7

1086 Kata
Bab 7 Beberapa hari berlalu, dan keluarga Mika bersiap untuk kembali ke Jakarta. Adit memutuskan untuk bergabung dengan mereka dan akan bersekolah di Jakarta. Mika merasa lega dan bahagia dengan keputusan ini, seakan sebuah beban besar telah terangkat dari bahunya. Pagi yang cerah di Jakarta, keluarga Mika berkumpul untuk sarapan pagi. Mika merasa senang dan penuh semangat. Dia memutuskan untuk membuat nasi goreng udang untuk sarapan pagi, menu kesukaan keluarga mereka. Saat mereka semua duduk di sekitar meja makan, Hasbi memberikan suasana riang. Dengan mata berbinar, dia berkata, "Ayo, ayah, tebak-tebakan! Kenapa udang menangis?" Mika, Daniel, dan Adit tersenyum pada kepolosan Hasbi. "Apa, Sayang? Kenapa udang menangis?" tanya Daniel, bermain-main. Hasbi tertawa dan menjawab, "Karena dia dipotong-potong untuk nasi goreng!" Semua orang meledak tertawa mendengar teka-teki lucu Hasbi. Makan pagi mereka diwarnai oleh tawa dan kebahagiaan, serta kehangatan perasaan keluarga yang semakin erat. Hasbi, yang penuh semangat dan tidak ingin kehilangan tantangan, melihat ayahnya dengan tatapan penuh harap. "Ayah, tebak tebakanku, kenapa sapi tidak bisa main kartu?" Daniel tersenyum dan memutar otak sebentar. "Hmm, kenapa ya? Apa karena mereka tidak bisa menahan kartu di tangan mereka yang besar?" Hasbi menggelengkan kepalanya, memberi tanda bahwa jawaban itu salah. "Bukan, Ayah! Karena mereka sudah keburu jadi steak!" Semua orang meledak tertawa lagi, meskipun Daniel agak bingung sebentar sebelum tersenyum dan memeluk Hasbi. "Hebat, Sayang! Teka-teki kamu lucu." Mika dan Adit berusaha menjawab juga, tetapi teka-teki Hasbi terbukti cukup sulit. Akhirnya, Hasbi mengungkapkan jawaban dan tertawa riang. Meskipun pertanyaan teka-teki tersebut tidak bisa dijawab oleh Mika dan Adit, saat itu terasa seperti keluarga yang lebih lengkap dan bahagia daripada sebelumnya. Mereka menikmati pagi yang penuh kebahagiaan dan semangat untuk perjalanan baru bersama di masa depan. Tiba-tiba, Adit mulai batuk-batuk dengan keras. Wajahnya merah, dan dia terlihat kesakitan. Ia mulai menggaruk lehernya dengan keras, membuat semua orang di sekitarnya kebingungan. Mika langsung memandang Adit dengan cemas. "Adit, apa yang terjadi? Jangan buat panik dong, kamu kenapa?" Adit masih batuk-batuk dan kesulitan untuk berbicara. Dia mencoba menjelaskan sesuatu, tetapi kata-katanya terpotong oleh batuk yang keras. Mika merasa panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Daniel mencoba memberikan bantuan dengan memijat punggung Adit untuk membantu menghentikan batuknya. Hasbi melihat situasi yang mencekam dan merasa bingung serta khawatir. "Ayah, Bunda, apa yang terjadi dengan om Adit?" Mika mencoba menjawab meskipun dalam keadaan panik. "Kita harus membawanya ke dokter, Sayang. Ada sesuatu yang tidak beres." Adit masih berjuang dengan batuk yang kuat dan mencoba menjelaskan pada Mika bahwa ini adalah alergi yang dia derita sejak kecil, tapi dia tidak punya obatnya. Tapi kata-katanya masih terpotong oleh batuk yang kuat. Adit berusaha dengan susah payah bangkit dari meja makan dan berjalan menuju kamarnya. Ketika dia sampai di sana, dia mulai mengobrak-abrik tasnya dengan penuh kecemasan, mencari obat alerginya. Tangannya gemetar saat dia mencoba mencari-cari di antara barang-barangnya. Sementara itu, di dapur, Mika dan keluarga masih dalam keadaan panik. Mika mencoba menghubungi dokter, tetapi teleponnya terasa berat di tangan gemetarnya. Daniel dan Hasbi masih bingung dan khawatir. Akhirnya, Adit menemukan obat alerginya yang tergeletak di antara buku-buku di meja. Dia segera membuka kemasan obat dan menelannya. Setelah beberapa saat, batuknya mulai mereda, dan dia merasa lega bisa bernapas lebih lancar. Adit kembali ke dapur dengan napas yang lega. Mika memandangnya dengan cemas. "Adit, apa yang terjadi? kamu baik-baik saja sekarang, kan?" Adit menjawab dengan napas lega, "Sudah baik, Kak. Itu hanya reaksi alergi tadi, aku lupa bilang kalau aku alergi lada hitam, kakak pakai lada hitam ya?” Semua orang masih dalam kebingungan, dan Mika merasa tergoncang. Dia mengingat tentang pria masa lalunya, Zuhairi, yang juga memiliki alergi yang sama terhadap lada hitam. Pikirannya langsung terhubung dengan kejadian hari ini. "Mika, ini hanya kesalahpahaman, oke?" tanya Daniel, khawatir dengan ekspresi istrinya. Mika berbicara perlahan, "Zuhairi... dia juga punya alergi seperti itu. Alergi terhadap lada hitam." Daniel terkejut mendengar nama Zuhairi, pria masa lalu Mika, yang dia tidak pernah dengar sebelumnya. Dia memandang Mika dengan ekspresi kebingungan dan bertanya, "Mika, siapa Zuhairi?" Adit juga tampak bingung, ikut merasa tidak mengenal sosok ini yang tak pernah disebutkan sebelumnya. "Kak, aku gak tahu tentang Zuhairi. Siapa dia?" Mika merasa panik dan terkepung. Dia keceplosan menyebut nama Zuhairi tanpa berpikir panjang. Dia mencoba untuk menjawab dengan tenang, berbohong kepada mereka lagi. "Maafkan aku, ini adalah nama lada hitam yang membuat Adit alergi, bukan nama seseorang. Aku salah bicara tadi." Mika merasa sedikit lega setelah memberikan penjelasan ini, meskipun dia tahu bahwa dia semakin terperangkap dalam kebohongannya sendiri. Daniel melihat ekspresi wajah Mika dan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak klop dalam penjelasan itu. Dia pun mulai tertawa, tetapi tawanya tidak terdengar meyakinkan, dan dia tetap penuh keraguan. "Mik, maaf ya, tapi aku gak percaya itu hanya alergi lada hitam. Ada sesuatu yang gak kamu ceritain, kan?" Daniel mencoba untuk memaksa Mika berbicara lebih jujur. Adit, yang awalnya bingung, ikut mencoba mencari tahu. "Kak, mana ada lada hitam punya merk Zuhairi, udah ngaku aja kak, siapa itu Zuhairi?" Mika merasa tertekan dan kesal. Dia berusaha untuk mempertahankan kebohongannya dan merajuk. "Kalian berdua, tidak ada yang perlu kalian tahu. Ini urusan masa lalu yang gak perlu dibicarakan." Daniel dan Adit masih mencoba mencari jawaban, tetapi Mika memilih untuk tetap diam dan enggan berbicara lebih lanjut. Ketegangan terasa di udara, dan ada kebingungan yang tidak terselesaikan dalam keluarga itu. Adit tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, dan ekspresinya tampak penuh dengan pemahaman. Dia memandang Mika dengan lembut, menjawab dengan suara lembut, "Kak, aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Zuhairi mungkin pernah menyakitimu, bukan? Gak usah khawatir, ada aku dan bang Daniel yang bakal jagain kamu" Mika merasa terpaku dengan tatapan Adit yang bijak itu. Dia tahu bahwa tidak bisa menyembunyikan kenyataan lagi. Seiring dengan perasaan bersalah dan penyesalan, dia mulai merenung tentang keputusan-keputusan buruk yang pernah dia buat. Adit melanjutkan, "Kita adalah keluarga sekarang, dan aku percaya kita harus saling terbuka, kak. Aku tahu bahwa kamu melindungi kita, tapi jujur akan lebih baik lagian Zuhairi kan hanya masa lalu, kakak udah punya Hasbi dan bang Daniel, kalua Zuhairi melihat kakak bahagia sekarang pasti dia bakal cemburu." Daniel, yang selama ini menjadi pendengar setia Mika, ikut serta dalam percakapan itu. Dia tersenyum dan memeluk Mika dari belakang, memberikan dukungan. "Tidak perlu khawatir, sayang. Kita ada di sini bersama-sama. Kami akan melindungimu." Mika merasa haru dan tersentuh oleh cinta dan dukungan dari Adit dan Daniel. Tapi di dalam hatinya, dia merenung tentang tanggung jawabnya dalam kehidupan Adit dan memahami bahwa dia juga pantas disalahkan atas semua yang terjadi dalam kehidupan pemuda itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN