Keputusan Yang Berat

1408 Kata
            Azan subuh di Mesjid berkumandang, membangunkan umat muslim untuk segera menunaikan perintah-Nya. Sebagian memilih untuk shalat berjamaah di Mesjid sembari menikmati udara segar yang belum bercampur dengan asap kendaraan. Shani beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan wajah yang masih lesu, mungkin karena baru bangun tidur yang membuatnya kelihatan lelah. Muti yang terlebih dahulu selesai wudhu’ pun memanfaatkan kesempatan untuk memeriksa ponsel Shani. Ia tahu sahabatnya suka lama jika sudah berada di dalam kamar kecil.             Dengan penuh hati-hati dan sesekali melirik pintu kamar mandi, Muti berhasil menghidupkan ponsel tersebut. Meski dikunci, ia tahu kata sandinya karena mereka selalu terbuka. Sepuluh menit sejak ponsel itu kembali dinyalakan, sebuah pesan masuk dari nomor baru di aplikasi w******p. Muti pun membukanya, gadis itu terkejut ketika membaca pesan dari si pengirim. Ia pun terlihat syok dan segera me-nonaktifkan ponsel itu kembali dan meletakkannya di tempat semula.             Gadis itu tahu inilah yang menjadi alasan atas perubahan sikap Shani semalam, pikirannya tak bisa berpikir dengan jernih. Sebuah konspirasi muncul dibenaknya ketika teringat satu orang yang menjadi penyebab ini semua. Muti tahu Bu Firmaadalah dalang dibalik peneror itu. Atasannya begitu memaksa Shani untuk menyelidiki kasus yang belum pernah ia lakukan. Muti pun tak mau beragumen tanpaadanya bukti, ia memilih untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu dan meminta petunjuk padaAllah.             “Shan, udah enakan?” tanya Muti setelah selesai shalat. Ia masih melihat wajah murung Shani karenaancaman tadi malam.             “Shani nggak apa kok, Mut. Nggak usah khawatir,” jawabnya lesu, Muti mengangguk paham.             Saat ini Shani butuh dukungan darinya, tapi ia juga bingung harus berbuat apa. Muti tak ingin Shani tahu bahwa dirinya telah lancang membuka pesan di ponselnya.             “Pulang kerja nanti, temani Muti belanja, yah!” pintanya yang berusaha untuk mencairkan suasana.             Shani mengangguk pelan, setidaknya Muti sedikit legadan berharap nantinya bisa merubah suasana hati sahabatnya itu. ***             Seperti biasa sebelum memasuki gedung pencakar langit ini, seluruh barang bawaan karyawan diperiksa terlebih dahulu oleh security demi kenyamanan bersama. Shani yang hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponsel itu dipersilakan masuk tanpa mengantri untuk pemeriksaan, begitu juga dengan Muti.             Berbeda dengan hari biasa, Shani yang selalu tersenyum saat orang menyapanya kini berubah drastis. Hal itu membuat mereka bertanya dengan perubahan sikap yang sangat signifikan tersebut. Tak ada lagi senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya, mungkin Shani masih mengingat tentang teror tadi malam.             Pikiran Leader tim itu masih menerawang, ia memasuki ruangan tanpa mengubris sapaan dari anggotanya. Muti memberikan isyarat agar rekan kerjanya itu tak menanyakan hal yang menyangkut perubahan sikap Shani. Gadis itu terus menatap sahabatnya yang gusar sendiri saat melihat beberapafile di meja kerjanya termasuk file kasus kematian Ralisa.             “Shan, Muti nggak tahu permasalahan apa yang Shani hadapi saat ini. Hanya saja sikap dan ekspresi wajah Shani membuat orang-orang berpikiran negatif. Tolong kondisikan situasi, kita lagi ada di kantor sekarang, Muti hanya minta Shani melupakan itu sejenak dan fokus pada pekerjaan.” Muti berujar serius saat menghampiri Shani. Gadis itu menatapnya dengan tatapan sendu yang membuat Muti tak kuat melihatnya.             Sebelumnya Muti sudah menyimpan nomor si peneror ke ponselnya dan ia bertekad untuk mencari orang yang sudah membuat sahabatnya seperti ini tanpa sepengetahuan Shani. Mungkin bisa dimulai dari memata-matai karyawan kantor hingga sang atasan. Muti beranjak meninggalkan Shani dan menuju meja kerjanya, iasekilas melirik anggota lain yang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Kemudian mata Muti terhenti pada Della yang sedari tadi menatap Shani tanpa berkedip sembari memainkan ponselnya.             “Della lagi chat sama siapa?” batinnya bertanya.             Pikiran buruk sudah terlintas dibenaknya, terlebih lagi saat melihat ekspresi Shani yang seperti terkejut kala membuka pesan di ponselnya. Muti tak tahu sejak kapan Shani kembali menghidupkan benda pipih tersebut yang membuatnya kembali di teror. Gadis itu pun mendekatinya dan merampas ponsel milik Shani dengan kasar.             “Meskipun Shani Leader tim di sini, bukan berarti bebas memainkan ponsel dan mengabaikan pekerjaan. Muti sudah bilang jangan ingat masalah itu karena kita lagi di kantor sekarang,” ujarnya mengingatkan.             Shani berdiri dan menarik tangan Muti keluar dari ruangan yang diikuti tatapan aneh dari anggota lainnya. Mereka berhenti tepat di depan pintu lift yang baru terbuka dan Bu Firma keluar dari sana. Keduanya terkejut, Bu Firma menatap mereka secara bergantian.             “Kenapa kalian masih di sini?”             “Itu, Buk. Tadi kitahabis diskusi soal kasus itu, Shani minta pendapat dari Muti karena nggak enak jika di dalam ruangan dan didengar oleh yang lainnya,” ujarnya mengalihkan perhatian, Muti menatap Shani tak percaya.             “Baiklah, nanti sehabis istirahat datang ke ruangan saya!” perintah Bu Firma sembari berlalu meninggalkan mereka berdua, Shani hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.             “Maksudnyaapa? Kamu mau menyelidiki kasus itu?” tanya Muti yang mulai geram.             “Sebelum Shani jawab pertanyaan Muti, jawab dulu pertanyaan dariku. Sejak kapan kamu berani membuka pesan orang lain.” Shani merebut ponsel miliknya yang masih berada digenggaman Muti.             Gadis itu gelagapan, sepertinya Shani marah dengan tindakannya tadi malam. Jelas terlihat dari caranya bicara yang tidak seperti biasanya.             “Muti nggak ngerti maksud Shani apa.”             “Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal sudah terbaca, perasaan Shani nggak pernah buka pesan itu dan juga nggak tahu kapan pesan itu masuk. Jawab yang jujur, kapan Muti membaca pesan ini karena ponsel Shani matikan semalam.”             Muti terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia tahu tak ada gunanya berbohong pada gadis itu, cepat atau lambat Shani akan mengetahuinya.             “Iya, Muti yang buka pesan itu karena tingkah Shani tadi malam aneh banget. Ternyata gara-gara itu, kenapa nggak cerita sama Muti.”             “Siapa yang suruh kamu melakukan itu, Mut. Sejak kapan Muti lancang membaca pesan pribadi orang,” ucap Shani yang berusaha menahan emosi. Dari raut wajahnya yang mulai memerah, jelas terlihat ia kecewa dengan sahabatnya.             “Kenapa Shani nggak pernah cerita samaaku, siapa tahu Muti bisa bantu.”             “Nggak perlu dan jangan mencoba untuk ikut campur. Shani nggak akan mengizinkan Muti melakukan hal itu,” ujarnya serius.             “Shan, jangan ikuti apa yang dikatakan peneror itu. Kita bisa melapor pada polisi dan memintaaparat untuk melindungi keluarga Shani.” Muti berusaha menahan agar Shani tidak ikut menyelidiki kasus kematian youtuber itu. Namun, perkataan Muti sama sekali tak berpengaruh baginya. Saat ini keselamatan keluarga menjadi prioritas utama dan Shani tak igin mereka sampai kenapa-napa.             “Aku bukan anak pejabat, Mut. Mereka nggak akan mau membuang waktu hanya untuk melindungi keluargaku. Lagian kita juga nggak ada bukti yang kuat untuk melaporkan si peneror itu.”             “Jangan bodoh, Shani. Pesan di w******p itu menjadi bukti yang kuat untuk menjebloskan dia ke penjara.”             “Kali ini Shani minta jangan melibatkan diri lebih jauh lagi, Mut. Aku bisa mengatasi masalah ini sendiri dan jangan mencoba melakukan hal yang nantinyaakan merugikan dirimu sendiri.” Shani berlalu meninggalkan Muti dengan perasaan sedih. Sebagai seorang sahabat, berdiam diri saat orang terdekat dalam masalah tentu sangat menyakitkan. Tanpa sadar, air mata Muti jatuh begitu saja, antara kecewa dan takut semuanya bercampur menjadi satu. ***             Waktu istirahat dimanfatkan oleh karyawan untuk melepas lelah sejenak sembari mengisi perut yang mulai keroncongan. Tak lupa pula melaksanakan ibadah dan bercengkrama dengan yang lainnya. Shani memilih tetap berada di ruangan, begitu juga dengan Muti. Keduanya saling diam tanpa bertegur sapa setelah berdebat di depan lift tadi. Shani tampak tak berselera menyantap nasi uduk yang dipesannya tadi, gadis itu hanya memainkan sendok sembari mengaduk nasi dengan sambal hingga keduanya tercampur.             Muti hanya melirik dari meja kerjanyadan sesekali memakan sepotong roti. Suasana kantor hari ini tampak begitu tenang, tak adaklien yang datang untuk memuat beritanya. Bahkan, berita tentang kematian Ralisa pun sepertinya ditunda dulu penayangan sampai hasil auotopsi keluar.             Shani seperti teringat sesuatu, ia beranjak dari ruangan itu dan menuju ruangan Bu Firma. Muti yang sudah menduga hal itu terjadi pun hanya bisa berdiam diri tanpa tahu harus berbuat apa.             “Permisi, Buk,” ucap Shani dari luar sembari mengetuk pintu ruangan dengan pelan.             “Masuk.” Bu Firma menyahut dan Shani pun membuka pintu itu. Ia terkejut melihat seseorang yang juga berada di ruangan itu.             “Silakan duduk, Shani!” pintanya yang diikuti anggukan gadis itu.             “Bagaimana keputusanmu? Apa kamu setuju untuk melakukan penyelidikan itu? Kamu nggk perlu khawatir, nanti Venus akan menemanimu menyelidiki kasus itu. Diaadalah detektif yang sudah berpengalaman, jadi kamu nggak usah cemas,” ujar Bu Firma.             Shani melirik pria  yang berada di sampingnya sekilas. Priaitu diam tak bergeming sama sekali membuat Shani ragu untuk bermitra dengannya.Apa ia bisa dipercayaatau tidak, yang jelas gadis itu harus waspada terhadap peneror itu. Bisa jadi dia pelakunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN