Ipar

1015 Kata
Makan malam yang lengkap bagi Vania, Zafran bergabung bersamanya. Pria muda itu pun memenuhi permintaan Vania untuk bersikap lebih baik pada Atina. Walau ia tak menunjukkan mimik wajah yang ceria, setidaknya Zafran sama sekali tak menunjukkan mimik wajah sama yang akan membuat Atina berkeluh kesah. Atina sendiri, masih saja memasang mimik wajah yang tak enak untuk dipandang, Vania memang belum empat untuk berbicara dengannya. Vania harus menunggu momen yang tetap agar wanita tua itu tak tersinggung dengan apa yang akan diatkannya. Kini, Vania dengan cekatan tengah menyajikan makanan di atas piring suaminya. Ia senang, setelah lam-malam sebelumnya ia makan tanpa Zafran, kini ria itu kembali duduk di sampingnya dan siap menyantap hidangan makanan yang telah dimasaknya. “Vano, gimana kerjaan kamu hari ini?” Terdengar suara Atina yang bertanya pada cucunya, hal tersebut membuat Vano langsung tersenyum. Vano pun menjawab, “Alhamdulillah lancar, Nek!” Atina menganggukkan kepalnya, lantas ia melihat ke arah Zafran dengan lirikan yang sangat sinis. Dala hati, Vania berdoa agar neneknya itu tak mengutarakan apa pun yang akan mengundang amarah Zafran.  Diam-diam, Vania menoleh ke arah Zafran untuk melihat mimik wajah yang seperti apa yang tengah Zafran tunjukkan. Untunglah, Zafran masih memasang mimik wajah yang sama sejak tadi. “Kalau kamu gimna?” tanya Aina, pertanyaannya terdengar sangat ketus pada Zafran, sangat berbeda dengan nada yang ia gunakan untuk Vano tadi. “Lancar,” balas Zafran singkat, mimik wajahnya pun datar.  “Jawab itu yang benar, kalau bicara itu dilihat wajah orangnya, bukan lihat ke sembarang arah kayak gitu! Namanya gak sopan, kamu tahu?” tegur Atina. Hal tersebut membuat Zafran langsung menghela napas, mencoba untuk mencari keberadaan sabar yang letaknya entah ada di mana. Ia sempat menoleh ke arah Vania, istrinya itu menunjukkan mimik wajah memohon yang membuatnya akhirnya mau menatap ke arah Atina. Zafran pun akhirnya berujar, “Iya, Nek, maaf.” Decakan kesal terdengar dari mulut Atina. Wanita tua itu merasa kesal pada Zafran yang selalu saja harus mendapatkan teguran darinya sebelum bisa bertindak dengan baik. “Kamu itu ya, kayak anak kecil. Apa-apa harus dikasih tahu dulu! Bahkan, adab untuk berbicara sama orang aja harus dikasih tahu dulu!” Lagi, kalimat yang dilontarkan oleh Atina membuat Zafran harus menumpuk bayak sabar dio hatinya. Ia hanya menganggukkan kepalnya singkat untuk merespons, jika ia banyak brkata-ka5a, maka Zafran yakin bahwa bukan kalimat sopan yang akan kelua dari mulutnya. Vano yang sedari tadi menyimak hanya terdiam, tak berani untuk menyela neneknya. Namun, dalam hati ia turut prihatin pada Zafran. Vano bisa membayangkan jika suatu sat nanti ia menikah, dan kemudian ia mendapatkan perlakukan yang Zafran terima seperti saat itu. Hanya dengan membayangkannya saja, Vano tahu jika hal itu tak akan menyenangkan. “Bisa kita makan sekarang?” sela Vania, menyunggingkan senyum ke arah tiga manusia yang ada bersamanya. 0o0o0o0 “Kamu lihat sendiri ‘kan? Nenek kamu yang ga sopan sama aku. Padahal tadi aku banyak diem, au juga berusaha buat gak terlihat ketus!” pekik Zafran, ia baru saja masuk ke dalam kamar bersama Vania. Malam ini, Vania akan tidur bersamanya, semoga saja Atina tak kembali mengetuk pintu dan mengganggu mereka seperti malam sebelum-sebelumnya. Zafran langsung menghela napas kasar seraya menghempaskan tubuhnya di sofa. Begitu juga dengan Vania yang kini mencoba untuk mengusap lengan suaminya, menghilangkan emosi yang secara diam-diam merayapi hatinya. “Aku tahu, mungkin nenek masih bersikap kaya gitu karena aku masih belum bicara sama dia. Besok, aku bakal bicara sama Nenek supaya dia bersikap lebih baik sama kamu.” “Kamu harus bilang ya!” tegas Zafran, takut jika Vania hanya membual aja. Apalagi melihat sikap Vania yang selama ini lebih condong untuk membela Atina, bukan suatu kemustahilan jika Vania hanya ingin Zafran saja yang menunjukkan perubahan sikap. Namun, keraguan itu perlahan menghilang kala Zafran melihat anggukkan kepala penuh keyakinan yang diberikan oleh Vania. Istrinya tersebut menunjukkan mimik wajah bersungguh-sungguh. “Aku janji, aku bakal bicara sama Nenek. Aku juga sebagai orang yang ada di antara kalian, gak enak kali kalau lihat kalian gak akur kayak sekarang ini. Itu beban tersendiri buat aku tahu!” Zafran menggunakan sebelah tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala istrinya, ia pun mendaratkan sebuah kecupan hangat di tepat yang tadi ia usap. “Kamu tidur gih!” “Terus kamu mau ke mana?” “Aku mau nonton bola sebentar, sama kakak kamu.” “Ya udah,” balas Vania, ia langsung beranjak menuju kasur dan membaringkan tubuhnya. Sedangkan Zafran, ia langsung melangkahkan kakinya ke luar dari kamar. Sesuai dengan apa yang tadi dibicarakannya, Zafran menuju ruang televisi di mana Vano sudah menunggunya. Ada pertandingan bola yang akan dilaksanakan dan juga disiarkan. Sebagai pria penyuka bola, mereka tak akan mau ketinggalan untuk menonton pertandingan permainan yang dimainkan di tas rumput hijau tersebut. Sampailah Zafran di ruang tamu, ia langsung mendudukkan tubuhnya di samping Vano. Mereka memang sudah sangat akrab, lebih pantas dikategorikan sebagai seorang teman daripada kakak dan iparnya. “Belum mulai ya?” tanya Zafran, meraih opi yang tadi sudah diseduh oleh Vano. Kakak iparnya itu memang selalu menyediakan bdua gelas kopi hitam setiap kali mereka menonton bersama. Hal itu tentu saja dimaksudkan agar mereka bisa kuat menahan kantuk yang mungkin saja menyerang di sat pertandingan belum selesai. “Bentar lagi, masih iklan,” balas Vano, ia maish sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Namun, tak lama kemudian, Vano menyimpan ponselnya di meja, oa menoleh dan membuat tubuhnya berhadap dengan Zafran. “Giamna rasanya kalau lagi denger Nenek bicara?” “Gedek juga! Rasanya, kayak gak betah tinggal di sini!” Vano langsung menganggukkan kepalnya. Gue bisa bayangin gimana rasanya. Semoga aja, kalu gue udah nikah nanti, gak akan dapat mertua ataupun nenek mertua yang bawel!” Zafran tersenyum kecut. Vano yang merupakan cucu dari Atina sja berkat demikian, bagaimana dengan Zafran yang hanya cucu menantu bagi wanita ua itu? “Bener, jangan sampai deh! Bisa-bisa rumah tangga gak awet kaau gitu jadinya!” timpal Zafran. Kalimat tersebut membuat Vano langsung menepuk bahu adik iparnya itu dengan kasar, beberapa kali. “Tapi lo harus perjuangin Vania, dia cinta banget sama lo! Masa cinta kalian kandas karena nenek mertua?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN