3. Kesedihan pada Arka

1062 Kata
Aku tiba di Surabaya dengan selamat, inilah satu satunya hal yang selalu aku banggakan. Ada kebanggaan tersendiri setelah membawa penumpang sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Menurut sebagian ahli sejarah, terbang adalah salah satu pencapaian tertinggi umat manusia. Siapun orang yang dapat terbang maka ia akan melupakan sedikit masalah nya. Seseorang yang dapat terbang ia akan lupa pada siapa orang yang menyakiti nya di bawah. Kita sedang bicara pesawat dan orang di balik kemudinya. Seseorang yang berseragam rapi, keren dan berwibawa sembari membawa koper kecil dan jalan dengan elegant sekali. Menjadi seorang pilot mempunyai banyak kelebihan bukan hanya wajah good looking saja, tetapi di balik itu dia memiliki kelebihan menjadi sosok yang cerdas yang sudah di asah melalui kejamnya training. Aku dan beberapa crew lain nya turun dari pesawat setelah semua penumpang turun. Aku dan Bayu akan berganti pesawat karena tujuan penerbangan selanjutnya adalah Bali. Pesawat yang barusan aku bawa akan bertukar dengan pesawat lain yang akan membawanya ke Jakarta kembali. Aku bersalaman dengan pilot yang akan membawa burung besi yang barusan ku bawa. Mata ku membelakak dengan sempurna saat seseorang itu langsung memelukku erat. Dari aromanya aku sudah tahu dia siapa. Ya, dia adalah orang yang sudah menghancurkan hidup ku, dia adalah Laki-laki b******k yang pernah aku temui. Aku segera memberontak di dalam pelukannya. "Biarin seperti ini dulu, aku rindu sama kamu" Lirih Arka tepat di telinga ku. Aku berhenti berontak lalu menangis tanpa suara. Aku yakin semua orang tengah menyaksikan drama ku, dan mungkin sebagian orang lagi sedang bergosip mengatakan aku wanita yang tidak-tidak karena berpelukan dengan seseorang yang sudah beristri. Hei bukan kah sebelum nya Arka adalah tunangan ku? "Arka" Lirih ku. Aku bahkan sudah tidak kuat lagi untuk menopang berat badan ku sendiri. Hingga akhirnya aku ambruk di pelukan arka. Dengan sigap arka menggendong ku ala bridal style ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan aku bawa bersama Bayu ke Bali. Arka mendudukkan ku di sebuah kursi penumpang, ia mengusap air mata yang keluar dari mata ku. Ia menggenggam erat tanganku lalu menciuminya dengan sayang. Disini aku bingung, pikiran ku tak sejalan dengan hatu. Pikiran terus berkata kalau aku harus segera menepis tangan Arka namun hati dan tubuh tidak bisa menolak sentuhan Arka. Aku tidak munafik aku merindukannya, bahkan disaat ia menyakiti ku pun aku masih sangat menyayanginya. "Yu, pesawat landing 30 menit lagi kan?" tanya Arka. Aku baru sadar jika sedari tadi Bayu mengikutiku dan Arka sampai sini. "Iya, kalau lo mau ngomong, omongin sekarang. Gue percaya sama lo. Gue pergi dulu ya" Ujar Bayu lalu meninggalkan aku dan Arka. Arka menatap manik mataku dalam, di matanya tersirat kerinduan yang amat sangat dalam pada ku. "Aku cinta sama kamu" Lirih nya membuat ku muak. Aku tersadar kini Arka sedang mempermainkan hati ku yang rapuh. Ia bilang cinta pada ku tetapi dia menikahi wanita lain. "Kalau kamu cinta, kenapa kamu malah menikahi wanita lain!" Aku sedikit membentak Arka. Semoga Arka sadar apa yang di lakukannya adalah salah. Yang di lakukananya adalah kesalah besar yang mungkin aku tak sanggup untuk memaafkan nya. "Aku terpaksa sayang. Maafin aku," Arka terlihat sedang menahan air mata nya. Aku jadi tidak tega melihat itu. Sebenarnya disini yang tersakiti siapa sih!? "Kenapa kamu jahat banget sih" Nada bicara ku sedikit menurun. Arka membawa ku kepelukannya lalu aku terisak disana. Hangat dan nyaman itulah suasana yang selalu aku dapatkan setelah di peluk oleh Arka. "Aku janji, aku akan segera mencari jalan keluarnya" Arka menciumi pucuk kepala ku dengan sayang. "Jalan keluar bagaimana? Jelaskan sebenarnya apa yang terjadi sama kamu!" Aku kembali menaikkan oktaf suaraku. Maksud Arka apa bicara seperti itu? "Aku akan jelasin semuanya, tapi nanti. Sekarang bukan saat nya, sekarang kamu fokus sama penerbangan kamu. Kamu Dua hari di Bali kan? Aku akan menemui mu disana. Aku pergi dulu" Arka melenggang pergi setelah mencium keningku cukup lama. Aku mematung, lagi-lagi aku menangis. Kali ini aku menyerah aku tidak bisa melupakan Arka bahkan mungkin tidak akan bisa. "Kamu jahat Ka" Aku melirih menepis kasar air mata yang keluar dari mata ku. Tak selang berapa lama Bayu datang dan langsung membawa ku ke kokpit. Bayu mendudukan ku di kursi sebelah kiri tepat Co-pilot. Ia menghapus air mata lalu memelukku. Aku balas memeluk nya erat menumpahkan semua rasa sakit yang aku rasakan saat ini. "Gue harus apa Bayu? Gue bingung!" Aku terisak di pelukan Bayu yang belum mengeluarkan suara nya sedikitpun. Aku memukul pelan d**a bayu agar mengurangi rasa sesak di hati ku. Bayu semakin memeluk ku dengan erat. "Kita tunggu Arka di Bali" Bayu masih memeluk ku. Setidaknya masih ada orang yang dapat aku andalkan setelah bela. Untuk hari ini aku merasa beruntung bisa terbang bersama Bayu jika bersama orang lain aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku mengangguk lalu melepas pelukanku dari Bayu, dia tersenyum lalu duduk di sebelah ku. "Kita fokus dulu, ada banyak nyawa yang harus kita antarkan dengan selamat" Lagi lagi aku mengangguk, aku tidak dapat berbicara lagi. Rasanya bibir ku sangat kelu. semoga perjalanan ini lancar-lancar saja meskipun hati ku sedang tidak baik. Aku memang ada jadwal di Bali selama dua hari, hal ini memang sering terjadi saat pergantian pesawat. *** Akhirnya pesawat yang aku dan Bayu bawa mendarat dengan selamat di bandara Ngurah Rai, Bali. Rute penerbangan ke Bali adalah penerbangan yang aku paforitkan, Karena Sebelum landing, kita akan di suguhkan dengan pemandangan laut yang sangat indah. Dulu aku sempat bermimpi, Bali akan menjadi pilihan bulan madu kedua ku bersama Arka setelah maldives. Namun sayang nya lagi-lagi aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang mimpi itu tidak dapat terkabulkan, Arka telah di miliki oleh wanita lain. Wanita yang sekarang sangat aku benci. "Lo kuat dan lo hebat" ujar bayu, aku menoleh sekilas pada nya lalu tersenyum tipis, senyum tipis yang selalu aku paksakan akhir-akhir ini. "Yuk turun, penumpang udah pada turun. Kita check in hotel" Lagi-lagi aku hanya mengangguk, dan segera keluar di susul oleh Bayu di belakang ku. Aku akan segera check in hotel lalu tidur, rasa nya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Padahal hari ini aku baru dua kali membawa pesawat. Soal Arka yang mengatakan bahwa dirinya akan menyusul ku, aku tidak mengambil pusing dengan perkatannya, aku tidak munafik hati ku rasa nya menghangat saat arka mengatakan hal itu, ada setitik kebahagiaan di dalam hati ini. Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang terang setelah ini. Sungguh aku tidak ingin berlarut-larut lagi dalam kesedihan 03 Juni 2020 Cty,java 19:29
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN