Vania memutuskan untuk pergi menuju toko sembako suaminya karena ia merasa bosan jika waktunya hanya dihasilkan bersama Atina yang terus saja mengomel dan mengomentari segala hal yang Vania lalukan sejak pagi.. hampir saja kepalanya pecah jika Vania tetap bertahan di dalam rumahnya.
Untungnya, neneknya tersebut tidak minta untuk ikut berkunjung ke toko Zafran. Jika saja Atia ikut, maka Vania yakin jika omelannya kan berlanjut ke toko.
Vania kini sudah sampai di toko sembako, ia tersebut senang kala melihat jika toko milik suainya sangat ramai diunjungi banyak pengunjung. Sepertinya karena sembako merupakan makanan pokok, jadi toko suminya sangat jarang sepi. Vania pun masuk, ia melihat Zafran yang tengah menurunkan dus yang berisi tepung terigu. Lantas tatapannya beralih pada sosok Arbani yang tengah melayani seorang pembeli.
Atas inisiatifnya, Vania pun lebih memilih untuk menghampiri Arbani yang tengah menarikan tangannya di atas kalkulator.
“Eh—Vania, kirain siapa,” ujar Arbani singkat, ia kembali fous pada apa yang tengah dikerjakannya.
“Lo bantu Zafran aja sana, biar gue yang urus ini,” tutur Vania, mengambil alih alat hitung di tangan Arbani. Pria tersebut tak membantah, ia langsung pergi menuju Zafran. Vania sendiri dengan senyum ramahnya melanjutkan pekerjaan Arbai yang sedang menghitung total belanjaan salah seorang wanita tua.
“Istrinya Arbani ya, Mbak?” tanya pembeli yang tengah Vania hitung belanjaannya.
Vania pun langsung mengangkat tatapannya dan tersenyum. “Bukan, saya istrinya Zafran,’ balasnya.
Wanita tersebut langsung menganggukkan kepalanya. Vania kembali menghitung belanjaan wanita tersebut berdasarkan kertas yang ada di samping kalkulator. “Udah aja Bu belanjanya?”
“Iya, udah uja.”
“Totalnya tiga ratus ribu pas ya, Bu.” Vania menunjukkan kalkulator ke arah wanita tersebut untuk menunjukkan hasil dari penjumlahan yang dilakukannya. Wanita tersebut pun tapaknya suah memperkirakan jumlah belanjaannya hingga ia langsung memberikan uang sejumlah tiga ratus ribu tanpa perlu mengeluarkannya dari dompet terlebih dahulu.
“Makasih,” ujar Vania dengan sangat ramah. Ia menganggukkan kepalanya ketika wanita tadi pergi meninggalkannya. Vania langsung menyimpan uang yang ia terima ke dalam laci. Lantas memutar tubuhnya dan melihat Zafran yang tengah memerhatikannya sembari tersenyum
Jelas saja Vania langsung membalas senyum arah suaminya, ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Zafran menyalami tangan suaminya tersebut.
‘Kok ke sini?” tanya Zafran, mengusap lembut punca kepala istrinya padahal telapak tangannya tak bersih dari tepung. Vania pun tak mempermasalahkan hal tersebut dan hanya mengusap rambutnya beberapa kali.
“Emangnya aku gak boleh ke sini?” Vania menatap a suka ke arah suaminya tersebut, mengira jika pria yang telah menikahinya tersebut tak suka bila ia datang ke sini.
Zafran tertawa, dengan sengaja ia mengusapkan tangannya yang kotor oleh tepung untuk mengelus pipi istrinya tersebut hingga meninggalkan noda putih. “Ya boleh, tapi berati kamu tinggalin Nenek sendiri di rumah?”
Vania mengusap pipinya dan menganggukkan kepalanya singkat. “Iya, kamu cuci tangan dulu sana ih!” ketus Vania, melangkahkan kakinya menjauhi Zafran dan memilih untuk duduk di kursi.
“Mana Arbani?”
Baru saja Vania melontarkan pertanyaan, sosok yang ditanyakannya tiba-tiba datang dari luar dengan keringat yang membasahi wajahnya. Pria itu berkata, “Nyariin gue? Kangen ya?”
