“Aku mau bicara sama Nenek.”
Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Vania. Yang mana, kalimat tersebut membuat Atina yang tadinya tengah membaca koran langsung melepaskan kacamata yang tengah dipakainya. Sebelah alisnya langsung terangkat, ia memicingkan matanya ke arah cucu perempuannya yang bergerak mendekat.
Dari mimik wajah yang ditunjukkan oleh Vania, Atina tahu jika apa yang akan disampaikan oleh cucunya adalah sebuah pembahasan yang penting. Ia pun akhirnya menyimpan koran yang sejak tadi dipegangnya. “Apa?”
Tampak Vania yang langsung menundukkan kepalanya sembari menjalin kedua tangannya. Wanita muda itu terserang kegugupan yang luar biasa. Setelah menarik napas panjang sebanyak beberapa kali, akhirnya Vania pun berujar, “Aku udah bicara sama Zafran supaya dia bisa mengubah sikapnya sama Nenek. Dan Zafran udah setuju akan hal itu. Mungkin Nenek juga bisa rasakan perbedaan siap dia? Zafran ga banyak membantah ataupun menjawab apa yang Nenek bilang ‘kan?”
Atina langsung tersenyum dan menganggukkan kepalnya. “Oh, bagus kalau kamu udah bicara sama dia! Suami kamu itu emang harus dikasih tahu supaya gak seenaknya sama Nenek!”
Kepala Vania mengangguk. Ia menggigit bibir bagian bawahnya sejenak sebelum kemudian kembali mengangkat tatapannya ke arah Atina. Lantas Vania pun kembali mengeluarkan suaranya.
“Sekarang, aku mau bicara sama Nenek. Aku mohon supaya Nenek gak tersinggung. Tolong, Nenek juga perbaiki sikap pada Zafran. Aku tahu maksud Nenek baik, tapi tolong kalau mau bicara sama Zafran, gunakan cara yang baik supaya Zafran gak salah nangkap maksudnya.”
Setelah Vania menyelesaikan kalimatnya, Atina langsung menatap tajam ke arah Vania dengan tajam. Ia tak menyangka jika Vania akan berani mengutarakan hal demikian padanya. Ini semua pasti ulah Zafran. Pria muda itu pasti telah mempengaruhi Vania hingga wanita muda itu berani berkata demikian.
Atina memekik, “Kamu bicara kaya gini pasti disuruh sama Zafran ‘kan?”
Dengan cepat Vania menggelengkan kepalnya. Ia tak mau jika neneknya itu kembali salah paham pada Zafran. “Enggak, Nek. Aku bicara kayak gini atas inisiatif aku sendiri, bahkan aku lebih dulu bicara sama Zafran sebelum sama Nenek. A—aku gak nyaman setiap kalau lihat kalian gak akur, maka dari itu aku mau kalian sama-sama memperbaiki sikap dan juga menjaga perkataan.}’
“Yang harusnya perbaiki sikap itu ya suami kamu! Hanya suami kamu! Memangnya, apa yang telah nenek lakukan sampai Nenek harus memperbaiki sikap?”
Jelas sekali jika ini Atina tersinggung. Vania jadi merasa gugup dibuatnya. Ia pun tak au jika Atina tersinggung kan kalimat yang dilontarkannya. Untuk menghilangkan perasan itu, Vania langsung mengusap punggung tangan neneknya dengan pelan, mencoba untuk memberikan penjelasan dengan cara yang lebih halus.
“Nek, Aku gak ada maksud untuk menyinggung Nenek. Hanya aku harap kalian berdua—Nenek dan Zafran bisa hidup degan damai di sini. Akan sangat baik kalau kalian saling menjaga sikap satu aa lain, aku hara Nenek juga bisa menghargai perasan Zafran.”
Kali ini Atina tak sua dengan sentuhan yang diberikan oleh Vania, ia langsung menepis tangan cucunya tersebut dan bangkit. “Zafran itu suami kamu, pantas saja kalau mau belain dia!”
Atina langsung melangkahkan kakinya pergi dalam keadaan suasana hati yang tak cukup baik. Vania yang melihatnya hanya menghela naas seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ternyata, berbicara pada orang tua itu bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan, Vania harus merasakan adrenalinnya yang terpacu.
Jauh lebih mudah ketika Vania berbicara dengan Zafran. Namun, ia tak akan menyerah. Bagaimanapun caranya, Vania harus membuat hubungan Atina dan Zafran bauk-baik saja. Jika tidak, Zafran bisa benar-benar mengajaknya untuk pindah rumah ke rumah Sulis dan Hermawan.
Vania tahu dari beberapa kisah, bahwa rumah mertua bukanlah solusi yang baik.
0o0o0o0o0
Di lain tempat, Zafran sedang menghitung uang yang baru saja didapatnya dari seorang pembeli yang membeli cukup banyak produk. Ada sekitar satu juta, uang yang langsung ia masukkan ke dalam sebuah laci khusus. Zafran lantas bangkit, membantu Arbani yang tengah menyusun minuman dalam kardus.
“Ya ini belum kadaluwarsa?” tanya Zafran, menunjuk salah satu kardus berisi minuman yang ia ingat sudah berada di dalam toko dalam jangka waktu yang lama.
Arbani yang tengah sibuk dengan kardus lain pun langsung mengangkat bahunya dan menjawab, “Gak tahu, coba cek aja tanggal kadaluwarsanya!”
Zafran pun langsung menuruti saran yang disampaikan oleh pekerjanya. Dan untungnya, tanggal kadaluwarsanya belum terlewati, masih lama. Lalu Zafran pun memilih untuk merapikan kardus lain bersama Arbani. Hingga sepuluh menit kemudian, akhirnya apa yang tengah mereka lakukan pun akhirnya selesai.
Zafran langsung memutuskan untuk duudk dan mengistirahatkan tubuhnya. Begitu pula degan Arbani, bedanya, ia memilih untuk duduk di atas lantai dan berselonjor kaki.
“Kapan Vania datang ke sini lagi?” Arbani bertanya sambil mengipasi wajahnya dengan sobekan kardus. Kipas angin yang berputar di sudut ruangan tak menyampaikan angin ke tubuhnya.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Arbani membuat Zafran langsung menolehkan kepalnya dan memberikan tatapan yang sangat tajam. Ia mendengus kasar kemudian. “Mau ngapain gitu kalau ada Vania di sini?”
“Mau digodain! Siapa tahu kecantol!” canda Arbani, sengaja untuk membuat Zafran cemburu.
Zafran hanya mendengus saja untuk merespons kalimat yang disampaikan oleh rekannya itu. Hingga tiba-tiba ada Ayu yang datang ke dalam toko. Wanita itu tampak malu-malu8 sambi meminta izin untuk masuk.
“Boleh aku masuk?” izin Ayu.
Arbani tak berani menjawab, ia menolehkan kepalnya terlebih dahulu e rah Zafran untuk meminta jawaban. Namun, Zafran langsung menganggukkan kepalanya ke arah Ayu, dan wanita itu pun langsung saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Zafran bangkit dari duduknya, merasa tak sopan jika ia hanya duduk. Begitu juga dengan Arbani dan bangkit dan memilih untuk menyingkir.
“Zafran, kedatangan aku ke sini bukan mau belanja, tapi aku mau tanya soal pekerjaan. Jadi gimana? Apa aku bisa kerja di sini?” Langsung pada intinya, Ayu mengutarakan maksud kedatangannya ke sini. Tangannya saling bertautan yang membuktikan jika wanita itu gugup wau bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat lebar.
Zafran pun langsung menjawab, “Saya minta maaf, tapi saya gak bisa terima kamu di sini.“
Seketika itu pula, senyum yang sejak tadi Ayu tunjukkan akhirnya turun. Ayu langsung menunjukkan mimik wajah yang sangat melas. “Wah, kenapa? Pasti istri kamu gak kasih izin buat terima pekerja perempuan ya?”
Ada senyum kecil yang Zafran tunjukkan, ia merasa lucu mengingat Vania. “Iya, maklum perempuan. Ya, saya juga sebagai seorang suami harus menjaga hati istri saya, maka dari itu saya gak bisa menerima kamu untuk bekerja di sini.”
“Kamu emang suami idaman!”