Bab 44
Rahasia Bersama Rahasia
Divi memutuskan untuk memaafkan Jayden beberapa bulan yang lalu. Memang awalnya tak mudah, tapi akhirnya ia dan Jayden bisa melalui itu semua. Jayden dengan segala bentuk perhatiaannya meskipun sang suami bekerja jauh dengannya. Meskipun laki—laki itu hanya bisa meluangkan waktunya ketika weekend dan tidak bekerja.
Namun akhir—akhir ini, Divi merasa ada yang tidak beres dengan perhatian sang suami. Laki—laki yang biasa bersikap manis dan perhatian padanya seolah memiliki rahasia yang tak diketahuinya.
Divi tak tahu bagaimana awalnya, tapi ia selalu mendapati Jayden menjauh darinya jika menjawab telepon dari sang bos. Bahkan saat malam hari, laki—laki itu mendapat pesan dari bosnya.
Divi menyebutnya bos, karena Jayden menulis nama Bos di ponselnya.
Hal lain yang membuat Divi curiga adalah waktu ia menemukan bau perempuan lain di kemeja yang dipakai oleh suaminya sepulang dari Jakarta. Meskipun begitu, Divi tak ingin mencurigainya hanya karena parfum wanita lain. Bisa jadi itu hanya kebetulan berpapasan dengan rekan kantornya yang perempuan.
Divi juga seorang pekerja, ia tahu benar bagaimana intensitas hubungan pekerjaan antara laki—laki dan perempuan di kantor. Jadi ia tidak ingin bersikap bar—bar dengan mencurigai suaminya hanya karena mencium bau parfum wanita lain di kemeja yang pernah dipakainya.
“Div, kamu lihat hape aku nggak?” tanya Jayden sambil membuka pintu kamarnya. Laki—laki itu sedang mencari keberadaan ponselnya sejak tadi, di dalam kamar, ia tidak menemukannya padahal seingatnya, kali terakhir membawanya masuk ke dalam kamar sebelum mandi.
“Ini, Jay! Ketinggalan di meja makan,” kata Divi yang langsung membuat laki—laki itu ke luar dari kamar.
Jayden berjalan sebentar lalu mengambil ponsel miliknya. Saat ia hendak kembali ke kamarnya, Divi memanggil.
“Jay?”
Jayden pun menoleh.
“Tadi ada pesan dari bos kamu. Ada miss call juga dari bos kamu. Kamu kayaknya kalau di rumah sering dihubungi sama bos kamu ya?”
“Oh iya nanti aku cek,” kata Jayden sambil tersenyum simpul. Saat ia hendak membalikkan badannya, Divi kembali berbicara.
“Kamu nggak ada masalah apa—apa kan di kantor sampai di hubungi bos kamu terus menerus?”
Jayden diam sejenak, dalam posisi membelakanginya, Divi yang penasaran sampai tidak mengetahui bagaimana ekpresi sang suami sekarang. “Nggak ada kok, Div. Ini karena deadline yang udah makin dekat dari projek yang sedang kubuat. Kamu tenang aja! Dihubungi sama bos, nggak terlalu buruk kok!”
Divi menatap Jayden yang berbicara panjang lebar. Ia melihat senyuman yang cukup dipaksakan di wajahnya. Meskipun laki—laki itu tak menunjukan keraguan, tapi ia bisa merasakan bahwa ada hal yang tak diketahuinya.
Mengangguk singkat, Divi pun tersenyum simpul, terpaksa. Jayden yang melihatnya mengangguk juga lalu meninggalkan Divi di kursi makan sendirian. Laki—laki itu kembali ke kamarnya karena sedang mempersiapakan tas kerja yang akan dibawanya kembali ke Jakarta.
Besok pagi—pagi sekali, ia akan pulang dan kembali ke kantor. Kembali bekerja seperti hari—hari biasanya, mengawali minggu ini dengan hari senin yang padat.
***
Divi berjalan dengan perut yang sudah semakin besar. Hari ini ia pergi ke kantor Harian Buana Bogor agak siang. Ia sudah izin dengan kantor dan tetap masuk setelah memeriksakan kandungannya di dokter kandungan.
Jika biasanya ia pergi memeriksakan kandungannya dengan sang ibu. Kini sejak usia kandungannya makin besar dan harus cek up setiap seminggu sekali, ia pun memeriksakan kandungannya sendirian. Ia merasa tidak enak hati jika terus menerus merepotkan sang ibu.
Sang ibu juga pasti punya pekerjaan lain yang harus dilakukannya. Jadi ia mulai belajar untuk mandiri dan memeriksakan kandungannya tanpa bantuan dan temankan orang lain.
Divi masuk ke dalam ruang pemeriksaan setelah beberapa saat berjalan. Ia melihat dua bidan sedang menunggunya.
“Bu Divi ya?” tanya seorang bidan dengan nama tag Nina Mariana.
“Iya, Bu.” Divi duduk di kursi yang ada di depan meja. Ia duduk dengan berhati—hati, dengan kondisi kehamilannya yang besar.
“Sudah masuk minggu ke 34 ya, Bu, sekarang,” kata Bidan Nina sambil membaca dan menulis buku kehamilan milik pasiennya itu.
Divi hanya tersenyum.
Setelahnya, Divi pun kembali diminta untuk berdiri. Ia melakukan pemeriksaan berat badan, dilanjut dengan pemeriksaan kandungannya oleh sang bidan. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam sebuah ruangan di mana bersama dengan sang dokter kandungan, Dokter Felicya.
Dokter Felicya melakukan USG terhadap kandungannya, mendeteksi hal yang sedang terjadi pada calon bayi dalam kandungannya.
“Kandungannya sehat ya, Bu. Anaknya aktif, Bu? Sering nendang—nendang?”
Divi menganggukkan kepala. “Iya, Bu, sering nendang—nendang. Kalau bundanya tidur sering gerak,” kata Divi bercerita.
Wanita muda dengan jas putihnya itu tersenyum. Tak lama kemudian, ia menggeser layar komputer yang sedang dilihatnya. “Lihat, Bu, ini kayaknya udah jelas kalau anaknya nanti laki—laki,” kata Bu Felicya sambil menunjuk menara monas di layar yang sedang mereka lihat bersama.
Divi tersenyum bahagia.
“Nanti lebih banyak minum air putih ya, Bu Divi, soalnya air ketubannya di sini agak kurang.”
“Baik, Dok,” balas Divi.
Setelah menyelesaikan pemeriksakan kandungan, Divi pun bisa pulang setelah menebus resep obat yang didapatkannya dari pemeriksaan kandungan beberapa waktu tadi.
Menyerahkan resep obatnya pada sang apoteker yang berada di apotek rumah sakit, setelahnya Divi menunggu beberapa saat. Ia mendapat kursi setelah bergantian dengan ibu—ibu yang bangkit berdiri setelah dipanggil oleh suaminya.
Duduk di kursi tunggu, Divi pun mulai berkirim pesan dengan Jayden.
[ Jay, aku habis periksa kandungan. ] –Divi.
Divi menunggu beberapa saat, tapi hingga beberapa menit ia tak mendapati balasan dari Jayden. Laki—laki itu juga sedang tidak online sekarang.
Berdiam sambil memperhatikan sekitarnya, Divi pun akhirnya mendapati ponselnya bergetar. Saat ia membuka notifikasi, ia menemukan Jayden sudah membalas pesannya.
[ Gimana kandungan kamu? ] –Jayden.
[ Kandunganku baik—baik aja, Jay. Cuma dokter bilang, aku diminta untuk lebih banyak minum air putih. ] –Divi.
[ Ya udah kalau gitu, kamu turuti perintah dokter. Demi kandungan kamu juga kan? ] –Jayden.
[ Iya, Jay. Aku tahu kok. Aku kan sayang calon anak kita.
By the way, kayaknya benar deh kalau calon anak kita ini laki—laki. Dokter USGnya bilang calon anak kita laki—laki, Jay. ] –Divi.
[ Syukurlah! Aku senang. Mau laki—laki atau perempuan meskipun sama aja, tapi aku senang calon anak kiita laki—laki.
Calon anak kita pasti akan seganteng aku dan akan melindungi kamu nantinya. ] –Jayden.
[ Ih pede banget sih! Dasar!
Tapi semoga calon anak kita nanti jadi anak yang berbakti ya, Jay! ] –Divi.
Namun sebelum pesannya terkirim, suaminya sudah offline. Ia menghela napasnya sejenak dan tak lama kemudian nomer antriannya untuk menebus obat pun dipanggil.
Divi bangkit berdiri dengan susah payah. Kondisi kehamilan semakin besar maka semakin besar pula beban yang dirasakan tubuhnya.
Sampai di depan apotek, Divi menyerahkan nomer antrian pada sang apoteker. Ia pun mendapatkan resep obat yang harus diminumnya. Tak lupa, sang apoteker menjelaskan cara pemakaian obat yang harus dilakukannya.
***
Divi baru saja sampai ke kantor. Ia menyapa beberapa rekan kerjanya dan berbasa basi sejenak dalam perjalanannya menuju kursi kerja. Kebanyakan teman—temannya mempertanyakan soal kandungannya yang sudah membesar. Menanyakan usia kandungan dan memintanya untuk segera mengambil cuti kehamilan dan kelahiran.
Mendengar banyak ceramah untuknya untuk segera mengambil cuti, Divi pun hanya bisa tersenyum dan berkata bahwa ia sedang mempersiapkan cuti kerjanya.
Setelah sampai ke kursi kerjanya, Divi duduk di kursi kantor dengan keluhan dari mulutnya. Jelas saja ia mengeluh, pasalnya hanya dengan berjalan, ia merasa lelah. Dengan duduk begitu lama pun, ia merasa lelah. Semua pekerjaan yang dilakukannya membuatnya begitu lelah dan sesak karena kehamilannya yang sebentar lagi sudah mencapai usia matang.
“Divi,” Hana yang baru saja ke luar dari ruangan Pak Bagas tersenyum saat menghampiri kursi kerjanya. Ia menyapa Divi dan segera duduk di kursi kerjanya.
“Hmm?”
“Gimana kandungan kamu?”
“Baik kok,” balas Divi sambil menyalakan komputer kerjanya.
Hana tersenyum simpul. “Jadi gimana? USG anaknya tetep cowok?”
Divi terkekeh mendengar pertanyaan Hana. Ia menoleh sambil menunggu komputernya siap untuk dipakai. “Iya, prediksi dokternya sih tetap sama, cowok. Doain ya, semoga lahiran nanti lancar! Mendadak gue takut nih karena bentar lagi mau 40 minggu.”
“Iya, Div. Gue doain elu, semoga elu melahirkan dengan lancar. Punya anak cowok yang cakepnya kayak Taehyung—“
“Kayaknya bapaknya lah!” Divi meralat.
“Ganteng Taehyung! V is the best!”
Divi hanya mendengarkan perkataan Hana. Gadis di sampingnya ini sedang tergila—gila pada V dari boygroup BTS akhir—akhir ini.
“Oh ya, Jayden masih kerja di Jakarta dan sibuk terus nggak?”
“Kayak biasa sih,” kata Divi santai.
“Nanti gimana dong misal lo mau melahirkan terus suami lo malah ada di Jakarta?”
“Ya paling langsung pulang. Lagian kata nyokap, orang melahirkan tuh nggak secepat yang ada di film dan televisi. Kontraksi dulu. Habis kontraksi 10 baru melahirkan.”
“Kalau kontraksinya nggak sampai 10 udah melahirkan bisa nggak?”
“Ngaco! Ya bisa sih, tapi melahirkan ceasar!”
Hana mendadak terdiam. “Oh gitu ya! Ya sorry, gue kan nggak tahu. Gue juga kan belum pernah hamil dan mau melahirkan.”
Divi tersenyum simpul. Ia tidak menanggapi perkataan Hana lagi lalu mulai mendekatkan kursi kerjanya dengan meja kerja. Wanita hamil itu pun mulai mengecek email kantornya.
***
Pulang dari kantor, Jayden menghentikan mobil yang dikendarainya di sebuah basemen. Laki—laki itu turun dari mobil dan segera menemukan seseorang yang sudah menunggunya.
Sabrina.
Jayden tersenyum simpul saat merasakan pelukan dari wanita itu. Wanita cantik yang sudah menyerahkan pekerjaannya untuk dirinya, wanita kembali masuk dalam kehidupannya dan tak bisa ia hindari.
“Kamu kok lama banget sih! Kamu nggak kangen apa sama aku?” tanya Sabrina dengan wajah manjanya.
“Kangen sih! Tapi kan aku kerja. Emang kamu, nggak kerja! Ngabisin duit aja tapi tetap punya aliran dana dari bokap kaya raya.”
Sabrina terkekeh pelan. Ia memeluk lengan Jayden dan mereka berjalan bersama menuju apartemen sang wanita.
Sejak ketahuan selingkuh, keduanya memang punya hubungan yang tidak baik. Bertengkar tentu saja.
Jayden pun secara sadar ingin menjauhi gadis itu. Memutus semua komunikasi dengannya sama sekali dan meyakini bahwa hubungannya dengan Sabrina memang tak seharusnya dilanjutkan dengan kondisinya yang sudah beristri.
