Vania, Atina, dan juga Vano baru saja selesai sarapan. Ketiganya kompak bangkit, berbeda dengan Vania yang menuju dapur untuk membawa piring-piring kotor, Atina dan Vano berjalan menuju ruang televisi di mana mereka akan menghabiskan malam bersama sebelum beranjak tidur.
Pukul delapan malam tepat, tak ada tayangan yang begitu menarik yang membuat mereka betah berlama-lama memandang layar televisi. Namun, televisi tetap menyala walau tak ada yang benar-benar memerhatikannya.
“Kamu jangan sampai kayak Zafran kalau suatu saat nanti kamu udah nikah. Liat sendiri ‘kan tadi gimana tingkah dia sama Nenek? Itu gak baik, kamu mau kalau pernikahan kamu gak langgeng?!” Atina mengomel, membuat Vano yang tadi hendak memainkan ponsel akhirnya mengurungkan niat.
Vano menghela napas, menyunggingkan senyumannya ke arah Atina. “Iya, Nek.”
Dalam hati, ia sangat memahami bagaimana perasaan Zafran. Mungkin karena mereka sama-sama seorang ria, sehingga sangat mudah bagi Vano untuk membayangkan jika ia berada di posisi yang sama seperti adik iparnya. Pasti Zafran merasa tak nyaman dengan segala kalimat yang sering kali terlontar dari mulut Atina.
Apalagi, Vano juga menyadari jika belakangan ini Atina menuntut Vania untuk selalu berada di dekatnya. Pasti Zafran merasa jika waktunya bersama Vania berkurang banyak, dan hal tersebut bisa menimbulkan kecemburuan di hatinya walau bukan kepada seorang pria.
“Sekarang dia belum pulang?” tanya Atina, belum melihat kedatangan cucu menantunya tersebut.
“Iya, Nek, belum pulang kayaknya.”
“Padahal tokonya pasti udah tutup ‘kan?”
Vano langsung menganggukkan kepalanya. Memang sudah malam, tidak mungkin jika toko milik adik iparnya masih buka. Tidak akan ada pengunjung yang berkunjung di jam seperti ini.
Atina langsung menghembuskan napas kasar. Wanita tua itu melipat tangannya di d**a sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Mimik wajahnya tampak tak bersahabat, dan Vano sangat tahu jika mimik wajah itu ditujukan untuk Zafran yang saat ini raganya tidak ada.
“Pasti dia lagi kelayapan! Padahal Nenek itu mau kalau Vania nikah sama lak-laki yang udah matang, punya pemikiran yang dewasa dan juga mapan! Bukan bocah kencur macam Zafran! Udah gitu gak sopan lagi!” tutur Atina dengan bibirnya yang komat-kamit.
Ia kesal pada cucu menantunya yang tadi pagi berani membantahnya. Apalagi sekarang Zafran belum pulang, Atina jadi curiga jika pria muda itu sengaja tak pulang untuk menghindarinya. Hal tersebut sangat kekanak-kanakan di mata Atina. Ia jadi semakin merasa tak suka saja pada suami dari cucu perempuannya tersebut.
Tak lama datanglah Vania yang berjalan sambil memegangi ponsel. Mimik wajah yang ditunjukkan oleh wanita cantik itu membuat semua orang yang melihatnya akan tahu jika ia tengah dirundung gelisah.
Tak perlu bertanya akan apa penyebabnya, karena baik Vano ataupun Atina, keduanya sudah tahu jika Zafran adalah penyebabnya. Tak ada yang bisa membuat Vania khawatir seperti saat ini selain Zafran.
“Udah, palingan juga suami kamu lagi kelayapan, atau mungkin ke rumah orang tuanya cari perlindungan. Dia gak akan mau pulang, pasti mau hindari Nenek!” ujar Atina.
Kalimat yang dilontarkan olehnya membuat Vania langsung mendongak. Wanita itu menurunkan ponsel yang ada di tangannya dan memasukkannya ke dalam saku pakaian tidur yang ia kenakan.
Vania langsung mendudukkan tubuhnya di samping Atina, tetapi matanya menatap ke arah televisi tanpa minat. Benar, Vania memang tengah memikirkan Zafran yang tak kunjung pulang dan tak kunjung memberi kabar sejak pagi.
Vania khawatir jika suaminya merasa marah pada Atina yang mana akan membuat pria itu enggan pulang. Vania tak mau jika hubungannya dan Zafran merenggang. Ia ingin semuanya baik-baik saja. Dan jika Zafran memilih menghindar dari Atina—sebagaimana yang wanita itu ucapkan, Vania yakin jika permasalahan yang ada di antara mereka bisa semakin besar dan tak kunjung selesai.
Berulang kali Vania menarik napas kasar, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan kembali mengeluarkan ponselnya yang tak kunjung berdering. Kegelisahan yang ada di wajahnya tampak sangat nyata, bahkan Vano sampai memerhatikan adiknya tersebut lebih intens dari biasanya.
“Udah coba ditelepon?” tanya Vano, mengangkat sebelah alisnya.
Kepala Vania langsung menoleh ke arah sang Kakak. Lantas ia mengangguk untuk memberikan jawaban iya atas apa yang dipertanyakan oleh Vano. Memang, sudah berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Zafran, tetapi suaminya itu tak kunjung membalas ataupun mengangkat panggilannya yang terhubung.
“Suami kamu itu masih kekanak-kanakan, harusnya kamu lebih pintar lagi kalau pilih suami, cari yang udah dewasa, mapan, dan juga bijak. Zafran itu asih terlalu muda, belum pantas buat berumah tangga.”
Kalimat yang dilontarkan oleh Atina membuat kening Vania mengerut. Wanita itu sangat tidak setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Atina. Baginya, Zafran adalah jodoh paling baik yang mana kehadirannya sangat Vania syukuri.
Lagi pula, manusia memang bisa membuat berbagai macam kriteria pasangan yang diinginkan. Namun, tetap saja pada akhirnya pilihan Tuhan yang akan hadir. Dan ketika seseorang itu hadir, tak akan ada yang bisa menolaknya karena takdir sendiri yang telah mengikat.
Vania berujar, “Nek, Zafran itu pilihan Allah, untuk aku. Dan aku yakin jika Allah gak akan salah memilih. Jika pun ke depannya kita gak sama-sama sampai maut, itu memang udah jalan yang harus dilewati.”
Kontan saja kalimat yang dilontarkan oleh Vania membuat Atina berdecak kesal. Wanita tua itu hendak mengeluarkan kalimatnya kembali. Namun, niat itu urung ketika ada seseorang yang sejak tadi menjadi topik hangat di antara mereka.
Ya, Zafran pulang. Dengan langah gontainya ia melewati semua orang yang ada di ruang televisi tanpa niat berhenti. Bahkan, menoleh saja tidak. Vania yang melihat hal itu langsung bangkit untuk menyusul kepergian suaminya.
“Gak tahu sopan santun! Saya jadi curiga kalau semasa sekolah dia gak benar-benar sekolah!” Atina menyindir dengan sangat keras. Matanya menatap tajam punggung Zafran yang sama sekali tak berhenti.
Vania yang mendengar hal itu hanya menghela napas, ia tak peduli dan tetap mencoba untuk menyusul kepergian suaminya.
Tangan Vania bergerak dengan cepat menutup pintu kamar ketika ia telah masuk. Tubuhnya langsung berbalik, ia menyunggingkan senyum ke arah Zafran yang enggan untuk menatapnya. “Kamu kok baru pulang?”
“Males pulang!” balas Zafran, membuka pakaian yang menutup tubuh bagian atasnya. Pria itu tampak tak acuh akan kehadiran istrinya yang kini terus berjalan mendekatinya. Bahkan Zafran langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi ketika Vania sudah semakin dekat.
Vania sampai harus menahan napas melihat sikap dingin yang ditunjukkan oleh suaminya.