Part 9 Dugaan Emosi

1003 Kata
Muti menghela napas panjang saat melihat Ratna yang duduk manis di atas kasurnya. Tanpa ia ketahui ada sesuatu yang digenggam gadis itu keluar dari kamarnya karena terkejut melihat kedatangan Muti. “Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku,” ucapnya marah sembari menghentikan langkah gadis itu. Ratna terlihat gugup, tak berani menatap wajah Muti yang mulai memerah. Setelah mengatur sedikit napasnya, Ratna berbalik perlahan. Tersenyum sebentar, kemudian memilih meninggalkan Muti. “Dasar lancang, aku tanya kenapa kamu bisa masuk ke kamarku,” teriaknya lantang, membuat Ratna kembali berhenti. “Salah siapa pergi tanpa mengunci pintu kamar. Seharusnya kamu bersyukur aku sudah menyelamatkan barang-barangmu dari maling,” jawabnya yang tak kalah emosi. Muti mengerutkan kening. Ia ingat betul sebelum berangkat kerja tadi, Muti mengunci pintu kamarnya. Tak pernah sekali pun ia lupa tentang keselamatan barang-barangnya apalagi meninggvlkan kamar dalam keadaan terbuka saat berangkat kerja. “Aku tahu kamu bohong. Kamu pasti sudah merusak kuncinya dan mengambil barang-barangku, iya ‘kan?” “Jangan asal nuduh, ya. Aku sama sekali tak tertarik dengan barang bekasmu itu.” Perdebatan keduanya menarik perhatian penghuni lain. Mereka berusaha melerai Ratna dan Muti yang sudah tersulut emosi. “Sudah jangan ribut, sudah malam. Lagian apa yang dikatakan Ratna itu benar. Tadi pintu kamarmu terbuka, mungkin kamu lupa menguncinya,” ujar Tiara. “Kamu juga, Rat. Jangan lancang masuk ke kamar orang, aku ‘kan sudah bilang tadi, kamunya tetap ngeyel mau masuk ke sana,” lanjutnya. Mendengar perkataan Tiara, tangan Muti yang terkepal kembali seperti semula. Mengingat hari sudah malam, ia pun tak ingin memperpanjang masalah ini. Tapi, jika terbukti Ratna bersalah telah merusak kunci kamarnya, tentu Muti tak akan tinggal diam. “Kali ini kamu kumaafkan, jika ada barang-barangku yang hilang, kamu harus tanggung jawabnya,” ujarnya meninggalkan Ratna dan para penghuni lain. *** Shani duduk merenung di kursi tunggu depan kamar rawat Venus. Ia mengingat semua kejadian saat menerima pekerjaan barunya itu. Hanya keluarga yang menjadi tolak ukur Shani sebelum memutuskan sesuatu. Ia ingin keluarganya aman dari peneror itu. Namun, ketika bertemu dengan Venus, ia seakan-akan melupakan jati dirinya sendiri. Ia tak menyangka akan berhadapan dengan pembunuh bayaran tersebut. Benar Muti pernah berkata, “Bagaimana jika kasus itu nggak bisa diselesaikan dan malah kamu yang jadi incarannya.” Setelah mengenal Venus, ia semakin memantapkan hati untuk menyelesaikan kasus itu meski nyawanya dalam bahaya. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa takdir membuat dirinya terlibat ke dalam kasus itu? Dari dulu, ia tak pernah berpikir untuk menjadi seorang detektif. Namun, karena keluarganya , Shani tak punya pilihan lain. Semua berawal saat seorang klien yang meminta mereka untuk segera memuat beritanya. Shani yang baru kembali dari kampung halamannya malah ditunjuk untuk menyelidiki sebuah kasus. Entah apa yang sedang dipikirkan atasannya, sehingga membuat Shani berada dalam fase kebimbangan. Shani beranjak dari tempatnya, ia bermaksud untuk masuk ke kamar rawat Venus. Saat sudah berdiri di samping bankar Venus, tiba-tiba tangan pria itu bergerak. Shani bergegas memanggil dokter. