Negosiasi

1068 Kata
“Ka—kamu mau bicara apa?” tanya Vania dengan gugup, takut jika hal yang akan diminta oleh suaminya adalah hal yang akan menyulitkannya, apalagi dengan pernyataan jika seorang istri harus menurut pada suaminya. Sebelum menjawab apa yang menjadi pertanyan istrinya, Zafran lebuh dulu menarik tangan istrinya itu menuju ke sofa, tak baik jika mereka berbicara sambil berdiri, hal tersebut akan membuat emosinya tidak terkontrol dengan baik. Setelah keduanya duudk di sofa yang sama, Zafran langsung berucap, “Aku mau kita pindah ke rumah orang tua aku!” Benar saja, Vania langsung melotot mendengar keinginan yang disampaikan oleh suaminya. Kepalanya langsung menggeleng dengan cepat. Vania tidak mau jika ia tinggal bersama Sulis dan juga Herman. Pada saat itu saja ia hanya menginap, Sulis sudah cukup mengganggunya dengan segala perintah termasuk mencuci piring. Vania sangat yakin, jika ia tinggal bersama mertuanya, maka Sulis akan sangat otoriter. Mungkin saja wanita paruh baya itu akan membebankan semua pekerjaan rumah tangga adanya. Belum lagi dengan segala ocehan yang bisa wanita itu keluarkan. Sungguh, baru membayangkannya saja, Vania merasa jika ia tak akan sanggup jika satu rumah dengan mertua. “Tadi aku udah bilang, yang namanya istri itu harus surut sama suami!” tegas Zafran, mimik wajahnya yang mengeras ketika melihat penolakan dari istrinya. Vania tak langsung memberi respons, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik napas dalam. Vania pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, mencoba untuk menjernihkan pikirannya. Namun, ia tak berlangsung lama, karena Zafran yang menarik slah tangannya dan membuat Vania duudk dengan tegak kembali. “Kamu harus mau, aku ini kepala rumah tangga di antara kita, harusnya kamu nurut sama aku!” pekik Zafran, menuntut Vania agar mengiyakan keinginannya. Namun, kalimatnya membuat Vania berwajah masam. Wanita cantik itu langsung menepis tangan Zafran yang ada di pergelangan tangannya. “Kamu juga, sebagai kepala rumah tangga yang baik, kau hausnya lihat bagaimana kenyamanan aku! Nanti, aku yang akan ada di rumah terus, aku yang tinggal sama orang tua kamu, sedangkan kamu? Kamu kerja dari pagi sapai sore, dan kamu gak akan rasakan nyaman atau enggaknya tinggal di sana!” Vania berujar dengan kesal. Apa yang dikatakannya emang benar bukan? Vania yang akan menghabiskan banyak waktu di rumah, berbeda dengan Zafran yang akan pergi e toko setiap harinya. Sehausnya, Zafran mempertimbangkan soal kenyamanannya. “Aku juga udah gak nyaman di sini, alau aku dari pagi sampai soe ada di toko, tapi kalau aku pulang dan dapat sambutan yang seperti itu dari Nenek kamu, kamu pikir iu enak?” hardik Zafran, menunjuk pintu untuk menunjuk Atina yang ada di ruang utama. Lalu Zafran mengalihkan pandangannya dan mengusap rambutnya dengan kasar. Kalimat yang disampaikan olehnya berhasil membungkam Vania. Wanita itu sangat sadar jika tingkah yang Atina tunjukkan telah membuat Zafran beronta dan tak betah lagi untuk tinggal di sini. Sebelum kedatangan Atina, Zafran tak pernah sekalipun menyinggung soal kepindahan ruah, karena mungkin ia pun memang nyaman untuk tinggal di sini. Namun, semenjak kedatangan Atina, apalagi dengan segala penilaian yang Atina berikan pada Zafran, pria itu mulai menunjukkan gelagat ta betah untuk berada di rumah. Vania terdiam, mencoba untuk memikirkan solusi terbaik dari apa yang tengah mereka hadapi. Begitu pula dengan Zafran yang ini menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sembari memejamkan kedua matanya erat. Hening menyapa selama berapa saat, hingga akhirnya Vania menyentuh tangan Zafran membuat pria muda itu segera membuka matanya. Tak hanya ampai di situ, Vania juga membuat tubuh mereka merapat, mendekatkan diri pada suaminya adalah sebuah pilihan agar mereka bisa berbicara dari hati ke hati, bukan ego ke ego yang mana tak akan membuat mereka menemui titik penyelesaian. “Aku minta kesempatan sama kamu, kasih dan Nenek waktu. Aku akan coba bicara sama Nenek supaya dia bisa memperbaiki sikapnya sama kamu, tapi aku juga mohon kerja samanya dari kamu.” “Kerja sama dari aku?” Zafran mengernyitkan keningnya, mencoba untuk mencari pemahaman dari apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri. Vania pun menganggukkan kepalnya dengan cepat. “Aku akan berbicara Nenek supaya dia memperbaiki sikap dan juga menjaga kaimatnya untuk kamu, dan kamu juga harus bersikap lebih sopan sa Nenek. Aku yakin, kalau kalian saling jaga perasaan satu sama lain, kalian bisa akur kok.” “Oke, tapi kalau Nenek kamu tetap gak bisa uba sikapnya, gak bisa jaga mulutnya, aku mau pindah ke rumah orang tua aku!”  Hanya sebuah anggukkan kepala yang Vania berikan. Kini, ia harus berjuang untuk mendamaikan nenek dan juga suaminya. Vania tak mau jika ia ampai harus pindah ke rumah mertuanya. Ia ingin agar tetap tinggal di sini bersama kakaknya, itu jauh lebih baik daripada ia berada di bawah tagan mertua. Sebelah tangan Vania mengusap peluh yang ada di dahi suaminya, ia mengecup dahi berkeringat itu dengan sayang. Vania tak dapat menjabarkan seberapa cintanya ia pada Zafran, karena seluruh kata yang ada di dunia tak bisa mendeskripsikannya dengan benar. Tangannya pun ini bergerak untuk memeluk tubuh suainya, walau mengantarkan bau keringat di hidungnya, Vania a sekali tak mempermasalahkan hal itu. “Ada yang lamar pekerjaan di toko aku,” lapor Zafran, teringat akan permintaan Ayu yang ingin bekerja di tokonya tadi. “Siapa?” tanya Vania cuek. “Namanya Ayu, dia langganan di toko aku. Katanya buat s**u anak,” balas Zafran. Mendengar nama yang keluar dari mulut suaminya, Vania tahu jika pelamar pekerjaan yang Zafran maksud adalah seorang wanita. Oia pun mendongakkan kepala. “Udah punya anak? Berarti dia punya suami ya?” “Setahu aku udah cerai, dia pernah cerita.” Kalimat yang diungkap oleh Zafran membuat Vania langsung melepaskan pelukannya dan menatap ke arah suaminya itu dengan mata yang memicing tajam. “Cerita ke Kamu? Kok bisa? Jangan-jangan kalian deket ya?” Tanpa segan, Zafran menggelengkan kepalanya. ‘Enggak, Kok. Itu dia aja yang cerita secara tiba-tiba pas aku lagi hitung belanja dia, aku sama sekali gak tanya dan juga gak peduli kok. Ibu-ibu emang suka gitu, cerita apa aja, padahal gak deket pun.” Vania pun menganggukkan kepalanya, mengerti. Namun ia menjawab, “Kalau gitu aku gak mau dia kerja di toko kamu. Klau nanti kamu kecantol gimana? Aku gak suka ya kalau kamu deket-deet sama cowok lain! Aku aja gak deket sama orang lain, masa kamu boleh?” Zafran tertawa ringan dibuatnya, ia merasa gemas melihat mimik wajah bersungut-sungut yang ditunjukkan oleh Vania. “Oke, makanya aku minta izin sama kau, aku menghargai kamu sebagai istri aku. Kalau aku gak peduli sama kamu, udah aku terima aja tadi!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN