Sore ini, Zafran bergegas pulang setelah toko sembako yang dikelolanya tutup. Hal tersebut disebabkan karena yang sudah tak sabar untuk membicarakan usul yang tadi dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Namun, saat ia akan melajukan motornya meninggalkan toko, tiba-tiba saja ada Ayu yang mendatanginya. Entah apa tujuan janda muda itu menghampirinya, padahal kini toko sudah tutup, Zafran yakin jika belanja bukanlah kebutuhan wanita itu.
“Zafran!” panggilnya, dengan senyum yang merekah di bibir tipisnya.
Untuk menghormati pelanggannya tersebut, Zafran pun langsung membuka helm yang tadi sudah ia pasang, lantas kepalanya pun langsung menoleh ke arah Ayu yang kini berdiri di sampingnya. “Iya, ada apa?”
“Gak ada apa-apa sih, cuman tadi lagi kebetulan aja lewat sini, eh ada kamu. Boleh ngobrol sebentar gak?” tanya Ayu, masih mempertahankan senyuman anisnya.
“Apa?”
Sungguh, Zafran ingin pergi sekarang juga. Ia tak mau berbicara dengan lawan jenis seperti saat ini, apalagi jika itu tak benar-benar penting. Lantas matanya melihat ke arah jam tangan yang dikenakan olehnya, sengaja agar Ayu tahu bahwa ia tak memiliki waktu banyak.
“Jadi gini, Zafran, aku mau lamar kerja di toko kamu, itu pun kalau kamu lagi membutuhkan pekerja. Kalau enggak juga gak apa-apa kok, soalnya aku lagi butuh uang, buat tambahan beli s**u anak aku.”
Kalimat yang dilontarkan oleh Ayu membuat Zafran terdiam sejenak. Lantas ia mencoba untuk melihat mimik wajah yang ditunjukkan oleh pelanggannya tersebut. Ayu tampak sangat meyakinkan jika dilihat dari mimik wajah yang ditunjukkan.
Zafran pun menghela napas sebelum menjawab, “Nanti, aya diskusi dulu sa istri.”
Ada perubahan mimik wajah yang ditunjukkan oleh Ayu. Namun, itu hanya berselang satu detik, karena selanjutnya Ayu kembali terlihat biasa. “Ya sudah, semoga istri kamu mau bantu aku.”
Zafran hanya memberikan respons dengan menganggukkan kepalanya singkat. Setelah itu, ia langsung melajukan motornya kembali. Membelah jalanan yang akan mengantarkannya ke rumah yang ia tinggali bersama istrinya.
Tak sampai satu jam, kini Zafran sudah sampai di rumah yang mana pemiliknya tak lain adalah paman dari Vania. Ia langsung saja memarkir motornya dengan baik sebelum kemudian melangkah a*u.
Belum ia ampai di dekat pintu, kayu yang telah mengalami pengukiran itu terbuka degan sendirinya. Muncullah Vania yang berlari dan langsung menerjang tubuh Zafran, memberikan sebuah pelukan selamat datang yang sangat erat.
Zafran heran dengan sambutan yang diberikan oleh istrinya. Ia pun membalas pelukan yang diberikan oleh Vania dengan kaku. Alisnya terangkat sebelah, ia pun langsung bertanya, “Ada apa?”
“Kamu semalam ke mana?” tanya Vania, melerai pelukan dadakan yang ia berikan tadi.
Mimik wajahnya terlihat cemberut dan juga lega di waktu yang bersamaan. Hal tersebut membuat Zafran tersenyum tipis, walau ala hatinya tersimpan rasa kesal untuk Vania, tetapi ia tidak tega untuk menunjukkannya di sat sang istri menyambutnya dengan cara yang seperti ini.
“Aku ke rumah orang tua aku, nginep di sana. Ngapain juga aku tidur di sini? Toh au tidur sendirian di sini!” pungkas Zafran dengan senyumannya yang kini mengembang semakin lebar.
Vania memutar bola matanya malas. “Aku tahu, kamu ke rumah orang tua kamu, Kaka Vano yang ilang. Harusnya, kamu itu izin dulu sama aku, atau kasih kabar gitu biar aku gak khawatir!”
“Emangnya kamu masih sempat buat mikirin aku? Aku kira kamu sibuk sama Nenek kamu!”
Zafran mengutarakan kalimat sindiran tersebut sembari melangahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Vania langsung mengikutinya di belakangan dengan delikan mata yang terlihat sangat kesal.
Vania menjawab, “Tentu aja masih sempat, kamu kan suami aku, satu-satunya cowok yang wara-wiri di kepala dan juga hati aku!”
Kalimat yang diungkap oleh Vania dengan gaya yang sangat mendayu membuatnya terkikik, begitu juga dengan Zafran yang hanya menggelengkan kepalnya mendapati jika wanita yang telah ia nikahi berusaha untuk memberikan gombalan.
Keceriaan yang ada dalam diri mereka seketika lenyap kala keduanya melewati ruang utama. Ada Atina yang duduk dengan tangan terlipat di d**a. Bukan hanya itu, mimik wajah yang ditunjukkan pun sangat tidak enak dipandang dan akan membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung merasa tersinggung.
Vania langsung menolehkan kepalnya untuk melihat mimik wajah yang ditunjukkan oleh suaminya. Tampak Zafran pun yang malah membalas mimik saja Atina dengan sama ketusnya. Vania ampai harus menahan napasnya selama beberapa detik area itu. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Ke mana kamu semalam? Keluyuran ya pasi?” tuduh Atina dengan suara yang sangat lancang, membuat langkah kaki Zafran an Vania terhenti. Vania mencoba untuk menenangkan suaminya tersebut dengan cara mengusap punggung kokohnya. Namun, sepertinya hal tersebut sama sekali tak ada gunanya.
Zafran menjawab dengan nada yang sangat ketus, “Nenek jangan asal tuduh! Saya pulang ke rumah orang tua saya. Buat apa di sini? Toh istri saya juga dimonopoli sama orang lain!”
Kedua mata renta Atina langsung melotot mendapat jawaban lancang yang diberikan oleh cucu menantunya. Ia langsung bangkit dan mengha,p0iri Zafran. Sebelah tangannya terangkat, ia menunjuk Zafran tepat pada bagian wajah. “KAMU YANG SOPA SAA ORANG TUA!!”
Vania langsung gemetar, ia mencoba untuk berdiri di hadapan Zafran, takut jika suaminya itu akan membalas perbuatan neneknya. “Nek, udah ya, ga apa-apa kok Zafran semalam peri, dia ke rumah orang tuanya.”
Atina menggelengkan kepalnya. ‘Itu yang dia bilang ‘kan? Belum tentu yang benar-benar terjadi! Bisa ja di pergi ke tempat hiburan malam, ketemu sama perempuan ain! Atau bahkan abuk-mabuk kan?!”
Tuduhan yang terus saja ditujukan padanya membuat Zafran mengeram marah, ia mengepalkan kedua tangannya dengan mimik wajah yang sudah mengeras. “Nenek jangan asal bicara, mudah banget ya buat Nenek uduh orang lain? Kalau Nenek gak percaya, silakan hubungi orang tua saya!”
“Halah! Itu kan orang tua kamu, pasti bisa diajak kompromi sama kamu1” balas Atina.
Zafran mendengus, mengalihkan pandangannya dan mencoba untuk tak memedulikan lagi apa pun yang dilontarkan oleh wanita tua itu. ‘Terserah Nenek!”
Setelah mengatakan kalimatnya, Zafran langsung meninggalkan ruangan. Tangannya tak diam, ia menarik Vania agar ikut beramanya. Langkah kaki Vania tampak sangat tergesa, dan hal tersebut disebabkan Zafran yang menariknya dengan cara yang cukup kasar.
BRUK!
Zafran menutup pintu dengan kencang. Lantas ia langsung menoleh ke arah istrinya yang tampak bergetar. “Ada yang mau aku bicara sama kamu, dan aku harap, apa pun itu, kamu akan setuju.”