Ketika pagi menjelang, Vania langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia cukup merasa bersalah karena semalam meninggalkan suaminya di kamar. Kini, ia akan menyambut pagi dengan senyuman terbaik yang akan ia persembahkan.
Ceklek.
Vania mengernyitkan keningnya kala ia tak mendapati keberadaan Zafran di kamar. Kasur yang semalam ditempati oleh suaminya tersebut tapak berantakan. Namun, tak ada Zafran di atasnya. Hal itu pun membuat Vania langsung mengecek kamar mandi yang tampak tertutup.
Sebelum mengeceknya dengan mengetuk pintu, Vania mencoba untuk menempelkan telinganya di pintu, berharap jika ia akan mendengar sesuatu yang menandakan adanya keberadaan seseorang di dalam.
Namun, satu menit berlalu, dan Vania sama sekali tak mendengar suara apa pun.
Hal tersebut membuatnya langsung saja membuka pintu dengan kasar. Dan benar, seperti dugaannya jika kamar mandi kosong,.
Ini masih pukul lima pagi, apakah mungkin jika Zafran sudah berangkat sepagi ini?
Vania menggelengkan kepalanya, merasa tak mungkin dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Lantas kakinya pun langsung memilih untuk kembali ke kamar yang ditempati oleh Atina, mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di sana.
Saat Vania masuk, Atina baru saja selesai melaksanakan salam subuh, Vania pun sudah melaksanakannya tadi sebelum pergi ke kamarnya. Ia menyunggingkan senyum kepada Atina yang kini melepas mukena yang ia kenakan.
Tanpa menunggu lama, Vania langsung memainkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi suaminya yang entah berada di mana. Ada sekitar sepuluh deringan yang saia lakukan. Namun, sama sekali tak ada jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.
Vania pun mencoba untuk mengirim pesan, berharap jika Zafran akan langsung membacanya. Namun, harapannya putus kala ia melihat centang satu yang ada di ujung pesan yang ia kirim.
“Kamu mau hubungi siapa pagi-pagi begini?” tanya Atina, heran memerhatikan Vania yang tampak panik sendirian.
Kontan saja pertanyaan yang dilontarkan olehnya membuat Vania langsung mendongak. Wanita muda itu sama sekali gak mencoba untuk menyembunyikan keresahan yang ada di hatinya. “Zafran gak ada di kamar, Nek, aku taut kalau dia pergi ke mana. Masa pagi-pagi udah berangkat ke toko? Ini kan masih jam lima pagi!”
Mendengar jawaban yang diberikan oleh cucunya, Atina langsung mendengus. Wanita tua itu mendudukkan tubuhnya di samping Vania.
“Palingan juga dia mau main dulu, atau jangan-jangan dia pergi sejak malam? Dia sengaja manfaatin waktu kamu yang lagi tidur sama Nenek biar dia bisa keluyuran gak jelas di luar rumah!”
Apa yang diungkapkan oleh Atina tidak pernah membuat perasaan Vania membaik. Justru sebaliknya, Adelina malah langsung berpikir buruk pada suaminya. Tidak ingin laut dalam pemikiran yang coba diterapkan oleh Atina, Vania pun memilih untuk bangkit dan beranjak meninggal Atina di kamarnya.
“Aku mau mandi dulu ya, Nek, baru nanti setelah itu kita masak bareng,” pamit Vania.
Ia pun langsung melangkah ke luar kamar setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Atina. Langkahnya terlihat tidak santai. Bukannya menuju kamar miliknya, Vania justru mendatangi kamar yang ditempati oleh Vano. Mungkin saja kakaknya itu akan tahu di mana keberadaan Zafran.
“Kak!”
Tok! Tok! Tok!
Vania berteriak seraya menggerakkan tangannya dengan sangat cepat, berharap jika apa yang dilakukannya akan membuat seseorang yang tidur di dalamnya akan terusik dan membuka pintu.
Tak mendapat respons, Vania pun mengulangi perbuatannya beberapa kali. Mungkin karena merasa terganggu, akhirnya Vano pun membuka pintu dengan mata yang menyipit menahan kantuk.
“Apa?”
Hanya kata itu yang Vano lontarkan. Wajahnya tampak sangat mengantuk. Namun, pria itu ini mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar. “Ada apa, Vania??”
Dengan nada yang sangat kawatir, Vania pun langsung bertanya pada intinya. “Lihat Zafran gak?”
“Semalam dia pergi, katanya mau nginep di rumah orang tuanya.”
0o0o0o0
Di lain tempat, Zafran baru saja membuka mata berkat seseorang yang menggoyangkan tubuhnya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat siapa gerangan yang tengah membuat tidurnya terganggu. “Bunda,” gumam Zafran, langsung memejamkan matanya kembali ketika tahu jika Sulis yang telah mengganggunya.
Wanita paruh baya itub pun langsung meny8unggingkan senyuman ramah. “Bangun, saat subuh, abis itu kamu siap-siap buat ke toko!”
Walau nada yang digunakan sangat lembut, tetapi Zafran sangat menyadari ada ketegasan yang coba Sulis tonjolkan. Tak mau membantah, Zafran pun akhirnya langsung bangkit dan menganggukkan kepalanya.
Sulis kembali berucap, “Nanti kalau udah langsung ke bawah, ya, Bunda mau masak buat sarapan.”
Lagi, hanya anggukkan kepala yang diberikan oleh Zafran. Pria uda itu pun langsung menguap wajahnya sebanyak dua kali, mencoba untuk menghilangkan kantuk yang masih saja berusaha untuk mengusainya.
Setelah Sulis meninggalkannya, Zafran langsung menuju kamar mandi. Ia mandi dan berwudu, lau bersiap dan langsung melaksanakan salat subuh. Setelah itu, ia langsung melangkahkan kakinya untuk turun, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ibunya tadi.
Dan Herman di ruang makan, Zafran langsung saja mendudukkan tubuhnya di samping ayahnya yang tampak sedang membaca koran. Namun, koran yang tadi dibacanya langsung ia simpan begitu saja. Heran ini memilih untuk menatap ke arah Zafran dengan kening yang berkerut.
“Kenapa semalam nginep? Datangnya juga pas udah malam lagi? Padahal kalau kamu semalam niat nginep, sekalian aja gak usah pulang pas akan malam,” ujar Herman, masih menatap ke arah putra sulungnya.
Zafran sempat berdehem sebelum menjawab, ia sebenarnya cukup canggung untuk menceritakan permasalahan yang tengah ia hadapi di rumah istrinya. Hanya saja, sebuah kemungkinan jika Herman akan memberikan usul yang baik baginya membuat Zafran akhirnya mau menceritakan apa yang engah dialaminya.
“Di rumahnya Vania ada neneknya, dan Nenek itu kayak ga sua sama aku, Yah. Setiap hari dia memonopoli Vania supaya sama dia, dan selalu aja protes sama semua tingkah aku yang selalu salah di mayanya. Aku berangkat ke toko aja harus pagi-pagi, belum lagi Vania yang terus tidur sama Nenek.”
“Udah berapa lama ada Neneknya? Sejak kalian nginep waktu itu ya?” tebak Herman, mengingat jika Vania pernah mengatakan bahwa neneknya akan datang.
Kontan saja Zafran pun langsung menganggukkan kepalnya. “Iya, dan gak tahu sampai kapan. Zafran sih berharap supaya Nenek cepet pulang, dia mala kasih jarak antara aku sama Vania. Dan dia kayak gak suka sama aku, mungkin mau cucu menantu yang udah dewasa dan juga mapan.”
Herman menganggukkan kepalanya, mengerti degan keadaan semacam apa yang tengah dihadapi oleh putra sulungnya. Ia tahu, jika permasalahan seperti ini memang kerap kali terjadi pada beberapa rumah tangga.
“wajar kalau mau cucu menantu yang dewasa dan juga mapan, semua orang tua pasti menginginkan hal yang seperti itu, pada awalnya. Tapi, kalau sudah ada, ya harus terima apa yang ada. Kamu memang belum dewasa, secara usia, tapi kamu udah punya penghasilan sendiri. Toko sembako kamu lumayan ‘kan penghasilannya?”
“Ya, toko sembako jarang sepi,” balas Zafran.
Sebelah tangan Herman kini terangkat, pria paruh baya itu mencoba untuk memberikan semangat kepada putranya dengan memberikan tepukan di bahu kanan Zafran. “Sabar, itu mungkin sah atu ujian rumah tangga kalian. Tapi kamu sama Vania baik-baik aja ‘kan/”
“Baik, tapi Zafran juga kesel, Yah, Vania lebih berpihak sama Neneknya!”
Ada tawa kecil yang terbit di bibir Herman. “Sabar, kalau kamu udah gak tahan tinggal di sana, kamu dan Vania bisa tinggal di sini.”
“Betul, mending kalian tinggal aja di sini,” timpal Sulis yang baru datang dengan mangkuk berisi masakan di tangannya. Ia sudah sempat menyimak sedikit perbincangan anak dan juga suaminya tadi. Bibirnya langsung menyunggingkan senyuman ke arah Zafran. “Kamu bilang sama istri kamu kalau kamu mau tingga di sini, pasti Vania juga mau. Bilang sama dia kalau istri itu arus nurut sama suami.”
Sebelumnya, Zafran tak pernah memiliki ide untuk pindah rumah ke rumah orang tuanya. Namun, kini ide itu hadir dan langsung membuatnya menyunggingkan senyum senang. Rasanya, akan jauh lebih baik jika ia dan Vania tinggal di sini, tak akan ada Atina yang merecokinya mereka dan tak akan ada Atina yang berusaha untuk menguasai Vania.
“Nanti Zafran coba bicara sama Vania,” pungkas Zafran membalas senyuman yang diberikan oleh ibunya. Semoga saja Vania akan setuju dengan apa yang diinginkannya.