Zafran mendengus, menyikut perut pekerjanya tersebut tanpa belas kasih. Hal tersebut membuat Arbani mendengus kesal da melempar handuk kecil yang ada di lehernya tepat ke wajah Zafran.
“Sialan!” dengus Zafran, kembali melempar handuk ke wajah Arbani. Setelah itu Zafran langsung pergi untuk menuruti perintah yang diberikan oleh istrinya untuk mencuci tangan.
Melihat kepergian Zafran, Arbani dengan senang hati langsung mendudukkan tubuhnya di samping Vania. Ia merasa jika sekarang adalah kesempatan yang sangat pas untuk menggoda istri dari majikannya tersebut.
“Lo makin cantik aja, elah! Pakai pelet apa sih?” tanya Arbani, mencolek dagu Vania dengan centil.
Vania hanya memutar bola matanya malas, sudah tidak aneh dengan tingkah Arbani yang selalu saja senang untuk menggodanya. Parahnya lagi, Arbani sering melakukannya untuk membuat Zafran cemburu dan marah.
“Pakai pelet ikan kayaknya,” gumam Vania, mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Vania merasa jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk menghubungi sahabat-sahabatnya. Namun, keinginannya tersebut hilang begitu saja kala matanya menangkap keadaan Zafran yang tampak tergesa karena cemburu melihat Arbani yang ada di sampingnya.
Zafran yang kesal pada Arbani pun langsung menarik krah baju pria tersebut hingga bani terjungkal.
“Bini gue ini, ngapain deket-deket?” ketus Zafran, memilih untuk tidak mengacuhkan Arbani yang kesakitan di lantai dan memilih untuk mendudukkan tubuhnya di tempat Arbani tadi tanpa mau memedulikan apa pun. Apa yang terjadi membuat Vania tertawa keras, ia menatap penuh ejekan pada sosok Arbani yang kini bangkit sambil menggerutu.
“Mentang-mentang bos, seenaknya aja sama bawahan!”
Zafran tak peduli, ia memilih untuk merangkul istrinya yang baru berhasil meredakan tawa. “Kamu tumben datang ke sini?”
“Aku lagi mau aja, bisan di rumah sama Nenek terus.”
“Nenek bicara yang enggak-enggak ya?” tebak Zafran.
Pertanyaan tersebut membuat Vania terdiam. Ia tidak ingin mengangguk tetapi juga tak bisa menggelengkan kepalanya. Zafran yang bisa menyimpulkan sendiri pun hanya tersenyum. Ia merangkul tubuh istrinya tersebut lebih erat lagi dari sebelumnya dan berkata, “Namanya juga orang tua, wajar aja.”
“Kamu gak ambil hati kan sama sikap Nenek?” tanya Vania, sangat takut jika Zafran terganggu karena kehadiran wanita tua yang tak lain adalah neneknya tersebut di dalam rumah.
Jawaban dari pertanyaan Vania adalah ‘iya’, Zafran sangat terganggu dengan kehadiran Atina di rumah yang selalu saja merecoki harinya dan Vania. Namun, jawaban tersebut hanya Zafran simpan di dalam hatinya karena yang ia tunjukkan hanya sebuah senyuman yang menenangkan.
“Nenek bawel banget, aku cuci piring dikomentarin, aku cuci baju juga dikomentarin. Bahkan aku cuman nyapu halaman juga dikomentarin. Katanya gak bersihlah, caranya salah, banyak deh pojoknya!” keluh Vania dengan lesu. Lama-lama ia pusing jika sang nenek terus saja memantau pekerjaannya.
Padahal, Vania merasa jika pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga sudah ia kerajaan degan baik. Memang pada dasarnya saja Atina itu banyak bicara, sepertinya ia merasa tak puas jika tidak mengomentari apa yang dilakukan oleh Vania.
“Namanya juga orang tua, emang suka gitu. Gak apa-apa, kamu harus maklumin.” Lagi-lagi Zafran mengutarakan hal tersebut.
Vania tersenyum dan memeluk tubuh suainya yang bau keringat. Ia hanya berharap agar keringat yang menempel di kening suaminya tak akan menular padanya. “Makasih ya, soalnya kamu udah mau ngertiin Nenek aku. Sebenarnya aku takut kalau adanya Nenek di ruh itu buat kamu gak nyaman. Apalagi Nenek itu kadang-kadang gak bisa jaga ucapannya.”
Zafran membalas pelukan istrinya dengan sebelah tangan. Ia menyunggingkan senyum tipis dan mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
“EHEM! Lupain aja gue, anggap aja patung yang terbuat dari tepung,” tegur Arbani, ia langsung memosisikan dirinya bagai patung yang tak mampu membuat pergerakan.
Suaranya membuat Vania dan Zafran melepaskan pelukan mereka. Sekarang mereka baru sadar jika ternyata Arbani sama sekali tak beranjak dari posisinya sama sekali. Zafran mendengus ke arah Arbani dan berkata, “Iri? Bilang bos!”
“Lah kan lo bosnya juga, bukan gue!” balas Arbani.
“Lo udah punya calon gak sih? Masa sampai zaman sekarang masih jomblo aja?” Vania bertanya tak serius, tetapi salahnya karena memasang mimik wajah yang sangat serius dan membuat Arbani juga menanggapinya dengan mimik wajah serius.
Arbani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan perlahan. “Gue udah punya calon kok.”
Keseriusan yang ditampakkan oleh Arbani membuat Vania penasaran. Wanita itu duduk lebih tegak dan melihat ke arah Arbani dengan antusiasme yang tak bisa ia sembunyikan.
“Ada, ceweknya cantik banget! Pokonya gue udah cinta mati sama dia!”
Vania semakin terlihat sangat antusias, ia kembali bertanya. “Terus lo udah coba deketin?”
Arbani mengangguk. “Setiap kali ketemu pasti gue deketin, tapi gue juga gak bebas karena ternyata di udah nikah.”
Kali ini kalimat yang dilontarkan oleng Arbani berhasil membuat Zafran tutur menyimak. Zafran tidak menyangka jika rekan kerjanya tersebut akan jatuh cinta pada sosok yang sudah bersuami. Cinta terlarang seperti itu pasti akan menyakitkan rasanya.
“Lo mau jadi perebut bini orang?” pekik Vania, menatap tak percaya ke arah Arbani yang masih tampak serius dalam mimik wajahnya.
Arbani menghela napas. “Ya, gue bisa apa? Kalau cinta udah berkat semua halangan juga bisa aja dilewati. Ya ... walaupun gue juga kenal sama suaminya. Gue ela kok dimusuhi asal dia mau kasih istrinya ke gue.”
Zafran mulai menaruh curiga kala Arbani mencuri pandang ke arahnya. Ia memicingkan matanya untuk mendengar kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Arbani.
“Kalian mau tahu gak siapa namanya?”
Vania menganggukkan kepalanya dengan cepat, barangkali ia juga akan mengenal sosok yang disukai oleh rekan kerja suaminya tersebut.
Arbani menarik napas dalam, seolah apa yang akan diucapkannya adalah sebuah beban yang sangat berat. Hal tersebut membuat Vania semakin tak sabar sekaligus merasa kasihan pada sosok Arbani.
“Nama ceweknya Vania, sedangkan nama suaminya Zaf—“
Arbani tak melanjutkan kalimatnya kala ia menerima sebuah tinjuan ringan di perutnya. Tawanya pecah kala melihat wajah kesal yang hadir di wajah Vania. Terlebih Zafran yang langsung mendengus sembari mendelik tajam.
“Arbaniii!!! Gue udah serius banget dengerinnya, gila!” Vania berujar seraya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
Masih dalam tawanya, Arbani menjawab, “Gue juga serius kali! Dua rius-rius malah!”
Kalimat yang diungkap oleh Arbani membuat Zafran bangkit, ia menatap pekerjanya tersebut dengan kesal. Setelah menyadari jika Zafran benar-benar marah, barulah Arbani menyelesaikan tawanya da menggantinya dengan senyum yang terlampau manis.
“Hallo, Bos! Gue mau cek sapa tahu ada pembeli di luar!” pamit Arbani dengan gaya hormat, setelah itu ia langsung lari terbirit-b***t meninggalkan majikannya yang tampak garang jika disentil perihal istrinya.
Tentu saja, karena Zafran sangat mencintai Vania.
0o0o0o0o0o0
Atina menyambut kedatangan cucunya dengan mimik wajah yang tak senang. Bagaimana tidak, ia merasa sendiri dan tak diperlakukan dengan sangat baik sebagai seorang tamu. Seharusnya, selama ia berada di sini akan cucunya harus selalu bersamanya dan juga menghabiskan bayak waktu bersamanya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Vania justru malah lebih memilih untuk berkunjung ke toko suaminya hingga sore dan bahkan tidak memberikan kabar sama sekali. Padahal, Atina jadi merasa bosan karena ia tinggal sendirian di dalam rumah.
“Nenek udah makan?” tanya Vania, mencoba untuk menyunggingkan senyumannya walau dalam hati ia tahu jika kini neneknya tengah marah.
Satu menit berlalu, Vania tersenyum tipis saat neneknya mau melihat ke arahnya walau bibirnya masih saja bungkam. Untuk menghilangkan kecanggungan yang ada, akhirnya Vania memberanikan dirinya untuk duduk di samping Atina yang kini kembali mengalihkan tatapannya dan enggan untuk menoleh ke arah Vania.
“Aku minta maaf ya karena tadi pergi gak bilang ke Nenek. Tadi aku bosen jadinya aku bantuan suami aku jualan di toko,” ujar Vania, memegang tangan Atina dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Kamu bilang kamu bosen makanya kamu pergi ke toko Zafran?” pekik Atina. Dengan perlahan Vania langsung menganggukkan kepalanya secara perlahan. Ia menatap hati-hati wanita tersebut yang sepertinya benar-benar sangat marah pada tindakannya. Dan Vania juga sejujurnya marah pada Atina yang terus saja mengomentarinya sejak pagi—dan hal tersebut adalah alasan yang sebenarnya mengapa ia pergi ke toko Zafran.
Atina mendengus seraya menarik tangannya yang dipegang oleh Vania. “Kamu bosan? Apalagi Nenek! Kamu kan tahu kalau Nenek ini tamu di rumah ini, harusnya kamu temenin Nenek di sini. Atau jangan-jangan sebenernya kamu gak betah ya karena Nenek ada di sini? Kamu mau nenek pulang lagi?”
Tuduhan yang dilontarkan oleh Atina langsung saja dibalas dengan gelengan kepala oleh Vania, ia memang sempat kesal pada Neneknya yang terus saja mengomel, tetapi bukan berarti ia tidak senang jika neneknya berada di sini. “Enggak gitu, Nek! Aku seneng kok ada Nenek di sini, aku tadi bosen aja di rumah makanya aku ke toko. Aku emang kadang-kadang suka main kok ke tokonya Zafran buat bantuin di sedikit.”
“Ngapain bantuin dia? Bukannya dia udah punya orang yang kerja buat bantu?” sinis Atina.
Vania pun mengangguk dan kembali meraih tangan Atina, berusaha membujuk agar wanita berumur itu tak lagi marah padanya. Vania tak mau jika Neneknya tersebut sampai slah paham yang mana akan membuatnya tak nyaman untuk berada di rumah.
“Iya, Nek. Memang udah ada yang bantu Zafran di toko, tapi tadi itu tokonya rame banget sampai mereka berdua kewalahan,’ balas Vania, telapak tangan kananya bergerak untuk mengelus punggung tangan keriput Atina yang kini berada di pangkuannya.
“Padahal kamu sama Zafran itu setiap hari juga ketemu, sedangkan Nenek? Nenek kan cuman tinggal di rumah ini sementara waktu aja, kalau anti Nenek udah pulang ke rumah lagi kita bakal jarang ketemu lagi kayak dulu!” seru Atina, kembali menarik tangannya dari jangkauan Vania tetapi dengan mimik wajah yang jauh lebih bersahabat.
Kali ini Atina menyunggingkan sebuah senyuman yang hangat kepada Vania yang mana al tersebut membuat Vania merasa lega. “Nenek itu mau menghabiskan banyak waktu sama kamu selama Nenek di sini. Belum tentu Nenek bakal ke sini lagi nantinya, ya kamu tahu sendiri kalau sekarang Nenek udah tua.”
Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Atina membuat Vania merengut tak suka. “Nenek jangan kayak gitu dong, berdoa aja semoga kita semua diberi umur yang panjang dan juga berkah sama Allah. Dan kit akan mempunyai kesempatan untuk berkumpul lagi kayak sekarang. Aamiin.”
Vania langsung memeluk tubuh renta wanita tua tersebut dan menarik napasnya dalam. Sungguh, kalimat yang diungkap oleh Aina membuat Vania merasakan takut yang luar biasa. Ia belum siapa dengan kemungkinan jika Atina akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Walau hal seperti itu memang pasti terjadi, entah Atina atau bahkan Vania yang lebih dulu meregang nyawa—hal tersebut akan terjadi pada waktunya. Hanya saja, Vania tidak mau memikirkannya sekarang karena hal tersebut membuat ketakutan yang besar alam hatinya mencuat.
Atia adalah sosok nenek yang juga bisa dianggap sebagai sosok ibu bagi Vania. Apalagi hubungan antara Vania dan juga ibu kandungnya yang tak lain merupakan anak dari Atina tidaklah baik, bahkan ibunya pun tak pernah menghubungi Vania ataupun Vano walau hanya satu kali pun.
“Aku janji, selama Nenek di sini aku bakal menghabiskan waktu aku buat Nenek. Pokoknya kita harus puas-puasin buat menghabiskan banyak waktu berdua, aku gak bakal tinggalin Nenek sendirian lagi kayak tadi.”
Atina yang mendengar kalimat manis yang diucapkan oleh cucu kesayangannya pun akhirnya tersenyum dan melerai pelukan mereka. “Memang udah seharusnya begitu, kamu jangan habiskan waktu kamu berdua terus sama Zafran. Kamu kan bisa sama dia kapan aja, bea lagi kalau sama Nenek.”
Sejujurnya Vania tak setuju dengan apa yang baru saja diungkap oleh Atina, bersama Zafran adalah kebutuhan baginya. Walau mereka bertemu setiap hari dan menghabiskan banyak waktu bersama tetapi Vania tidak pernah merasa cukup akan hal tersebut. Namun tak ayal ia tetap mengangguk karena Vania yakin jika ia mengelak pada apa yang disampaikan oleh Neneknya maka percakapan mereka akan menjadi panjang.
“kalau gitu aku ke kamar dulu ya , Nek. Gerah soalnya mau mandi,” pamit Vania seraya beranjak.
‘Suami kamu kenapa gak pulang bareng?” tanya Atina sebelum mengizinkan Vania pergi dari hadapannya.
”Emm, katanya sih tadi mau beli makanan dulu buat kita, jadi karena aku udah mau pulang akhirnya aku pulang duluan deh.”
“Hati-hati kalau dia keluyuran!”
Vania hanya menipiskan bibirnya saja seraya mengangguk singkat, lantas ia pun langsung pergi meninggalkan Atina. Dalam langkahnya, Vania berpikir mengenai Atina yang selalu saja membuatnya berpikir buruk akan suaminya. Padahal, Vania selalu berpikir positif pada Zafran yang memang sangat jarang sekali melakukan kesalahan selain sering berkunjung ke rumah orang tuanya terlalu sering dan juga terlalu ramah.
Vania hanya berharap agar ia tetap bisa berpikir positif pada suaminya tersebut dan juga semoga Zafran tetap menjaga hubungan rumah tangga mereka dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai ada pengkhianatan ataupun masalah lain dalam rumah tangga yang mereka jalani, Vania ingin agar dirinya dan Zafran tetap seperti saat ini: saling mencintai dan juga menjaga satu sama lain.
Semoga saja.