Pemakaman Ralisa Bagian 1

1231 Kata
  Shani menatap ke arah jendela ruangannya. Birunya langit begitu indah untuk dipandang. Namun, seindah apa pun langit biru, tidak dapat mengusir rasa gundah yang menyelimuti hatinya. “Izinkan Muti untuk membantu Shani menyelesaikan masalah ini.” Shani diam tanpa memberikan tanggapan. “Muti tahu pekerjaan ini berbahaya dan Shani nggak ingin aku melibatkan diri di dalamnya, tapi Muti nggak akan biarkan Shani menghadapinya sendiri.” Shani menarik napas panjang. “Boleh aku tahu alasan Muti ingin terlibat dalam kasus ini?” Pertanyaan Shani seperti bukan dirinya, dingin dan datar. Muti sama sekali tak bisa menjawab dengan jujur. Gadis itu tak ingin sahabatnya khawatir dan fokusnya terganggu nanti. “Nggak  adaalasan khusus, Shan. Muti hanya ingin membantu pekerjaan Shani karena Muti sudah menganggap Shani seperti saudara sendiri.” “Kamu ingin membantuku, Mut?” tanyanya yang diikuti anggukan dari Muti. “Bantulah aku dengan doa dan jangan berusaha untuk mencari tahu tentang peneror itu maupun pembunuh Ralisa.” Muti terdiam, Shani membuat gadis itu tak bisa berkata-kata lagi. “Aku tahu, tapi bisakah kamu mengizinkanku untuk menjadi mata-mata di sini? Muti janji akan jaga sikap dan tidak terlalu mencolok nantinya. Shani juga nggak usah khawatir tentang keselamatanku. Apa Shani lupaaku punya saudaraanggota kepolisian? Kak Ghani pasti akan melindungi adiknya ini.Apa Shani mau nomor Kak Ghani?” “Tidak usah.” Shani menjawab cepat. “Jadi, keputusannya gimana?” tanya Muti antusias. “Keputusan apa?” Shani balik bertanya, membuat Muti merenggut kesal. “Keputusan kamu untuk menjadikanku seorang mata-mata.” Shani menggaruk bagian belakang kepalanya. “Mut, kita ini bukan lagi shooting film actionyang pemeran utamanya selamat sampai ending. Ini realita, dan kitaadalah tim editor. Pekerjaan kita saat ini sudah termasuk bahaya, jangan menambah pekerjaan yang lebih berbahaya lagi dari ini.” “Sudah tahu bahaya, kenapa Shani malah tetap mendorong diri ke dalam jurang kematian itu.” Muti mulai emosi, nada bicaranyameninggidan membuat Shani terkejut. “Aku tahu, Mut. Demi keluarga, Shani rela melakukan pekerjaan ini.” “Dan membiarkan nyawamu terancam?” Shani menatap Muti lama, ia tak percaya dengan perkataan Muti yang seperti menekan dirinya. Shani sadar bahwa Muti sangat peduli dengan keselamatan dirinya dan membiarkan semua keputusan yang telah diambil berjalan sebagaimana mestinya. “Maaf, Mut. Keputusan Shani sudah bulat dan nggak bisa diganggu lagi. Shani tahu kekhawatiran dirimu, tapi beri aku waktu untuk bisa menyelesaikan masalah ini.” “Dengan mengorbankan pekerjaan dan juga nyawa? Shani, ini sangat keterlaluan. Bagaimanajikakasus itu nggak bisa diselesaikan dan malah kamu yang jadi incarannya.” “Jangan pesimis begitu, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Satu bulan cukup untukku mengungkap siapa dalang di balik kematian Ralisa.” “Satu bulan?” “Iya. Jika waktu itu tiba dan aku belum berhasil memecahkan kasus ini, kamu berhak untuk menghentikanku, Mut.” Muti tampak berpikir sejenak, menimbang semua ucapan Shani yang seperti sebuah tawaran. “Baiklah, aku setuju, tapi ada syaratnya,” ujarnya kemudian. “Syarat?” “Shani harus mengizinkan Muti untuk menjadi mata-mata di sini. Muti sedikit curiga dengan atasan kita dan beberapa karyawan lainnya.” “Tapi Mut itu berbahaya.” “Ya sudah, kalau begitu Shani nggak boleh ikut menyelidiki kasus itu. Gimana?” Shani kembali terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jika Shani mengizinkan Muti untuk memata-matai karyawan kantor dan Bu Firma, itu bisa membuatnya dalam bahaya dan seandainya ia melarang Muti tentu juga sangat mengganggu pekerjaannya nanti karena sahabatnya itu nggak akan berdiam diri dan melihatnyamenderita. “Baiklah, tapi Muti harus hati-hati,” ucapnya. “Oke.” Senyum Muti bahagia. *** Bu Firma masuk ke ruangan tim editor dengan tergesa. Segera mencari keberadaan Shani yang beberapa saat lalu pamit pulang karena lagi nggak enak badan. Hanyaada Muti dan beberapaanggota tim editor yang bersiap untuk meninggalkan kantor. Mendengar gadis