Muti sudah duduk manis di kursi kayu depan indekosnya. Menunggu Shani pulang dari pemakaman. Hari inimerekaakan pergi ke mall untuk menghibur Shani yang tertekan karena pekerjaan barunya. Senyuman menghiasi wajah cantik Muti saat sebuah mobil Pajero Sport putih berhenti tepat di depan pagar.
“Lama banget. Emang pemakaman Ralisa selama itu, ya? Sampai-sampai pulangnya malam begini,” ujar Muti sedikit menggerutu saat Shani yang diantar Venus berdiri tepat di hadapannya.
“Ada beberapa hal yang kita selesaikan dulu, makanya pulang agak telat begini,” jawab Shani yang berusaha untuk tidak membuat Muti curiga.
Muti mengangguk pelan, mengerti apa maksud dari perkataan Shani.Ia tahu jika sahabatnya itu mulai melaksanakan tugasnya untuk menyelidiki kasus kematian Ralisa. Muti sedikit lega hari ini Shani pulang dengan selamat, setidaknya ada partner yang akan menjaga dan melindunginya. Matanya berhenti pada pria yang berada di sebelah Shani. Venus terus menatap Muti dengan tatapan datar.
“Mut, kenalin ini Venus. Dia rekan satu tim denganku.” Shani mengenalkan Venus pada sahabatnya, tapi pria di sebelahnya itu malah tidak ingin berkenalan dengan Muti. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang menampilkan tidak suka.
“Kayaknya kita pernah kenal, deh. Tapi di mana, ya?” ucap Muti yang berusaha untuk mengingat di mana dirinya pernah bertemu dengan pria bernama Venus.
“Mungkin di kantor tempat kamu kerja,” jawab Venus yang tetap memandang Muti dengan tatapan datar tapi penuh selidik.
Muti terus saja memandang Venus tanpa berkedip. Ia yakin pernah bertemu dengan pria itu dan sangat mengenalinya. Namun, ianggak bisa mengingat dengan jelas kapan dan di mana mereka bertemu.
“Tadi Venus ke kantor, mungkin nggak sengaja kamu melihatnya,” ujar Shani berusaha untuk meyakinkan Muti.
“Iya juga, sih. Oiya, hari ini Shani jadi nemenin Muti belanja ‘kan?” tanya Muti tersenyum pura-pura.
Venus menghembuskan napas lega. Ia tak tahu jika Shani begitu dekat dengan Muti. Rahasia yang selama ini dijaga baik olehnya, tak akan membiarkan orang lain tahu sebelum ia berhasil menemukan sendiri pelaku yang telah merenggut nyawaadik tercintanya.
“Sudah malam, aku pamit pulang. Sampai jumpa besok.” Venus pamit undur diri, membiarkan Shani dan Muti bercengkrama di sana.
“Hati-hati di jalan,” ucap Shani tersenyum manis.
Mobil Venus beranjak meninggalkan tempat itu. Shani terus memandangi mobil Venus hingga menghilang di kegelapan malam. Muti yang berada di sana ikut menatap mobil pria itu dengan pikiran yang masih berpusat padanya.
“Dia detektif itu?” tanya Muti saat pandangan Shani teralih padanya.
Shani mengangguk. “Iya. Kenapa emangnya?” tanyanya sembari menatap wajah Muti.
“Nggak kenapa-napa. Shani capek ‘kan, istirahat sana!” suruhnya.
“Katanya mau belanja, mumpung belum terlalu malam kita jalan sekarang aja," ajak Shani yang merasa bersalah karena tidak bisa menemani Muti belanja siang tadi.
“Muti lupa, besok adaberita yang harus dipublikasikan. kayaknya berita penting. Belanjanya kita tunda dulu, Muti mau edit berita itu,” jawabnya mengelak.
Kening Shani mengkerut.Ada sesuatu yang disembunyikan Muti darinya. Sikap gadis itu berubah setelah bertemu Venus tadi. Mungkin saja mereka saling kenal dan memiliki kenangan yang buruk di antara keduanya.
“Semuanya baik-baik saja ‘kan, Mut? Soalnya sikap Muti berubah setelah bertemu Venus. Apa kalian saling mengenal?” tanya Shani menyelidiki.
Muti terkejut. Dirinya tak menyangka jika Shani bisa membaca gerak tubuh orang begitu cepat. Belajar dari mana dia. “Apaan, sih. Ya nggak mungkin lah aku kenal sama dia. Bertemu juga baru.”
“Bener?” tanya Shani tak percaya.
“Iya Shani Cahaya Purnama. Yaudah, Muti masuk duluan, mau ngedit berita.” Muti berlalu meninggalkan Shani yang masih terdiam di tempatnya.
Mendengar jawaban Muti, Shani begitu bingung. Berulang kali Muti mengingatkannya untuk berbagi masalah agar tidak dipendam sendiri. Nyatanya, Muti sendiri yang menyimpan rahasia darinya. Entahlah, terkadang Shani sendiri bingung dengan sifat sahabatnya yang jarang tertebak.
***
Venus menghentikan mobil di salah satu warung tegal yang terletak dekat dengan sekolah Stevanya dulu. Pria itu memandang sekeliling area warung yang masih satu komplek dengan SMA Yudisthira.Seketika bayangan adiknya muncul begitu saja. Berlari menghampiri Venus dan memeluknya erat.
“Mas Venus. Sudah lama tidak mampir. Ke mana saja?” tanya pemilik warung yang memang sudah kenal dekat dengannya menghampiri Venus.
“Nggak ke mana-mana, Bude,” jawab Venus tersenyum sopan. Wanita paruh baya yang dipanggil Bude itu juga penjaga kantin sekolah.
“Gimana kasusnya Stevanya? Sudah ketemu pelakunya belum?” senyum Venus memudar, amarahnya kembali memuncak. Namun, masih bisa ditahan karena mengingat ia berada di warung orang lain.
“Belum Bude. Masih belum ada tanda-tanda dari pelaku itu,” jawabnya lesu. Kepalanya menunduk lemah.
“Yang sabar, selalu berdoaagar diberi petunjuk sama Gusti Allah. Stevanya anak yang baik, manis dan sangat ramah. Setiap hari Bude selalu berdoa agar ia ditempatkan di sisi-Nya bersama orang-orang shaleh.” Wanita paruh baya itu menepuk pelan pundak Venus, membuatnya kembali tersenyum, meski sedikit.
“Bude, aku mau pesan seperti biasa, Bude masih ingat ‘kan? ucapnya yang diikuti anggukan dari pemilik warung.
“Masih lah, nasi dengan semur jengkol ditambah telur ceplok dan sayur wortel ‘kan? Sambelnya dikit. Bude ingat, Mas Venus duduk dulu.” Venus tertawa miris. Tidak menyangka pemilik warung ini akan ingat padanya dan makanan kesukaannya.
Tak lama, pesanan Venus sudah tiba di meja. Lezatnya makanan sama sekali tak menarik baginya.Apalagi selera Stevanya juga sama seperti Venus yang menyukai makanan sederhana.
Baru saja Venus mau memulai makan, pemilik warung yang beberapa menit lalu pergi meninggalkannya, kembali menghampiri. Ia membawa sesuatu ditangannya. Sepertiada sesuatu yang ingin ia berikan pada pria itu.
“Mas Venus, beberapa hari yang lalu ada seseorang yang memberikan ini pada Bude. Katanya milik Stevanya.”
“Apa ini Bude?” tanya Venus sembari meraih kotak putih di tangannya.
“Bude nggak tahu. Coba dibuka saja, Bude tinggal dulu.” Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Venus dan melayani tamu yang lain.
Pandangan Venus teralihkan ke kotak putih itu. Iatak tahu jika adiknya memiliki barang berharga seperti ini, meski Venus sendiri belum tahu isinyaapa. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Venus membuka kotak itu.
“Ini apa?” tanyanya bingung saat melihat sapu tangan merah maroon di dalamnya.
Venus meraih sapu tangan itu, secarik kertas terjatuh saat ia membuka kain sutra bertuliskan huruf G itu. Venus kembali meletakkan sapu tangan dan meraih kertas yang terjatuh tadi. Tulisan tangan Stevanya ada di sana. Namun, dalam bahasaThailand yang tak dipahaminya sama sekali.
“บันทึกสิ่งนี้ไว้เป็นความทรงจำของเรา ฉันไม่อยากให้คุณทะเลาะกับพี่สาวเพียงเพราะฉัน ลาก่อน (Bạnthụk s̄ìng nī̂ wị̂ pĕn khwām thrng cả k̄hxng reā c̄hạn mị̀ xyāk h̄ı̂ khuṇ thaleāa kạb phī̀ s̄āw pheīyng pherāa c̄hạn lā k̀xn.”
“Tulisan Steva, tapi artinya apa?” batin Venus bertanya.
Venus ingin sekali tahu arti dari surat itu dengan mencari orang yang bisa mengerti bahasa asing. Tapi, ia sama sekali belum menemukan orang itu. Venus merasa putus asa dibuatnya.