Namun takdir kerap kali berkata hal lain, Jayden dan Sabrina kembali bertemu karena ketidaksengajaan. Mereka bertemu setelah 2 bulan saling tak berkomunikasi. Mereka bertemu pertama kali saat Jayden tinggal di salah satu resort milik pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Secara tidak sengaja, Sabrina yang memiliki sesi pemotretan di sana pun akhirnya bertemu dengan Jayden.
Awalnya hanya obrolan biasa hingga akhirnya Sabrina dan Jayden saling mengungkapkan diri mereka kembali. Keduanya pun kembali dalam lubang perselingkuhan.
Berbeda dengan saat di awal hubungan mereka, kini Sabrina tak ingin hubungannya diketahui oleh istri Jayden. Sabrina suka bersama dengan Jayden. Menghabiskan waktu bersama dengannya, meskipun hanya sebagai simpanan.
Sabrina yang masih mencintai Jayden dan belum bisa melupakannya akan melakukan apapun asal bisa bersama dengan laki—laki itu. Bahkan saking cintanya, ia sampai resign dari agensi modelnya yang ada di Bandung dan pindah ke Jakarta kembali.
Hingga 3 minggu lalu, Sabrina memang masih menganggur dan bertahan hidup dengan uang bulanan yang diberikan oleh ayahnya. Namun sekarang, ia sudah memulai pekerjaannya sebagai content kreator di i********:.
Mempunyai banyak followers yang mengikutinya sebuah berkah saat ini. Kini ia bisa bekerja hanya dengan menerima endorsment dari orang lain. Dengan teratur dan pekerjaannya cukup memberikannya pemasukan.
“Kamu juga kan punya nyokap kaya raya, kenapa nggak dipergunakan saja dengan baik? Harga diri kamu tuh ketinggian!” kata Sabrina. Lagi—lagi wanita itu mengetahui rahasianya, bukan istrinya.
Saat bersama dengan Sabrina, Jayden pernah didatangi oleh seorang manager dari agensi modeling yang ada di Jakarta. Dan secara mengejutkan, baik Jayden maupun Sabrina mengetahui bahwa pemilik agensi modeling yang menawarkan pekerjaan pada Jayden tak lain adalah ibu kandung Jayden sendiri.
Jayden yang membenci ibu kandungnya pun segera menolak. Di situlah Sabrina kembali menjadi orang pertama yang tahu bersama Jayden.
“Aku lebih suka menganggap kalau ibu kandungku sudah mati,” kata Jayden kasar.
“Kamu harusnya bersyukur, Jay! Aku rasa juga, ibu kandung kamu itu sudah menyesal. Buktinya ia mencoba menawari kamu pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah terima tawarannya.”
Jayden tak mengatakan apapun. Ia merasakan tangannya dipeluk oleh Sabrina, mereka pun memasuki lift.
Di dalam lift, hanya berdua, Sabrina kembali mengajaknya mengobrol. “Jay, tapi Bruce telepon aku soalnya saat menghubungi kamu nggak juga kamu angkat!”
“Bruce punya nomer kamu?”
“Aku juga nggak tahu gimana bisa dia punya nomer aku. Sumpah!”
Jayden menghela napasnya. “Ada apa terus?”
“Katanya suami nyokap kamu lagi masuk ruang ICU. Nyokap kamu butuh kamu, Jay! Kalau ada waktu, kamu mau nggak ke Rumah Sakit Permata Raya buat ngecek kondisinya.”
Mendengar bahwa kondisi suami ibu kandungnya tak baik—baik saja membuat Jayden terdiam. “Aku nggak ada kepentingan sama sekali untuk ke sana, Sabrina. Please lah, nggak perlu bahas soal ibu aku atau keluarganya lagi! Ibu kandungku dulu begitu menyesal karena melahirkanku, ia bahkan membuangku di rumah nenek, sekarang setelah besar seenaknya aja minta bantuanku? Nggak akan aku pedulikan, Sabrina!”
Sabrina menghela napasnya yang berat. “Kalau kamu udah punya keputusan kamu sendiri. Aku nggak bisa ngomong apa—apa lagi.”
Jayden mengusap pundak Sabrina. “Jangan bahas ini lagi ya? Please....”
Sabrina terdiam sejenak. Namun tak berapa lama kemudian ia pun mengangguk setuju untuk tidak lagi membahas soal keluarga ibu kandung Jayden yang kembali mencari laki—laki itu.[]
***
bersambung