yang dicariny tak berada di sana, Bu Firma mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. “Kamu di mana?” tanyanya saat panggilan itu diangkat. “Di rumah. Ada apa, Buk?” tanyanya balik. “Hasil otopsi sudah keluar dan Ralisaakan segera dimakamkan. Kamu, Venus dan beberapa tim kameramen saya tugaskan untuk meliput proses pemakamannya sekarang.” “Tapi, Buk. Tugas saya hanya menyelidiki kasus kematiannya, bukan ikut meliput prosesi pemakaman Ralisa.” “Lakukan apa yang saya perintahkan! Venus sudah saya hubungi dan akan datang ke sana. Saya harap kamu komitmen dengan tugas ini.” Bu Firma mengakhiri panggilan dan beranjak meninggalkan ruangan itu. Untuk kali kesekian, Muti kembali mencurigai atasannya itu. Matanya tak berhenti menatap sang atasan hingga punggungnya menghilang dibalik tembok. “Mut, gue duluan, ya.” Pamit rekan satu timnya, Muti mengangguk pelan. “Sepertinya permainan akan segera dimulai dan Shaniakan berada dalam daftar korban berikutnya.” Della berbisik pelan pada Muti yang masih berdiri di tempatnyasemula. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Muti berbalik, menatap Della dengan tajam. Sedangkan gadis itu tersenyum santai tanpa takut akan terjadi sesuatu. “Nggak usah menatapku begitu. Ini akan tetap terjadi meski Shani menolak tawaran Bu Firma. Aku rasa sudah takdirnya berada pada situasi seperti ini,” lanjutnya lagi. Muti menggerutu marah. “ Semakin kamu bersikap seperti ini, aku semakin yakin bahwa kamu terlibat di dalamnya.” Kata-kata Muti berhasil membuat Della tertawa. “Bisa nggak kamu jangan menuduh orang tanpa bukti? Jatuhnyafitnah nanti. Aku bisa melaporkanmu atas kasus pencemaran nama baik.” “Silakan, kamu pikir aku takut.Aku Mutiara Sabrinaadik dari Komisaris Jendral Polisi Ghani Al-Farizi. Pangkat tertinggi kedua di kepolisian dan memiliki bintang 3 di bahunya. Kita bisa lihat nanti siapa yang akan dilaporkan.” Mulut Della terbungkam, ucapan Muti berhasil membut gadis itu menelan salivanya sendiri. Dengan penuh kesal, Della meninggalkan Muti yang tersenyum penuh kemenangan. Setelah itu, senyumnya kembali memudar karena mengingat nyawa sahabatnya yang berada dalam list incaran. “Apamaksud ucapan Della tadi? Apa dia tahu sesuatu? atau gadis itu ikut terlibatatas kasus kematian Ralisa?” Muti menggelengkan kepalanya, berusaha membuang semua pikiran buruk yang terus bergelantung di pikirannya. Muti menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shani. Sekian lama ia menunggu dan mengulang panggilan itu, belum ada tanda-tanda Shani akan menjawabnya. Muti semakin khawatir. “Shani kenapa nggak mengangkat panggilan dariku,” batinnya berkata. Muti memilih meninggalkan kantornya dengan perasaan yang tak bisa diartikan. Langkahnya terasa gontai ketika mengingat ucapan dari Della tadi. Namun, detik berikutnya ponselnya berdering dengan nyaring. Panggilan dari Shani.   “Hallo Shani kamu di mana?” tanyanya segera setelah menekan tombol berwarna hijau. “Aku lagi berada di pemakaman, Mut. Maaf tadi panggilannya tak sempat kuangkat karena lagi di jalan. Adaapa Muti telepon?” “Shan, Muti senang bisa mendengar suaramu. Tahu nggak? Muti khawatir banget tadi, takut itu akan terjadi,” cecarnya dengan suara yang sedikit tertahan. “Maksudnya gimana?” “Nggak ada maksud apa-apa. Muti cuma minta Shani berhati-hati saat menyelidiki kasus itu. “Semuanya baik-baik saja ‘kan?” “Tidak, keadaan semakin buruk saat kamu memutuskan untuk ikut dalam penyelidikan itu. Seseorang tengah mengincarmu, Shan dan memasukkan namamu ke dalam daftar korban berikutnya.” Shani terkejut, ponselnya hampir terjatuh dari tangan. Venus yang berada di sampingnya segera menyadarkan Shani. “Kamu kenapa?” tanyanya. Shani menggeleng dan kembali berbicara dengan Muti yang panggilannya masih terhubung.“Nanti kita bicara lagi, aku tutup dulu.” Benda pipih itu masih setia menempel di telinga Muti meski Shani sudah mengakhiri pembicaraan mereka. Ia kemudian menyandar pada dinding kantor yang dingin sembari menatap langit-langit gedung itu. “Semoga kamu berada dalam lindungan Tuhan.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN