Karena sore tadi Zafran yang bersikeras melarang Vania untuk membantu Sulis memasak, kini Sulis menunjukkan mimik wajah yang tak bersahabat kala makan malam tiba. Hal itu kontan saja membuat Vania merasa tak nyaman. Bahkan, sejak tadi ia tak berani mengangkat wajahnya barang satu detik pun.
Untuk mengambil nasi saja harus Zafran yang melakukan, semua hal itu terjadi karena Vania yang merasa tak enak hati pada Sulis yang terus saja terlihat tidak bersahabat. Zafran yang juga menyadari ada perbedaan dari ibunya hanya bersikap santai, seolah kemarahan yang dialami oleh ibunya bukan masalah yang berarti baginya.
Hanya saja, Zafran pun tak banyak bicara dan hanya fokus dan kegiatannya yang tengah mengalas nasi.
“Enak ya? Makan tinggal makan, gak perlu makan dulu. Disuruh bantuin masak aja gak boleh, tapi giliran makan, datang paling cepet ke meja makan!” dumel Sulis, sifatnya sebagai ibu-ibu tak bisa ia hapuskan begitu saja. Apalagi ketika tinggal dengan anak dan menantu, Sulis merasa jika jiwa mengomelnya bangkit ke permukaan.
Kalimat yang dilontarkan olehnya tidak hanya membuat Zafran dan Vania langsung mengangkat pandangan, tetapi Herman dan Kamal juga. Beda dari yang lainnya, Kamal sama sekali tak mengerti akan apa yang dimaksud oleh ibunya, hingga ia pun kembali melanjutkan kegiatannya tanpa menyadari adanya aura yang berbeda di meja makan.
Tampak Vania yang langsung memandang ke arah Zafran sebelum kemudian kembali menundukkan pandangan, tangannya saling bertautan, melepas endok dan garpu yang tadi dipegang olehnya. Respons yang diberikan oleh Zafran adalah sebuah senyuman manis, tangannya pun langsung bergerak untuk mengusap bahu sang istri yang duduk tepat di samping kanannya.
Zafran berujar, “Bunda, lain kali boleh kok kalau mau ajak Vania masak. Tapi, kalau Vania lagi gak capek. Tadi itu, Vania baru selesai main sama Kamal, mereka lari-larian, kasihan kalau Vania langsung diajak asak.”
Pembelaan yang diberikan oleh Zafran membuat Vania semakin merasa tak enak hati, apalagi melihat Sulis yang langsung mendengus kesal sembari memakan makanannya dengan kasar.
“Sudahlah, Bun. Lain kali ajak Vania masak, tapi gak boleh lai capek katanya,” ujar Herman, mencoba untuk menengahi. Namun, tindakannya pun salah. Karena Sulis langsung mendelik dan menyimpan sendoknya dengan kasar di atas meja.
“Kalau lagi gak cape? Lah, kalian gak pikirin Bunda yang harus ngerjain tugas rumah tangga sendiri di rumah ini? Lagi pula, wanita yang lagi hamil itu justru harus banyak gerak, biar nanti lahirannya lancar. Bunda juga dulu waktu hamil Zafran atau Kamal, teta beraktivitas seperti biasa kok.”
“Tapi ‘kan Vania baru kali ini hamil, Bunda, ini pengalaman pertama dia sebagai seorang calon ibu,” bela Zafran lagi, semakin mengusap bahu Vania dengan lembut. Kini, Zafran pun menunjukkan mimik wajah yang tak bersahabat, membuat Vania yang afdal di sampingnya semakin merasa tegang saja.
Sulis tertawa ringan, cenderung mengejek ke arah Zafran yang kini menatapnya. Lantas Sulis pun langsung menjawab, “Kamu pikir Bunda gak pernah hamil untuk pertama kalinya? Waktu hamil kamu, itu pertama kalinya buat Bunda, dan Bunda tetap beraktivitas kayak biasanya, ayah kamu gak protektif seperti itu sama Bunda. Kamu jangan berlebihan menghadapi istri kamu yang sedang hamil, Zafran!” tegasnya.
Zafran kembali membuka mulutnya untuk membalas kalimat yang dilontarkan oleh Sulis. Namun, Vania dengan segera langsung memegang tangan suaminya sebagai tanda larangan. Zafran yang mengerti maksud dari istrinya pun hanya menghela napas dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Tak mau tinggal diam, Herman pun mengusap bahu istrinya untuk meredakan amarah yang tengah dirasakan oleh Sulis. Dalam hati, ia sanga mengerti akan apa yang dirasakan oleh Sulis, tetapi juga mengerti bagaimana perasaan Zafran yang ingin melindungi istrinya. Zafran tengah antusias mengetahui istrinya yang mengandung.
Karena ini baru pertama kali, Zafran pasti ingin melakukan yang terbaik untuk istrinya, bahkan hingga pria muda itu memberikan perhatian yang berlebih pada Vania.
Dan itu sangat wajar.
“Udah, sekarang kita makan, ya. Jangan ada yang buat keributan di meja makan—“
“Ayah salahin Bunda?” todong Sulis, menatap tajam ke arah suaminya, untung saja Herman dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya.
“Bukan, kita makan aja, jangan berbicara sambil makan, gak baik! Ayo, sekarang kita makan, kalau pun ada yang bau dibicarakan, kita bicarakan setelah makan,” pungkas Herman.
Kalimat yang dilontarkannya pun mampu membuat semua orang terdiam dan kembali fokus pada makanan masing-masing, walau tetap saja Sulis menunjukkan mimik wajah yang tak bersahabat.
Vania yang sejak tadi hanya diam dan tak mengeluarkan suara pun memakan makanan miliknya dengan gerakan yang sangat pelan. Ia merasa malu jika memakan makanan dengan lahap sedangkan tadi ia tak membantu Sulis untuk memasak.
Sepertinya, Vania harus berbicara pada Zafran nanti. Vania harus menegaskan pada suaminya jika ia baik-baik saja dan tak perlu dibatasi untuk melakukan aktivitas di dalam rumah. Apalagi mengingat jika kini mereka menumpang tinggal di rumah Sulis dan Herman. Sudah selayaknya mereka turut berkontribusi dalam segala aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Kamal menjadi orang terakhir yang menghabiskan makanannya. Dan setelah itu, semua langsung meminum air putih yang sudah tersedia, air minum milik Vania sendiri disediakan oleh Zafran yang sangat perhatian.
“Mau langsung tidur atau mau nonton dulu?” tanya Zafran, mengusap wajah Vania dan membersihkan sisa makanan di ujung bibir istrinya.
Sebenarnya Vania ingin menonton televisi, tetapi ia takut jika Sulis akan melakukan hal yang sama. Untuk saat ini, bukan waktu yang tepat untuk berada dalam satu jarak pandang dengan ibu mertuanya itu. Vania pun akhirnya menjawab, “Mau langsung tidur aja.”
“Gitu aja terus, makan-tidur, makan-tidur!” pekik Sulis.
Salah lagi, Vania mendesah lelah dalam hati. Ia hanya ingin menghindari ibu mertuanya itu, bukan benar-benar ingin tertidur. Perutnya pun masih terasa kenyang, tak akan nyaman jika Vania bawa berbaring.
“Tadi ‘kan Bunda udah masak, sekarang kamu dong yang cuci piring!” titah Sulis. Vania pun langsung menganggukkan kepalanya. Zafran yang hendak mengeluarkan protes pun langsung mengurungkan niatnya setelah mendapat tatapan dari Herman.
Akhirnya ia pun hanya diam. Zafran bangkit, ia merapikan piring-piring dan gelas kotor, lalu mengangkatnya secara bersamaan. “Ayo, Van! Aku bantu kamu buat cuci piringnya.”
“Biar aku aja, “ tolak Vania.
Namun, Zafran tetap pada pendiriannya. Bahkan, pria itu pun langsung pergi mendahului Vania menuju dapur. Pada akhirnya, Vania pun lari terbirit-b***t menyusul kepergian suaminya.
***
“Harusnya aku aja yang cuci,” tutur Vania, tampak sangat bersungut-sungut ketika mengutarakan kalimatnya. Bukannya tak senang melihat Zafran yang mengambil alih tugasnya untuk mencuci piring, hanya saja Vania takut jika Sulis akan salah paham dan marah lagi.
Namun, Zafran tetap asyik dengan kegiatan mencucinya. Ia sama sekali tak membiarkan Vania untuk menyentuh sabun sedikit pun dan hanya meminta agar Vania memerhatikannya dari jarak jauh. Tak ada kalimat balasan yang diungkap oleh Zafran, hingga enam menit kemudian, akhirnya ia pun telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Zafran langsung saja mencuci dan mengelap tangannya.
Lantas ia menghampiri istrinya dan langsung merangkul pinggang sang istrinya yang terbalut pakaian berwarna merah hati. “Yuk, mau langsung tidur?”
Vania menganggukkan kepalanya. Mereka pun lantas berjalan beriringan menuju kamar. Untungnya, keduanya sama sekali tak berpapasan dengan Sulis ataupun Herman. Setidaknya, Vania bisa bernapas lega karena hal tersebut.
Sesampainya di kamar, Vania langsung duduk di atas sofa kala Zafran tengah mengunci pintu kamar. Pria itu pun langsung duduk di samping sang istri dan menggunakan tangannya untuk merangkul bahu Vania dengan penuh kasih sayang.
“Zafran, aku mau bicara sama kamu,” ujar Vania pelan.
Zafran hanya diam saja dan menunggu kelanjutan kalimat yang akan disampaikan oleh istrinya. Tampak Vania yang menyandarkan kepalanya di d**a bidang Zafran sebelum berkata, “Kamu seharusnya biarin aku buat bantu Bunda masak tadi, atau biarin aku cuci piring barusan. Kan bukan lari maraton, aku gak bakal kenapa-napa kok. Kalau kamu terus protektif gini sama aku, bisa-bisa nanti Bunda malah jadi gak suka sama aku.”
Zafran terdiam mendengarnya, tidak ada maksud dalam hatinya untuk membuat Vania tidak disukai oleh ibunya. Zafran hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang suami dan juga calon ayah untuk menjaga istri dan juga janin yang ada dalam kandungan Vania dengan sebaik mungkin.
Tak mau jika Vania sampai kelelahan, Zafran rela jika ia harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Sulis pada Vania, kapan pun itu.
“Aku cuman mau yang terbaik buat kamu dan juga calon anak kita. Kamu ‘kan lagi hamil, Vania. Usia kandungan kamu masih muda, dan usia kamu juga masih muda. Masih rawan-rawannya, aku gak mau kalau kita sampai mengalami kehilangan anak kita, atau kamu yang dapat masalah sama kehamilan kamu. Pokoknya, kalau kamu lagi capek, jangan paksain, kalau pun Bunda suruh, kamu bilang aja kalau aku yang bakal kerjain.”
Vania mendengus. “Nanti kalau aku dicap sebagai menantu yang malas gimana?”
“Gak akan, karena aku yang nyuruh kamu. Bulang aja sama Bunda begitu!”
Vania pun akhirnya mengangguk, mungkin sebaiknya ia menuruti apa yang dilontarkan oleh suaminya. Jika lelah, Vania bisa meminta bantuan Zafran nantinya. Namun, jika ia sedang baik-baik saja, maka Vania akan beraktivitas seperti biasanya.
“Sekarang tidur yuk?” ajak Zafran, membuat tubuh Vania duduk dengan tegak. Vania hanya menganggukkan kepala, hingga mereka pun melangkahkan kaki menuju kasur secara bersamaan. Vania berbaring terlebih dahulu, berbeda dengan Zafran yang mengganti kaus yang ia pakai.
Saat Zafran sampai di kasur, Vania sudah memejamkan matanya erat. Pria muda itu langsung menyunggingkan senyuman manis dan menggerakkan tangannya untuk menyelimuti tubuh Vania. Sebelum lekas berbaring, Zafran menyempatkan dirinya untuk memberikan sebuah kecupan hangat di kening sang istri. “Malam, selamat tidur.”