Vania membuka matanya dengan paksa di pagi hari. Bukan karena ada cahaya matahari yang malu-malu masuk ke dalam kamarnya melainkan karena ada suara gedoran pintu yang terdengar sangat nyaring dan juga memekakkan telinga.
Bukan hanya Vania yang terbangun, Zafran yang tidur sembari memeluk istrinya yang semalam merajuk pun turut menggeliat dan memaksa matanya agar terbuka.
“VANIA, ZAFRAN BANGUN!” teriak Atina dari luar.
Mengenali suara tersebut, Vania langsung saja bangkit dan duduk dengan tegak. Sangat berbeda dengan Zafran yang justru terlihat sangat malas dan mendengus kesal beberapa kali.
“Nenek kamu ganggu banget tahu, ganggu banget tahu gak!” keluh Zafran, bangkit dari kasurnya dan segera masuk ke kamar mandi dengan wajah kesalnya.
Vania tak menanggapi, karena jujur saja ia pun merasa kesal akan apa yang ela dilakukan oleh neneknya. Vania menoleh ke arah jam dinding, jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Kira-kira hal penting apa yang membuat wanita itu itu mengetuk pintu demikian kerasnya di pagi hari?
“Iya, Nek,” balas Vania dari dalam, kakinya melangkah perlahan menuju pintu untuk membukanya. Vania yakin jika neneknya tak kan berhenti sebelum pintu kamarnya terbuka.
“kamu ini ngapain aja? Kok jam segini belu bangun? Bukannya mandi terus masak sarapan, malah baru bangun tidur!” omel Atia saat pintu kamar Vania terbuka. Setelah mengatakan kalimatnya, Atia melihat ke dalam kamar Vania untuk mencari keberadaan cucu menantunya.
“Zafran semalam pulang gak?”
“Pulang, sekarang lagi mandi dulu kayanya,” balas Vania, menutup pintunya dan maju menghampiri sang nenek. Ia memang harus memasa sarapan, tetapi tidak perlu mandi terlebih dahulu sebagaimana yang disarankan oleh Atina.
Keduanya langsung berjalan berdampingan dengan Atina yang terasa saja menolehkan kepalanya ke arah Vania yang tampak masih berusaha untuk menghilangkan kantuk di matanya.
“Dari mana katanya semalam? Pulang jam berapa dia?” tanya Atia, memicingkan matanya ke arah Vania yang langsung tersenyum tipis.
“Zafran pulang jam sepuluh, katanya dari rumah orang tuanya.”
Bibir Atina tersungging miring. ‘Mana mungkin dari rumah orang tua aja? Dia pasti keluyuran sama temen-temennya! Kamu kan gak tahu apa Zafran itu jujur atau enggak. Bisa aja dia bilang di rumah ong tuanya, padahal dia kelayapan gak jelas.”
Vania menghela napas, tidak sampai berpikir buruk seperti Atina. Ia tahu dan yakin jika Zafran hanya berkunjung ke rumah orang tuanya dan tertidur di sana.—walau tetap saja Vania juga merasa kesal akan hal tersebut.
“Enggak bakalan sih, Nek. Aku yakin kalau Zafran beneran ke rumah orang tuanya aja kok,” ujar Vania.
“Kalau pun ke rumah orang tuanya, dia itu ga wajar pulang jam segitu. Dia harus inget kalau dia itu sekarang udah punya istri. Gak bisa lagi main seenaknya walau itu di rumah orang tuanya sendiri” timpal Atina, tampak sangat tidak senang dengan tingkah cucu menantunya.
Kali ini Vania pun mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Ia pun tak suka jika Zafran masih saja datang ke rumah orang tuanya hingga lupa waktu dan sering tak memberikan kabar. Hanya saja Vania tak mau memperpanjang percakapannya dengan sang nenek karena mereka yang telah sampai di dapur.
Tanpa perlu berkata-kata banyak, Vania dan Atina langsung bergerak dengan sendirinya untuk memasak dan membagi tugas mereka. Keduanya tampak sangat ulet mengerjakan tugas masing-masing.
0o0o0o0o0o0
Vania dengan telaten menuangkan sayur ke atas piring yang sudah ia isi dengan nasi. Bukan untuk dirinya, hal tersebut ia siapkan untuk suaminya yang kini sudah dudu rapi di salah satu kursi yang ada di meja makan. Merek tidak hanya berdua, ada juga Atina dan Vano yang turut sarapan bersama.
Atina memerhatikan Vania yang melayani suaminya dengan baik, ia mencebikkan bibirnya tak suka. Ia pun berkata, “Vania duduk, sekarang kamu juga ambil makan buat diri kamu sendiri!”
Zafran dan Vania kompak menoleh arah Atina. Jelas sekali jika wanita tua itu menunjukkan raut wajah yang kurang menyenangkan. Vania langsung duudk, lagi pula pekerjaannya untuk menyiapkan makanan untuk suaminya sudah selesai.
Zafran yang menyadari ketidaksukaan nenek istrinya tersebut memilih tak berkomentar apa pun. Ia memilih untuk membaca doa dengan pelan dan langsung memulai kegiatan makannya. Suasana makan pun terjadi dengan sangat kondusif, tak ada yang mengeluarkan suara selain suara sendok dan piring yang beradu.
Sepuluh menit pun berlalu, Vano menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu, disusul oleh Zafran dan baru kemudian dua wanita berbeda yang berbeda usia.
Vano mengusap perutnya sendiri dengan puas. “Alhamdulillah kenyang banget!”
“Enak gak? Enak dong masa enggak!” Vania bertanya dan juga menjawabnya sendiri. Hal tersebut membuat Zafran yang ada di sampingnya tersenyum dan mengelus punca kepala istrinya tersebut dengan sayang.
“Yang masaknya pasti bilang enak,” timpal Vano dengan twa di akhir kalimatnya.
“Hari ini yang masak Nenek, Vania cuman bantu potong-potong aja,” protes Atina, ia merasa jika dirinyalah yang berjasa dalam proses pembuatan makanan pagi ini.
Dan hal tersebut memang benar, terbukti dari Vania yang langsung menganggukkan kepalanya. “Iya, orang yang masak Nenek, kok. Kalau Kakak bilang gak enak, berarti yang slah Nenek.”
Vano menggaruk pelipisnya, menatap tak enak pada neneknya yang ini menatapnya dengan tajam. Dengan segera Vano pun berata, “Enak kok, enak banget malah Vano mau berangkat dulu, ya!”
Tubuh jangkung Vano langsung beranjak pergi meninggalkan tempatnya setelah menyelesaikan kalimatnya. Hal tersebut membuat Vania dan Atina tertawa melihatnya. Apalagi Atina, ia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap cucu tertuanya.
Setelah meredakan tawanya, Atina menoleh pada Zafran yang ta belum berniat untuk segera berangkat. Hal tersebut pun membuat Atina tak kuasa untuk menahan pertanyanya.
“Kamu yga mau berangkat?”
“Aku berangkatnya setengah jam lagi, Nek. Sekarang masih jam tujuh,” balas Zafran dengan cepat, memang ia biasa berangkat di jam setengah delapan karena tokonya biasa buka di jam delapan. Vania hanya tersenyum melihat nenek dan juga suaminya tengah berbincang. Tubuhnya bangkit dan mengumpulkan piring kotor yang nantinya akan ia cuci.
“Berangkat itu pagi-pagi, nanti rezeki kamu dipatok ayam! Udah sana, mending kamu pergi sekarang aja. Buka toko kamu lebih awal biar rezekinya datang lebih pagi juga,” titah Atina.
Zafran langsung menghela napas, padahal ia sudah mempunyai jadwalnya sendiri. Namun, Zafran tidak ingin membantah arena ia tahu hal tersebut hanya akan membuatnya terjebak dalam perdebatan saja bersama Atina.
Zafran pun bangkit, ia menyalami tangan Atina. Setelah itu Zafran menghampiri Vania, memberikan tangan kanannya yang langsung Vania ciu dengan tempo yang singkat.
“Aku berangkat dulu,” pamit Zafran.
Vania tersenyum tidak enak hati melihat kepergian suaminya. Ia sangat tahu jika sebenarnya Zafran belum kamu berangkat. Vania hanya berharap agar kehadiran Atina di rumah ini sama sekali tak mengganggu perasaan Zafran walau Atina sering kali ikut campur dalam segala hal.
“Suami kamu kalau lagi malas kayak gitu harus dikasih tahu, cari rezeki itu harus dari pada biar lancar,” seru Atina setelah memastikan jika raga Zafran sudah benar-benar tidak ada.
Vania yang hendak mengangkat piring-piring kotor pun mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk menanggapi wanita tua tersebut karena merasa tak terima jika suaminya dikatakan malas.
‘Zafran enggak malas, Nek. Memang biasanya dia berangkat jam setengah delapan. Kan tokonya buka jam delapan.”
Atina mendelik. “Itu kan toko punya dia sendiri, bebas berarti dia mau buka jam berapa. Asih tahu sa dia supaya besok buka tokonya jam tujuh pagi. Jam segitu kan banyak yang ke pasar.”
Helaan napas panjang Vania keluarkan, sebisa mungkin ia tetap menunjukkan senyum kepada neneknya. “Kasihan kalau terlalu pagi, Nek. Kan Zafran juga harus sarapan dulu sebelum berangkat.”
“Kasihan kamu bilang? Jam tujuh itu gak kepagian. Coba kamu pergi ke pasar subuh, sebelum jam lima mereka semua udah buka. Kamu juga sebagai istri harus giat, bangun pagi-agi biar bisa asak sarapannya pagi!” Atina masih saja mengomel, membuat Vania merasa malas untuk meladeninya.
“Ya kan setiap pedagang punya waktuny masing-masing, Nek. Lagian Zafran gak dagang di pasar subuh, jadi gak harus nyubuh juga,” tukas Vania. Kali ini ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengangkat piring-piring kotor yang langsung Vania bawa ke dapur tanpa mau menunggu jawaban dari neneknya.
Sepanjang perjalanan Vania terus saja menggerutu, ia tidak suka jika Atina mengomentari kisahnya dan Zafran. Bukan hal aneh jika orang tua sering kali cerewet jika tengah memberi tahu anak-anaknya. Hanya saja Vania tetap kesal mengalaminya.
Dan Vania yakin jika semua orang akan merasa kesal jika mengalaminya.
Ia menghembuskan napas kasar setelah sapai di dapur, secara perlahan menurunkan piring-piring kotor yang dibawanya ke dalam wastafel. Vania pun kembali berbalik menuju meja makan karena ia harus mengambil gelas-gelas yang kotor. Masih ada Atina di sana, dan Vania cukup menahan napas melihatnya.
“Kamu itu kalau dikasih tahu sama orang tua jangan ngeyel, orang tua itu udah tahu asa manisnya hidup. Sedangkan kamu? Bener-bener nyemplung dalam kehidupan aja baru,” tutur Atina sama Vania baru sampai.
Vania hanya menarik napasnya dengan harapan dapat menarik kesabaran juga ke dalam dirinya. Ia menyunggingkan senyum tipis e arah Atina. “Aku gak ngeyel, Nek. Aku mau cuci piring dulu ya,” pamit Vania, pergi dengan gelas-gelas kotor yang ia bawa.
Atina tidak mau ditinggalkan, ia malah mengikuti langkah kaki cucunya karena merasa belum puas berbicara. “Kamu harus bangun lebih pagi. Perempuan itu kalau pagi-pagi nyuci baju, sapu-sapu, atau apa kek. Jangan cuman merem aja!”
Vania memejamkan matanya sambil melangkah. Ia kesal dengan apa yang baru saja dikatakan oleh neneknya tersebut. Memangnya mengapa jika Vania melakukannya di siang hari? Toh, Vania tak kan meminta bantuan Atina sama sekali.
“Iya, Nek.”