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Shani saat Dokter Leo selesai memeriksanya. “Syukur alhamdulillah dia baik-baik saja. Keadaanya sudah stabil, kita tinggal tunggu dia siuman karena saat ini Venus masih terpengaruh obat bius, makanya dia belum sadar.” “Baiklah, terima kasih Dokter.” Dokter Leo mengangguk. “Kalau begitu saya permisi dulu.” *** Ratna masih terlihat marah dengan tuduhan Muti tadi. Ia yang kesal kemudian menyusun rencana untuk menyingkirkan gadis itu di sana. Ratna tersenyum saat melihat cincin emas putih yang sempat ia ambil di kamar Muti. “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan dipenjara atas kasus kematian Laura. Kamu atau aku.” Ratna tersenyum licik. “Apa yang akan kamu lakukan dengan cincin itu?” tanya salah satu penghuni kos yang masih berada di dalam kamar Ratna. “Menurutmu, apa yang bisa dilakukan seorang Ratna jika sudah marah sama orang?” “Aku tahu kamu bisa melakukan segalanya. Maka dari itu kamu datang ke sini untuk menjebak mereka, bukan?” “Kamu paling bisa mengerti aku Della. Memang teman yang baik,” ujar Ratna yang diikuti senyuman dari Della. Tanpa diketahui penghuni kos lain, termasuk Shani dan Muti. Della ternyata sudah seminggu lebih menginap di kamar Ratna dan merencanakan hal yang buruk terhadap Shani dan Muti. “Aku ingin kamu secepatnya bertindak, agar mereka segera pergi dari pandanganku. Sudah terlalu sabar aku selama ini menghadapi mereka di kantor, terlebih lagi Muti yang terus curiga padaku,” ucap Della sembari berjalan ke balkon kamar dengan membawa secangkir teh hangat. Ratna mengikutinya dari belakang, mensejajarkan tubuhnya dengan Della. “Kamu tenang aja, besok akan ada kabar bahagia untuk kita berdua.” Sementara Della dan Ratna asik tertawa bersama sambil bercengkrama, sementara itu Muti tampak sibuk mencari sesuatu. “Di mana dia? Aku yakin meletakkannya di sini,” ucapnya yang terus mengotak-atik isi laci meja rias. Yang dicari tak kunjung ditemukan. Muti tampak kewalahan, ia terlihat putus asa. Kamarnya pun berubah seperti kapal pecah karena seisi lemari ia keluarkan. “Bisa mati aku kalau cincin itu hilang,” gumamnya. Muti tak tahu harus mencari kemana lagi. Saat hendak merebahkan diri di kasur empuknya, seketika bayangan Ratna yang keluar dari kamarnya terlintas begitu saja. Muti yakin, bahwa Ratna yang telah mengambil cincin miliknya. Wajah Muti semakin pucat, terlebih jika Ratna memberikan cincin itu pada polisi. *** Shani memaksakan matanya untuk melek saat mendengar namanya disebut Venus. Ia memukul-mukul kepalanya yang sedikit berat. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, ia berjalan ke arah Venus yang sudah membuka matanya. Shani tersenyum saat melihat Venus sudah sadarkan diri. “Syukurlah kamu sudah sadar,” ucapnya dengan menggenggam tangan Venus erat. “Kamu nggak apa-apa ‘kan?” tanya Venus yang berhasil membuat Shani terdiam. “Kamu ini gimana, sih. Yang terluka ‘kan kamu, kenapa malah mencemaskan diriku,” jawab Shani kemudian. “Aku tahu. Aku hanya tidak ingin ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup bagiku kehilangan Steva, aku nggak mau kehilanganmu.” Mata Shani membulat sempurna saat bersamaan dengan mata Venus yang kembali terpejam. Dengan penasaran ia berusaha untuk kembali menelaah ucapan Venus barusan. “Steva? Siapa?” batinnya. Shani diam sejenak, berusaha untuk menelaah perkataan Venus barusan. Ia yakin ada rahasia yang sedang disembunyikan rekannya itu yang sama sekali tidak diketahui orang lain. Shani meraih ponselnya, melihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Shani tak tahan untuk menceritakan pada Muti, tapi mengingat hari sudah larut malam kembali ia urungkan. “Mungkin Muti sudah tidur. Aku nggak mau menganggunya,” batinnya. Shani tak bisa tidur, pikirannya jauh menerawang. ada beberapa hal yang belum ia mengerti. shani ingin menanyakannya pada Venus, tapi urung ia lakukan. Mengingat kondisi pria itu yang belum sembuh total. mungkin besok Shani bisa menanyakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN