Bab 46
Struk Belanjaan
Divi ke luar dari kamarnya saat malam hari. Ia baru saja buang air kecil. Memang sejak usia kehamilannya yang lebih matang, ia merasa jauh lebih sering pergi ke kamar mandi untuk buang hajatnya. Menurut dokter kandungan yang ditemuinya, hal itu merupakan hal wajar, karena kandung kemih milik ibu hamil terhimpit kandungannya, maka dari itu, ibu hamil apalagi yang usia kandungannya sudah mencapai trisemester ketiga akan jauh lebih sering buang air kecil.
Merasa tak ingin kembali tidur, Divi ke luar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar lain yang dipersiapkan untuk sang calon jabang bayi. Sudah ada boks bayi di tengah kamar. Ia melihat ke dalam boks bayi dan merasa merindukan calon anak yang belum dilahirkannya.
“Oh iya, kayaknya tadi aku lihat selimut bayi,” kata Divi pada dirinya sendiri. Ia ingat ingin menaruh selimut tidur untuk bayinya di atas ranjang bayi yang ada di boks.
Divi berjalan menuju lemari pakaian yang ada di kamar itu lalu mencari—cari keberadaan selimut bayi yang didapatkannya sebagai hadiah, pemberian rekan kerja suaminya di tempat kerja laki—laki itu.
Tatapan mata Divi bertemu dengan selimut yang tadi disimpannya begitu saja di dalam lemari pakaian dua pintu. Tangannya terulur, mengambil selimut di antara tumpukan barang lain yang belum sempat di sortirnya.
Setelah mengambilnya, Divi mengeluarkannya dari plastik yang masih menyegel selimut bayi yang dipegangnya. Selimut berwarna biru putih dengan motif ikan paus itu nampak menggemaskan.
Saat mengeluarkan selimut dari plastiknya, Divi pun membuka lipatan pada selimut bayi itu. Memeluknya di pipi dan merasakan kelembutan dari bulu—bulu yang mengenai kulit wajahnya. Sangat cocok untuk bayi. Divi tanpa sadar pun tersenyum.
Kembali melipat selimut yang dipegangnya, Divi pun akhirnya mengganti selimut ada lebih dulu di boks bayi.
Selimut yang lama pun, ia lipat lalu hendak memasukkan kembali ke dalam plastik tempat selimut biru putih tadi. Baru saja mengambil plastik yang dijatuhkannya di lantai, Divi menemukan sebuah catatan kecil yang terjatuh di lantai.
Wanita hamil itu bingung. Entah dari mana catatan kecil itu berasal? Apakah dari plastik selimut yang baru saja dibukanya ya? pikir Divi sambil memugutnya.
Namun ia cukup terkejut saat melihat struk belanjaan di sana.
“Ya ampun masih ada struk belanjaannya,” pikir Divi sambil tersenyum. Namun setelahnya senyumnya luntur saat ia melihat nama pelanggan yang tertera di struk. Sabrina!
Divi mendadak pening, perutnya keram seketika membuatnya menekuk kaki lalu duduk di lantai kamar bayi. Ketika stres, ia memang selalu saja merasa keram pada kehamilannya. Di kantor pun kadang ia merasa seperti itu.
Divi mengatur napasnya agar keram di perutnya agak baikan. Hingga beberapa menit kemudian, ia yang mulai tenang pun kembali melihat ke arah struk belanjaan yang di lihatnya. Sambil melihat, sambil ia menenangkan diri. Ia tidak boleh marah dengan kondisinya yang hamil besar. Ia haus relaks.
Setelahnya kembali nama Sabrina menghiasi hidupnya.
Apa jangan—jangan selimut yang baru saja dipegangnya sebenarnya pemberian Sabrina yang sama yang punya pernah menjadi pelakor dalam hubungannya dan Jayden?
Apa jangan—jangan selama ini Jayden membohonginya dan masih berhubungan dengan Sabrina? Memikirkan segala kecurigaannya ini membuat d**a Divi terasa sesak. Ia menangis sesenggukkan beberapa saat kemudian. Ia merasa kembali dikhianati, apakah laki—laki yang sudah pernah berselingkuh selalu melakukan itu terus menerus? Kata Divi dalam hati. Ia sangat kecewa dan sakit hati.
***
Jayden merasakan ranjang di kamarnya begitu dingin. Saat ia membuka matanya dengan terpaksa, benar saja, ia tak menemukan Divi sama sekali.
Ke mana, Divi? tanya Jayden dalam hatinya.
Setelah beberapa saat mengulet untuk meregangkan tubuhnya di atas ranjang, Jayden pun mengerjapkan matanya berulang kali. Ia melihat ke arah kanan dan dirinya lalu turun dari ranjang.
Ke luar dari kamar, Jayden mencium bau masakan. Pasti Divi lagi masak, pikir Jayden. Ia mendekati dapur dan melihat Divi sedang memunggunginya. Wanita hamil itu sedang menggunakan spatulanya untuk mengaduk masakan yang ada di teflon granitnya.
Jayden mendekati Divi lalu memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di perutnya yang membuncit dan kepalanya berada di samping kanan pundaknya. “Wah Bunda lagi masak nasi goreng ya?”
“Iya. Biar nasi kemarin kemakan, jadi dimasak lagi,” kata Divi. Nada suaranya terdengar datar.
“Oh ... ya udah nggak papa.” Jayden mencium pipi istrinya sejenak lalu berdiri diri memperhatikan nasi goreng yang sedang diaduk oleh sang istri. Sambil memperhatikan, tangan Jayden pun turun dari perut istrinya. Ia berada di paha Divi dan kemudian mengangkat terusan rok yang dipakai oleh Divi dari bawah. Masuk ke dalam baju hamilnya, Jayden pun berpura—pura serius melihat teflon sambil bermain dengan paha istrinya
Jayden mencubit gemas pipi berlemak istrinya lalu bertanya, “Div, BB kamu sekarang berapa?” tanyanya penasaran. “Kemarin waktu periksa kandungan pasti di cek BB—nya kan?”
“BB aku 65 kilo sekarang.”
“Wah udah naik drastis ya, Sayang,” kata Jayden sama sekali tak masalah dengan kenaikan tubuh Divi. Lagipula jika ia memegang yang lebih langsing dari Divi, ia bisa bermain dengan Sabrina. Kebutuhan biologisnya terasa tinggi saat ini.
“Hmm....”
“Kamu lebih suka aku gendut atau kurus, Jay?” tanya Divi membuat Jayden berdehem.
“Eh apa?” tanya Jayden gugup. Pertanyaan Divi seolah seperti pertanyaan menjebak yang biasanya dilancarkan oleh wanita ketika dirinya merasa gemuk.
“Kamu lebih suka aku gendut atau kurus?”
“Aku suka kamu apa adanya. Aku suka waktu kamu kurus,” kata Jayden tak ingin membuat masalah dalam rumah tangganya bersama Divi. “Pas sekarang kamu agak berisi pun, aku suka. Apalagi ketika aku masukin tubuh kamu, terasa ada sensasi tersendiri yang baru aku rasakan.”
Divi terdiam setelah mendengar jawaban lengkap dari suaminya. “Kamu kangen waktu aku kurus nggak?”
Jayden diam lagi. Ia kembali merasakan tekanan dari pertanyaan menjebak istrinya. “Aku kangen juga, tapi aku lebih mau kalau kamu bahagia dengan proporsi tubuh kamu saat ini. Gendut saat hamil kan wajar aja, Sayang.”
Divi mematikan kompor yang digunakannya lalu melepaskan pelukan Jayden. Ia menatap mata Jayden dalam diam. “Jay, kamu tahu kabar Sabrina nggak?” tanya Divi.
Mengungkit kembali soal Sabrina, Jayden pun jadi serba salah. Ia tersenyum paksa lalu menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu menahu soal Sabrina sekarang, Div. Kamu percaya kan sama aku?”
“Hmm ... iya, aku percaya kok sama kamu,” balas Divi berbohong. Sama seperti Jayden, ia akan mengikuti kebohongannya. Divi tahu rasa penasarannya hanya akan membuat wanita itu sakit hati, tapi rasanya menyebalkan dan lebih menyakitkan jika ia membiarkan Jayden terus menerus membohongi dan mengkhianatinya. Maka dari itu, ia akan mencoba mencari tahu sendiri, tentang apa yang terjadi pada suaminya.
Jayden menarik kepala Divi lalu mengecup puncak keningnya dengan lembut. “Aku sayang banget sama kamu, Div. Makasih ya, udah ngasih aku kesempatan kedua yang sangat berharga. Aku janji sama kamu, aku akan melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kita.”
Divi ingin menangis. Ia merasa bahwa Jayden sangat mudah berbohong. Sepertinya tak ada cara lain, ia tak bisa lagi mempercayai suaminya itu. Ia akan mencari tahu sendiri mengenai apa yang terjadi sebenarnya.
Merasa matanya mulai berkaca—kaca, Divi memeluk Jayden. Ia menyembunyikan kesedihan di d**a laki-laki itu. Laki—laki yang kemungkinan besar akan kembali menyakiti perasaannya, membuatnya terluka sedalam—dalamnya.
***
“Div, lo kenapa?” tanya Hana yang melihat teman dekatnya di kantor itu lebih banyak terdiam.
Divi menoleh mendengar pertanyaan untuknya. Namun bukannya menjawab, ia justru mengambil tas miliknya lalu meninggalkan kantor.
Hana yang terkejut pun segera bertanya, “Div, lo mau ke mana tiba—tiba bawa tas?”
Divi menoleh sejenak. “Gue izin ya, Han. Gue ada keperluan penting sekarang,” kata Divi sambil berjalan meninggalkan kantor tempatnya bekerja. Bukan hanya Hana, teman—teman sekantornya yang lain pun menoleh karena penasaran. Kebanyakan mereka khawatir bahwa Divi pergi karena perutnya yang mulas. Namun mereka tidak yakin, bahkan tak sempat bertanya.
Divi sendiri mengabaikan sekitarnya dan meninggalkan kantor menggunakan taksi yang baru saja menurunkan seseorang di kantornya.
“Pak, ke stasiun ya?” Hana langsung membuat keputusan bahwa ia harus mencari tahu soal suaminya. Tak peduli dengan kondisinya yang sedang hamil tua, rasanya tak benar jika ia membiarkan Jayden terus membohonginya dan berhubungan dengan wanita idaman lain.
“Baik, Bu!” kata supir taksi sambil melajukan mobil taksi yang dikemudikannya.
Dalam perjalanan ke Jakarta, ke alamat Jayden di Jakarta, Divi mencoba mencari tahu lokasi tempat kost yang ditinggali suaminya selama ini. Ia mencari cara untuk ke sana melalui internet karena belum pernah sekali pun dibawa oleh Jayden mengunjungi tempat tinggalnya di Jakarta.
Sesampainya di stasiun Bogor, Divi sudah sangat yakin dengan keputusannya. Ia akan mencari tahu mengenai semuanya. Ia tidak akan berhenti karena jika benar Jayden berselingkuh lagi di belakangnya, maka kesalahan itu sudah tak bisa lagi dimaafkannya. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil besar saat ini. Tak kan mudah mudah Divi untuk memberikan kesempatan lain pada sang suami.
***
Sesampainya di depan alamat kos Jayden di Jakarta, Divi melihat ke arah gedung kos putra putri itu dengan helaan napas pendek.
Melangkah masuk, Divi pun bertanya pada petugas yang berjaga pos depan. “Permisi, Pak!”
Satpam berpakaian seragam putih dengan nama Agus pun menoleh. Mendapati ibu hamil di depan pos jaganya, ia pun ke luar dari pos. “Maaf, Ibu, ada keperluan apa?” tanya Pak Agus dengan ramah pada Divi.
“Di sini ada orang yang ngekos bernama Jayden Raffael Anthony, Pak? Itu suami saya. Saya niatnya mau ngasih surprise ke suami saya yang ulang tahun, tapi kunci kamarnya ketinggalan di rumah saya di Bogor,” kata Divi mencari cara agar bisa masuk ke kosan suaminya. “Saya mau menghubungi suami saya, tapi telepon saya nggak diangkat—angkat, kayaknya sih udah mulai meeting sama kliennya. Apa saya bisa minta duplikat kunci kosan suami saya, Pak?”
Pak Agus diam sejenak. Meskipun di depannya ibu hamil, ia tak bisa memberikan asal kunci cadangan milik penghuni kos di tempatnya bekerja. “Maaf, Bu, sepertinya nggak bisa.”
“Tolong lah, Pak! Soalnya saya udah capek juga. perjalanan dari Bogor naik KRL, terus naik ojek sampai sini.”
“Tapi apa Ibu benar istrinya Mas Jayden? Soalnya setahu saya, Mas Jayden nggak pernah bawa perempuan ke sini.”
“Iya, Pak. Memang benar, ini juga kali pertama saya ke sini. Saya mau kasih kejutan ke suami saya.”
Melihat perut Divi yang besar, satpam benar—benar merasa tak tega. “Ibu bisa kasih identitasnya sebentar? Fotocopiannya kalau ada.”
“Oh iya, Pak, tunggu sebentar!” Divi mengambil fotocopi—an KTP. “Wah, Pak, ternyata saya bawa fotocopi KK juga di tas saja. Ini, Pak! Biar Bapak yakin benar kalau saya istrinya.”
Setelah melihat nama asli Jayden di fotocopi KK yang dipegang oleh Divi, Pak Agus pun merasa yakin. “Tunggu sebentar ya, Bu, saya tulis dulu ke daftar tamu!” kata Pak Agus sambil membawa masuk dua berkas dokumen yang dipegangnya. Setelah itu, Pak Agus kembali ke luar dari pos satpam. Kali ini, laki—laki berseragam itu membawa serta satu kunci cadangan berbentuk kartu. Itu adalah kartu untuk semua kunci di rumah kosan tempatnya bekerja. Kunci cadangan yang bisa mengakses semua pintu. Benar—benar pintu darurat.
Berjalan bersama, Pak Agus pun menemani Divi menuju kamar kos milik Jayden.
“Makasih ya, Pak. Maaf kalau merepotkan!”
“Nggak papa, Bu,” kata Pak Agus dengan senyum ramahnya. “Nanti lain kali harus bawa kunci sendiri ya, Bu. Biar nggak keteteran kayak gini.”
“Iya, Pak. Ini karena keteledoran saya.” Divi berbasa basi pada satpam tempat ini. Mereka terus berjalan melewati lorong.
“Tapi saya pernah lihat juga, perempuan yang dibawa Mas Jayden ke kamar kosnya. Kayaknya bukan Ibu ya? Saya soalnya hanya melihat sekilas, jadi kurang menangkap.”
“Mungkin Bapak ingat dia hamil atau nggak? Kalau dia hamil itu saya, kalau nggak, pasti bukan saya. Soalnya ini kali pertama juga sama ke sini.”
Mendadak aura di belakang Pak Satpam terasa berbeda. Laki—laki itu ingin menahan Divi untuk masuk ke kamar kos Jayden, tapi kini sudah berada di depan pintunya. Ia pun menghentikan langkah kakinya.
“Ini kamar Jayden, Pak?” tanya Divi berbasa—basi.
Pak Agus menganggukkan kepala. “Ehm ... apa nggak dicoba Ibu hubungi lagi saya suami Ibu?”
“Iya, Pak. Nanti saya hubungi. Apa boleh tolong bukakan dulu pintu kamar suami saya?” pinta Divi dengan sopan. Ia mengusap perutnya yang besar. “Saya capek, mau istirahat dulu, Pak.”
Merasa kasihan dengan kondisi kehamilannya, Pak Agus pun mau tak mau membuka pintu kamar Jayden hingga terbuka.
Setelahnya, Divi pun tersenyum. “Makasih ya, Pak.”
Pak Agus diam dengan senyumnya yang tak yakin. Apakah ia akan membiarkan wanita itu masuk setelah salah bicara, membicarakan wanita lain yang bukan istrinya bersama dengan sang suami?
“Kalau begitu saya masuk dulu ya, Pak,” kata Divi dengan senyum lebarnya.
Baru saja hendak masuk, tangan Pak Agus menahan pintu di depannya. “Maaf, Bu, apa ada bukti lain kalau Ibu istri yang punya kos?”
Divi terkekeh pelan. Menyadari bahwa ia kembali dicurigai. Ia mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto wallpapernya. Fotonya dan Jayden. “Sebentar, saya juga punya foto pernikahan saya dengan suami saya, Jayden, Pak. Biar Bapak makin yakin.”
Menunggu sebentar.
Tak lama kemudian, Divi memperlihatkan foto pernikahannya dengan Jayden.
“Oh iya, kalau begitu silakan masuk, Bu! Maaf ya kalau tidak berkenan.”
“Nggak papa kok, Pak. Ini juga salah saya karena nggak bawa kunci cadangan. Mari, Pak, kalau begitu!” kata Divi lagi. Kali ini ia benar—benar masuk ke dalam kamar suaminya. Tempat tinggalnya selama ini ketika berada di Jakarta.[]
***
bersambung===>