BAB 3

1041 Kata
16 tahun telah berlalu sejak malam pahit saat Mika meninggalkan masa lalunya. Sekarang, dia adalah seorang wanita berusia 34 tahun, telah menjadi jurnalis terkenal di Jakarta. Hidupnya telah berubah drastis. Dia menikah dengan Daniel, seorang insinyur kaya dari perusahaan ternama. Bersama, mereka membentuk keluarga bahagia, dan mereka memiliki seorang anak bersama, Hasbi, yang kini berusia 5 tahun. Pagi itu, seperti biasanya, Mika bangun lebih awal dari keluarganya. Dia melangkah ke dapur dan mulai memasak sarapan nasi goreng, hidangan kesukaan keluarganya. Bau harum bawang dan bumbu-bumbu menyambutnya saat dia sibuk di dapur. Sementara itu, Daniel sudah berada di kamar mandi, mempersiapkan Hasbi untuk memulai hari. Hasbi adalah anak yang penuh dengan energi dan rasa ingin tahu. Sejak kecil, dia telah tertarik pada astronomi, dan setiap malam, dia dan Daniel akan mengamati langit bersama-sama. Hari ini tidak terkecuali. Hasbi berbicara tanpa henti tentang bintang, planet, dan asteroid, sementara Daniel mencoba menjelaskan semuanya dengan sabar. Di dalam kamar mandi yang penuh dengan semangat dan kegembiraan, Hasbi berdiri di atas bangku kayu sambil menatap cermin. Matanya berbinar-binar ketika dia melihat siklus bulan pada kalender dinding. "Ayah, kapan kita bisa melihat bulan lagi? Aku ingin mengamati fase purnama." Daniel tersenyum kepada anaknya yang penuh semangat. "Tentu, Hasbi, kita akan melihat bulan malam ini jika cuacanya bersahabat. Jangan lupa, kita juga memiliki teleskop yang siap kita gunakan. Kita bisa melihat lebih banyak detail di bulan." Hasbi dengan antusias melompat-lompat. "Iya, ayah! Dan kita harus mengejar setiap meteor yang kita lihat!" Daniel mengangguk setuju. "Tentu saja, Hasbi. Semuanya akan lebih seru jika kita melihat meteor dan berbicara tentang galaksi yang jauh di luar angkasa." Mereka berdua bergegas menyelesaikan rutinitas pagi mereka, dengan Hasbi yang berbicara tanpa henti tentang bintang dan astronomi. Daniel adalah ayah yang sabar, selalu menjelaskan dengan penuh kasih sayang dan membiarkan putranya bertanya sebanyak mungkin. Saat mereka turun ke ruang makan, Mika telah menyiapkan sarapan nasi goreng. Daniel dan Hasbi duduk bersama-sama di meja makan, dan pembicaraan mereka tetap berputar di sekitar astronomi, bintang, dan alam semesta yang begitu misterius. Ketika Mika selesai memasak, dia menyusun nasi goreng di piring-piring kecil untuk keluarganya. Setelah itu, dia berjalan ke kamar mandi untuk melihat suasana pagi mereka yang riang. Hasbi dan Daniel terlihat penuh semangat, sambil berbicara tentang rencana mereka untuk pergi ke boscha minggu depan. Mika merasa bahagia melihat kedekatan suaminya dan anaknya. Keluarga ini adalah segalanya baginya, dan dia merasa beruntung telah menemukan kedamaian setelah perjuangannya yang sulit di masa lalu. Mika tersenyum saat dia mendekati mereka. "Pagi, sayang-sayangku." Hasbi dan Daniel berseru dengan gembira, "Pagi, Ibu!" Mereka duduk bersama untuk menikmati sarapan bersama, mengobrol dan tertawa. Meskipun masa lalu Mika pernah dipenuhi dengan kesedihan dan keputusan sulit, dia sekarang memiliki keluarga yang bahagia dan berarti baginya. Mika tahu bahwa takdir membawanya ke jalur yang tak terduga, tetapi dia merasa bersyukur atas segala yang dia miliki saat ini. Tepat ketika mereka menikmati sarapan nasi goreng yang lezat, Hasbi tiba-tiba menolak untuk minum susunya. Dia menyilangkan tangannya dan menggelengkan kepala keras kepala, sementara wajahnya terlihat sangat serius dengan memanyunkan bibirnya tanda merajuk. Mika dan Daniel saling pandang, dan kemudian mereka berdua mulai menggoda Hasbi dengan penuh kebaikan hati. "Kenapa, sayang?" tanya Mika dengan suara lembut. "Susunya pasti enak, kamu kan suka susu." Hasbi tetap keras kepala dan menjawab, "Aku gak mau s**u, bunda." Daniel mencoba ikut campur. "Tapi, bi, kamu butuh s**u untuk menjadi kuat dan cerdas, seperti astronot yang kamu kagumi, gimana mau ke bulan kalau gak mau minum s**u?" Hasbi memikirkan jawaban itu sejenak, lalu berkata dengan serius, "Tapi, ayah, astronot minum es krim di luar angkasa, bukan susu." Mika dan Daniel tidak bisa tidak tertawa mendengar argumen logis dari anak kecil mereka. Mika mencium kening Hasbi dan berkata manja, "Hebat, ya, Sayang? Tapi, bunda pikir kita perlu minum s**u dulu agar kita bisa menjadi kuat dan cepat besar, Nanti kita bisa membuat es krim bersama." Hasbi tersenyum lebar, terlihat senang dengan ide tersebut. "Bener, bun? Kita bisa bikin es krim sendiri?" Daniel bergabung dalam kegembiraan mereka. "Tentu saja, kita bisa. Kita akan membuat es krim pribadi yang paling lezat di dunia, khusus untuk astronaut kecil ini." Hasbi akhirnya setuju untuk minum susunya, dan mereka semua melanjutkan sarapan pagi dengan ceria. Keluarga ini penuh cinta, tawa, dan pengertian satu sama lain. Dalam momen-momen seperti ini, Mika merasa betapa beruntungnya dia memiliki suami dan anak yang selalu membuatnya tersenyum. Hasbi yang masih kecil, dengan mata berbinar-binar, tiba-tiba mulai bercerita tentang teman-temannya yang memiliki saudara-saudara kecil. Dengan penuh semangat, dia mengatakan, "Ayah, tadi si Amar cerita kalau dia punya adik baru, dan kemarin si Nayla cerita kalau dia juga punya adik. Jadi, aku pikir, aku juga pengen punya adik kecil!" Daniel tertawa mendengar kepolosan Hasbi. Dia mencium kening anaknya dan berkata, "Oh, Sayang, itu adalah ide yang bagus. Tapi, apa kamu tahu bahwa untuk punya adik kecil, kita perlu waktu dan kejutan? Mungkin nanti, bukan sekarang, ya?" Hasbi agak kecewa tapi masih penuh semangat. "Bener, ayah? Tapi aku pengen punya adik buat ulang tahunku tahun depan." Daniel mengusap kepala Hasbi dan tersenyum. "Siapa tahu, Sayang. Kita lihat saja nanti. Dan ingat, sekarang kamu punya ayah dan bunda yang selalu mencintaimu." Hasbi tersenyum dan merasa puas dengan jawaban ayahnya. Baginya, saat ini adalah saat-saat penuh kebahagiaan bersama keluarganya, dan dia tidak bisa minta lebih. Mereka melanjutkan sarapan pagi mereka dengan bahagia, dengan tawa dan candaan yang mengisi ruangan. Saat mereka sedang menikmati sarapan pagi, Mika mendadak teringat pada masa lalunya, terutama tentang Adit, putra yang pernah dia tinggalkan di Medan. Ingatannya melintas seperti bayangan yang datang begitu cepat. Daniel melihat ekspresi Mika yang tiba-tiba berubah dan bertanya dengan penuh perhatian, "Apa yang salah, Sayang?" Mika tersentak dari lamunannya dan mencoba tersenyum. "Ah, tidak apa-apa, mas. Hanya sedikit lamunan pagi." Namun, Daniel bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dalam lamunan Mika. Meskipun dia ingin bertanya lebih lanjut, dia tahu bahwa ada beberapa hal yang mungkin Mika memilih untuk menyembunyikannya. Jadi, dia hanya memutuskan untuk mendukung Mika dengan kasih sayang dan pengertian. Mika membalas pandangan cinta Daniel dengan pandangannya sendiri, dan mereka berdua tahu bahwa meskipun ada luka di masa lalu, sekarang mereka memiliki keluarga yang bahagia bersama-sama. Daniel tahu bahwa tidak semua cerita harus dibagikan, dan saat ini adalah saat mereka menciptakan kenangan baru bersama Hasbi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN