DENDAM LELAKI BERWAJAH BURUK

1012 Kata

Rere dan Lukman duduk di teras. Mereka memandang langit. Gadis ini tersenyum kepada Lukman seraya menyandarkan kepala pada pundak kirinya. "Nyamuk!" Lukman menepuk nyamuk di lengan kiri Rere. Rere terkejut, ia melihat nyamuk di tangan Lukman. "Pak, di sini banyak nyamuk." "Hem. Habisnya kalau di dalam aku bosan dan mengantuk." Rere memandang pintu kemudian ke pematang sawah. "Gelap hanya ada kunang-kunang di sini." Rere menunjuk kunang-kunang. "Re, sinyal di sini tidak buruk, ya? Padahal seharusnya sulit mencari sinyal." Rere tahu. Itu pasti karena satelit yang digunakan oleh markas. "Iya, Om," Lukman tertawa. "Om, ya?" "Boros muka, sih." Rere mencubit pipi Lukman. Ia lantas kembali merangkul lengan Lukman. "Re, ingat ini sepertinya kita sudah menikah, ya?" "Pengantin baru,"

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN