Venus memijit kepalanya yang berdenyut. Hari ia harus kembali berhadapan dengan masa lalu tentang kematian Stevanya yang masih misteri. Pikirannya sudah cukup lelah dan menguras energi serta emosi kala beradu argumen dengan anggota kepolisian. Kasus adiknya sudah lama ditutup karena tidak menemukan titik terang. Sang pelaku sama sekali tidak meninggalkan jejak apa pun dan berhasil kabur dari hukuman.
“Kak, jika nanti aku pergi atau menghilang untuk selamanya, apa Kakak akan tetap menyayangiku?”suara Stevanya terus menggema dibenaknya. Venus menangis tak percayasaat itu adalah malam terakhirnya bersama sang adik sebelum ditemukan tewas di sekolahnya.
“Sabar, Ven. Risiko orang miskin seperti kita ini sama sekali nggak ditanggapi. Aku yakin pelaku yang tega menghabisi Steva pasti bisa kita temukan,” ujar salah satu teman sejawatnya yang jugasatu kos dengannya.
Venus hanya tersenyum tipis lantas berlalu dari ruang tamu dan menuju kamarnya. Baru saja ia menghempaskan tubuh di atas kasur, ponselnya berdering nyaring. Panggilan dari Bu Firma, atasan Shani yang menyewa dirinya untuk memecahkan kasus kematian Ralisa. Andai saja ia dan Stevanyaanak dari pejabat penting, tentu kasus Steva sudah lama terpecahkan dan adiknya mendapatkan keadilan.
“Tak ada yang aneh saat di pemakaman tadi,” ujar Venus melalui panggilannya, memberi tahu keadaan saat Ralisa di makamkan tadi.” Hanyaada keluarga, penggemar dan juga Managernya yang ikut melepas Ralisa.”
“Pihak keluarga meminta kita untuk segera menyelidiki kasus itu. Mereka mengancam akan membuat perusahaanku bangkrut dan melakukan hal yang sama pada Shani.”
Venus menghela napas panjang. Shani tidak ada hubungannya dengan kematian Ralisa yang tragis. Meski mereka baru kenal beberapa hari yang lalu, tapi Venus tahu bahwa Shani sama sekali tidak terlibat. Lantas mengapa keluarga Ralisa ingin melenyapkan gadis itu?
“Besok kami mulai menyelidikinya. Katakan pada mereka, jangan coba-coba untuk menyentuh Shaniatau merekaakan tahu akibatnya.” Venus menutup panggilan secara sepihak. Pikirannya langsung melayang pada Shani yang nyawanya berada dalam list incaran.
***
Shani sudah hendak menjemput mimpi indah saat tiba-tiba pintu kamarnyadigedor. Ia terperanjat dari atas tempat tidur.
“Ada apa?” tanyanya pada teman satu indekos yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
“Si Laura ditemukan tewas di kamarnya saat Ratna dan Tiara hendak mengembalikan novel miliknya.”
Mata Shani terbelalak. “A-apa?” tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Kakinya gemetar.
Dengan kaki gemetar, Shani menuju kamar Laura. Ia membekap mulutnya saat melihat Laura yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di atas lantai. Mulutnya menganga, matanya melotot, di keningnya terdapat luka lebam yang seperti dihantam dengan benda tumpul. Pemandangan yang sangat mengerikan.
“Shan, panggil polisi cepat. Laura pasti dibunuh.” Angel—teman satu indekos Shani yang sangat dekat dengan Laura—terisak pelan.
Tidak ada yang bisa Shani lakukan selain berdiam diri di sana. Penghuni indekos juga nggak ada yang berani menyentuh mayat Laura karena nggak mau meninggalkan sidik jari dan bisa jadi tersangka nantinya. Muti tahu Shani ketakutan, sahabat Shani itu segera menghubungi kakaknya dan memintanya untuk datang ke sana.
Keadaan benar-benar sudah parah, mayat Laura mulai mengeluarkan bau busuk. Polisi yang tiba tepat waktu segera mengidentifikasi dan memasukkan mayatnya ke keranjang mayat.
“Sudah dua hari dia meninggal. Memangnya kalian tidak curiga kenapa Laura tidak keluar kamar?” Ghani—kakak kandung Muti menghampiri adiknya yang tengah menenangkan Shani.
“Sama sekali tidak, Kak. Laura memang tipikal orang pendiam. Dia jarang berkumpul sama kami,” jawab Muti.
“Siapa yang pertama kali menemukan mayatnya?” tanya Ghani.
“Kami, Kak,” jawab Ratna dan Tiara serentak.
Ghani menatap mereka yang menggigil ketakutan. Ratna yang sedang memegang novel milik Laura menangis saking takutnya dengan kejadian tadi. Ratna yang hanya mengenakan pakaian tidur itu tampak mencurigakan dengan pakaian yang ia kenakan dan aksesoris gelang dengan huruf L melingkar di pergelangan tangannya.
“Bisa saya lihat gelang itu?” tunjuk Ghani yang mendekat.
“Ini punya Laura, Kak. Beberapa hari yang lalu dia meminjamkannya padaku bersama novel ini,” jawab Ratna cepat.
Tiara menoleh dengan kening mengkerut. Berusaha mengingat balik tentang novel yang ia pinjam pada Laura.
“Novel itu bersamaku sejak seminggu ini. aku sama sekali belum mengembalikn padanya. Kamu yang minta novel itu sendiri padaku,” ujar Tiara.
Semua orang memandang Ratna dengan aneh. Gadis yang bekerja di sebuah toko plastik itu merasa risih dengan tatapan itu. Shani pun menatapnya curiga. Ia sama sekali belum mengenal Ratna yang beberapa bulan lalu kos di sana.
“Bisa ikut dengan kami. Anda harus memberikan keterangan mengenai novel milik Laura ini,” ujar Ghani. Ratna mengangguk mengikuti polisi yang meninggalkan indekos setelah police line melingkar depan pintu kamar Laura.
Pakaian tidur Ratna yang tidak layak dipakai di luar rumah menampilkan pakaian dalam yang berbeda warna dengan baju itu. Ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri dan menyampirkan sebuah cardigan merah muda di bahunya.
Ratna menahan marah saat melihat wajah orang tersebut. “Ka-kamu...”
“Malam ini dingin, pakailah itu biar kamu nggak kedinginan nantinya!” ucap Shani. Matanya fokus menatap mobil jenazah yang membawa tubuh Laura, meski tidak semua teman kos yang Shani tahu, apa yang terjadi pada Laura cukup membuatnya bergidik ngeri.
“Besok saya datang lagi, meminta keterangan pada kalian semua dan juga pemilik indekos,” ujar Ghani sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Penghuni indekos itu pun langsung menuju kamar masing-masing setelah polisi itu pergi. Begitu juga dengan Shani dan Muti yang terlihat mengantuk. Baru saja Shani menghempaskan tubuh di kasur empuknya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Bagaimana? Apa kalian menikmati pertunjukannya?” kening Shani mengkerut, ia tak mengerti maksud dari pesan itu dan memilih untuk mengabaikannya.
***
Shani memejamkan mata. Berulang kali ia beristiqfar saat wajah pucat Laura yang baru saja ditemukan tak bernyawa memenuhi pelupuk matanya. Kejadian ini adalah kejadian pertama yang iaalami secara langsung. Sebelumnya, ia tak pernah mengalami kejadian yang mengerikan seperti tadi. Tapi, malam ini ia melihatnya sendiri.
“Itu belum seberapa, Shani. Kematian Lauraadalah salah satu kesalahanmu. Jika kamu tidak segera menyelidiki kasus Ralisa, maka selanjutnya yang menjadi target adalah sahabat terdekatmu, Muti.”
Shani terperanjat, ponsel yang ia gunakan untuk menyetel musik di aplikasi youtube itu menampilkan sebuah pesan masuk di sana. Ia kaget serta ketakutan. Peneror itu kembali menerornya bahkan sudah membunuh teman satu kosnya.
“Siapa kamu sebenarnya.” Shani memutuskan untuk membalas pesan itu dan ingin tahu kenapa ia tega membunuh Laura.
“Hanya ikuti saja perintah itu, maka orang-orang yang ada di sekitarmu akan selamat. Nyawa mereka ada di tanganmu saat ini,” balasnya lagi.
Tangan Shani melemah, kematian Laura adalah kesalahannya. Andai saja dirinya menyelidiki kasus itu segera, mungkin Laura masih hidup sekarang. Shani merasa dilema dengan dihadapkan pada masalah yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.