Takdir Bukan Kesalahan

1031 Kata
Suasana yang tercipta di dalam rumah tak menyenangkan sebagaimana biasanya. Tampak Vania dan Atina tidak bertegur sapa sejak tadi. Hal itu membuat Vania merasa tak senang, ia bahkan tak mau keluar dari kamarnya karena merasa canggung jika bertemu dengan Atina. Begitu juga dengan Atina, ia tak mau ke luar dari kamarnya karena merasa marah pada Vania yang telah berani menegurnya. Yang ada dalam pikiran Atina saat ini adalah, Vania yang berpihak pada Zafran. Pemikiran tersebut jelas saja membuat Atina semakin marah saja pada Zafran. Ia merasa, Zafran telah mencuci pemikiran Vania hingga cucunya itu berani mengatakan semua hal tadi. Dan kini, Atina semakin tak suka saja pada sosok pria muda yang berstatus sebagai cucu menantunya tersebut. Suara deru motor terdengar, Atina langsung mengintip ke luar jendela kamarnya. Ternyata, ada Vano yang baru datang. Atina dengan segera langsung menuju keluar dari kamarnya. Ia harus membicarakan tentang perubahan sikap Vania pada kakaknya. Mungkin saja Vano bisa menegur Vania dan membuat wanita itu mau berpihak pada Atina kembali. Langkah kaki yang Atina ambil terbilang sangat cepat, wanita tua itu sampai lebih cepat dari yang seharusnya. Ia langsung menghadang langkah kaki Vano yang akan masuk ke dalam rumah. “Nek,” sapa Vano dengan sopan, belum menyadari jika Atina memiliki maksud saat menghadangnya. Vano langsung menyalami punggung tangan kanan Atina dengan penuh rasa hormat. Lantas ia mengangkat tubuhnya kembali dan menyunggingkan senyum ke arah Atina yang langsung menariknya ke sudut teras. Mendapati tingkah seperti itu dari neneknya, Vano pun mengerutkan keningnya bingung. Lantas ia langsung bertanya, “Ada apa, Nek?” Tak langsung menjawab, Atina memilih untuk melihat ke arah pintu secara berulang. Ia takut jika Vania akan keluar dan mendengar apa yang akan dikatakannya. Setelah memastikan tak ada tanda-tanda keberadaan Vania, barulah Atina mau menatap ke arah Vano dengan benar. “Nenek mau bicara sama kamu, ini soal adik kamu.” Mendengar adiknya disebut, Vano langsung memberikan tatapan penuh tanda tanya. Namun, bibirnya sama sekali tak mengutarakan pertanyaan apa pun.  “Adik kamu itu udah dicuci otaknya sama suaminya. Kamu tahu, tadi Vania bilang sama Nenek kalau Nenek harus memperbaiki sikap Nenek terhadap suaminya. Padahal apa yang harus diperbaiki? Kamu sendiri juga tahu ‘kan. Bahwa selama ini Zafran yang menunjukkan sikap gak sopan sama Nenek? Tapi adik kamu itu justru malah minta Nenek buat ubah siakp dan juga jaga kalimat!” Rentetan kalimat yang dilontarkan oleh Atina membuat Vano mengerjapkan matanya beberapa kali. Jadi ini masih perihal Zafran? Vano tak menyangka jika Vania berani menegur Atina. Namun, jauh dalam lubuk hati Vano, ia sangat memaklumi keberanian yang muncul dalam diri adiknya itu.  Karena sejujurnya, Vano pun sangat setuju jika Atina harus mengubah sikap dan juga memperbaiki kalimatnya jika tengah berhadapan dengan Zafran. Namun, jika Vano mengatakan hal itu sekarang, maka ia yakin jika Neneknya akan semakin tersinggung. Yang sekarang dapat Vano lakukan adalah mengusap punggung renta neneknya. “Nanti aku coba bicara sama Vania, Nenek tenang aja.” Ada sebuah senyum senang yang terbit di bibir Atina. Wanita tua itu langsung terlihat puas dengan apa yang dikatakan oleh cucu laki-lakinya. “Bagus, kamu kasih tahu sama Vania kalau yang salah itu suaminya! Dan juga bilang sama Vania, jangan karena cinta, dia jadi buta!” Dengan gerakan yang sangat kaku, Vano pun menganggukkan kepalanya. Lantas ia tersenyum dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Atina. Seharusnya Atina juga mengikuti langkah kaki Vano ke dalam rumah. Namun, saat ia melihat motor Zafran yang baru memasuki pekarangan rumah, niat untuk masuk pun sirna. Dengan sengaja, Atina kini berdiri di ambang pintu, ia menyilang tangannya di d**a, serta memberikan tatapan mata yang tak bersahabat. Zafran yang sudah melihat hal itu pun hanya mampu menghela napas kasar. Ia tetap mencoba untuk bersikap seperti biasa dan membuka helm yang dikenakan olehnya. Setelah itu, Zafran langsung melangkahkan kakinya sambil menundukkan kepala. Hingga tubuh Zafran telah berhadapan dengan Atina, wanita tua itu enggan untuk menyingkirkan tubuhnya dari ambang pintu yang membuat Zafran tak bisa masuk. Mencoba untuk menurunkan egonya, Zafran mengangkat tangannya untuk menyalami tangan Atina. Namun, satu menit tangannya terangkat di udara, Atina sama sekali dan menyodorkan tangannya pada Zafran. Akhirnya Zafran pun menyerah dan menarik kembali tangannya. “Kamu pasti sengaja minta Vania buat bicara sama saya ‘kan?” Atina bertanya degan nada yang sangat ketus,. Hal itu membuat Zafran sempat mengerutkan keningnya untuk mencari tahu maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita di hadapannya. Setelah mengingat jika Vania ingin membicarakan sesuatu pada neneknya, barulah Zafran mengerti.  Ia pun segera menjawab, “Enggak. Bukan aku yang minta dia bicara sama Nenek. Itu keinginan Vania sendiri, dia bahkan udah tegur aku lebih dulu kemarin.” “Cih!” Atina berdecih dengan mimik wajahnya yang tampak semakin mengeras. “Jangan bohong kamu! Kamu pasti udah berhasil cuci otak cucu saya! Kamu jangan coba-coba untuk melakukan itu! Ingat, saya ini neneknya Vania, pengganti buat orang tuanya yang gak ada! Kamu harus bisa buat saya terkesan, bukannya bikin saya muak seperti sekarang. Saya bisa ya pisahkan kalian berdua!” Naik pitam, Zafran tak terima dengan kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Atina. Ia langsung mengepalkan tangannya. Saat ini Zafran pulang ke rumah dalam keadaan lelah, tetapi justru ia malah mendapatkan masalah bahkan ketika tubuhnya belum melewati pintu. Ingin rasanya Zafran menyumpal mulut tua itu, hanya saja ia masih miliki norma kesopanan yang dijunjung. Dan jika Zafran melakukan itu, sama saja ia membakar kertas, apinya akan langsung menyebar ke mana-mana. Zafran mengusap wajahnya kasar sembari mengalihkan pandangannya dari Atina. “Nek, saya sama sekali tidak mempengaruhi Vania. Tolong, izinkan aku masuk sekarang, kalau Nenek tersinggung akan apa yang Vania ucapkan, silakan Nenek bicarakan itu dengan Vania!” “Vania seperti itu gara-gara kamu! Saya gak akan biarkan kamu masuk ke dalam rumah! Kamu harus minta maaf dulu sama saya!” Zafran langsung terperangah dengan permintaan yang dilontarkan oleh Atina. Minta maaf? Minta maaf untuk apa? “Kenapa aku harus minta maaf sama Nenek?” “Karena kamu salah! Kamu udah bertindak tidak sopan, kemudian mencuci otak Vania! Dan kamu tahu kesalahan kamu yang paling besar adalah apa? Kesalahan kamu yang paling besar adalah menjadi suami dari cucu saya!” “ITU BUKAN KESALAHAN!! SAYA MEMANG DITAKDIRKAN UNTUK MENJADI SUAMI VANIA!!” bentak Zafran, kehilangan kesabaran. Plak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN