Gangguan Atina

1307 Kata
Tahu jika suaminya sedang tak nyaman berada di rumah, Vania sengaja membawa makan malam untuk Zafran ke dalam kamar. Ia pun tak mau jika Zafran keluar dari kamar, pria itu mungkin saja akan berdebat dengan Atina yang masih menonton televisi bersama Vano. Tak lupa, Vania juga membawa roti coklat yang tadi telah ia buat. Vania sengaja memilih roti dengan isian paling banyak, dan hal tersebut disebabkan karena Vania sangat berharap jika coklat yang ada dalam roti akan memperbaiki suasana hati Zafran yang kini tengah sibuk dengan ponselnya. Setelah mandi pun, Zafran tetap bersikap cuek pada Vania. Bahkan, ketika kini Vania sudah duduk manis di sampingnya. Hal tersebut membuat Vania cemberut. Tangannya dengan lancang menarik ponsel milik suaminya dan langsung ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Vania tak mau jika Zafran terus saja tak mengacuhkan keberadaannya. “Aku udah siapkan makan malam buat kamu loh, ada roti buatan aku juga. Kamu makan dulu ya?” “klu udah makan,” balas Zafran dengan malas. Ia mengalihkan pandangannya dan tak mau menatap ke arah Vania yang kini langsung terlihat sedih. Tak mau jika hubungan mereka terus dingin, Vania pun langsung memeluk tubuh Zafran dengan segenap perasaan yang ia miliki. Tak lupa Vania menyimpan kepalanya di atas d**a bidang suaminya. Untungnya, Zafran pun sama sekali tak menolak apa yang dilakukan oleh Vania. Hanya saja, Zafran pun tak memberikan balasan sama sekali. Pria otot hanya diam saja. Vania mengeratkan pelukannya. “Kamu marahnya sama Nenek aku, kok cueknya juga aku kebagian?” manja Vania, sengaja ingin membuat luluh Zafran. Tak langsung ada balasan yang terdengar, Zafran malah berusaha untuk melepaskan pelukan yang diberikan oleh istrinya. Hingga akhirnya, pelukan pun terlepas,. Zafran malah langsung memilih untuk naik ke tas ranjang, tak peduli jika ponselnya masih ada dalam kuasa sang istri. Vania yang melihat itu, menyimpan ponsel Zafran di atas meja, di antara makanan yang telah ia bawa. Lantas Vania memilih untuk menyusul Zafran, dengan ratib buatannya yang ada di tangan. Tak mau tanggung, Vania langsung duduk di samping tubuh Zafran, ikut masuk ke dalam selimut yang kini membungkus setengah dari tubuh pria itu. Vania mencoba untuk menyunggingkan senyumannya, ia tahu jika suaminya itu tak benar-benar marah padanya. “Aku sengaja loh buat roti ini buat kamu, lihat aja, bentuknya cinta ‘kan? Isi coklatnya juga banyak, pokoknya aku buat ini secara spesial untuk suami aku!” Vania mencoba untuk mencari perhatian. Menunjukkan roti berbentuk hati yang tadi ia bentuk dengan tangannya sendiri. Zafran yang tak tega terus mengacuhkan istrinya pun akhirnya mau menoleh. Ia mengambil roti tersebut untuk menghargai usaha yang telah dilakukan oleh istrinya. Langsung saja Zafran menggigit roti tersebut dengan sebuah gigitan yang sangat besar. Coklat yang lumer di dalamnya langsung memanjakan lidah Zafran. Pria itu menoleh ke arah Vania yang kini tersenyum antusias melihat ke arahnya.  “Enak.” Satu kata yang mana merupakan komentar dari Zafran membuat Vania langsung tersenyum ceria. Wanita itu langsung saja memberikan sebuah pelukan hangat lagi di tubuh Zafran dengan harapan jika kini hubungannya dan Zafran akan membaik kembali. “Kamu pasti tersinggung sama apa yang Nenek bilang ‘kan?” ujar Vania, hendak mencoba untuk membahas permasalahan Atina dengan hati-hati. Zafran hanya menganggukkan kepalanya saja, karena kini mulutnya masih penuh oleh roti dan coklat. Vania pun menghela napas, ia melingkarkan tangannya semakin erat, membuat tubuh keduanya benar-benar merapat. “Aku minta maaf kalau kamu tersinggung sama Nenek, aku harap kamu gak ambil hati ya? Aku janji, aku bakal bagi waktu buat kamu sama Nenek, aku juga gak mungkin biarin Nenek ngerasa kesepian selama di sini.” Permohonan maaf yang disampaikan oleh Vania membuat Zafran menelan dengan cepat roti yang ada di mulutnya. Ia pun sempat menjilati jari-jari tangannya yang dinodai coklat. Setelah selesai, Zafran langsung merangkul bahu istrinya dan membuat tubuh mereka semakin merapat. “Kenapa kamu minta maaf untuk kesalahan yang diperbuat oleh Nenek kamu?” “Aku takut kalau kamu gak betah di rumah, aku gak mau kamu pulang-pulang telat lagi kayak hari ini. Tadi sebelum pulang kamu ke mana?” Vania mendongak, menatap suaminya tepat ada bagian mata. Zafran pun langsung menjawab dengan jujur, “Aku ke rumah Mama aku, makan dulu di sana.” “Pantesan kamu udah kenyang,” balas Vania dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Setidaknya, lebih baik mengetahui jika suaminya pulang ke rumah orang tuanya, daripada Zafran peri keluyuran tanpa tujuan yang jelas. “Aku gak suka sama omongan Nenek kamu, kalimat-kalimat yang dia bicarakan itu seolah-olah menunjukkan kalau dia bukan orang tua!” Vania langsung melepaskan pelukan di antara mereka. Ia menatap suaminya itu dengan serius. “Kamu juga, sebagai anak muda, sebagai cucu menantu bagi Nenek aku, seharusnya kamu bisa bersikap lebih sopan sama dia. Nenek juga tersinggung sama elakkan kamu tadi pagi.” Ada senyum sinis yang terbit di wajah Zafran. Pria muda itu lalu membaringkan tubuhnya dan membelakangi sang istri. Zafran bergumam, “Aku tahu kalau kamu bakal belain Nenek kamu.” Vania mendesah lelah, turut membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Zafran dari belakang. “Bukan maksud aku untuk belain Nenek aku, tapi aku cuma berusaha untuk adil. Kamu juga salah, bukan Nenek aja yang salah. Seharusnya, kalian lebih bisa menghormati satu sama lain, terkhusus kamu yang masih muda!” “Belain aja terus,” kesal Zafran. Vania akhirnya terdiam, memilih untuk menenggelamkan wajahnya di punggung kokoh Zafran, tangannya pun melingkar dengan erat di pinggang Zafran. Walau tak mendapat balasan sama sekali, Vania tetap melakukannya. Kini, ia tengah dilanda sebuah kebingungan. Vania sama sekali tak berusaha untuk menyalahkan Zafran dengan membela Atina—sebagaimana yang disangkakan oleh suaminya. Hanya, Vania pun memang merasa jika suaminya melakukan kesalahan. Andai saja Zafran tak melakukan sesuatu yang menyinggung perasan Atina, maka mungkin hubungan suami dan juga neneknya itu akan jauh lebih baik. Dan Atina, andai saja wanita tua itu bisa menjaga kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, mungkin Zafran pun akan tetap sopan. Rasanya, Vania kini terjebak di tengah. Di mana Atina dan Zafran yang ada di kanan dan juga kirinya mencoba untuk menariknya. Vania tak tahu ia harus berpihak ke mana. Yang satu adalah neneknya, dan yang satu adalah suaminya. Yang Vania inginkan, semuanya berdamai sebagaimana seharusnya. Tok! Tok! Tok! “Vania! Ayok tidur di kamar Nenek lagi!” Teriakan yang sangat nyaring dari Atina membuat Vania secara otomatis langsung membuka matanya kembali. Ia bangkit setelah melepaskan pelukannya pada Zafran. Pun demikian juga dengan Zafran yang langsung bangkit melihat ke arahnya. “Mau tidur sama Nenek kamu lagi?” tanya Zafran dengan nada yang sangat dingin. Vania menggeleng, mengusap wajahnya kasar sebelum kemudian beranjak untuk membuka pintu. Tepat saat pintu terbuka, matanya langsung disuguhi pemandangan Atina yang tersenyum lebar ke arahnya. Tanpa beban, Atina langsung menarik tangan Vania dan berkata, “Ayo, tidur di kamar Nenek lagi. Nenek gak bisa tidur rasanya, kalau ada kamu, Nenek pasti bisa tidur.” “Vania tidur di sini malam ini, dan malam-malam seterusnya,” seru Zafran yang juga sudah bangkit, menarik Vania agar berdiri di sampingnya. Aura permusuhan langsung menyeruak di antara keduanya. Dan Vania, wanita itu hanya diam sembari melihat ke arah Zafran dan juga Atina secara bergantian. Tampak Atina yang langsung melipat tangannya di d**a. “Kalian ‘kan suami istri, bisa tidur bareng kapan aja, sedangkan Nenek? Belum tentu panjang umur dan bisa berkunjung ke sini lagi! Sekarang, Vania tidur sama Nenek!” “Gak bisa, Vania tidur di sini, sama suaminya!” tegas Zafran, hendak menyeret masuk Vania ke dalam. Namun, tingkahnya itu terhenti kala Vania menghentikannya. Wanita itu memegangi gagang pintu untuk menahan tubuhnya dan berujar, “Zafran, malam ini aku tidur lagi sama Nenek ya? Besok aku tidur di sini.” Zafran langsung teridam mendengar pilihan yang diungkap oleh Vania. Pria itu menarik napas dan melepaskan tangan Vania. “Fine, sana, aku mau tidur.” Vania berjalan dengan kaku menghampiri neneknya. Tanpa segan, Zafran langsung menutup pintu kamar dengan sangat kencang. BRAK!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN