5

1782 Kata
Bab 5 Malam itu, ketika keluarga Mika tertidur pulas, ponsel Mika bergetar dengan tiba-tiba. Terdengar beberapa kali bunyi notifikasi yang berulang. Mika terbangun dengan cepat oleh suara ponselnya, tetapi begitu dia menyadarinya, Daniel juga telah terbangun. Saat ponsel Mika berbunyi untuk yang ketiga kalinya, Daniel memutuskan untuk mengangkat panggilan itu untuk menghentikan gangguan malam hari itu. Dia terdengar bingung ketika seseorang di ujung telepon berbicara dengan suara terguncang. Daniel: "Halo? Siapa ini? Apa yang terjadi?" Seseorang di sisi lain telepon, yang ternyata adalah Adit, berbicara dengan suara bergetar. "Maaf mengganggu tengah malam seperti ini. Namaku Adit, dan aku adalah adik laki-lakinya Mika. Aku perlu berbicara dengannya sekarang." Daniel masih sedikit bingung. "Adik Mika? Mika tidak pernah menyebutkan kalau dia punya adik. Siapa kamu?" Adit menjawab, "Aku tahu ini sangat aneh, dan Mika gak pernah bercerita tentangku. Tetapi aku sangat perlu bicara dengannya. Aku menyesal harus menghubungi tengah malam seperti ini, tapi aku punya berita yang harus dia tahu." Daniel segera menarik tangan Mika dan mencoba membangunkannya. "Sayang, ada seorang pria yang mengaku sebagai adikmu dan mengatakan bahwa dia memiliki berita penting." Mika terbangun dengan cepat dan merasa bingung. "Apa yang terjadi, Dan?" Adit menjelaskan situasi dengan cepat dan mendalam. "Ibu kita, kak, ibu meninggal dua jam lalu, kamu harus pulang sekarang ke Medan. Aku pikir kamu harus tahu." Mika terdiam sejenak, mencoba memproses berita yang tiba-tiba itu. Daniel tetap bersamanya, mencoba memberikan dukungan. Daniel: "Siapa Sri, Sayang? Kenapa kamu gak pernah mengatakan apapun kepadaku?" Mika merasa seakan ditabrak oleh berbagai perasaan saat dia mencoba menjelaskan semuanya kepada Daniel, tentang dirinya yang pernah meninggalkan ibunya dan anaknya, apalagi tentang Adit yang tiba-tiba saja mengaku sebagai adiknya padahal Adit adalah putranya, Mika bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang kebohongan apa yang ibunya katakan kepada Adit sehingga membuat Adit menganggap bahwa dirinya adalah kakaknya dan bukan ibunya. Dengan penuh penyesalan dan kebingungan, Mika mengambil ponsel dari Daniel. Dia memandang pesan Adit dan menggulung nomor ibunya, Sri. Mika mencoba mengatasi rasa khawatir dan berbicara dengan suara lemah dan gemetar. Mika: "Halo, Adit, ini Mika. Kamu baik-baik saja kan disan? Apa yang terjadi dengan Ibu?" Adit menjelaskan dengan suara terisak. "Ibu akan dikuburkan segera setelah Ashar. Aku tahu ini sangat mendadak, tapi aku gak punya nomor kontak orang lain selain nomor kamu, ibu rindu sama kamu, kamu seharusnya kembali sekarang atau bakalan menyesal, aku tunggu kamu di rumah ya." Mika memejamkan matanya dan mencoba menahan tangis. Dia merasa sangat bersalah dan ingin berbicara dengan ibunya untuk terakhir kalinya. Dia pura-pura berbicara sebagai kakak kepada Adit untuk pertama kalinya. Mika: "Terima kasih telah memberi tahu aku. Aku akan pulang segera, kamu jaga diri disana ya, tunggu aku" Adit: "Ya." Mika menelan getahnya dan merasa benar-benar hancur. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk berbicara dengan ibunya, bahkan jika hanya dengan hati yang penuh penyesalan. Adit mengucapkan terima kasih, dan percakapan mereka selesai. Mika meletakkan ponsel dengan hati yang berat dan wajah yang penuh air mata. Daniel menatap Mika dengan tajam dan bertanya, "Siapa Sri, Mika? Kamu kok gak bilang kalau kamu punya adik juga?" Mika merasa sangat terjepit di antara dua dunia yang berbeda. Dia ingin menjaga keluarganya saat ini, tapi juga ingin menghadapi masa lalunya yang telah menghantuinya. Penyesalan yang mendalam menghantuinya. Mika merasa bahwa saat ini adalah waktunya untuk menghadapi kenyataan dan memutuskan untuk memberitahu Daniel yang sebenarnya. Mika: "Daniel, maaf, okay? Aku perlu menceritakan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan. Sri adalah ibuku, aku gak bermaksud berbohong padamu, aku minta maaf, aku melakukan ini karena aku merasa bersalah pada ibuku." Daniel terdiam sejenak, dan wajahnya berubah menjadi penuh kebingungan. "Apa? Tapi Mika, kamu bilang kamu itu anak yatim piatu, kamu tega banget bohong sama suamimu sendiri, aku kecewa sama kamu, 5 tahun loh, Mika!" Mika merasa berat hati saat mengatakan yang sebenarnya. "Maafkan aku, Dan. Aku tahu kalau aku salah, aku melarikan diri dari mereka bertahun-tahun yang lalu. Aku tahu ini tidak adil bagimu dan Hasbi, tapi aku tidak tahu bagaimana harus memberi tahu kalian." Daniel merasa marah dan terluka oleh kebohongan yang telah dipelihara Mika selama ini. "Mika, kenapa kamu harus bohong seperti ini? Kita telah membangun keluarga ini bersama, dan kamu memilih untuk menyembunyikan sesuatu yang begitu besar dariku." Mika menangis, merasa sangat menyesal. "Aku tahu ini salah, Dan. Aku sangat menyesal. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapimu dan Hasbi. Tapi, sekarang situasinya rumit. Sri sudah meninggal dan Adit membutuhkanku." Mereka terlibat dalam argumen singkat, di mana Daniel merasa dikhianati oleh Mika, dan Mika merasa tertekan oleh beban masa lalunya yang kembali menghantuinya. Sementara Hasbi tertidur pulas, orang tuanya harus berhadapan dengan keputusan besar tentang bagaimana keluarga mereka akan bergerak maju. Daniel masih merasa sangat marah dan bingung, tapi saat itulah Hasbi bangun dan keluar dari kamarnya dengan mata yang masih mengantuk. Melihat suasana yang tegang, Hasbi menghampiri orang tuanya dengan rasa ingin tahu. Hasbi: "Bunda, Ayah, kenapa kalian berteriak? Hasbi mau ikutan." Daniel mencoba menjaga ketenangan, meskipun dalam hatinya masih penuh kemarahan. "Tidak, Sayang, semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang, Bunda perlu bersiap-siap dan memasukkan pakaian ke dalam koper. Kita harus pergi sekarang." Hasbi yang masih mengantuk dan kebingungan mencoba menjalankan perintah ayahnya. Mika merasa sangat terbebani oleh situasi ini, tapi dia mengikuti apa yang dikatakan Daniel. Dia pergi ke kamarnya dan mulai memasukkan pakaian ke dalam koper dengan cepat. Sementara itu, Daniel melanjutkan dengan menghubungi bandara dan mencari penerbangan tercepat ke Medan. Mika merasa sedih dan bersalah atas semua yang terjadi, dan dia hanya berharap mereka bisa menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya. Mereka tiba di rumah Sri di Medan, dan suasana duka melanda. Tetangga-tetangga telah berkumpul di dalam rumah, membaca surah Yasin dan memanjatkan doa untuk mendiang Sri. Mika dengan cepat meletakkan tasnya dan berlari menuju jasad ibunya yang terbaring di depan mereka, ditutupi oleh kain putih. Dia menangis dengan tulus, mencium kening ibunya, dan merasa sangat bersalah atas semua yang telah terjadi. Daniel duduk di sebelah Mika, menggendong Hasbi yang tertidur pulas di gendongannya, mencoba memberikan dukungan pada Mika dalam momen yang sangat sulit ini. Mika merasa berat hati dan bersalah karena dia tidak pernah memberikan kesempatan kepada ibunya untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dia menangis tersedu-sedu, merindukan ibunya yang kini telah pergi selamanya. Suasana yang terasa sangat mendalam ini adalah awal dari banyak pertanyaan yang harus dijawab dan keputusan yang harus diambil oleh Mika dan keluarganya. Mika merasa perlu menghabiskan waktu sejenak untuk berbicara dengan ibunya yang sudah meninggal, meskipun mungkin terlambat. Mika berlutut di sisi jasad ibunya, meraih tangan yang dingin, dan dengan penuh penyesalan dia mulai berbicara perlahan, meskipun hanya dalam hati. Mika: "Ibu, aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku pernah meninggalkanmu dan Adit. Aku minta maaf karena aku tidak pernah menjadi anak yang baik bagimu. Aku tahu aku tidak dapat mengubah masa lalu, tapi aku berjanji untuk menjaga Adit dan berusaha menerima semua yang terjadi. Maaf bu, maafin Mika, ibu, Semoga Ibu tenang di sana." Sementara Mika merenungkan kenangan dan penyesalan pribadinya, para tetangga mulai berbisik di antara mereka sendiri. Mereka menggosip tentang Mika yang mereka lihat sebagai anak yang durhaka karena telah meninggalkan ibunya selama bertahun-tahun. Beberapa bahkan menghina dan meremehkan Mika, tanpa memahami seluruh konteks dan kompleksitas kehidupan Mika. Daniel mendengar bisikan-bisikan itu dan merasa sangat marah dan kesal. Dia tidak tahan mendengar bahwa orang-orang merasa berhak menghakimi Mika tanpa mengetahui kisah sebenarnya. Namun, dia memilih untuk tetap tenang dan fokus pada dukacita keluarganya, memberikan Mika dan Hasbi dukungan yang mereka butuhkan dalam momen yang sulit ini. Bu Lasmi, seorang tetangga dekat yang telah mengenali Sri dan Mika sejak dulu, merasa perlu mengeluarkan komentar pedas. Dia mendekati Mika yang masih merenung di samping jasad ibunya. Bu Lasmi: "Mika, kamu benar-benar durhaka! Bagaimana kamu bisa meninggalkan ibumu selama bertahun-tahun? Ibu yang baik seperti Sri tidak pantas punya anak sepertimu yang melarikan diri dan tak pernah beri tahu tentang dirinya!" Mika merasa sangat terluka oleh komentar Bu Lasmi, tetapi dia tahu bahwa banyak orang di sana mungkin merasa serupa. Dia mencoba menjawab dengan lembut, "Bu Lasmi, cukup! saya tahu bahwa saya telah melakukan kesalahan besar dengan pergi, dan saya sangat menyesal. Saya tidak punya alasan atau kata-kata yang bisa membenarkan tindakan saya. Saya hanya berharap bisa menghormati dan mendoakan ibu saya sekarang." Daniel mencoba memberi dukungan dengan memegang erat tangan Mika, memberikan isyarat untuk tidak terlibat dalam konfrontasi lebih lanjut. Mika merasa sangat tertekan dan bersalah, tetapi dia juga tahu bahwa dia harus fokus pada kepergian ibunya dan mendukung Adit di saat yang sulit ini. Mereka memilih untuk menghindari lebih banyak konfrontasi dengan tetangga dan terus berkumpul di sisi jasad Sri, merayakan kenangan dan menghormati ibu yang telah pergi. Daniel merasa sangat terpukul oleh situasi yang sangat rumit ini, tetapi dia juga tahu betapa pentingnya memberikan dukungan kepada Mika dan menjaga keadaan agar tetap tenang dalam momen yang sulit. Dia berbisik pelan kepada Mika, sambil tetap memeluk Hasbi yang tertidur pulas di gendongannya. Daniel: "Sabar, Sayang. Ini waktu yang sangat sulit, tapi kita harus bersama-sama. Mari kita membaca Surah Yasin dan berdoa untuk ibumu. Semoga ia mendapatkan kedamaian di sana." Mika membalas bisikan Daniel dengan anggukan singkat, menghela nafas, dan mereka mulai membaca Surah Yasin bersama-sama. Suara mereka yang tenang dan merdu mengisi ruangan yang penuh dengan dukacita, menciptakan atmosfer ketenangan di tengah situasi yang penuh tekanan. Hasbi masih tertidur pulas, bahkan ketika ayah dan ibunya berdoa dan membaca surah. Mereka melanjutkan doa dan bacaan dengan hati yang penuh harap, berharap bahwa ibu mereka akan mendapatkan kedamaian di akhirat dan bahwa keluarga mereka dapat melewati masa-masa sulit ini bersama-sama dengan sabar dan ketabahan. Di tengah momen itu, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka perlahan, dan seorang remaja laki-laki keluar. Raut wajahnya penuh dengan kesedihan dan kehilangan. Adit melangkah dengan hati-hati mendekati Mika, dan tanpa ragu, ia meraih tangan Mika dengan hangat dan mengucapkan salam penghormatan. "Terima kasih sudah datang, Kak," ucap Adit dengan suara tulus. "Aku sangat senang kamu ada di sini." Mika merasa seakan hatinya terbelah saat melihat anak laki-lakinya yang telah tumbuh dewasa. Dia harus menahan air mata dan mencoba tampil sebagai kakak Adit, meskipun sebenarnya dia adalah ibunya. Mika tersenyum lembut ke arah Adit. "Tidak apa-apa, Adit. Aku tahu ini adalah waktu yang sulit untukmu. Kami ada di sini untukmu." Adit mengangguk, tetapi ekspresi mata Mika berdua memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Daniel berdiri di belakang Mika, memberikan dukungan dan pengertian untuk situasi yang rumit ini. Mika merasa berat hati karena dia tidak dapat langsung mengungkap kenyataan kepada Adit tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Saat ini, mereka semua harus fokus pada pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir kepada ibu mereka yang telah pergi. Mika tetap berpura-pura sebagai kakak bagi Adit, meskipun hatinya terasa hancur. Dalam situasi yang begitu rumit ini, dia tahu bahwa waktu akan memberinya kesempatan untuk berbicara dengan Adit dan menjelaskan semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN