Protektif

1032 Kata
Hingga sore hari menjelang, Vania masih saja asyik bermain bersama Kamal di taman belakang. Hal itu membuat Zafran menyusul istrinya yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. Padahal, Zafran sudah selesai membereskan barang-barang milik Vania di kamarnya. Sesampainya Zafran di taman belakang, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Vania yang tengah berlarian ke sana ke mari untuk mengejar Kamal yang berlari tak tentu arah. Ternyata, Vania sama sekali tak mendengarkan apa yang tadi dikatakannya. Mungkin mendengarkan, hanya saja Vania tak mau menurutinya. Langsung saja Zafran melangkahkan kakinya untuk mendekati istrinya yang tengah bertingkah layaknya anak kecil tersebut. Hap! Ia berhasil menangkap tubuh Vania hingga wanita itu tak bisa melanjutkan langkah kakinya yang lincah. “Tadi aku bilang apa?” tanya Zafran, melepaskan tangannya dari pinggang istrinya yang sebentar lagi akan melebar seiring dengan usia kandungannya yang akan bertambah. Vania yang sudah berdiri dengan tegak langsung menunjukkan mimik wajah bingung, matanya mengerjap sebanyak beberapa kali yang membuatnya benar-benar tampak seperti anak kecil. Dengan lugunya Vania bertanya, “Emangnya tadi kamu bilang apa?” “Jangan lari-larian!” Bukan Zafran yang menjawab, melainkan si kecil Kamal yang kini memeluk kaki kanan Vania dengan sangat erat. Wajahnya yang menggemaskan mendadak jadi menyebalkan di mata Zafran. Pria muda itu langsung mendengus dan menganggukkan kepalnya dengan cepat. “Kamal aja ingat gak boleh lari-larian, kamu kok gak ingat?” Seketika itu pula Vania langsung mengatupkan bibirnya. “Oh iya, maaf. Aku ingat kok, tapi kan gak seru kalau Kamal lari gak ada yang kejar. Omong-omong, kamu udah selesai pindahin barang-barang aku ke kamar kamu?” “Udah, udah beres semua. Sekarang masuk yuk ke dalam, kamu mandi terus istirahat aja di kamar. Ingat, kamu itu lagi hamil, jadi jangan capek-capek. Aku gak mau ya kalau kamu sampai kecapean!” Zafran berjongkok, meraih tubuh Kamal dan langsung menggendongnya. Setelah kembali berdiri tegak, Zafran langsung menuntun tangan Vania hingga mereka bertiga pun meninggalkan taman belakang secara bersamaan. Zafran menurunkan Kamal di ruang tamu, membiarkan bocah laki-laki itu langsung berlari mencari ibunya. Sedangkan ia sendiri, membawa Vania untuk masuk ke dalam kamar. Zafran ingin agar Vania menggunakan banyak waktunya untuk beristirahat.  Sepertinya, Zafran jauh lebih waspada dan juga hati-hati dalam menyikapi kehamilan yang tengah Vania alami. Wanita itu terlihat jauh lebih santai dan juga ... ceroboh. Bahkan, Zafran merasa jika ia harus menjadi pengawal yang terus mengawasi tingkah laku yang diambil oleh istrinya. Sayang sekali Zafran mulai besok akan mulai kembali bekerja di toko, ia jadi tak bisa memperhatikan Vania setiap jamnya. Namun, Zafran sudah memastikan jika Sulis akan menjaga istrinya itu dengan baik. Sulis yang sudah memiliki pengalaman mengandung sebanyak dua kali tentu saja tak akan ceroboh dalam memperlakukan Vania. “Aku kayaknya gak mau mandi, deh! Kaki aku pegel, aku mau baringan aja!” Vania mengeluhkan kakinya yang pegal kala mereka sampai di kamar. Dengan santainya, Vania langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Melihat keringat yang ada di dahi istrinya, Zafran ingin Vania mandi agar wanita itu tak akan merasakan gatal-gatal nantinya. Namun, melihat wajah lelah yang jelas tergambar di wajah cantik calon ibu itu, Zafran jadi tak tega dibuatnya. Ia pun langsung duduk di bibir ranjang. Tangannya secara otomatis mengangkat kedua kaki Vania dan menyimpannya di atas pangkuannya sendiri. “Eh, mau ngapain?” Vania yang kaget berusaha untuk menarik kakinya. Namun, Zafran dengan cepat menahan kedua kaki istrinya agar tetap berada di atas pangkuannya. “Biar aku pijit. Kamu bilang kamu pegel ‘kan?” Tak lama setelah kalimat yang dilontarkannya usai, Zafran langsung menggerakkan tangannya untuk memijat kaki Vania dengan baik dan hati-hati. Sebisa mungkin, ia mengeluarkan tenaga dalam intensitas yang sedang, tidak terlalu kuat, juga tidak terlalu pelan. Vania yang awalnya merasa tak enak hati pun secara perlahan mulai menikmati pijatan lembut yang diberikan oleh suaminya. Ia pun memilih untuk membiarkan Zafran larut dalam kegiatannya. Sedangkan Vania sendiri, ia memilih untuk memejamkan mata, menikmati setiap pijatan yang diberikan oleh tangan Zafran yang tak begitu lembut. Tok! Tok! Tok! “Zafran!! Vania!!!” Hingga suara ketukan yang begitu nyaring diiringi suara panggilan dari Sulis membuat Vania membuka matanya dengan cepat. Ia pun langsung menarik kakinya karena takut jika Sulis akan memergoki posisinya yang seperti ini. Jika itu sampai terjadi, Sulis pasti akan mengiranya sebagai istri yang tak tahu sopan santun dan memanfaatkan Zafran dalam banyak hal. “Masuk aja, Bun,” balas Zafran, sama berteriaknya. Ketika pintu mulai bergerak, Vania langsung duduk dengan tegak dan merapikan penampilannya. Ia masih saja merasa gugup jika harus berhadapan dengan mertua, padahal kini mereka akan tinggal bersama. “Bunda lagi masak buat makan malam, kamu bantuin Bunda, ya?’ pinta Sulis, langsung menatap ke arah menantunya yang tampak gugup. Tanpa mau memberikan penolakan, Vania pun langsung menganggukkan kepalanya dengan yakin. “I—iya, Bun.” Tubuh Vania pun tanpa diperintahkan langsung beranjak mendekati ibu mertuanya. Namun, belum sampai Vania di samping Sulis, tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Zafran. Pria muda itu menggelengkan kepalanya dengan tegas ke arah Vania dan Sulis yang kini kompak menatap ke arahnya. “Bunda, kalau Bunda masaknya sendiri aja gimana? Vania tadi abis main sama Kamal, dia capek. Jadi Vania mau istirahat dulu sekarang. Bunda ‘kan tahu, sekarang Vania lagi hamil muda, gak baik kalau dia capek-capek.” Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Zafran. Vania langsung memberikan tatapan protes pada Zafran. Lalu ia menoleh ke arah Sulis dan menunjukkan senyum terbaik yang ia miliki. “Zafran gak usah didengerin, Bun. Ayo kita ke dapur, aku gak cape kok!” Vania berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Zafran di tangannya. Namun, ia tak berhasil. Sulis yang melihat hal itu pun langsung menghela napas. Ia melihat Zafran dengan serius dan berkata, “Zafran, Bunda hanya ajak istri kamu buat masak di dapur, bukan ajak yang macam-macam. Kamu gak usah berlebihan, deh! Bunda ini jelas tahu lebih banyak dari kamu. Lagi pula cuman bantu masak, gak akan Bunda suruh yang lain. Ayo, Vania!” Sulis langsung menarik tangan Vania. Tetapi ternyata, Zafran pun masih belum mau melepaskan tangan Vania begitu saja. Ia masih saja berpegang teguh pada pendiriannya. “Pokoknya Vania harus istirahat sekarang!” “Kamu ini! Apa gunanya punya istri kalau cuman buat kamu suruh istirahat?” Sentak Sulis dengan mimik wajah yang tak bersahabat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN