116. Pulang

1205 Kata

"Haya ... kamu bisa gak sih duduk jauh-jauh? Sempit tau!" omel Damar saat sang adik menempelkan terus padanya yang sedang duduk bersandar atas ranjang pasien. "Mas tau gak? Aku itu nangis semalem waktu tau Mas kecelakaan tapi gak dibolehin jenguk sama papa," sahut Cahaya. "Gak usah bohong. Mana ada kamu nangis semaleman." "Ya udah. Terserah Mas mau percaya atau enggak," delik Cahaya sembari memeluk lengan sang kakak semakin erat. Damar hanya memutar bola mata malas. "Haya, turun! Itu ada kursi." Darwin menunjuk kursi yang ada di samping ranjang sembari menatap anaknya. Cahaya cemberut. Tetapi menurut. "Papa!" Dion berlari setelah sang ayah membuka pintu ruang rawat papanya. Damar tersenyum lebar karena bisa kembali melihat putranya. Meski luka di tubuhnya yang tertutup pakaian ruma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN