Shani ikut mendorong bad pasien yang dibasahi dengan darah Venus. Ia tak berhenti menangis melihat kondisi partner nya yang kritis. Shani sama sekali tak tahu harus melakukan apa dalam keadaan seperti ini. Badannya masih gemetar, tangan dan kakinya tak berhenti menggigil saat mengingat pembunuh bayaran itu menyerang mereka.
Saat tiba di ruang UGD, perawat tak mengizinkannya untuk ikut masuk. Tubuhnya melemas dan terjatuh begitu saja pada lantai rumah sakit yang dingin. Pandangannya nanar menatap pintu itu. Ia takut sesuatu terjadi pada Venus. Dengan tenaga yang masih tersisa sedikit, Shani meraih ponselnya dan menghubungi Muti.
“Hallo, Shan.” Suara Muti terdengar di seberang sana saat panggilan itu tersambung.
“Aku di rumah sakit sekarang,” jawabnya lesu yang membuat Muti khawatir.
“Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja ‘kan?”
Shani menggeleng. “Nggak, Mut. Aku sekarat, kamu datang ke sini, ya!” pintanya yang kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.
Muti bergegas meninggalkan kantor tanpa minta izin terlebih dahulu pada atasannya. Ia benar-benar khawatir pada sahabatnya. Tanpa sengaja Muti menyenggol seorang pria yang baru saja keluar dari lift. Gelagat dari pria itu tampak mencurigakan. Terlihat dari caranya berpakaian yang serba hitam serta berusaha menyembunyikan wajahnya di bawah topi yang ia kenakan. Muti hendak mengikutinya, tapi mengingat Shani yang saat ini lebih membutuhkan terpaksa diurungkan. Muti bergegas keluar dari sana dan menuju rumah sakit tempat Shani berada setelah gadis itu mengirimkan lokasi padanya.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Shani saat Dokter Leo keluar dari ruangan itu.
“Lukanya cukup dalam, karena itu dia kehilangan banyak darah. Syukur saja rumah sakit punya stok darah yang cocok dengannya. Kita harus segera melakukan operasi untuk menjahit luka tusukan itu,” jawab Dokter Leo.
Shani mengangguk. “Lakukan yang terbaik, Dokter. Selamatkan dia. Aku mohon, dokter!”
“Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik. Suster, persiapkan ruang operasinya sekarang!” perintahnya pada Suster Maya.
“Baik, Dok,” jawab Suster itu.
Sepeningal Dokter Leo, Shani memilih keluar dari sana dan menuju taman yang ada di belakang untuk mengurangi ketakutannya. Ia tahu dengan cara ini pasti bisa membuat gemetar di tubuhnya sedikit berkurang.
Baru beberapa melangkah dari sana, mata Shani tak sengaja melihat salah satu dari pembunuh bayaran itu yang tengah menuju ke arahnya. Pria yang menggunakan masker dan topi hitam itu kabur saat mengetahui ada Shani di sana. Ia mengikuti pria yang diduga menjadi penyebab Venus kritis. Shani masih ingat betul perawakannya.
Ia terus mengikuti dengan sedikit keberanian. Menyusuri lorong rumah sakit dan menuju taman belakang. Namun, Shani kehilangan jejak. Pria itu menghilang entah kemana. Shani terus mencarinya dan menanyakan alasan kenapa mereka diserang.
Shani terhenti. Ia tak tahu harus mencari orang itu kemana lagi. Keberanian yang telah dikumpulkan hilang begitu saja. Shani tak beranjak dari sana, bahkan sudah lebih sepuluh menit gadis itu berdiri. Tanpa diketahui, seseorang menepuk pundaknya dari belakang yang membuat Shani terkejut.
“Astaga Muti, bikin kaget aja,” teriaknya lantang. Shani tampak memegang dadanya yang naik turun bersamaan dengan deru napas Shani yang semakin kencang.
“Kamu ngapain di sini? Katanya sekarat?” tanya Muti yang kebingungan dan melihat keadaan Shani baik-baik saja.
“Bukan aku, tapi Venus.”
“Rekan kamu itu?” Shani mengangguk.
Muti membawanya duduk pada sebuah kursi panjang berwarna putih yang tak jauh dari sana. Ia tertarik untuk mendengar cerita sahabatnya tentang Venus.
“Memangnya dia kenapa?” tanyanya yang mulai penasaran.
“Tadi, saat aku dan Venus ingin melihat hasil otopsi Ralisa di rumah sakit ini, tiba-tiba ada beberapa motor yang mengikuti kita dan berusaha untuk mencegah penyelidikan. Venus kemudian tancap gas dan tiba di sini dengan segera. Tapi...” Shani tiba-tiba menghentikan ucapannya dan menyeka air mata yang kembali menetes.
“Tapi kenapa?”
“Kami di serang, beberapa di antara mereka menodongkan senjata tajam pada Venus. Aku takut, Mut. Enus ditikam beberapa kali dan tak sadarkan diri di tempat kejadian.” Muti membawa Shani ke dalam pelukannya.
Isakan tangis sahabatnya itu bisa ia rasakan. Muti tahu sejak awal resiko yang akan datang pada Shani karena kasus Ralisa.
“Tenanglah, semoga Venus baik-baik saja,” ujarnya menepuk pelan pundak Shani.
“Dia kehilangan banyak darah, Mut. Luka itu terlalu dalam, aku takut Venus tidak selamat nanti.”
“Jangan berpikir seperti itu, Shan. Aku yakin dia pasti selamat, berdoa saja.”
“Bagaimana nanti aku yang jadi korban selanjutnya?” ucapan Shani berhasil membuat Muti berpikir.
Pria yang ia temukan di kantor tadi sungguh mencurigakan. Muti juga takut jik Shani yang menjadi korban selanjutnya. Setiap kali ia berpikir tentang hal aneh yang terjadi belakangan ini, selalu ada hubungannya dengan kasus Ralisa.
“Tadi setelah Shani menelponku, Muti segera meninggalkan kantor. Karena terlalu panik hingga tak sengaja menabrak seseorang yang baru keluar dari lift. Pria itu tampak mencurigakan, Shan. Muti yakin dia ada dibalik kasus Ralisa dan penyerangan Venus,” ujarnya serius.
“Muti lihat wajahnya?”
Muti menggeleng. “Nggak. Dia menggunakan pakaian serba hitam, bahkan wajahnya itu ditutupi dengan topi yang ia pakai. Muti nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas,” ucap Muti yang berusaha mengingat kermbali.
“Mungkin dia klien kita.” Shani menatap Muti serius, tertarik dengan cerita sahabatnya barusan.
“Nggak mungkin klien kita, penampilan dia mencurigakan gitu. Terlebih lagi dia menuju ruangannya Bu Firma.”
“Masa sih?”
Shani masih belum percaya dengan apa yang diceritakan Muti. Wajah cantiknya seketika berubah tegang kala penyerangan itu kembali melintas dibenaknya. Shani semakin yakin dan mantap untuk menyelidiki kasus kematian Ralisa yang ada hubungannya dengan sang penyerang tersebut.
“Dari awal Muti sudah melarang Shani untuk terlibat ke dalam masalah ini. Apa yang aku takutkn itu menjadi kenyataan. Bersyukur ada Venus di sampingmu, kalau tidak Muti nggak bisa membayangkan apa yang terjadi padamu Shani.”
“Mut, semua ini sudah jalannya. Shani terlanjur masuk ke dalam kasus ini dan harus menyelesaikannya segera.”
“Bagaimana caranya? Jika diawal penyelidikan saja Venus sudah terluka begini?”
Shani menunduk, menyembunyikan air mata di sudut matanya. Ia sungguh tidak menyangka kalau Venus yang kelihatan kuat akan terluka seperti ini. Shani kira dengan menyetujui permintaan Bu Firma, orang-orang yang berada di sekitarnya akan aman.
“Muti yakin, Bu Firma dalang dibalik penyerangan itu,” ujar Muti kemudian.
“Jangan berprasangka buruk dulu. Kita nggak ada bukti untuk menyudutkan Bu Firma.”
“Tapi kalau terbukti atasan kita itu terlibat, Muti akan keluar dari perusahaan,” ancamnya serius.
Shani mengangguk lantas beradu pandang dengan Muti. “Kalau begitu, peran Muti sebagai mata-mata harus terlaksana. Shani ingin Muti mencari tahu tentang pria yang menemui Bu Firma itu dan apa hubungan mereka.”
Muti menatap Shani serius, kemudian mengangguk paham dengan tugasnya sebagai mata-mata. Kali ini Muti tak akan menyiakan kesempatan untuk menyelidiki siapa pria yang menemui atasannya itu, karena ia yakin Bu Firma ada di balik peristiwa yang terjadi.