Shani memaksakan matanya untuk tetap terbuka lebar saat membaca file kasus Ralisa yang beberapa hari lalu diberikan Bu Firma padanya. Matanya terasa sangat berat. Ini semua gara-gara insiden menegangkan tadi malam. Saat mendapat pesan misterius dari peneror itu, ia tidak bisa langsung tidur. Selain wajah pucat Laura yang melotot terus terbayang, Shani juga mengingat dan memikirkan nasib orang terdekatnya jika kasus Ralisa tak berhasil ia pecahkan. Alhasil, Shani baru bisa tidur selepas shalat subuh. Ia merutuki dirinya yang penakut, padahal ada orang yang akan melindunginya.
Shani menceritakan apa yang terjadi di indekosnya pada Della karena mereka lumayan dekat.
“Innalillahi, Laura yang kerja di pabrik gula itu?” tanya Della.
Shani mengangguk. “Iya, Del. Ratna dan Tiara yang pertama kali menemukan Laura.”
“Astaga, kenapa dia nekat sekali mengakhiri hidupnya?” wajah Della terlihat sangat penasaran.
“Bukan mengakhiri hidup, tapi dia dibunuh.”
“Kok bisa?”
Shani mengangkat bahunya. “Aku juga bingung kenapa dan apa alasannya Laura dibunuh. Apalagi dengan cara tragis seperti itu.”
“Apa mungkin berhubungan dengan kasus Ralisa?” Shani menoleh cepat. Bagaimana Della bisa mengaitkan kejadian semalam dengan kasus youtuber itu? Apa mungkin dia tahu sesuatu?
“Entahlah, aku tidak tahu,” jawabnya kemudian.
Della mengangguk paham, Shani masih fokus menatap file itu sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.Muti yang baru saja kembali dari toilet menghampiri mereka yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Venus ada di luar, katanya mau menyelidiki kasus itu hari ini,” ujar Muti yang diikuti anggukan Shani.
Selagi Shani sibuk dengan file yang akan ia jadikan sebagai bahan penyelidikan nanti, Muti menggenggam erat tangan Della yang hendak menuju meja kerjanya.
“Aku tahu siapa kamu, jangan coba-coba untuk ikut campur dalam masalah ini,” bisiknya pelan.
Della menyeringai, ancaman Muti tempo hari sama sekali tak berpengaruh padanya. Ia bukan orang yang gampang takut saat seseorang mengancamnya. Della tahu sifat Muti yang penakut seperti Shani.
“Kalau aku ikut campur, kamu mau apa?” balasnya berbisik pelan.
Muti berusaha menahan emosi karena masih ada Shani di sana. Gadis itu memilih meninggalkan Della dan menghampiri sahabatnya yang hendak pergi.
“Hati-hati, jaga dirimu. Di luar sana kita nggak tahu bahaya apa yang tengah mengincarmu,” ujarnya.
Shani tersenyum, menyentuh pelan pundak Muti. “Tenang aja, Mut. Ada Venus di sampingku, dia pasti akan melindungiku nanti. Shani pamit dulu, ya. Untuk beberapa hari ini Shani percayakan tim kita padamu. Tegur mereka jika melakukan kesalahan.” Muti mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
***
Ratna duduk tenang di depan anggota polisi dan pihak keluarga Laura yang akan menuntutnya ke meja hijau. Dengan penuh ketenangan, ia menjelaskan apa yang terjadi di indekos selama ia ngekos di sana.Selain Ratna, ada Tiara saksi penemuan mayat Laura dan pemilik kos yang baru pulang dari luar kota.
Satu jam lebih ia dibantu oleh penghuni indekos lainnya yang tahu bagaimana sifat dan sikap Laura, termasuk konfliknya dengan Shani.
“Saya sudah menjelaskan semuanya, Pak. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal kematiannya,” ujar Ratna membela diri.
Wanita paruh baya itu menatap sengit ke arah Ratna. “Tapi, kamu yang pertama kali menemukan mayat anakku. Gelang yang kamu pakai sekarang itu adalah miliknya. Hadiah ulang tahun dari papa Laura.”
“Tante, aku memang meminjam gelang ini darinya, tapi bukan aku yang membunuhnya. Aku sama sekali nggak ada masalah dengan penghuni kos. Kenapa kalian nggak interogasi Shani, Laura ada masalah dengannya,” ujar Ratna membela diri.
Ratna menarik napas panjang, berusaha menenangkan emosi. Ia masih ingat dengan jelas apa yang Laura ucapkan padanya sebelum memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Termasuk masalahnya dengan Shani saat ini. Ratna yangmembenci gadis itu berusaha untuk mempengaruhi Laura untuk menyingkirkan Shani dari sana.
“Sebelum itu, Shani dan Laura bertengkar hebat. Meski aku tidak tahu permasalahannya apa, tapi aku yakin Shani yang menyebabkan ini semua terjadi.” Ucapan bohong Ratna membuat teman indekosnya mengernyitkan kening.
Mereka tidak menyangka ia akan menuduh Shani sekejam ini. sejauh yang mereka tahu, Shani adalah gadis baik dan nggak pernah ada musuh. Leader tim editor itu memilih untuk mengalah dari pada berdebat. Ratna yang baru beberapa bulan di sana, tega memfitnah gadis itu.
“Rat, jangan menuduh orang tanpa bukti. Kami tahu siapa Shani, dia nggak mungkin melakukan hal itu,” ujar Tiara yang diikuti anggukan lainnya.
“Kalian nggak tahu apa yang terjadi di kost, karena kalian lagi kerja. Lagian aku bicara sesuai fakta, kok. Nggak asal bicara saja.” Ratna kesal dengan Tiara yang berusaha membela Shani.
Tiara dan yang lainnya terdiam. Bingung mau menyanggah apa. Sikap Ratna yang terlalu keras membuatnya berpikir dua kali. Mungkin apa yang dikatakannya ada benarnya juga, karena mereka berangkat kerja pagi dan pulang lepas magrib. Bisa jadi ada konflik di antara keduanya. Namun, mereka tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ratna, karena menurut anak-anak indekos—Ratna sering menjelekkan Shani di belakangnya. Entah apa yang membuatnya membenci gadis itu.
“Kami mau gadis itu di interogasi juga, Pak,” ujar mama Laura yang mulai emosi.
“Baiklah, kami akan segera memanggil saudari Shani untuk dimintai keterangan. Sekarang Bapak-bapak—Ibuk-ibuk dan juga adik-adik sekalian, dipersilakan untuk pulang.”
Akhirnya mereka pun pulang dengan perasaan yang tidak menentu. Tiara menatap Ratna, menaruh curiga pada gadis itu yang tersenyum puas.
***
Shani memberikan beberapa berkas kasus kematian Ralisa pada Venus. Pria itu meraihnya, melihat sebentar kemudian memberikan file itu kembali pada Shani.
“Kita mulai menyelidiki di tempat kejadian. Siapa tahu ada petunjuk di sana,” ujarnya yang diikuti anggukan Shani.
“Apa nggak sebaiknya kita lihat dulu hasil autopsinya? Kita ‘kan nggak tahu Ralisa dibunuh atau malah bunuh diri.” Shani menatap Venus yang pikirannya seperti tidak berada di sana.
Pria itu melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Ralisa di autopsi. Mungkin perkataan Shani ada benarnya juga. Mereka belum tahu hasil dari autopsinya, apakah youtuber itu bunuh diri atau malah dibunuh.
Di perjalanan, saat memasuki tol, mobil mereka diikuti oleh beberapa motor yang tampak mencurigakan. Beberapa kali Venus menghindar saat pemotor itu menyenggol badan mobilnya. Namun, keseimbangan dan fokus Venus terkalahkan oleh jumlah mereka yang lumayan banyak.
“Mereka siapa? Kenapa dari tadi mengikuti kita terus,” ujar Shani yang tampak ketakutan.
Venus diam tanpa menoleh. Pria itu juga bingung kenapa mereka ingin mencelakainya dan juga Shani. Kini, yang harus ia lakukan adalah menekan pedal gas agar tiba di rumah sakit lebih cepat.
“Aku yakin mereka adalah orang yang ingin menghentikan penyelidikan kita,” jawabnya kemudian.
Saat tiba di parkiran rumah sakit yang sepi, Shani dan Venus bergegas keluar dari mobil. Merekasegera menuju lift untuk sampai ke lantai atas. Namun, sang pemotor lebih dulu tiba saat mobil merekaberhenti di sana. Dua orang di antara mereka mengeluarkan pisau dan mengarahkan pada Venus. Dua orang lainnya mencekal tangan Shani dengan erat.
“Lepaskan!” jeritnya merontaagar mereka mau melepaskan tangannya.
Sementara dua orang lagi membantu temannya untuk menghabisi Venus. Mereka berempat mengelilingi pria itu dengan memegang senjata tajam. Shani menepis tangan pria bertopeng yang mencekal tangannya lalu memukulkan tas yang berisi dompet ke kepala mereka.
Napas Shani naik turun. Wajahnya masih mengeluarkan aura ketakutan saat beberapa orang berhasil melukai tubuh Venus.
“Venus awas,” teriaknya.
Venus berpaling, menatap Shani yang tampak ketakutan. Namun, ia lupa bahwapemotor yang menggunakan topeng itu kembali berhasil melukai tubuhnya yang lain. Kali iniperut Venus mengeluarkan darah segar saat pisau itu berkali-kali mereka tancapkan.
“Tolong!!!” teriak Shani kencang yang membuat satpam rumah sakit mendengar teriakannya. Mereka kabur, meninggalkan Venus yang terkapar di lantai dengan bersimbah darah.
Shani mendekat, memeluk pria itu dengan erat. Ia sama sekali tak peduli dengan darah yang mengotori bajunya. Sambil menangis Shani berusaha membuat Venus agar tetap terjaga, akan tetapi pria itu sudah tidak sadarkan diri semenjak pembunuh bayaran itu meninggalkannya.