Vania menyelimuti tubuh suaminya dengan hati-hati, sedangkan ia sendiri memilih untuk bangkit. Malam ini, Atina memintanya untuk menemani wanita tua itu terlelap, katanya, Atina rindu berbaring di atas kasur yang sama dengan cucunya.
Namun, baru saja ia akan beranjak pergi, tangannya langsung ditahan oleh seseorang tak lain adalah Zafran yang kembali membuka matanya. Hal tersebut membuat Vania langsung menghela napas seraya menyunggingkan senyum tipis.
Tadi, saat Vania meminta izin untuk menginap di kamar tamu bersama neneknya, Zafran memang menolaknya dan mengakan jika pria itu tak mau tidur sendirian. Hal tersebutlah yang membuat Vania menunggu suaminya itu terlelap dengan nyenyak. Namun ternyata, usahanya masih sia-sia juga.
“Mau ke mana?” tanya Zafran dengan suara yang sangat parau. Pria itu menyipitkan matanya karena matanya yang tak bisa terbuka dengan benar. Sebelum Vania melontarkan jawaban, Zafran sudah lebih dulu menarik tubuh Vania agar segera berbaring dan memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat.
Vania pun menghela napas kasar, ia membalas pelukan suaminya. Tetapi wajahnya tampak cemberut. “Aku kan udah bilang kalau aku mau nginep di kamar nenek malam ini!”
Nada yang digunakan oleh Vania terdengar sepeti sebuah gerutuan. Hal itu membuat Zafran langsung tersenyum. Bukannya melepaskan pelukannya, Zafran justru semakin memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat.
“Kamu tidur aja di sini, kamu kan udah punya suami. Nenek kamu juga pasti ngerti!” balas Zafran, kembali memejamkan matanya dan berharap jika mimpi akan segera tiba.
Vania terdiam, ia menatap ke arah Zafran dengan saksama. Setelah menyadari jika tak ada tanda-tanda bahwa Zafran akan melepaskan pelukannya, Vania pun langsung mendorong tubuh pria muda tersebut dan membuat jarak di antara mereka. Dengan kesal Vania langsung bangkit dan berdiri di samping ranjang.
“Alu cuman mau temenin Nenek malam ini, kasian tadi dia ajak aku. Pasti sekarang Nenek lagi nungguin aku buat datang ke kamar dia, Nenek juga minta dipijit, katanya punggungnya lagi sakit. Masa kamu mau tega sih?” cecar Vania pada akhirnya. Ia takut jika Atina akan kecewa padanya jika ia tak datang. Daripada mencari masalah, lebih baik baginya segera datang ke kamar wanita yang telah menjadi neneknya itu sekarang juga.
Zafran menghela napas kasar. Pria itu langsung mengusap wajahnya sembari membalikkan tubuh. “Ya udah, sana!”
Dalam hati ia menahan kesal. Sebagai orang tua, seharusnya Atina bisa menempatkan dirinya sebagai tamu di sini. Tidak seharusnya wanita tua itu meminta Vania untuk terus menemaninya. Bukan tanpa alasan Zafran merasa kesal, sudah beberapa hari belakangan ini Vania jauh lebih memilih untuk bersama neneknya daripada bersama Zafran.
Bahkan, sejak pagi sebelum Zafran membuka mata, Vania sudah akan menemani neneknya tersebut. Lama-lama, Zafran jadi merasa jika wanita tua itu tengah mencoba untuk memisahkan mereka.
0o0o0o0o0
Zafran mengucek matanya di pagi hari. Ia baru saja bangun, cukup terlambat karena tak ada yang membangunkannya. Ditambah, semalam ia tidak terlelap dengan cukup nyenyak karena tak ada Vania di sampingnya. Mungkin, karena sudah mulai terbiasa tidur di tempat yang sama dengan istrinya, Zafran jadi merasa ada yang janggal dan juga kosong ketika ranjang di sampingnya kosong tak berpenghuni.
Helaan napas panjang terdengar, Zafran mengusap wajah dan langsung bangkit. Sepertinya Vania masih berada di kamar yang ditempati oleh Atina, hal tersebut membuat Zafran sempat mengumpat dalam hati. Jujur saja, Zafran mulai merasa kesal. Kini, ia merasa jika Atina tengah berusaha untuk menguasai Vania.
Ceklek!
Pintu terbuka dengan perlahan, menampilkan Vania yang langsung masuk dan menyunggingkan senyum yang sangat manis, senyum yang ia persembahkan untuk suaminya. Namun, senyuman itu sama sekali tak berbalas.
Zafran memilih untuk mengalihkan pandangannya sembari berdecak kesal. Wajahnya tampak masam, sesekali Zafran mendengus kesal.
Vania yang menyaksikan hal tersebut pun langsung merasa maklum. Ia melangkah mendekati suaminya dan duduk di bibir ranjang. Tangannya secara otomatis bergerak untuk mengusap lengan terbuka suaminya, sama sekali tidak tertutup oleh kain apa pun.
“Pagi-pagi kok cemberut gitu sih?” tanya Vania, sengaja mencolek dagu sang suami agar pria muda itu mau tersenyum.
Namun, Zafran langsung menepisnya. Ia beranjak menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan cukup kencang. Yang Vania lakukan hanya tersenyum. Ia bangkit dan memilih untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya.
Setelah itu, Vania pun merapikan kasur. Barulah ia duduk untuk menunggu suaminya. Hingga beberapa menit kemudian, Zafran kembali keluar dengan tubuhnya yang basah. Tampak handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya saja.
Lagi, Zafran masih menunjukkan mimik wajah yang sangat masam. Bahkan, pria itu mengambil pakaian lain—tidak mau memakai pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya.
Melihat hal tersebut, Vania pun langsung bangkit, berlari, dan kemudian menghadang jalan yang akan dilewati oleh pria yang telah sah menjadi suaminya. Ia berkata, “Mau ke mana?
“”Kamar mandi.”
“Kenapa kamu ambil baju lagi? Kan aku udah siapin baju buat kamu!” pekik Vania, ia menyilang tangannya di d**a dan menunjukkan mimik wajah yang sangat kesal.
Vania menghembuskan napas kasar. “kan aku udah siapin baju buat kamu, harusnya kamu hargai aku dong! Bukannya ambil baju lagi!”
Akhirnya, Zafran pun memutar tubuhnya kembali. Ia menyimpan pakaian yang telah diambilnya ke dalam lemari. Lantas tangannya dengan segera mengambil pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya. Barulah setelah itu Vania kembali menyunggingkan senyumnya dan memilih untuk menunggu Zafran tepat di depan pintu.
Perlu waktu sekitar lima menit untuk membuat Zafran kembali keluar dari kamar mandi. Kini, pria itu sudah tampak siap dengan pakaian yang dikenakannya.
Zafran masih bersikap tak acuh dengan melewati sang istri begitu saja, tanpa mau menoleh sedikit pun.
Vania tahu, suaminya itu pasti merasa marah karena ia yang jauh lebih memilih untuk tidur bersama Atina. Hanya saja, Vania memang melakukan hal tersebut mengingat jika mereka memang tidur bersama setiap malam. Sedangkan bersama Atina? Baru kali ini, dan bahkan Vania tak yakin jika mereka akan memiliki kesempatan yang sama lagi mengingat jika Atina yang tak lama lagi akan kembali ke rumahnya.
Tangan Vania langsung melingkar di lengan suaminya, ia pun menyimpan dagunya di atas bahu kiri Zafran. Keduanya berdiri di hadapan cermin yang membuat mereka bisa memandangi satu sama lain.
“Kamu marah ya karena aku semala tidur sama Nenek?” tanya Vania, walau ia sudah sangat tahu jika memang itulah alasan yang membuat Zafran bersikap tak acuh padanya pagi ini.
“Hemm.” Zafran hanya bergumam singkat, ia meraih sisir dan menyisir rambutnya tanpa merasa terganggu akan seseorang yang bergelayut manja di lengan kirinya.
Vania menarik napas panjang sembari menyunggingkan senyum manisnya. “Kan kamu tahu kalau aku jarang-jarang tidur sama Nenek. Kalau nanti Nenek udah pulang, belum tentu aku bisa ketemu sama dia lagi!”
“Iya tahu, ya udah.” Zafran membalas dengan cuek, ia melangkah, membuat tubuh Vania ikut dalam pergerakannya.
“Gak marah lagi?”
Zafran akhirnya mau menoleh ke arah Vania. Ia menangkup kedua pipi istrinya dengan perasaan sayang. Memang masih ada perasaan kesal alam dirinya, hanya saja Zafran tahu jika masalah sepele seperti semalam tak selayaknya membuat jarak di antara mereka.
“Enggak, kok. Aku cuman ngerasa kalau Nenek kamu itu kayak gak seneng kalau liat kita sama-sama. Gak tahu kenapa, aku ngerasa kalau dia itu kayak coba buat misahin kita.”
Kejujuran yang dilontarkan oleh Zafran membuat Vania langsung mengerutkan keningnya. Benarkah hal itu yang dirasakan oleh Zafran?
Atina memang sering mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Zafran. Hanya saja, Vania tidak pernah berpikir ke arah sana.
Wanita muda itu pun mencoba untuk menyunggingkan senyumannya. Ia menarik tangan Zafran dan menuntun suaminya itu untuk ke luar dari kamar. Mereka harus segera turun dan sarapan bersama Atina dan Vano yang mungkin saja sudah menunggu.
“Kamu gak boleh berpiklir seperti itu! Mana mungkin Nenek aku mau misahin kita? Mungkin itu cuman perasan kamu aja saking gak maunya jauh sama aku!” Vania tersipu di akhir kalimatnya. Ia menutup mulutnya dengan pipi yang memanas.
Zafran memilih untuk tidak memberikan respons yang berarti. Keduanya melangkah dalam diam hingga akhirnya mereka sampai di ruang makan. Tampak Atina yang sudah duudk di sana menunjukkan mimik wajah yang tak begitu bersahabat. Matanya melirik sinis pada lengan Zafran yang dilingkari oleh lengan milik Vania.
Dan Zafran sangat menyadai hal itu.
Sedangkan Vano yang juga sudah berada di sana hanya menyambut kedatangan mereka dengan santai, seperti biasanya.
“Selamat pagi semua!” sapa Vania dengan ceria. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Vano. Pun demikian dengan Zafran yang langsung duudk di tempatnya.
“Pagi, kok lama banget?” balas Atina.
Zafran langsung menoleh ke arah Vania dan memberikan tatapan yang bermakna.
Vania yang mengerti akan maksud dari Zafran pun hanya tersenyum, ia tahu jika kini Zafran merasa bahwa apa yang tadi dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
“Maaf, Nek, tadi aku tungguin Zafran mandi dulu.”
Decakan kesal terdengar dari mulut Atina. “Suami kamu itu kan bukan bayi, ngapain juga kamu tunggui dia?”
“Nek, aku ini suami dari Vania. Wajar kalau dia urusin aku atau tungguin aku.” Zafran berujar dengan kesal, bahkan ia menunjukkan mimik wajah yang sangat masam.
Hal tersebut membuat Atina langsung memicingkan matanya. “Berani kamu, ya, gak sopan sama Nenek?!”