahat agar keesokan hari bisa lebih tenang dan tentu semua pertanyaan yang sudah disiapkannya dapat dijawab oleh gadis itu dan berharap ia bisa membantu sahabatnya.             [1]Makanan khas India yang terbuat dari tepung terigu, maizena, fermipan dan bahan lainnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN