Hampers Baby

2469 Kata
Bab 45 Hampers Baby “Jay, kamu sama Divi udah nyiapin baju anak—anak kalian belum?” tanya Sabrina sama sekali tak merasa bersalah padahal sedang bersama suami wanita lain. Ia malah dengan santainya bertanya pada kekasih gelapnya itu soal istri sahnya. “Aku kurang tahu,” balas Jayden jujur. “Setahuku sih Divi udah beli beberapa perlengkapan bayi. Apalagi kan usia kandungannya sudah jalan 9 bulan.” “Sebentar lagi melahirkan dong ya?” Jayden menganggukkan kepala sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Jam sudah menunjuk pukul 2 dini hari dan mereka baru saja selesai mandi bersama. “Jangan terlalu sering bahas soal Divi ya, Sabrina!” “Kenapa?” tanya Sabrina seolah tak paham dengan hal yang sentimental. “Menurut kamu?” “Ehm ... karena kamu nggak nyaman. Karena Divi istri sah kamu dan sedang hamil anak kamu, tapi kamu bersamaku sekarang?” Jayden melepaskan handuk yang berada di kepalanya. Wajahnya nampak berpikir, tapi ia tidak bisa mengatakan apapun. “Oke, kalau kamu ngerasa nggak nyaman. Aku nggak akan bahas soal Divi lagi ke kamu!” Jayden tersenyum tipis. Ia mendekati Sabrina lalu mencium keningnya dengan lembut. “Kamu mau kubuatin s**u sebelum tidur?” “s**u?” Jayden mendadak tersenyum canggung. Ia salah bicara. “Ehm ... maaf, aku keinget Divi setiap mau tidur, aku pasti tawarin untuk membuatkannya s**u hamil terlebih dahulu.” “Oh ... kalau gitu aku mau! Tapi aku lebih suka minum kopi!” “Kalau kamu minum kopi, kapan kamu akan tidur?” tanya Jayden sambil menggelengkan kepala. Ia jelas saja tak akan membuatkan kekasihnya itu kopi seperti permintaannya. Sabrina tersenyum lebar. Ia menarik Jayden hingga laki—laki itu terjatuh ke atas ranjang sambil memeluknya. “Mau lagi nggak?” tanyanya berunsur eksplisit. Jayden tertawa sambil menggelitik perut dan pinggang kekasihnya. Mereka tertawa bersama hingga akhirnya lelah lalu membaringkan tubuh mereka beriringan di atas ranjang. “Aku cinta sama kamu, Jay,” kata Sabrina. Jayden hanya diam. Selama ini ia merasa nyaman dengan gadis itu dan perlahan—lahan ia mulai memejamkan matanya dengan lengannya sebagai sandaran kepala sang kekasih. *** Sabrina menahan tangan Jayden sebelum laki—laki itu meninggalkan apartemennya. Jayden yang bingung pun hanya menatap lengannya dalam diam. “Aku sebenarnya udah siapin hadiah kelahiran untuk anak kamu dan Divi.” Jayden sama sekali tak menyangka. Ia mendadak teringat dengan obrolannya dengan Sabrina semalam. “Itu sebabnya kamu bertanya semalam?” “Hmm,” kata Sabrina berdehem. Ia menganggukkan kepala beberapa saat lalu menatap Jayden dengan serius. “Aku bolehkan kasihin buat calon anak kamu. Aku udah keburu beliin soalnya.” Jayden menghela napasnya dengan berat. Ia ingin menolak tapi melihat wajah Sabrina yang memohon membuatnya tak tega. Akhirnya Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Kamu mau?” “Iya!” “Ya udah tunggu sebentar,” kata Sabrina sambil berjalan menuju sebuah kamar. Ia mengambil dua plastik besar berwarna putih dan memberikannya pada Divi. “Aku yakin nggak akan pernah bisa memberikannya secara langsung, jadi kamu harus terima ini.” Jayden menghela napasnya lagi. “Bagaimana bisa kamu beli barang sebanyak ini?” Sabrina mengedikkan bahunya. “Habis pas lihat langsung di mall kelihatan lucu dan menggemaskan. Jadi nggak sadar udah borong.” Jayden menerimanya sambil mencoba melihat ke celah plastik yang terbuka. “Kamu pengangguran seharusnya lebih berhemat!” “Jay, seharusnya kamu bilang makasih!” balas Sabrina dengan wajah cemberut. Laki—laki yang dinasihati itu pun terkekeh. tapi ucapan Sabrina ada benarnya. “Oke, I’m sorry. Thank you ya,” kata Jayden akhirnya. Sabrina menganggukkan kepala sambil tersenyum puas. “Yes!” “Ya udah kalau gitu, aku balik ke kantor dulu ya?” Sabrina mengangguk. Tak lupa ia mencium pipi Jayden lagi sebelum kepergiannya lalu membiarkan meninggalkannya dengan dua plastik besar yang dipegangnya. *** Divi tersenyum senang saat melihat Jayden mengeluarkan barang—barang bayi dari bagasi mobilnya. “Kamu beliin ini semua, Jay?” tanya Divi tak menyangka. Ia sungguh merasa terharu karena suaminya peduli pada calon anak mereka. Apalagi Jayden pulang dengan membawa beberapa setel pakaian bayi, jumper, kaos kaki, dan ada juga sofa bayi yang masih dalam kondisi kedap udara. “Ini bukan dapat beli, tapi dikasih,” kata Jayden jujur. “Dikasih? Sebanyak ini?” tanya Divi tak percaya. “Aku baru tahu kalau rekan kerja kamu di kantor sangat royal seperti ini. Apalagi aku kan belum melahirkan.” Jayden tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul, menutupi sebuah kejujuran dengan sebuah kebohongan. Hal yang biasa dilakukannya sejak memutuskan kembali menjalin hubungan asmara dengan Sabrina. Membawa semua barang—barang bayi ke dalam rumahnya, Divi kemudian memperhatikan semua barang bayi yang kini berada di ruang tengah. “Aku masuk kamar dulu ya, mau mandi. Kamu mau lihat dulu barang—barangnya?” Divi menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul. “Kamu mau kusiapin bajunya?” “Nggak perlu. Aku bisa sendiri! Kamu lihat—lihat dulu aja, terus disimpen ke kamar bayi ya?” Divi lagi-lagi mengangguk. Wanita hamil itu masih begitu terharu dengan apa yang dilihatnya. Mendapatkan hadiah untuk bayinya adalah hal yang menyenangkan. Divi baru merasakannya sekarang, setelah menjadi calon ibu. Tak begitu diladeni, Jayden pun akhirnya meninggalkan ruang tengah. Ia melihat meja makannya yang sudah dipenuhi oleh makanan lalu tersenyum tipis. Tak lama kemudian, ia pun berjalan dan memasuki kamarnya. Jayden butuh waktu untuk membersihkan diri. *** “Halo, Ma....” Divi menghubungi ibunya dengan mode video call. Wanita hamil itu segera menemukan wajah ibu dan ayahnya dalam satu frame. “Papaaa....” “Divi, ada apa? Tumben kamu video call malam—malam gini?” “Ma, aku baru dapat hadiah!” kata Divi penuh suka cita. Ia kemudian memamerkan pakaian bayi, sofa bayi yang sudah dibukanya dan telah membentuk, serta perlengkapan bedong bayi, semuanya nyaris sempurna. “Kayaknya habis ini kita nggak perlu beli—belian buat perlengkapan bayi lagi deh, Ma.” “Wah kamu dapat dari mana? Itu hadiah dari Jayden?” tanya Mama Kayla setelah melihat semua hadiah yang didapatkan oleh sang putri. “Bukan, Ma. Ini dari rekan kerjanya di kantor. Keren ya, Ma. Mereka kayaknya tahu aku mau melahirkan jadi kasih aku hampers bayi.” “Oh dari rekan kerjanya Jayden. Syukurlah kalau begitu,” kata Mama Kayla sambil tersenyum tipis. “Papa jadi keinget kalau belum nyiapin hadiah buat calon cucu Papa. Kamu mau hadiah apa, Nak, sebagai hadiahnya?” tanya Mama Papa Dwika pada sang anak. Divi terkekeh pelan. “Ih apaan sih, Papa. Kan mau ngasih hadiah, kenapa malah justru tanya ke aku? Aku dikasih apa aja terima kok,” kata Divi malu—malu tapi mau. “Minta uang aja, Div. Minta 10 juta!” “Loh si Mama malah ngajarinnya gitu!” gumam Papa Dwika tak suka dengan ide sang istri. “Kamu mau dikasih apa untuk hadiah kelahiran cucu Papa nanti, Div?” “Terserah Papa aja deh. Kan aku yang terima hadiahnya. Ya nanti suka—suka Papa mau ngasih hadiah apa,” gumam Divi dengan senyumnya yang malu—malu. “Mama juga nanti mau kasih calon cucunya apa?” “Kamu ya? Malah nagih ke Mama.” “Ya nggak papa dong! Masa nggak boleh. Papa aja mau ngasih aku hadiah.” “Bukan buat kamu, Div, tapi buat calon anak kamu dan Jayden,” kata Papa Dwika meralat perkataan anak perempuannya. Papa Dwika sudah tak sabar untuk bertemu dengan calon cucu. Rindu juga mendengar suara bayi dan melihat tubuh mereka yang kecil nan menggemaskan. “Ih kan sama aja, Pa.” Divi tak terima dengan teguran ayahnya. Papa Dwika cemberut sedangkan sang istri dan Divi segera tertawa. Setelah beberapa saat mengobrol cukup lama, Divi pun mematikan panggilan telepon. Ia memperhatikan barang—barang bayi di depannya lalu memfotonya. Tak lama kemudian ia memposting foto perlengkapan bayi yang menjadi hadiah untuk anaknya itu di media sosial i********:. *** Jayden menghampiri Divi setelah ke luar dari kamar dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Kini laki—laki itu sudah lebih segar setelah seharian belum bertemu dengan air, juga setelah seharian berada di bawah tekanan pekerjaan. “Loh barang—barang bayinya masih belum kamu simpan?” tanya Jayden saat melihat meja ruang tengah yang masih dipenuhi dengan barang—barang bayi pemberian Sabrina. “Belum. Bentar lagi aku simpan,” kata Divi dengan senyum manisnya. “Oh ya, Jay! Nanti sampaikan ucapan terima kasih aku ya buat rekan kamu yang udah ngasih ini semua?” Jayden diam sejenak lalu menganggukkan kepala. “Aku udah ngucapin terima kasih. Kamu tenang aja.” Divi tersenyum senang. “Oh ya, kamu mau makan kan? Aku udah siapin dari tadi.” Mengangguk singkat, Jayden pun menoleh ke arah meja makan yang sudah disediakan makanan dengan berjejer rapi. “Kamu udah makan?” Divi tak menjawab. Jayden pun menghampiri meja makan. Saat ia hendak makan, Divi menghampirinya. Melayaninya selayaknya suami pada umumnya. Mengambilkannya nasi lalu menyerahkannya kembali. “Kamu udah makan?” tanya Jayden lagi, berulang. “Makan? Udah 3 kali,” kata Divi dengan senyum malu—malunya. Memang sejak hamil, porsi makannya bertambah di trisemester akhir kehamilan. “Mau makan yang keempat kali?” tanya Jayden menggoda sang istri. Divi langsung menggelengkan kepala. “Nggak perlu.” Jayden menghela napasnya. “Ya udah kalau gitu!” “Kalau gitu, aku mau nyimpenin barang—barang baby dulu ya?” Setelah mendapat balasan sebuah deheman, Divi pun kembali meninggalkan Jayden. Ia kembali menuju meja ruang tengah. Membawa masuk semua barang—barang calon anaknya ke dalam kamar bayi yang sudah dipersiapkan Divi sejak usia kandungannya 7 bulan. *** “Kamu masih belum selesai beres—beres?” tanya Jayden sambil memasuki kamar bayi yang sudah diisi dengan boks bayi berikut dengan kasurnya yang berwarna biru. Karena calon anak mereka diprediksi sebagai anak laki—laki, maka Divi lebih banyak membelikan calon anaknya perintilan bayi berwarna biru. Divi menoleh ke belakang sambil tersenyum. “Jay, ehm ... belum,” katanya pendek. “Kamu udah selesai makan? Kok malah ke sini sih?” “Jangankan makan, aku bahkan udah selesai beresin meja makan.” “Harusnya biar aku aja yang beresin, Jay!” gumam Divi, tapi dalam hatinya ia bersyukur karena pekerjaannya tidak bertambah. “Kamu pasti capek kalau harus beresin, jadi aku bantuin kamu. Aku kan nggak mau kamu kecapekan. Mumpung ada aku juga kan?” Divi menganggukkan kepala. Sejenak ia tidak ingin memikirkan hal negatif soal Jayden dan masa lalunya. Ia hanya ingin fokus pada calon anak yang sebentar lagi akan dilahirkannya. “Div....” Jayden memeluk istrinya dari belakang. Setelahnya mereka melihat kamar calon anak mereka dengan penuh senyum. Seolah tak memiliki beban karena sudah berselingkuh di belakang Divi, Jayden mulai melancarkan godaannya pada sang istri. “Aku sempat dengar—dengar, katanya kalau ibu hamil yang sudah mau melahirkan dianjurkan untuk berhubungan intim lebih intens. Bener nggak?” Divi yang mendengar pertanyaan eksplisit itu menahan senyumnya. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk dan membenarkan pertanyataan Jayden. “Kamu tahu dari mana?” “Bukannya dari kamu?” Divi pun tertawa. “Nggak ah! Nggak mungkin aku pernah ngomong begini!” kata Divi mengelak. Ia bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Jayden melepaskan pelukannya di tubuh Divi lalu memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. “Gimana kalau aku tengok calon anak kita?” “Ihh apaan sih!” Divi yang malu—malu. Melepaskan tangan Jayden yang beberapa saat berada di pundaknya. Ia berjalan menjauh dari sang suami lalu ke luar dari kamar. Jayden mengikuti Divi. Tak lupa, ia menutup pintu kamar yang sempat dimasukinya itu dari luar dengan rapat. Setelahnya, Jayden menghampiri Divi yang masuk ke dalam kamar. “Kamu masuk ke kamar mencoba menggodaku ya?” tanya Jayden saat melihat istrinya duduk di pinggir kasur. Jayden menutup pintu di belakangnya sambil terus memperhatikan Divi yang tengah menatap ke arahnya. Tubuh Divi memang berbeda dari Sabrina. Sekarang, tubuh Divi jauh lebih berisi dibanding Sabrina, apalagi karena kehamilan sang istri. Namun entah mengapa karena kondisi kehamilannya, Jayden tetap menginginkan Divi. Ia bahkan merasa ingin selalu mencoba menyelami tubuh wanita hamil di depannya itu, membuat tubuhnya bergetar hebat di bawah rengkuhan. Membayangkannya saja sudah membuat sensasi tersendiri di tubuh Jayden. Jayden mendekati Divi sambil melepaskan kaos yang dipakainya. Divi yang melihat bagaimana sang suami menggoda pun dengan tenang menikmati. Ia bahkan sengaja bermain—main dengan sang suami. Hubungan LDM bagi Divi membuat permainan ranjang dengan sang suami sebagai salah satu hal yang dirindukannya. “Kamu ya! Berani—beraninya godain aku!” gumam Jayden dengan tubuh setengah telanjang. Membuat Divi menatap roti sebok di perutnya dalam diam. Divi menyentuh perut six pack Jayden dan membuat pria itu tersenyum. “Kamu di Jakarta masih rajin nge—gym ya?” “Aku diajak sama teman kantor. Nggak tahu kenapa sejak jadi pegawai tetap, teman kantor mulai bersikap santai ke aku, Div.” “Kamu senang kerja di Jakarta?” “Hmm,” balas Jayden. Ia senang, apalagi tak dipungkuri juga bahwa ia senang karena memiliki dua wanita dalam hidupnya. “Apa habis melahirkan aku resign aja dari kantorku terus ikut tinggal sama kamu di Jakarta?” Pertanyaan Divi membuat Jayden bingung. Bagaimana jika Divi tingal bersamanya di Jakarta, itu berarti ia tidak bisa bersama Sabrina lebih leluasa? “Ehm ... kita bisa pikirin itu. Kalau aku terserah kamu aja. Yang terpenting, aku nggak mau maksa kamu untuk resign dari tempat kamu bekerja selama ini.” Divi mendesah. Sejujurnya akan sangat berat jika ia berhenti bekerja sebagai redaktur di Harian Buana Bogor. Rasanya pasti ada yang kurang. Ia bekerja di sana sejak lulus kuliah. Melihat raut wajah Divi yang tak yakin, Jayden pun mulai mengompori. “Tuh kan belum apa—apa udah sedih. Aku nggak mau ya karena kamu berhenti kerja terus jadi murung kayak gini. Apalagi sampai maksain diri kamu buat pindah ke Jakarta. Apalagi Jakarta panas dan macet. Beda sama di Bogor.” “Di Bogor juga kan sering macet,” kata Divi tak mau kalah. Jayden hanya tersenyum. Ia melepaskan kancing atas baju tidur yang dipakai istrinya lalu menariknya ke atas. Tubuh Divi yang bening dengan proporsi tubuhnya yang makin membengkak membuat Jayden ingin sekali tertawa. Divi yang sekarang sangat berbeda dengan Divi yang dulu. Istrinya kini bisa gendut. Hal yang sangat luar biasa. “Kamu kok kayak mau ketawa sih lihatin badanku? Iya, badanku sekarang gembrot banget kan?” “Nggak kok, Sayang. Aku cuma mendadak keingat pertama kali melihat tubuh kamu yang kayak melihara pasukan cacing di perut. Sekarang jauh lebih berbeda. Apa jangan—jangan pasukan cacing perut kamu udah resign ya?” “Ihhh body shaming tahu! Ngeselin banget!” ketus Divi kesal. Jayden tertawa begitu senang. Namun saat ia terus menggoda Divi. Apalagi yang diucapkannya itu sebuah kenyataan. Hingga beberapa saat kemudian, Jayden pun meminta maaf karena Divi sudah sangat kesal pada perkataan sang suami.[] *** bersambung===>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN