Usai Perdebatan

1025 Kata
Zafran merenung, keningnya mengerut dengan mimik wajah yang lebih cocok untuk dikatakan masam. Padahal, kini ia tengah melayani seorang pembeli yang belanja di toko sembako miliknya. Zafran tak bisa mengalihkan pemikirannya dari kejadian tadi pagi di mana ia sempat berdebat dengan Atina. Wanita itu menilainya tak sopan. Namun, Zafran pun memiliki penilaian yang sama pada wanita tua itu. Zafran tak suka Atina yang tampak mencoba untuk mengusai Vania. Apalagi istrinya itu yang kini jauh terlihat berpihak pada neneknya daripada kepada suaminya sendiri. “Zafran? Jadi totalnya berapa?” Kontan saja pertanyaan yang disampaikan oleh seorang pembeli langganannya membuat Zafran langsung terkesiap. Pria itu tampak mengedipkan matanya beberapa kali sebelum kemudian menarik napas dalam. “Maaf, bentar, saya hitung dulu,” balas Zafran dengan cepat. Wanita cantik yang ada di hadapannya hanya tersenyum saja untuk menanggapi. Ia adalah Ayu, janda muda beranak satu yang menjadi langganan di toko Zafran. Wanita itu membuka warung di rumahnya, dan Ayu selalu memenuhi warungnya dengan produk-produk yang ia beli di toko milik Zafran. “Kayaknya lagi banyak pikiran ya?” Ayu berujar dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Tak biasanya Zafran melamun saat sedang melayani seorang pembeli seperti saat ini. Ayu sudah lama memerhatikan pria itu, dan sejauh penglihatannya selama ini, Zafran adalah sosok pekerja keras yang selalu serius untuk mengerjakan segala sesuatu. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayu pun membuat Zafran mengangkat tatapannya, mengalihkan pandangannya dari kalkulator yang tengah digunakannya untuk menghitung. Dengan singkat Zafran menjawab, “Enggak.” Meski Zafran memberi jawaban yang seperti itu, Ayu sangat tahu jika pria itu tengah dirundung masalah. Hal tersebut terbukti dengan mimik wajah tak ramah yang ditunjukkan olehnya. “Keliatan lagi ada masalah. Ada masalah sama istri ya?” tebak Ayu. Ia memang tahu jika Zafran telah menikah belum lama ini. Dan ini sempat membuatnya sangat terkejut. “Totalnya seratus tiga ribu,” ujar Zafran, lebih memilih untuk menyebutkan total belanjaan yang dibeli oleh Ayu daripada menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita itu. Urusan rumah tangganya tak seharusnya ia katakan pada orang lain. Apalagi pada orang asing yang kebetulan sering belanja di tokonya. Ayu langsung mengeluarkan sejumlah uang pas, ia tersenyum dan kemudian mengambil belanjaannya yang menghabiskan satu kantung plastik merah besar. “Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu ya,” Zafran hanya bergumam seraya menganggukkan kepalanya. Lantas ia berbalik dan menghampiri Arbani yang tengah menuliskan barang-barang yang sudah berkurang banyak. Tampak Arbani yang awalnya serius langsung menyimpan buku yang dipegangnya. Pria yang berusia lebih uda dari Zafran itu langsung mendekati bosnya. “Kenapa, Bos?” Sepertinya wajah masam yang ditunjukkan oleh Zafran memang terlalu kentara, hingga semua orang bisa menyadari keadaan hatinya. Zafran tak langsung menjawab, ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas berat. “Biasa, ada masalah sedikit.” “Sama Vania?” tebak Arbani. Gelengan kepala Zafran berikan sebagai jawaban. Memang bukan masalah yang melibatkan istrinya, melainkan neneknya. Walau hal itu pun cukup berpengaruh pada hubungan Zafran dan Vania. Namun, sejauh ini hubungannya masih bisa dikatakan baik-baik saja. Arbani yang mengerti bagaimana suasana hati majikannya tersebut pun dengan segera duduk di samping Zafran. Tangannya menepuk bahu Zafran dengan pelan, seolah tengah memberi semangat. Zafran yang mendapat perlakukan dari bocah sok dewasa di sampingnya hanya mendengus kesal. “Kok istri lo gak datang lagi ya ke sini?” “Kenapa emangnya?” tanya Zafran dengan nada yang sangat sewot. Bahkan matanya langsung memicing melihat e arah anak buahnya tersebut. Respons yang diberikan oleh Zafran membuat Arbani langsung berdecak kesal. “Ya tanya aja, cemburuan banget sih!” 0o0o0o0o0 Di rumahnya, Vania tak bisa benar-benar merasakan ketenangan. Walau tangannya tengah disibukkan oleh adonan roti, nyatanya pikirannya justru melanglang buana pada suaminya. Vania masih ingat dengan jelas mimik wajah yang ditunjukkan oleh suaminya ketika berangkat tadi. Wajah pria itu tapak sangat masam, dan hal tersebut sangat mengganggu perasaan Vania hingga saat ini.  Semuanya berasal dari Zafran yang berani menimpali kalimat yang disampaikan oleh Atina. Hal tersebut membuat dua manusia berbeda generasi itu terlibat dalam sedikit perdebatan yang mana pada akhirnya membuat mereka sama-sama kesal. “Kamu mau pakai isi coklat atau apa?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Atina berhasil membuat Vania langsung tersentak kaget.  Wanita muda itu mengalihkan pandangannya pada isian roti yang ditawarkan oleh neneknya. Dengan senang hati ia langsung menunjuk coklat, makanan yang katanya bisa memperbaiki suasana hati seseorang. Niatnya, Vania akan memberikannya pada Zafran ketika suaminya itu pulang nanti. Pasti Zafran akan senang bila bisa memakan roti buatan istrinya sendiri. Dan Vania sangat yakin jika rasanya pun tak akan mengecewakan. “Aku coklat aja, Nek, mau pakai coklat yang banyak.” “Ya udah, kalau gitu Nenek pakai isian selai stroberi aja,” balas Atina yang langsung kembali sibuk dengan kegiatannya, membentuk roti-roti yang nanti akan dipanggangnya. “Suami kamu itu gak sopan, padahal kalian masih pasangan baru ‘kan? Belum juga satu tahun menikah, tapi dia udah berani bertingkah kayak gitu sama Nenek,” omel Atina sembari terus menggerakkan tangannya membentuk bulatan roti.  Wajahnya menunjukkan mimik wajah yang tak suka. Jika boleh jujur, ia memang kurang menyukai Zafran sejak pertama kali melihat pria muda itu. Hanya saja, statusnya sebagai suami dari cucu perempuannya membuat ia mencoba untuk menerima kehadiran Zafran sebagai anggota keluarganya. Namun, apa yang dilakukan oleh Zafran tadi cukup mengaduk emosinya dan membuat ia merasa wajar tak menyukai pria itu. Zafran berani bertindak tak sopan padanya. Vania yang mendengar keluhan mengenai suainya hanya diam. Ia menghela napas dalam. Sepertinya ia harus berbicara dengan cara baik-baik kepada Zafran nanti. Vania harus meminta agar Zafran bersikap lebih sopan lagi pada Neneknya. Bagaimana pun juga, Atina itu berusia jauh lebih tua dari Zafran. Apalagi karena orang tua Vania yang sudah tidak ada, Atina tak ubah layaknya mertua bagi Zafran. Seharusnya, Zafran bisa menghargai Atina dengan sangat baik.  Kini Vania menyimpan adonan roti miliknya, ia membalikkan tubuhnya untuk mengambil coklat yang tadi telah ditunjukkannya. Apa yang dilakukannya tak luput dari perhatian Atina yang kini memilih untuk menghentikan kegiatannya. Wanita tua itu maju dan mendekat ke arah cucunya. Ia berkata, “Kamu harus kasih tahu suami kamu supaya dia belajar sopan sama Nenek. Dia harus ingat kalau istrinya itu cucu Nenek. Kalau Nenek mau, Nenek bisa pisahin kalian!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN