Setelah sarapan pagi yang penuh cinta, Daniel berdiri dari meja makan dan mencium Mika. "Aku akan berangkat ke kantor sekarang, Sayang. Aku juga akan mengantar Hasbi ke sekolah dulu seperti biasa. Jangan lupa masak paha ayam goreng saat makan malam, oke?"
Mika tersenyum dan mencium pipi suaminya. "Tentu saja, pa. Aku akan membereskan rumah terlebih dahulu sebelum mulai bekerja dari rumah. Jangan khawatir, aku juga akan masak makan malam lezat untuk kamu dan jagoan kecil kita"
Hasbi yang duduk di kursi sebelahnya juga ikut memeluk ayahnya. "Ayo, ayah, kita pergi ke sekolah! Aku akan mengumpulkan bintang-bintang di sana."
Daniel tertawa dan mengangkat Hasbi dari kursinya. "Ya, nak. Mari kita pergi dan menjelajahi dunia bersama-sama."
Mika melihat mereka berdua pergi dengan senyum bahagianya. Ketika pintu tertutup, dia mulai membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring. Dia tahu bahwa dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini, tetapi dia merasa bahagia memiliki keluarga yang selalu ada di sisinya, bahkan ketika ada kenangan yang tak terlupakan di masa lalu.
Mika bersiap untuk memulai pekerjaannya dari rumah, tetapi dia merasa diberkati oleh kehidupan yang dia jalani sekarang, dan dia bersyukur telah menemukan kedamaian dan cinta dalam keluarga barunya bersama Daniel dan Hasbi.
Mika duduk di meja kerjanya dengan laptop terbuka, menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai seorang jurnalis yang bekerja dari rumah. Hujan tipis turun di luar, menciptakan suara riuh yang menenangkan.
Tiba-tiba, ponselnya berdering dan menarik perhatiannya. Dia mengambil ponsel dan melihat nomor yang tidak dikenal. Ketika dia membuka pesan tersebut, dia terkejut melihat bahwa nomornya adalah nomor ibunya, Sri, yang telah menghilang dari hidupnya selama hampir 16 tahun.
Sri: "Assalamualaikum, nak. Ini ibumu, Bagaimana kabarmu?"
Mika merasa dadanya berdebar kencang. Pesan ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia harapkan. Tapi dia tidak ingin membiarkan perasaannya mengganggu pekerjaannya, jadi dia membalas dengan hati-hati.
Mika: "Waalaikumsalam, Ibu. Aku baik. Bagaimana dengan Ibu? Kita sudah lama tidak berbicara."
Sri: "Ibu juga baik. Sudah terlalu lama sejak kita berbicara terakhir kali. Ibu sangat merindukanmu."
Mika merasa campur aduk. Dia merindukan ibunya juga, meskipun sepanjang hidupnya dia sudah memutuskan untuk menjalani hidupnya tanpa campur tangan ibunya. Namun, pertemuan seperti ini adalah suatu kejutan.
Mika: "Mika juga rindu sama ibu. Ada hal yang ingin Ibu bicarakan?"
Sri: "Iya, ada. Ibu ingin tahu lebih banyak tentang hidupmu selama ini. Apa yang kamu lakukan? Bagaimana keadaanmu?"
Mika merasa berada dalam dilema. Dia telah menyembunyikan masa lalunya, terutama tentang Adit, dari suaminya dan anaknya. Apakah saat ini saat yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada ibunya? Ataukah dia harus terus menyembunyikan masa lalu itu?
Mika: "Ibu, aku telah memiliki kehidupan yang berbeda sekarang. Aku menikah dan memiliki seorang anak bernama Hasbi. Aku juga menjadi seorang jurnalis yang cukup sukses. Tapi ada banyak hal yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun."
Sri: "Ibu senang mendengarnya, Nak. Tapi ada banyak yang ibu lewatkan selama ini. Ibu harap kita bisa bertemu dan berbicara lebih lanjut."
Mika merasa dadanya terasa berat. Meskipun dia merindukan ibunya, dia masih merasa khawatir akan konsekuensi jika dia membuka pintu ke masa lalunya yang rumit. Mika mengetikkan pesan dengan hati-hati.
Mika: "Ibu, sejujurnya, saat ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Aku tidak yakin kapan aku bisa bertemu. Mungkin lain kali?"
Sri: "Tentu, Nak. Ibu mengerti. Apa Ibu boleh tahu alamatmu sekarang, jika suatu saat Ibu ingin mengunjungimu?"
Mika menggaruk kepalanya, mencoba menemukan cara untuk menjaga jarak. "Maaf, Ibu, saat ini aku tidak bisa memberikannya. Aku akan berbicara dengan suamiku tentang hal ini dan kemudian memberitahumu."
Sri: "Baik, Nak. Ibu akan menunggu kabar darimu. Tetap berhati-hati dan bahagia."
Mika merasa lega, setidaknya untuk saat ini dia berhasil menghindari pertemuan dengan ibunya. Tetapi pertanyaan tentang apakah dia akan membagikan rahasia masa lalunya pada keluarganya adalah sesuatu yang masih mengganggunya.
Dia kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya tetap terganggu oleh pesan dari ibunya. Mika tahu bahwa suatu saat, dia harus menghadapi masa lalunya dan keputusan sulit tentang apa yang akan dia ungkapkan kepada keluarganya.
Dengan hati yang masih resah, ketika Mika sedang dalam proses bekerja, rasa penasarannya menjadi terlalu besar. Dia merasa perlu untuk mengetahui lebih banyak tentang keadaan Adit. Mika mengirim pesan lagi kepada ibunya.
Mika: "Ibu, bagaimana Adit? Apa dia sehat dan bahagia?"
Sri dengan cepat merespons: "Adit tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan, pintar, dan sehat. Ibu sangat bersyukur atas itu."
Mika merasa lega mendengar bahwa Adit baik-baik saja. Namun, ada rasa kecewa yang tidak bisa dia hindari. Dia tahu bahwa hidupnya telah berubah sepenuhnya, dan pertemuan dengan Adit bisa mengacaukan segalanya. Mika memilih untuk merahasiakan perasaannya tentang Adit dari ibunya untuk saat ini.
Dia mengirim pesan terima kasih kepada ibunya dan kembali ke pekerjaannya. Mika masih memiliki pertimbangan yang mendalam tentang masa lalunya yang belum terselesaikan dan pertanyaan tentang apakah akan ada saatnya dia harus memberi tahu keluarganya tentang semuanya.
Malam itu, waktu telah berlalu, dan Mika, Daniel, dan Hasbi duduk bersama di ruang keluarga mereka. Mereka tengah bersantai, menonton televisi sambil bercanda dan tertawa bersama. Hasbi yang selalu penuh dengan rasa ingin tahu, tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang khas padanya.
Hasbi: "Ayah, Bunda, kenapa bulan berubah-ubah bentuknya setiap malam? Kok gak selalu bulat?"
Mika dan Daniel saling pandang dengan senyum. Mereka sangat menyukai pertanyaan-pertanyaan penuh semangat dari Hasbi tentang alam semesta.
Daniel menjelaskan dengan sabar, "Begini, bi. Jadi, bulan berubah bentuk karena kita melihatnya dari berbagai sudut yang berbeda ketika berputar mengelilingi Bumi. Kadang-kadang, kita melihat sisi yang terang, sisi yang lain gelap. Itu yang membuatnya berubah bentuk."
Mika menambahkan, "Dan juga, kita menyebut perubahan ini sebagai fase bulan. Jadi, ada fase purnama, kuartal, bulan sabit, dan banyak lagi. Semuanya adalah bagian dari keindahan alam semesta."
Hasbi mendengarkan dengan penuh konsentrasi, meskipun masih kebingungan. Dia berusia lima tahun dan konsep-konsep ini mungkin masih sulit dipahami.
Hasbi: "Tapi, kenapa bulan mau berubah-ubah? Apa yang dia coba sampaikan, Ayah, Bunda?"
Mika dan Daniel saling pandang dengan senyum. Mika mencium kening Hasbi dan menjelaskan dengan lebih sederhana, "Nah, Sayang, bayangkan seperti cerita yang berubah setiap malam, seperti buku cerita tidur. Bulan memberikan kita cerita yang berbeda setiap malam."
Hasbi masih memproses jawaban orang tuanya, lalu akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Oh, seperti cerita tidur! Hasbi paham sekarang."
Mereka melanjutkan menonton televisi, dan Hasbi tetap bersemangat untuk memahami lebih banyak tentang alam semesta dan dunia di sekitarnya. Keluarga ini merasa hangat dan bahagia bersama, menikmati saat-saat penuh canda dan tawa yang mereka habiskan bersama-sama.
Ketika keluarga itu menikmati momen bahagia mereka bersama-sama, ponsel Mika bergetar lagi. Dia melihat pesan masuk, dan hatinya berdebar. Pesan itu dari ibunya, Sri.
Sri: "Mika, kapan ibu bisa bertemu? Ibu sangat merindukanmu."
Mika membaca pesan itu dengan hati yang penuh konflik. Dia tahu bahwa memutuskan untuk bertemu dengan ibunya dan Adit adalah pilihan yang sangat besar yang akan memengaruhi seluruh hidupnya. Namun, dia tidak ingin membiarkan perasaan ini mengganggu keluarga barunya.
Mika dengan cepat menjawab pesan ibunya, berbohong: "Maaf, Ibu, aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarga sekarang. Mungkin nanti. Aku akan memberi tahu Ibu jika aku bisa meluangkan waktu."
Sri segera merespons: "Baik, Nak. Ibu akan menunggumu. Ibu sangat rindu padamu, ibu capek harus berbohong terus kepada Adit tentang kamu"
Mika merasa kesal saat membaca pesan terbaru dari ibunya. Sudah cukup sulit baginya untuk menghadapi kenyataan bahwa ibunya telah kembali ke dalam hidupnya dan bahwa dia harus memutuskan bagaimana menghadapi Adit. Tapi sekarang, Sri menyebut tentang berbohong kepada Adit, membuat Mika merasa tertekan.
Dengan hati yang terberat, Mika memutuskan untuk menjawab dengan jujur, meskipun itu akan menyakitkan.
Mika: "Ibu, aku tidak bisa bertemu sekarang. Aku punya keluarga sekarang, dan mereka adalah prioritasku. Aku tidak bisa terlibat dalam kehidupanmu setelah semua yang terjadi."
Tapi Sri segera merespons dengan emosi yang lebih besar, dengan nada sedih dan marah: "Kamu egois, Mika! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau telah menutup pintu pada kami selama bertahun-tahun, dan sekarang kamu menutupnya lagi! Adit itu anakmu, Mika!"
Mika merasa terpukul oleh kata-kata tersebut dan tidak tahu harus merespons bagaimana lagi. Setelah beberapa saat, dia mematikan ponselnya, merasa sangat tertekan.
Ketika Mika bersandar di sofa sambil memeluk Hasbi, Daniel datang mendekatinya dan bertanya, "Apa yang terjadi, Sayang? Kamu gak apa-apa kan?"
Mika dengan cepat berpura-pura. "Oh, hanya masalah pekerjaan, Dan. Aku merasa cukup stres akhir-akhir ini. Semuanya baik-baik saja."
Daniel mengusap lembut rambut Mika dan berkata, "Kau tahu bahwa kamu bisa selalu berbicara denganku, ya? Kami adalah tim dan pejuang, dan kita menghadapi apapun bersama-sama."
Mika mencoba tersenyum. "Aku tahu, Dan. Aku baik-baik aja kok, sayang. Aku akan mencoba untuk melupakan apapun. Hari ini adalah hari family time kita dan besok adalah hari yang baru."
Namun, hatinya masih penuh dengan konflik dan rasa sakit, dan dia tahu bahwa dia harus menghadapi masa lalunya dan memutuskan bagaimana kelanjutannya.