1. ARETHA SYERILIN
Mentari pagi bersinar malu-malu memperlihatkan cahaya nya yang hangat. Aku menggeliat dari tidur nyenyaku karena bantuan obat tidur semalam lalu mengerjap-ngerjapkan mata ku beberapa kali, guna menetralisir cahaya masuk ke retina karena sinar matahari yang baru menampakkan sinar nya dan masih bersembunyi di balik tirai jendela berwarna putih.
Aku manapakan kaki di lantai dingin lalu membuka penutup jendela agar sinar matahari masuk ke dalam kamar. Seketika aku tersadar kala melihat kalender di nakas bahwa hari ini adalah hari minggu tepat dimana hari yang tidak ingin aku jumpai. Ah mungkin lebih tepatnya hanya hari ini saja.
Pikiran ku berkecamuk, sedih dan marah mendominasi hati dan pikiran ini. Tepat satu minggu yang lalu Arka-Kekasihku dengan santai nya menghubungi ku untuk meminta izin menikahi wanita lain. Bahkan ia tidak menjelaskan sama sekali alasan apa Arka menikahi wanita itu, ia hanya mengajakku bertemu lalu memberi selembar kertas yang menjadi awal kehancuran ku.
Minggu lalu adalah hari dimana aku dan Arka tepat menjalani hubungan selama empat tahun. Ku kira saat dia mengajakku bertemu dengan nada dingin nya ia akan memberikan surprise seperti film yang pernah ku tonton tapi setelah bertemu Arka, dia malah memberiku undangan Bertuliskan namanya dan nama orang lain yang tidak asing untukku.
Tidak kusangka sama sekali kalau kenyataannya Arka akan mengkhianati kisah yang sudah lama di bangun, ku kira selama ini Arka setia padaku. Ku kira selama ini Arka berpikir akan melabuhkan aku sebagai cinta terakhirnya. Namun itu semua salah, Arka malah akan bersanding dengan wanita lain.
Salah satu fase terburuk yang pernah aku alami sekaligus untuk pendewasaan hidup, yaitu ditinggal menikah. Rasa sakit nya luar biasa, apalagi ditinggal menikah saat masih sayang-sayang nya dan masih menyandang sebuah status. Melihatnya di pelaminan bersama orang lain, menjabat tangan nya dengan senyum palsu, mengenang kembali masa-masa dimana dia pernah menjadi yang paling dekat sebelum menjadi yang paling asing.
Sakit?
Aku wanita, aku mempunyai perasaan yang sangat tipis hingga siapapun akan mampu merobeknya dengan gampang begitupun dengan Arka.
Arka bukan hanya merobeknya namun juga memporak-porandakan hati ku. kenapa Arka setega itu meninggalkan aku, kenapa Arka setega itu mengkhianati ku.
Dulu ia berjanji akan menikahi ku jika ia sudah sukses, namun kenyataannya aku yang berjuang wanita itu yang malah menikmati hasil. Harus kah aku terima ini semua?
Aku harus membuktikkan kalau aku kuat, kalau aku tidak selemah apa yang Arka kira. Aku akan pergi ke Bandung dan melihat Arka memasangkan cincin di jari manis wanita lain, aku akan menyaksikan Arka mencium kening wanita lain. Dan aku akan menyaksikan kemesraan yang mereka ciptakan.
***
"Aretha, lo gak harus dateng ke acara pernikahan arka kalau lo gak sanggup" itu adalah suara Bella teman terbaik ku dari masa kecil. Ia tak henti-hentinya menasehati ku agar aku tidak datang ke acara pernikahan Arka yang di selenggarakan di Bandung.
"Gue gapapa Bel. Gue pengen liat aja cewek nya seperti apa. Gue penasaran cewek nya secantik apa sih hingga Arka berpaling dari gue" aku menjawab dengan senyum miris yang tercetak jelas di bibir ku. Jujur Rasa sesak masih tersimpan di hati ini. Entah sampai kapan rasa sesak ini hilang, ku rasa sampai kapan pun luka ini tidak akan hilang dan akan terus membekas.
"Kalau gue satu penerbangan sama Arka, gue orang pertama yang bakalan nonjok muka Arka sampai bonyok!" Bella terlihat emosi mengucapkan itu, logika nya, tidak ada teman Ralat sahabat terbaik nya di sakiti oleh lelaki lain. Tanpa sadar ku lihat Bella meremas stir mobil dan menggertak- gertakkan gigi nya tanda ia kesal dan marah
"Gue gapapa bel, gue kuat" jawab ku dengan senyum yang aku paksakkan agar Bella sedikit tenang
"Gue yang gak papa ta, gue sakit liat lo disakitin kayak gini!" Bella masih saja terlihat emosi
Aku tidak ingin menjawab nya, biarkan lah Bella tenang dengan sendirinya. Kalau boleh jujur aku juga tidak ingin mempunyai takdir seperti ini. Arka orang yang selama ini ku jadikan tempat perlindungan ternyata malah menyakiti ku. Aku tidak tahu lagi kalau misal nya Bella tidak ada di hidup ku. aku harus hidup seperti apa. mungkin bunuh diri adalah jalan yang tepat untuk mengakhiri semua kepedihan ini.
Nama ku Aretha Sherilin, aku hidup sebatang kara. Ayah ibu ku meninggal saat kecelakaan pesawat dua tahun yang lalu, aku tidak mempunyai sanak saudara dan keluarga lagi selain bella, Bayu dan Arka.
Tapi itu dulu sebelum kejadian Arka meninggalkan ku. Kali ini tempat ku mencurahkan keluh kesah ku hanyalah Bella seorang mungkin dengan Bayu. Memang hidup ku terlalu miris, sampai-sampai Arka menjauh dariku dan tak akan pernah kembali lagi.
Satu hal yang harus ku banggakan, aku resmi menjadi pilot tiga tahun yang lalu, dan sekarang pekerjaan ku adalah sebagai pilot. Arka juga adalah seorang pilot di maskapai penerbangan yang sama dengan ku, sedangkan bella ia adalah seorang pramugari.
**
Ku lihat dekorasinya sangat sederhana, Bahkan jauh dari kata megah. Padahal dulu Arka selalu bilang pada ku jika nanti kita menikah ia ingin pernikahan nya di gelar dengan sangat mewah. Karena ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Perkataan Arka memang selalu tidak sesuai dengan fakta. Nyatanya semua yang di katakan nya adalah bohong. Huft dasar Arka si tukang bohong.
Aku mulai masuk ke area depan sebuah rumah yang sederhana namun terlihat nyaman. Hanya Dua lantai . Rumah itu di d******i dengan warna putih. Mobil di parkiran rumah tidak terlalu banyak aku menyangka kalau Arka tidak mengundang banyak orang. Bahkan saat aku mulai masuk pun dekorasi pelaminan nya sangat sederhana.
Apa Arka tidak mempunyai uang untuk menyewa wedding organizer yang lebih bagus dan mewah? Ku rasa tidak. Arka adalah pilot berpangkat kapten gaji nya pun lebih besar dari pada aku yang hanya sebatas Co-pilot. Bahkan hampir setiap bulan nya Arka selalu memberikan ku barang-barang brand yang sedang trendy.
Aku duduk di sebuah kursi dengan Bella yang terus saja menggenggam erat tangan ku, aku menyaksikkan Arka mengikrarkan ijab qabul pada wanita ... Ahhh kenapa aku tidak menyadari nya sedari tadi. Pantas saja Bella terlihat sangat marah saat pertama kali kita menginjakkan kaki disini. Rupanya wanita itu adalah Dinda!
Dinda adalah junior pramugari yang sedang di kabarkan selalu mengemis cinta nya Arka. Hal licik apa yang selama ini Dinda lakukan agar Arka menikahi nya. Setidak nya sekarang aku dapat menemukan titik terang kalau Arka terlihat terpaksa menikahi Dinda. Bahkan sedari tadi ku lihat Arka hanya memasang wajah dingin dan cuek andalan nya .
Pernikahan romantis yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi. Hal itu mampu membuat ku bernafas sedikit lebih lega karena tidak melihat mereka bermesraan di pelaminan.
Kini saatnya aku harus menguatkan hati, aku berjalan sendiri ke arah pelaminan karena aku menyuruh Bella untuk tidak naik aku takut Bella akan meninju salah satu diantara mereka berdua.
Arka menatap ku dengan tatapan sedih yang bercampur dengan rindu. Pertemuan seminggu yang lalu adalah pertemuan kita setelah satu bulan tidak bertemu karena Arka ada jadwal penerbangan yang sangat padat selama sebulan.
Aku mengulurkan tangan kepada Dinda, yang di sambut canggung olehnya, "Selamat atas pernikahannya. semoga pernikahan kalian tidak bertahan lama" ucap ku saat berdiri di depan Dinda tentu saja aku berbicara seperti itu sambil berbisik.
Dinda terlihat langsung mengaitkan tangannya di tangan Arka, namun segera Arka tepis. Aku tersenyum aku semakin yakin Arka terpaksa melakukan ini semua.
Aku berjalan satu langkah untuk mengulurkan tangan kepada Arka. Aku akan memberikan nya selamat, bukan selamat atas pernikahan nya namun selamat atas keberhasilan nya membuat hati ini hancur sehancur-hancur nya.
Tanpa ku duga Arka malah memelukku erat, aku berusaha berontak karena malu di lihat oleh para tamu. Kebanyakan tamu adalah teman-teman satu maskapai jadi mereka tentu tahu hubungan ku dan Arka yang sudah terjalin cukup lama.
Aku menangis, aku tidak tahan melihat Arka menangis, aku membalas pelukan Arka meskipun Dinda sudah menggerutu di sebelahnya. Badan Arka bergetar aku mencoba menguatkan nya dengan mengelus punggung nya. Aku yang tersakiti tapi kenapa seolah-olah Arka yang paling tersakiti?
"Arka, aku harus pasang hati sekuat apa?" tanya ku di sela tangisan ini. Arka menggeleng di ceruk leherku.
"Maafin aku Retha, aku telah melanggar janji agar tidak menyakiti mu. Aku gak tau harus apa selain menikahi nya" ucapan sederhana itu mampu membuat derai air mata ku mengalir dengan deras.
"Hati sekuat baja yang aku pasang kamu runtuhin begitu saja. Aku gak tahu harus apa kedepan nya menjalani hidup tanpa kamu"
Arka melepaskan pelukannya pada ku.
"Bersabarlah" Arka berbisik lirih di telingaku ia menghapus air mata yang tersisa di pelupuk mata ku. Aku segera pergi dan langsung menyalami mantan Calon ibu mertua ku. Mamah Nanda menangis dan langsung memelukku erat. Kenapa semua nya seperti tersakiti, padahal disini aku lah yang paling tersakiti.
"Maafin mama sayang, mama salah" ujar Nanda ia terisak di pelukan ku. Dan lagi-lagi aku harus menangis kembali.
Aku menggeleng kan kepala ku kuat, "Ini takdir mah" jawabku mencoba menguatkan. sebenarnya aku lah yang butuh kekuatan.
"Kamu harus janji, kamu harus sering main ke rumah mamah meskipun kamu gagal menjadi menantu mama. Mama sudah anggap kamu sebagai anak mama sendiri"
Aku mengangguk lalu melepaskan pelukan mama. Bukan maksud tidak sopan tapi aku tidak kuat lagi. Tujuan ku sekarang adalah Pulang. Semua orang yang ada disana menatap kasihan dan nanar pada ku. Tentu saja karena mereka tahu aku adalah kekasih dari ARKA BRAMAWIJAYA. ah ralat mantan tunangan maksud ku.