Venus segera tancap gas, mengantar Shani ke suatu tempat yang baru saja ia dapat dari seorang pria bernama Leo. Awalnya Venus melarang dan mengatakan mungkin saja itu jebakan. Tapi, Shani sangat mengenali suara kakaknya itu, ia tak bisa menahan rasa untuk bertemu kakaknya lagi. “Ven, bisa lebih cepat, nggak!” pintanya tanpa menatap wajah Venus sedikit pun. Venus tersenyum sinis, ia merasa ada yang aneh dengan penelpon itu yang meminta untuk bertemu dengan Shani tengah malam begini. Mana lokasi pertemuan itu sudah lama ditinggal. “Shani, kok, kamu percaya begitu aja, sih, sama orang itu?” Venus mengeluarkan suara dengan mata masih fokus pada setir mobil. “Aku harus memastikan dulu dia beneran Kak Leo atau bukan. Sudah lama sejak Kak Leo menikah, dia belum pernah menghubungiku,” ujarnya.

