Kejutan

1923 Kata
Bab 47 Kejutan Masuk ke dalam kamar kos yang di tempati oleh suaminya selama ini, Divi pun mulai melihat—lihat. Ia melihat ranjang berukuran satu orang di sisi dekat jendela. Di sampingnya ada meja nakas kecil dengan bawahan sebuah karpet untuk duduk lesehan di bawah. Di atas nakas, Divi melihat fotonya dan Jayden saat masih berpacaran. Mereka tampak bahagia dalam foto yang ada di atas meja. Diam sejenak, setelahnya Divi melihat ke arah meja laci kamar yang rapi. Ia mencari—cari setiap detail yang mungkin bisa membuktikan hubungannya dengan Sabrina. Namun ia tak menemukan apapun. Sama seperti di rumah, Jayden begitu rapi soal menaruh dan menyimpan barang. Tak ada yang mencurigakan sama sekali. Merasa lelah, baik hati maupun fisiknya, Divi pun terduduk di pinggir ranjang. Ia terdiam beberapa sampai bayangan bahwa sang suami kembali berselingkuh di belakangnya, mengganggu pikiran dan perasaannya. Setelah beberapa saat menangis, Divi kembali mencoba mencari. Kali ini ia mencari di meja nakas yang ada di dekat ranjang. Lagi—lagi ia tak menemukan apapun di sana, sampai akhirnya ia merasa frustrasi. Divi diam dan memperhatikan bingkai fotonya dan Jayden. Dulu aku bahagia, tapi sekarang kenapa aku nggak bahagia? Apakah keputusanku untuk tetap bersama dengan Jayden padahal tahu dia berselingkuh dengan wanita lain adalah keputusan paling buruk yang sudah dilakukannya? Apakah ia harus merelakan Jayden karena suaminya takkan pernah bisa berubah dan menyakitinya dengan bermain dengan wanita lain? Divi menaruh bingkai foto yang sejak tadi dipegangnya dengan posisi tengkurap. Ia malas melihat potret kemesraannya dengan sang suami. Rasanya sudah muak dengan semua kebahagiaan semu yang hanya terlihat mata. Divi kembali bangkit berdiri saat ia mulai menyadari sesuatu. Ia yang tadinya hendak pergi untuk membuka lemari pakaian Jayden, justru kembali memegang bingkai foto satu—satunya yang ada di atas nakas. Ia melihat kertas yang ke luar di balik bingkai foto. Merasa penasaran, Divi pun membukanya sesuai dengan intuisi yang dimilikinya. Hingga saat bingkai foto itu kosong, Divi menemukan dua foto yang berada dalam satu bingkai. Satu fotonya dan Jayden saat masih pacaran, dan satu lagi foto USG yang pernah diberikannya pada Jayden. Divi terdiam. Ia merasa tercengang karena yang didapatkannya tak lain foto USG calon anaknya dan Jayden, bukan foto wanita lain bersama sang suami. Merasa lega, Divi kembali terduduk lemas di ranjang. Saat ia hendak bangkit untuk menggeledah lemari yang lain, Divi mendengar pintu kamar yang di tempatinya terbuka. Jayden berdiri di depan pintu kamar kosnya. Ia melihat bagaimana kondisi kamarnya yang berantakan. Sudah jelas sekali bahwa Divi menggeledah tempat tinggalnya di Jakarta. “Kenapa kamu datang ke sini tanpa kasih tahu aku sebelumnya?” tanya Jayden sewot. “Aku cuma mau kasih kamu surprise.” Jayden melihat wajah terluka Divi tapi kemudian membuang mukanya. “Kenapa kamu tiba—tiba pulang? Ini belum waktu pulang kerja kan?” tanya Divi ketus. Jayden menghela napasnya. Ia sebenarnya pulang setelah mendapat telepon dari penjaga kosan. Pak Agus mengatakan bahwa ada seorang ibu hamil datang ke kemar kos yang di tempati oleh Jayden. “Seharusnya kalau kamu mau ke sini, kamu kasih tahu aku terlebih dahulu. Aku dengar dari Pak Agus kamu ke sini naik KRL. Kandungan kamu nggak papa kan?” tanya Jayden. Suaranya kembali lembut. Ia melepaskan sepatu yang dipakainya lalu berjalan menghampiri Divi. Saat Jayden memeluknya, Divi hanya diam. Ia lelah dan gelisah, tapi ia tidak bisa membuktikan kecurigaannya pada Jayden. “Aku khawatir sama kamu. Makanya aku buru—buru pulang,” kata Jayden lalu menghela napasnya dengan berat. “Lain kali jangan begini lagi ya? Aku nggak mau kamu kenapa—napa karena melakukan perjalanan darat sendirian. Apalagi di usia kehamilan kamu yang sekarang.” Divi diam. Ia merasakan tangan Jayden memeluk punggung dan mengelusi rambutnya. Setelah beberapa lama terdiam, pelukan Jayden pun dilepaskan. Ia menatap Divi sambil memegang kedua pundaknya. “Kamu udah makan atau belum?” tanya Jayden. Divi menggelengkan kepalanya. Jayden menghela napas pelan. “Kamu mau makan siang di luar? Aku bisa ajak kamu makan siang di restoran dekat sini.” “Kerjaan kamu gimana?” tanya Divi, mendadak khawatir dengan pekerjaan suaminya. “Kamu tenang aja. Aku udah izin kok buat pulang lebih cepat,” kata Jayden dengan senyum simpul di wajahnya. Divi mendesah pelan. Kemudian ia pun menganggukkan kepala. Sejak perjalanan ke mari, ia tak makan apapun. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah mencari bukti tentang perselingkuhan suami dengan teman kerjanya dulu, Sabrina. Bahkan aku belum pernah melihat Sabrina secara langsung, pikir Divi. Lalu bagaimana aku mengetahui bahwa orang yang kucurigai adalah Sabrina. “Ya udah kalau gitu, kita pergi sekarang?” ajak Jayden. Divi yang sejak tadi terdiam pun mulai melangkahkan kakinya. Ia kembali pergi ke luar dari kamar Jayden, sang suami. *** “Sebentar ya, aku ke toilet dulu,” kata Jayden sambil bangkit berdiri. Mereka kini sudah berada di restoran. Duduk di depan sebuah meja makan berbentuk persegi berbahan kayu. Mereka sudah memesan makanan dan kini tengah menunggu pesanan mereka datang. Setelah berjalan beberapa jauh, Jayden pun masuk ke toilet. Di dalam, ia mencari kontak bernama bos. Ia menemukannya dan segera mencoba menghubunginya. Beberapa kali suara dering terdengar, sampai akhirnya Jayden mendapat jawaban, ia terus mengulang panggilannya. “Halo!” sapa Sabrina dengan suara manjanya. Suara seseorang yang kini membuatnya kesal. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Jayden dengan nada tuduhannya. “Maksud kamu? Kenapa kamu tiba—tiba nanya hal ini ke aku, Jay? Emangnya aku udah ngelakuin apa?” tanya Sabrina tak tahu menahu. “Kamu nggak mau ngaku?” tanya Jayden lagi, terdengar ketus. Jelas sekali bahwa Jayden tengah menginterogasi Sabrina. Apalagi beberapa bulan lalu hubungan mereka diketahui oleh sang istri karena ulahnya. Bisa jadi, dan kemungkinan itu sangat besar, jika Sabrina melakukan hal itu lagi. “Divi datang ke tempat kos aku. Dia kayaknya tahu kalau aku memiliki hubungan lagi dengan kamu.” “Nggak mungkin lah, Jay. Lagian aku nggak pernah menghubungi istri kamu. Aku kan pernah janji ke kamu, kalau aku nggak akan mencoba merebut kamu lagi dari Divi. Aku have fun aja meskipun cuma jadi simpanan kamu.” “Nggak mungkin!” ketus Jayden tak percaya. “Buktinya aja Divi sampai ke tempat kosku. Divi bahkan sampai berbohong ke satpam depan supaya bisa masuk ke kamar kosku. Dia pasti udah tahu sesuatu.” “Tapi aku benar—benar nggak pernah menghubungi Divi lagi, Jay. Kamu jangan menuduhku seenaknya. Aku juga nggak mau kalau hubungan kita diketahui oleh Divi. Bukankah lebih baik jika hubungan kita memang akan selalu menjadi rahasia.” Jayden tahu bahwa Sabrina tidak berbohong. Sabrina memang selingkuhannya, tapi ia tidak suka berbohong. Nada bicaranya pun terdengar begitu lugas. Terasa tak mungkin bahwa ia berbohong. “Ya udah kalau gitu. Nanti aku hubungi lagi! Kamu ... untuk sementara jangan coba untuk hubungi aku ya?” kata Jayden memberi intruksi. Sabrina terdengar menghela napas. Namun kemudian ia berdehem pelan. “Oke, kalau itu mau kamu.” Setelahnya panggilan pun berakhir. Jayden mencuci tangannya kemudian kembali ke luar dari kamar mandi. Sesampainya di depan meja makan yang sudah dipenuhi oleh makanan, Jayden pun tersenyum. Ia melihat Divi tersenyum tipis. “Maaf ya,” katanya lalu duduk di kursi makannya kembali. “Makanannya baru datang atau dari tadi?” tanya Jayden. “Baru datang kok,” balas Divi sambil mulai memegang sendok dan garpu yang ada di atas meja makan. Jayden mengambil gelas lebih dulu, lalu meminum air putih. Setelahnya ia dan Divi pun memakan menu ayam kalasan dengan nasi putih. *** Setelah selesai makan siang, Jayden dan Divi menikmati makanan penutup, pisang kipas yang dipesannya untuk berdua. Mereka makan dengan sarung tangan plastik dan mencocolnya dengan saos sambal tomat. Menikmati hidangan penutup, Divi kemudian menatap ke arah Jayden. “Jay, habis ini anterin aku ke stasiun ya? Aku mau langsung pulang aja. Kayaknya kedatanganku justru mengganggu kamu bekerja.” “Kamu mau langsung pulang?” tanya Jayden. “Kalau begitu aku antar naik mobil aja. Aku nggak tega biarin kamu perjalanan naik kereta sendirian ke Bogor.” “Nggak perlu. Aku akan baik—baik saja. kamu tenang aja!” kata Divi dengan wajah tenangnya. “Kamu cukup anterin aku ke stasiun, terus aku jalan sendiri ke Bogor. Kamu tenang aja! Aku kuat kok.” Jayden menghela napasnya. “Ya udah, kalau mau kamu begitu!” “Tapi nanti kita pulang ke kosan kamu dulu ya?” pinta Divi. “Ada yang mau aku kasih ke kamu!” Jayden diam sejenak. Ia kemudian memaksakan senyum di wajah tampannya. “Oke.” *** Sesampainya di kosan Jayden, Divi mulai menunjukkan kelelahan yang dialaminya hari ini. Ia duduk sejenak di atas ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya yang sudah makin bengkak karena kondisi mengandung. Jayden memperhatikan Divi sejenak. Katanya mau ngasih sesuatu? Ngasih apa sih? Tanyanya dalam hati. Tak mendapati Divi hendak memberikannya sesuatu atau mengatakan sesuatu, Jayden pun masuk ke dalam kamar mandi. Ia buang air kecil sekalian membasuh wajahnya. Terasa lebih segar, Jayden pun kembali ke luar dari kamar. Ia masih tak mendapati Divi hendak bicara sesuatu hal yang serius atau melakukan sesuatu. “Div ... kamu mau istirahat dulu di sini?” tanya Jayden sambil duduk di pinggir ranjang. Ia menaruh salah satu telapak tangannya di perut hamil istrinya. Divi yang sejak tadi memejamkan matanya pun kembali membuka mata. Kini pandangan mereka saling bersirobok satu sama lain. Bergerak menyamping kanan, Divi kemudian bangkit meskipun kakinya masih terlentang. Ia mendekati wajah Jayden kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Jayden mendadak memundurkan tubuhnya. Ia merasa cukup kaget dengan apa yang dilakukan oleh Divi. Dengan wajahnya yang tak bersahabat, Divi mencium bibirnya. “Kamu kenapa sih? Kayak kaget banget aku cium?” tanya Divi sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. Jayden yang mendapati senyum istrinya pun mulai menghela napas lega. Dalam hati, ia juga tak mendapati kecurigaan yang ekstrem tentang istrinya. “Jadi kamu ke sini, minta dibelai ya?” tanya Jayden sambil mendekatkan wajahnya di wajah sang istri. Divi terkekeh pelan. Namun kemudian ia mengecup bibir suaminya lebih dulu. Merasakan benda kenyal milik sang suami lalu menginvasinya beberapa saat. Merasakan keingin Divi, Jayden pun segera menaruh tangannya di tengkuk sang istri. Ia balas mengecup bibir Divi dengan penuh nafsu. Dan tak butuh waktu lama, hingga keduanya saling menghangatkan satu sama lain. *** Jayden melucuti pakaian kantor yang dipakainya setelah itu melepaskan pula celana panjang. Setelah tubuhnya hanya tertutup celana dalam saja, Jayden pun kembali menghampiri Divi yang nampak begitu menginginkannya. Kedua kakinya terbuka lebar, membuat Jayden dengan gusar menyentuh celana dalam berenda hitam yang dipakainya. Ia menarik celana dalam itu ke bawah kakinya lalu mulai menggoda bagian intim sang istri. Tak butuh waktu lama, Divi mulai merancau dan mendesah keenakan. Tangan wanita itu kini mengusap, menarik, dan menjambak rambut sang suami. Wanita itu benar—benar dalam kuasa sang suami yang membawanya masuk ke dalam gairah nafsunya. Saat makin lama, tubuh Divi pun tak tahan lagi. Wanita itu menarik rambut suaminya tapi sang suami justru makin blingsatan bermain di organ kewanitaannya yang basah. Akhirnya setelah beberapa saat, Divi pun mengeluarkan cairan kenikmatannya. Jayden tersenyum dan segera bangkit dari himpitan kaki istrinya, saat ia hendak membuka celana dalamnya yang sudah terasa begitu sempit, Divi nampak bangkit berdiri. Wanita itu akan bergantian dan melakukan permainan lidahnya untuk sang suami. Jayden mengendus, merasa kenikmatan dengan permainan lidah yang diberikan oleh istrinya. Hingga tubuhnya makin bereaksi, Jayden pun tak sabar untuk menemukan liang kenikmatannya milik istrinya. Suara erangan dan desahan pun begitu menggema di kamar kos laki—laki itu. Ini bisa dibilang kali pertamanya berhubungan intim dengan wanita di kamar kosnya. Jika bersama Sabrina, ia hanya akan melakukannya di apartemen gadis itu.[] *** bersambung===>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN