6

1059 Kata
Bab 6 Pemakaman Sri berlangsung dengan haru biru, dan keluarga Mika merasa lega bahwa mereka telah memberikan penghormatan terakhir kepada ibu Mika dengan sangat layak. Setelah upacara selesai, mereka kembali ke rumah Sri di Medan dengan perasaan campur aduk. Adit merasa perlu memberikan tempat bagi Mika dan keluarganya untuk menginap selama beberapa hari. Meskipun Mika masih merasa terjebak dalam kebohongannya yang rumit, dia tahu bahwa situasi ini memberinya waktu untuk berbicara dengan Adit dan membagikan kebenaran. Adit membawa Mika, Daniel, dan Hasbi ke kamar yang dulunya adalah kamar Mika ketika dia masih tinggal bersama ibunya. Kamar itu masih rapi dan terawat. Mika teringat kenangan dari masa lalunya yang pernah dia tinggalkan. "Kak, kamu bisa menginap di sini," kata Adit sambil mengarahkan Mika dan keluarganya ke dalam kamar tersebut. "Kamar ini masih dalam kondisi baik dan nyaman. Semoga kamu merasa nyaman di sini." Mika merasa bersyukur atas keramahannya dan tersenyum pada Adit. "Terima kasih, Adit. Kami sangat menghargainya. Kami akan berusaha tidak merepotkanmu." Adit menggeleng. "Gak usah khawatir, Kak. Kita adalah keluarga, meskipun mungkin dalam situasi yang rumit. Aku senang kamu ada di sini." Setelah mengatur tempat tidur untuk Mika, Daniel, dan Hasbi, mereka merasa lelah setelah hari yang panjang dan emosional. Mika merasa takut akan momen ketika dia harus menjelaskan semuanya pada Adit, tetapi sekarang, mereka perlu istirahat. Malam itu, keluarga Mika beristirahat di kamar yang dulunya milik Mika, dan mereka tahu bahwa mereka memiliki waktu beberapa hari untuk menghadapi kebenaran dan memulihkan hubungan dengan Adit. Di ruang gelap yang familiar ini, Mika dan Daniel merenungkan tentang langkah-langkah selanjutnya yang harus mereka ambil dalam perjalanan yang kompleks ini, bersama dengan putra mereka, Hasbi. Hasbi berjalan-jalan di sekitar kamar yang dulunya milik ibunya, penuh dengan rasa ingin tahu dan kebahagiaan. Kamar itu menyimpan banyak kenangan yang tidak pernah Hasbi ketahui sebelumnya. Dia menyentuh berbagai benda dan melihat gambar-gambar keluarga di dinding. Sambil memegang foto neneknya, Hasbi bertanya pada Mika, "Bunda, ini siapa?" wajahnya dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Mika menjawab dengan lembut, "Itu adalah nenekmu, Sayang. Nama nenekmu adalah Sri. Dia adalah ibunya Bunda." Hasbi mengangguk dengan serius. "Oh, jadi ini nenek? Sayang sekali Hasbi gak pernah bertemu nenek." Sementara Hasbi meneruskan eksplorasi di kamar, Daniel merasa begitu bersalah. Dia merenungkan kenyataan bahwa dia selama ini tidak pernah tahu tentang ibu Mika. Perasaan bersalah itu membebani hatinya, dan dia merasa seakan telah terlewatkan begitu banyak hal tentang keluarga Mika. Dia mendekati Mika dan berbisik perlahan, "Mika, aku merasa sangat bersalah karena tidak pernah tahu tentang ibumu, tentang keluargamu. Aku tidak ingin kamu menyembunyikannya apapun lagi, janji?" Mika mengangguk dan meresapi kata-kata Daniel dengan hangat dan menggenggam tangannya erat. "Aku janji, Dan. Aku tahu ini rumit, tapi aku janji gak akan ada rahasia lagi. Kita sebaiknya mempersiapkan acara tahlilan malam pertama untuk almarhumah ibu dan juga harus mendukung Adit, dan kita juga harus menjaga keluarga kita." Mereka melanjutkan berbicara sambil mengawasi Hasbi yang bermain dengan benda-benda di kamar. Kehadiran Hasbi dalam hidup mereka adalah pengingat tentang kebahagiaan yang bisa ditemukan dalam keberagaman dan perjalanan rumit keluarga mereka. Beberapa waktu berlalu disaat Mika sedang membereskan pakaian ke dalam lemari, dan suasana rumah Sri mulai pulih sedikit. Hasbi tiba-tiba merasa lapar, dan dia menghampiri Mika dengan mata penuh harap. "Bunda, Hasbi lapar," katanya sambil menggigilkan perutnya. Mika tersenyum pada Hasbi. "Tentu, Sayang. Bunda akan masak makanan untukmu." Adit mendengar percakapan mereka dan berkata, "Kak, boleh saya bantu? Saya tahu dimana peralatan masaknya." Mika merasa kagum dengan sikap Adit yang mandiri. "Tentu, dit, itu sangat membantu. Biar kakak masak makan malam kita." Mereka pergi ke dapur, dan Adit menjelaskan letak peralatan memasak serta tempat penyimpanan bahan makanan. Sementara Mika sibuk memasak di dapur, Adit memutuskan untuk bergabung dengan Daniel yang sedang bermain dengan Hasbi di ruang tamu. Dia duduk di samping Daniel, sambil sesekali memeriksa ponselnya. Daniel, yang merasa perlu untuk memahami Adit lebih baik, memulai percakapan, "Adit, bagaimana sekolahmu? Kamu kelas berapa sekarang?" Adit mengangkat kepala dari ponselnya dan menjawab, "Aku masih di kelas 11 SMA, bang. Sekolah cukup menyenangkan, walaupun kadang pelajarannya sulit." Daniel tersenyum. "Itu bagus. Sekolah itu penting, dan aku yakin kamu sedang melakukannya dengan baik. Apa kamu punya teman-teman di sana?" Adit mengangguk. "Iya, aku punya beberapa teman di sekolah. Mereka baik-baik saja." Sementara mereka berbicara, Hasbi duduk di antara mereka, menatap Adit dengan rasa ingin tahu. Mika, yang selesai memasak, memanggil mereka ke meja makan dan menyajikan makan malam. Saat keluarga duduk bersama di meja makan, Adit merasa hangat dengan suasana yang selama ini dia lewati sendiri. Meskipun begitu, dia masih merasa ada sesuatu yang perlu diungkapkan, dan dia tahu bahwa momen tersebut akan datang. Saat mereka menikmati makan malam yang disajikan oleh Mika, Hasbi tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia mulai menggumam bahagia sambil mengunyah makanan. "Makanan Bunda sungguh lezat, Aku suka!" Mika, Daniel, dan Adit tertawa mendengar komentar gembira Hasbi. Mika merasa senang melihat anaknya bahagia. Tetapi dalam momen keceriaan itu, Mika secara refleks mengambil sepiring makanan dan menyerahkannya kepada Adit tanpa berkata apa-apa. Ini membingungkan Adit, dan Daniel pun merasa heran dengan tindakan Mika. Mika melihat ekspresi bingung Adit dan Daniel dan menjelaskan, "Adit, kamu adalah adik kami, jadi kamu harus makan lebih dulu." Adit merasa sedikit terkejut dengan sikap tiba-tiba ini. "Terima kasih, Kak Mika. Tapi, kita keluarga, aku jadi segan." Daniel mengangguk setuju. "Adit benar, Mika. Adit mandiri kok, tidak perlu ada batasan seperti itu. Mari kita makan bersama-sama." Setelah beberapa suapan makanan, Mika merasa perlu untuk mengetahui lebih banyak tentang alasan Adit menerima mereka. Dia memutuskan untuk bertanya dengan lembut, "Adit, aku masih penasaran. Kenapa kamu menerima kami kembali setelah begitu lama? Kamu tahu kan kalau aku pernah meninggalkan kamu dan ibu?" Adit menjawab dengan suara yang penuh kehangatan, "aneh ya kak? Sebenarnya ibu pernah mengatakan kepadaku sebelum ibu meninggal dunia bahwa jika kamu datang kembali suatu hari nanti, aku harus menerimamu dengan baik. Ia selalu berbicara tentang cintanya kepadamu dan bagaimana dia ingin kalian kembali bersama keluarga, ibu juga bilang bahwa kamu adalah orang baik, jadi kupikir mungkin ibu benar." Mika merasa haru mendengar kata-kata Adit. "Ibu begitu baik. Aku merindukannya, meskipun selama ini kami terpisah. Aku berterima kasih atas penerimaanmu, dit." Mereka melanjutkan makan malam mereka, dengan perasaan hangat dan kompak. Meskipun masih banyak yang harus diatasi, momen ini adalah awal dari upaya mereka untuk memperbaiki hubungan keluarga yang rumit dan saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi masa-masa yang sulit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN