Cuma Martabak?

1051 Kata
“Kok Cuma bawa martabak aja?” Itu adalah sambutan yang diberikan oleh Atina ketika Zafran baru saja masuk ke dalam rumah. Pria muda yang merasakan lelah di tubuhnya itu langsung memelankan langah kakinya saat menyadari ada sosok nenek dari istrinya yang kini menatapnya dengan penuh intimidasi dari ruang utama.  Zafran menelan ludahnya dan mencoba untuk bersikap bisa menghadapi wanita tua yang terlihat tak begitu menyukainya tersebut. Ia menarik napas dan menyalami tangan Atina setelah menyimpan martabak yang ia bawa ke meja. “Sore, Nek. Nenek ga suka martabak? Nenek maunya apa biar nanti aku yang beliin,” tawar Zafran dengan senyum yang ia paksakan terbit di bibirnya. Sikap manis yang ditunjukkan oleh cucu menantunya tak membuat Atina luluh. Wanita tua itu justru mendengus kasar sembari melipat tangannya di d**a. “Seharusnya kamu tanya itu sebelum bawa martabak ini, main bawa-bawa aja. Kenapa cuma martabak aj? Jangan-jangan kamu cuman keluyuran gak jelas ya dan martabak ini cuman alasan kamu aja? Mana ada beli martabak lamanya sampai satu jam begini? Harusnya kamu pulang sama Vania ‘kan? Vania udah ada di rumah sejak satu jam yang lalu!” Zafran menarik napas dalam untuk memuaskan sabarnya tas ucapan nenek dari istrinya tersebut yang menuduhnya. Sepertinya perasaannya yang mengatakan bahwa Atina tak menyukainya adalah benar. Wanita itu sepertinya menyimpan pemikiran buruknya tersendiri akan dirinya. Jujur saja Zafran merasa tersinggung, tetapi ia tak bisa menunjukkannya dengan gamblang. Perlahan Zafran menjawab, “Ya enggak, Nek. Aku baru pulang kerja kan capek, masa aku keluyuran gak jelas.” Zafran mengelak, Atina langsung mendelik. “Pokoknya jangan sampai kamu berani sakitin Vania! Kalau kamu sampai sakiti dia maka kamu harus pisah sama dia dan Nenek sendiri yang bakal pastikan itu!” tegas Atina menatap tajam ke arah Zafran. Sempat terdiam beberapa saat, akhirnya Zafran pun menganggukkan kepalanya. Ia menarik napas lam dan berkata, “Nenek tenang aja, Zafran gak akan pernah sakiti Vania.” “Baguslah kalau begitu,” balas Atina dengan singkat, kini tangannya yang keriput bergerak untuk membuka bungkus martabak yang dibawa oleh Zafran. Ia pun mengambil satu potongan besar yang langsung digigitnya. Zafran yang melihat hal tersebut menggerutu tak jelas, ia kesal mengapa tadi Atia mempermasalahkan soal martabak padahal ternyata wanita tua itu juga menyukainya. Merasa tak nyaman jika ia menemani Atina di ruang utama, akhirnya Zafran pun melangahkan kakinya meninggalkan Atina. Ia lebih memilih untuk menuju kamarnya daripada terjebak dengan sosok Atina yang selalu mencari mencari-cari kesalahannya. “Pergi kok gak ada pamit gak sopan banget kamu, Nak!” Baru tujuh langkah yang Zafran ambil, pria muda nan tampan tersebut harus berhenti dan berbalik kembali menuju ruang utama dan membungkukkan tubuhnya. “Maaf, Nek. Kalau gitu Zafran izin pergi mau ke kamar.” Atina sempat mendelik sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Zafran harus menekan egonya jika ia dihadapkan dengan wanita tua seperti Atina. Akhirnya, Zafran pun melangahkan kakinya kembali menuju kamarnya dan kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Zafran tak mau jika ia terus bersama Atina, mungkin tadi ia bisa sabar tetapi Zafran tidak bisa menjamin berapa lama kesabarannya akan bertahan. Beruntung tak membutuhkan waktu yang lama bagi Zafran untuk sampai di kamar istrinya, tangannya dengan cepat bergerak membuka pintu yang mana hal tersebut mengagetkan Vania yang ternyata terlelap di atas sofa. Tampak wanita itu memaksa agar kedua matanya terbuka dan langsung bangkit menghampiri Zafran dengan wajahnya yang terlihat sangat linglung. “Ada apa?” tanya Vania, sedikit nada panil terselip karena nyawanya yang belum terkumpul sempurna. Zafran yang melihat hal tersebut pun menyunggingkan senyumannya arena merasa gemas melihat bagaimana keadaan istrinya yang menurutnya sanggat menggemaskan. “Gak ada apa-apa. Kamu udah mandi belum?” Pria muda tersebut bertanya sambil mendekatkan hidungnya ke rambut Vania yang ternyata sangat wangi dan juga sedikit basah, yang mana hal tersebut bisa langsung menjawab pertanyaannya. “Udah dong, tadi baku ketiduran aja!” balas Vania seraya mengucek matanya. Lantas ia tersenyum dengan sanat lebarnya setelah merasa jika kesadarannya benar-benar terkumpul. Vania memeluk suaminya tersebut dan bermanja ria pada tubuh hangat yang selalu ia rindukan tersebut. Vania terlalu mencintai Zafran yang membuatnya tak pernah merasa cukup atas kebersamaan yang tercipta di antara mereka. Zafran sendiri tak merasa keberatan, ia justru tertawa ringan seraya membalas pelukan istrinya yang juga tak pernah ia lupakan keberadaannya. “Udah sana, aku mandi dulu. Aku bawa martabak, kamu kalau mau makan gih bareng sama Nenek di ruang tamu.” “Nenek masih ada di ruang utama?” tanya Vania, melepaskan pelukannya pada sang suami dan kini menatap ke arah Zafran dengan khawatir. “Dia gak ngomong yang macam-macam ya sama kamu?” Zafran menggeleng sambil menyunggingkan senyuman secara singkat. ‘Enggak kok, cuman ... nuduh kalau aku sebenarnya keluyuran dan protes kenapa aku Cuma bawa martabak aja walau akhirnya dia tetep makan martabaknya.” Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya, Vania langsung menipiskan bibirnya seraya menatap tak enak kepada Zafran. Ia sangat takut jika Zafran akan tersinggung akan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh mulut tua Atina. Mungkin Vania bisa bertahan dengan sosok Atina karena ia merupakan cucu andung wanita tersebut, tetapi Zafran berbeda. “Kamu gak apa-apa ‘kan? Maaf ya kalau kamu tersinggung, kamu harus ngerti kalau orang tua emang ada yang suka gitu,” ujar Vania dengan mimik wajahnya benar-benar menunjukkan perasaan sungkan. Melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh istrinya, Zafran pun langsung menangkup wajah Vania seraya memberikan sebuah senyuman yang menenangkan. “Iya, aku ngerti jadi kamu gak usah khawatir. Sekarang aku mau andi dulu!” Zafran sempat mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih sayang sebelum ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan Vania, ia bernapas lega seraya berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian yang cocok digunakan oleh suaminya. Vania selalu senang untuk melakukan tugasnya yang satu ini, maka dari itu ia selalu melakukannya dengan sebuah senyuman yang tak luntur dari wajahnya. Setelah selesai menyiapkan pakaian, Vania langsung beranjak ke luar kamar karena ia merasa jika dirinya harus menemani Atina. Vania merasa sedikit bersalah karena telah dengan sengaja meninggalkan Atina di rumah tadi. Ia tidak mau jika neneknya tersebut merasa kesepian lagi di rumah ini. Atina benar, bahwa mereka harus banyak menghabiskan waktu bersama selama Atina asih berada di sini. Karena ketika Atina pulang ke rumahnya lagi, maka akan sulit bagi mereka untuk sering berjumpa nantinya. Bahkan Vania rela jika a harus mengurangi sedikit waktunya bersama Zafran agar ia bisa bersama Atina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN